Dua tahun sudah berlalu sejak pernikahan tak terduga antara Jehan dan Rylia. Lelaki 28 tahun itu masih terbelenggu luka masa lalu. Rylia, gadis tunarungu yang cantik dan lembut. Namun, hubungan mereka kering, tak lebih dari sekadar formalitas.
Suatu malam, di tengah keheningan, Jehan menatap Rylia dengan pandangan yang tak pernah terlihat sebelumnya. Apakah ini awal dari perubahan? Atau hanya sekadar ilusi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia risti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 : Gila
Rylia membuka matanya, merasa seperti tidak ada lagi kekuatan ditubuhnya, dia melihat sekitarnya mencoba mengingat apa yang terjadi. Kemudian kenangan tentang Jehan dan kecelakaan itu menghantamnya seperti gelombang besar.
Rylia tidak bisa bernafas, tidak bisa berfikir. Dia hanya bisa menangis, memikirkan tentang jehan dan apa yang telah terjadi.
Dia mencoba bangun, tapi tubuhnya terasa lemah. Rylia tidak bisa melakukan apa-apa, hanya bisa terbaring lemah, merasakan kesedihan yang luar bisa.
Pikiranya terus memikirkan Jehan, tentang senyumnya, tentang tawanya, tentang segala hal yang meraka alami Bersama.
Rylia merasa terjabak dalam mimpi buruk, yang tidak bisa bangun dari sana. Hanya bisa berharap bahwa semua ini semua hanya mimpi.
•••
Hari-hari berlalu begitu cepat, rasanya begitu sunyi dan semu. Kehilangan orang terkasih sangatlah menyakitkan. Jehan adalah cinta pertamanya, bayangan tentangnya masih terus menghantuinya.
Rylia mencoba segala hal untuk melupakan kesedihanya, tapi semuanya terasa hampa dan tidak berarti. Dia hanya melakukan apa yang harus dilakukan, tanpa ada semangat atau tujuan. Dia juga sering menangis, merasakan kekosongan itu.
Rylia berdiri didepan makam Jehan, memandang batu nisan yang tertulis dengan namanya. Sudah tiga bulan berlalu sejak kecelakaan itu, tetapi kesedihanya masih terasa seperti barusaja terjadi. Rasanya dia tidak bisa melepaskan kesedihanya, dia terus saja memikirkan tentang Jehan, tentang kenanga-kenangan bersamanya.
‘’Jehan, aku masih tidak bisa menerima bahwa kamu tidak ada lagi. Aku seperti merasa kehilangan sebagian dari diriku.’’ Rylia menangis, tidak bisa menahan air matanya.
‘’Aku masih berharap kamu bisa Kembali, disini bersamaku.’’ Ucapnya dengan isak tangis, sembari memandang batu nisan itu, dan dari kejauhan sana seseorang tengah memantaunya.
Orang itu tak lain adalah Firza, dia berdiri dari kejauhan, memandangan Rylia yang berlutut didepan makam Jehan.
Melihatnya membuatnya merasa… Tidak enak.
Firza tidak tau mengapa dirinya selalu mengikuti Rylia, tapi dia merasa perlu memastikan dia baik-baik saja. Entah mengapa melihat Rylia menangis, rasanya seperti ada sesuatu yang tidak beras dengan hatinya. Apa mungkin dia mulai memiliki rasa pada Rylia atau mungkin dia merasa bersalah atas apa yang terjadi?
Dia hanya tidak suka melihatnya lemah, tidak suak melihatnya sedih. Firza ingin Rylia kuat dan Bahagia.
‘’Rylia,’’ Panggil firza,
‘’Kita perlu bicara’’
Rylia menoleh kearahnya dan terkejut.
‘’Firza…Apa yang kau lakukan disini?’’ Tanyanya sembari memundurkan dirinya ketakutan.
Firza tak menjawabnya, dia hanya melihat makam Jehan sekilas lalu kembali melihat Rylia.
‘'Aku tahu kamu masih sedih,’’ Katanya. ‘’Tapi aku ingin kamu tahu bahwa akua da disni untukmu.’’
Rylia menatapnya dengan bingung. ‘’ Apa maksudmu?’’ tanyanya.
‘’Aku ingin kamu tahu bahwa aku peduli denganmu, Rylia. Aku ingin membantu kamu melewati kesedihan ini.’’
Rylia tidak menjawab, dia terus melangkah mundur dan ketakutan.
‘’Aku peduli padamu, aku ingin kamu Bahagia.’’ Katanya lagi.
Rylia mengeleng,
‘’GILA,!!’’katanya dengan suara keras.
‘’Setelah apa yang kau lakukan padauk, sekarang kau berkata seolaj-olah kau peduli. Kau sudah membunuh Jehan aku tidak akan memaafkanmu.’’
Firza tidak bereaksi dengan kata-kata Rylia, dia hanya mentapnya dengan mata kosong. Seolah-olah tidak peduli dengan kebencian Rylia.
‘’Aku tahu aku telah melakukan kesalahan,’’ katanya dengan suara sedikit penuh penyesalan.
‘’tapi perlu kamu tahu aku tidak ingin Jehan mat*, aku hanya ingin….’’
‘’Tidak ingin Jehan mati?’’ Katanya dengan suara penuh amarah memotong perkataan Firza.
‘’Kamu telah menghancurkan hidupku, Firza. Kamu telah mengambil semua yang aku cintai dariku, firza. Aku tidak akan pernah memaafkanmu.
Firza menatapnya dengan mata sedih. Rylia beranjak pergi, tapi dengan cepat Firza menahan tanganya.
‘’Aku tidak membun** Jehan, Rylia. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan dia,’’ katanya.
Rylia mentapnya dengan penuh kebencian.
‘’Ayah Chandra membantumu keluar dari hukuman, tapi bukan berarti aku sudah memaafkanmu dan harus percaya pada perktaanmu,’’ katanya dengan tegas.
Sepertinya apa yang ia katakana tidak akan membuat Rylia percaya padanya. Dia tidak akan percaya bahwa Firza tidak terlibat dalam kematian Jehan.
Rylia menarik tanganya dari genggaman Firza dan pergi meninggalkannya.