Kaa Lana, sangat membenci ballerina.
Suatu kesempatan dia berkenalan dengan Ray Asa. Dan setelah kejadian tsunami hari itu dia mulai merasa kalau perasaan ini bukan biasa saja.
Melainkan ada sesuatu yang bergejok.
Namun setelah tiga tahun tidak ada kabar, cowok itu datang dan kembali memberinya sebuah harapan.
Persis dengan arti nama cowok itu, dan Lana memanggil nya dengan panggilan Asa
Sang harapan yang selalu membuat nya kecewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon qismina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
I'M CONFUSED WITH YOU, ASA!!
Haikal baru memberi kabar bahwa Asa kedatangan neneknya yang berada kota, sehingga Atar, Lana dan Hurya ingin bergegas dan menemui cowok itu dan keluarganya yang berada di tempat peristirahatan para perawat.
“Dari tadi Bang?” Atar bertanya disela jalan mereka yang buru-buru.
“Lumayan, gue tau dari Kak Zara saat dia ada di posko Tante Lita, setelah dia keluar dari sana.”
“Neneknya doang? Sambung Hurya.
“Katanya sih dua orang, satunya anak gadis gitu.” Jawab Haikal. Dan Lana diam saja tidak berniat untuk bertanya.
“Jadi Kak Zara nya masih di posko Tante Lita?”
“Kayaknya udah kesana lagi deh.” Jawab Haikal oleh pertanyaan Atar.
“Yaudah yuk buruan, gue mau lihat soalnya.” Disini malah Hurya yang bersemangat.
Baguslah, ucap Lana dalam hati. Kalau cowok itu bisa bertemu dengan keluarganya yang berada di kota yang jauh disana. Setidaknya dia tidak sendiri, dan masih mempunyai kerabat yang dekat.
“Nah itu mereka.” Tunjuk Haikal saat melihat Rama, Zara dan ketiga orang tersebut barusan keluar dari tempat itu.
“Kayaknya udah mau pulang deh.”
“Ehh bukannya baru sampai, udah pulang aja.”
Heran Hurya yang di gelengi oleh Haikal.
Ya! Memang nampak jelas kalau mereka ingin segera pergi. Lihatlah! Nenek Asa sudah bersalaman dengan kedua perawat itu lalu berpelukan dengan Asa sebentar. Dan gadis yang bernama Zaskia itu pun memeluk Asa kemudian dibalas tidak menghindarinya.
“Cewek itu siapa?” Tanya Hurya.
“Wih siapa tuhh, cantik banget.” Hurya menjeling malas kala mendengar ucapan jijik yang keluar dari cowok botak barusan.
“Bisa-bisanya loe!” Atar tidak menanggapi.
“Keluarganya kalik, gue aja gak pernah tau soalnya Asa gak pernah cerita.” Sambung Haikal.
Hurya sekilas melirik Kaa Lana yang tidak berkedip melihat pemandangan itu. Semua jadi saksi saat dimana gadis cantik tersebut mengacak-ngacak rambut Asa membuatnya menjadi berantakan.
Seperti hatinya.
Dan parahya lagi bisa-bisa nya Asa tersenyum bahagia sama persis ketika dia berdua duduk di ayunan malam itu.
Sama bahagianya.
Siapa dia? Mengapa Lana sangat tidak suka dengan interaksi keduanya yang seolah sangat dekat dan akrab.
Hurya mengulum senyum tidak tahan, lalu dengan sengaja menyenggol lengan Kaa Lana.
“Loe cemburu Lan?” Tidak menanggapi, Lana langsung mengikuti Atar dan Haikal ketika cowok tersebut memberi aba-aba.
“Ayo buruan, keburu mereka pergi.” Seruan Haikal menggagalkan Hurya untuk lebih tau perasaan temannya kepada cowok itu.
Terkekeh sendirian, hingga kemudian menyusul teman-temannya.
Fikssss, loe cemburu Lan!!
“Eehh kalian.” Sapa Zara ketika mereka semua telah tiba disana.
“Nek, ini teman-temannya Ray Asa ketika berada di posko.” Ucap Zara lalu di senyumi Isya-Nenek Asa dengan lebar.
“Hallooo Nekk, apa kabar?” Sapa mereka semua.
“Alhamdulillah saya baikk, kalian gimana disini baik juga kan? Gak sedih lagi kan?”
“Baik dong Nekk dan yang pastinya udah gak sedih lagi.” Ucap Atar yang mewakili mereka dan di angguki membenarkan.
“Nah ini kenalin Zaskia namanya, sahabat kecilnya Ray.” Ujar Isya sambil merangkul pundak gadis itu.
“Wahhhh hallo Zaskia.”
“Panggil Kia aja.” Atar mengangguk-ngangguk salting. Membuat semuanya terkekeh oleh sikap cowok itu.
Sangat cantik dan manis, kulitnya putih seperti Asa. Dan senyuman nya membuat siapa saja candu dan ingin terus melihatnya.
Lana iri dan hanya bisa membingkai senyuman tipis.
“Jadi nenek udah nyewa penginapan di sekitar sini?” Tanya Rama, yang pasalnya tadi Isla bilang kalau beberapa hari ini dia akan berada di daerah mereka.
“Tidak, tapi nenek punya sahabat yang tinggal gak terlalu jauh dari posko ini. Jadi beberapa hari ini nenek mau numpang tidur disana sekalian kesini dan lihatin Ray.”
“Ohh begitu.. yasudah hati-hati ya.” Isla tersenyum mengiakan ucapan Zara.
“Nenek ada yang jemput?”
“Nenek pakai mobil, ada supir yang nunggu di depan.” Jawabnya pada Haikal.
“Yasudah aku pamit ya temen-temen sampai jumpa lagi.” Lembut sekali. Lana terdiam mendengar nada yang santun itu terucap dari mulut Zaskia.
“Yuk Ray anterin ke depan.”
Isla menolak lalu mengusap kepala cucunya, “Udah Ray disini aja, sama temen-temen lagian deket gak jauh cuma di depan.”
“Gak papa.” Ucap Isla lagi sebelum Asa menyahut kembali ucapannya.
“Ya sudah hati-hati Nek.” Asa kembali menyalaminya dan diikuti teman-temannya juga. Isla mengusap rambut mereka satu-satu dan mensenyuminya tulus.
“Tetap bahagia ya, jangan bersedih.”
“Okeee!!” Jawab mereka kompak.
“Nenek pergi dulu.”
“Hati-hati Nek.” Ucap mereka bersamaan.
Kedua orang tersebut berlalu menyisakan kekosongan yang tiba-tiba datang. Lana melirik cowok itu, menatap matanya yang terus saja melihat pada arah kedua manusia yang barusan pergi.
---
Suara azan dzuhur menggema, membuat Lana yang tadinya tengah membereskan barang-barang yang berkelimpahan kini meninggalkannya begitu saja lalu keluar dari tenda.
Lalu Hurya yang melihat itu, langsung saja meneriaki nama gadis tersebut.
“Lanaaa, mau kemana loeee!!” Tidak mendengar atau sengaja tetapi Lana sudah menghilang dengan begitu cepat.
Hurya yang jiwanya penasaran pun, langsung bergegas dan berlari mengikuti gadis itu.
Hingga beberapa menit kemudian, napas Hurya ngos-ngosan setiba sampainya disana.
Mushola? Ngapain Lana kesini, katanya dia lagi gak boleh sholat?
Ohhh, Hurya sekarang paham hahahah. Gadis itu menyungsing senyum meremehkan, lalu berjalan menghampiri Lana dengan perlahan tanpa bersuara.
“Asa.” Cowok yang tengah mengelap kaca mushola itu menoleh mendapati Lana yang berada disini.
“Lana? Loe disini, mau sholat?” Lana kikuk lalu tersenyum tipis dengan gelengan kepalanya, “Gue lagi gak boleh sholat.”
“Terus?”
Lana malah melayangkan pertanyaan lain, “Loe sendiri, gak sholat?”
“Ohh..iya gue juga mau sholat tapi nyelesain ngelap kaca dulu sambil nungguin warga biar sholat berjamaah sekalian.”
“Loe sendiri? Kalau bukan mau sholat ngapain kesin-
“Dia mau bantuin Kak Ray Asa ngelap kaca.” Dengan hati yang sedikit tidak terima, Hurya datang dengan aba-aba langsung merangkul pundak nya dan tersenyum di sana, senyum yang menjatuhkan!
Lana tersenyum lebar.
“Bener kan Lana?” Hurya mendekati wajah nya pada Lana lalu menggoda dengan berkedip mata.
“Iyain aja! Loe mau liat dia kan disini?” Bisikan Hurya membuat Lana tersenyum simpul lalu mengangguk.
“Boleh?”
“Gak usah Lana, ini sebentar lagi selesai kok.”
Tolak Asa dengan lembut.
“Yaaahhhh.” Lana melotot! Mengapa Hurya yang seolah lemas disini!
“Gak papa, kalau loe emang mau bantu besok kesini aja.”
“Yaudahh gak papa.”
“Oke, gue kesana dulu ya mau ambil whudu.” Lana mengangguk melihat Asa menjauh dan hendak mengambil air wudhu yang berada di keran samping mushola.
Perihalnya langit sore, Asa adalah alasan mengapa Lana selalu ingin melihat cowok itu setiap harinya.
Dia sinar yang terang.
Dia biru langit dan dia juga jingga senja.
“Cieeeee Lana, beneran nih suka nya?
---
Matahari tenggelam, diganti bulan kala datang. Terang tapi nyatanya dia juga dibantu terangnya matahari. Angin lembut menggulung, setiap ribuan rasa sakit kala menghantam tanpa sebuah pemberitaan.
Sakit memang kalau hanya dia yang sendirian, untuk orang-orang yang masih memiliki kerabat yang datang.
Lana hampir saja berhasil, gadis itu sedikit lagi ingin menceklis salah satu kalimat yang ditulis Asa waktu itu. Namun kenapa semuanya terasa sulit dan mengapa sekarang ini amat-amat menyakitkan daripada sebelumnya.
Dia bingung, Lana membenci keadaan ini?
Apalagi kejadian dua hari yang lalu, rasa-rasa nya Lana tidak ingin bertemu semua orang.
Apalagi cowok yang bernama Ray Asa itu.
Dia bencii!!
Semuanya sangat menyakitkan!!
Kenapa jalan yang harus dia jalani sangat berliku? Lalu banyak kerikil dan tikungan tajam? Tidak seperti orang yang awalnya sedikit batu lalu tidak lama kemudian jalan yang lurus dan beraspal.
Tangan gadis itu hanya terus melempar batu masuk kedalam sungai, terus melamun melihat cahaya bulan yang memantul dari pantulan air sungai.
“Kaa Lana.”
Lana membenci suara itu.
“Lana.”
Lagi dan lagi Lana tidak ingin mendengar semua panggilan itu. Dia tidak menoleh saat suara teman-teman nya bersahutan, juga suara dua perawat tersebut.
“Lana, please..” Suara Asa lagi, yang membuatnya memejamkan mata lalu merasa perih saat buliran itu meluncur.
Asa mendekat, melangkah menuju gadis itu yang tengah duduk di batu kali. Cuma Asa dan Lana tau dia satu-satunya yang berani mendekat. Sedangkan yang lainnya? Mereka sedikit jauh dari sana.
“Maaf, Lana.”
“Gue minta maaf.”
Ekspresi Lana biasa saja, persis cowok itu ketika bersedih. Kan?
Sedikit terkejut dan agak goyah saat Asa memutar balikkan tubuhnya agar Lana melihat cowok tersebut.
Sungguh terlihat sebuah ketulusan disana, Lana mengakui. Namun ia tetap datar menatap sorot mata yang membuatnya kecewa dua hari lalu.
“Loe kecewa sama gue?”
“Lana..”
“Gue gak bermaksud, gue bakal jelasin.”
“Lana ini sudah jam sembilan malam, pulang ya.”
“Gue bener-bener khawatir sama loe."
Iya Asa! Loe khawatir sama gue, dan khawatir sama semua orang.
jangan lupa buat beri dukungan ke cerita ku juga ya Thor 🤗