Indonesia
NovelToon NovelToon
My Dear Fahrana

My Dear Fahrana

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Single Mom / Teen Angst / Diam-Diam Cinta / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Angst / Tamat
Popularitas:660
Nilai: 5
Nama Author: cahaya_bintang

Hidup dalam kemiskinan membuat semua serba sulit untuk Fahrana, ia melakukan segala cara untuk mendapatkan uang. Cinta, persahabatan dan kesedihan mewarnai kehidupannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cahaya_bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamila Dan Ranti

"Kau untuk apa datang kesini."

Maira terkejut bukan main hingga tak bisa berkata-kata, ia kenal dengan Rana meski tak pernah baik pertemuan mereka dan mendapati gadis itu sebagai saudara tirinya tidaklah mungkin.

"Jangan bilang elo anaknya ibu ini." Ia menunjuk Bunda Ranti dengan telunjuknya dan cepat di singkirkan oleh Rana." Jaga sopan santun lo dan cepat pergi dari sini." Rana mengajak Bunda masuk lalu menutup pintu segera.

"Apa-apaan anak itu sangat tidak sopan." Kamila sangat kesal saat pintu itu tertutup keras depan wajahnya.

Karena kedatangan mereka yang langsung mendapat penolakan jadi mereka memutuskan untuk pergi dan mengambil langkah di kemudian hari, tentu saja dengan rencana yang lebih baik melihat sikap Rana yang tidak sopan.

"Terus gimana ma ? Kita nggak tau dia beneran anak kandung papa dan ginjalnya cocok atau nggak sama pap kalau kita sendiri langsung di usir."

"Kita pergi dulu dari sini, setidaknya kita sudah tau lokasi mereka." Merekapun masuk kedalam mobil dan pergi dari sana.

Rana menutup gorden rumah setelah mengintip dari balik jendela, mereka sudah pergi tapi jantungnya masih berdegup kencang.

"Kenapa mereka bisa tau alamat rumah kita ya Ran ? Dan untuk apa mereka datang kesini."

"Aku dengar dari Dimas bahwa Pak Yudi sedang sakit, kemungkinan ada kaitannya engan itu Bunda tapi untuk apa mereka kesini aku nggak tau."

Bunda mengajak Rana duduk dan lebih tenang, bukan mustahil mereka akan datang kesini lagi. "Mungkin mereka akan datang lagi, haruskah kita pindah Ran ?."

"Tidak perlu Bunda lagipula kalaupun mereka datang, tidak ada alasan bagi mereka membawa kita."

...**************...

"Maira datang ke rumah gue," Rana menaruh tasnya di meja kantin saat Mayang dan Nacita sudah lebih dulu berada di sana.

"Eh dia tau kalau kalian saudara ?." Mayang menyingkirkan tas Rana yang menghalangi pandangan dan fokus menunggu jawaban.

"Kayaknya iya, Dimas kasih tau gue kalau bokap kandung gue lagi sakit, tapi apa hubungannya dengan gue nggak tau juga sih."

Nacita menyedot jus jeruk sambil berfikir. "Udah mau ajal kali Ran jadi mau bagi-bagi warisan kan Maira kaya jadi otomatis orang tuanya kaya juga."

"Nggak usah bandingin sama drama pendek yang biasa lo tonton itu, nggak mungkin dia udah huang gue terus mau ngasih gue warisan." Rana menggeleng, itu sangat tak mungkin.

"Tapi bisa aja Ran kalau ayah kandung lo taubat."

"Iya kalau taubat dan kasih warisan tapi kalau hal gimana ? misal minta gue sesuatu gitu soalnya Maira kayaknya bukan tipe orang yang mau berbagai warisan dan gak mungkin juga dia nyari keberadaan gue dan bunda tanpa alasan."

"Ya nggak tau diri itu namanya." Mayang menyedot jus alpukat yang terasa hambat karena ia minta tak di tambah susu dan mengaduk mie ayam yang di beri sambal. "Tapi mau gimanapun itu ayah kandung lo."

"Kenapa ya orang gampang banget bilang 'gimanapun dia orangtua kamu' kok nggak ada yang bilang sebaliknya waktu gue di telantarkan 'gimanapun dia anak kamu' kok nggak ada ?."

"Oke gue nggak mau komentar apapun, karena meski gue dari keluarga kurang mampu juga tapi orangtua gue bela-belain jadi TKI buat gue bisa kuliah."

"Ya itu orang tua yang semestinya, bertanggung jawab atas segala hal yang anaknya butuhkan." Timpal Rana dengan sebal, hidupnya yang penuh perjuangan tidak bisa di bandingkan dengan siapapun.

Rana sebal dan Mayang dan Nacita yang melihat itu kini membahas hal lain agar tak mengganggu mood Rana.

...****************...

Tak kapok tempo hari di usir oleh Rana, kini Maira datang kembali dengan Mamanya. Entah mengapa mereka terus kesini.

"Buka gue tau kalian di dalam." Suara keras Maira dengan sedikit lengkingan dapat dengan mudah di kenali meski belum melihat langsung.

"Kok mereka kesini terus ya ?."

"Nggak tau bunda, cuekin aja paling cuma mau bikin ribut."

Mereka tak peduli hingga sampai satu jam lamanya dan mereka masih berada di sana. Bukan apa-apa hanya mereka merasa tak enak dengan tetangga kontrakan yang lain jika masih membuat kegaduhan.

"Kurang aj*r mereka nggak mau buka pintu." Kamila dengan sebal memikirkan cara ampuh agar mereka mau di ajak ketemu dan ngobrol.

"Mah sakit tanganku." Maira memperlihatkan telapak tangannya yang memerah karena berulang kali menggedor pintu tapi tak kunjung di buka

Ia menyentuh telapak gangan sang putri dan merasa kasihan. "Kalian cepat buka pintu, ada hal yang mau kami bicarakan atau kami akan membuat keributan yang lebih dari ini."

"Kalian ini nggak punya kerjaan ya." Rana sudah jengah dan kehilangan kesabaran, ia ingin tau mengapa mereka kekeuh sekali datang dan mau bertemu.

Bunda mempersilahkan keduanya untuk duduk. "Kalian duduk dulu dan katakan apa niat kemari, maaf tapi setelah itu kalian harus pergi."

"Siapa juga yang mau lam....."

"Maira shttt." Kamila menyenggol tangan sang putri, ia berubah pikiran dan menggunakan cara yang lebih halus untuk pendekatan.

"Sebelumnya maaf karena membuat keributan, kami hanya tidak tau lagi bagimana cara untuk bertemu dengan kalian."

Kamila memperlihatkan senyuman dan bersikap ramah, ia seperti orang dengan kepribadian yang berbeda saat ini.

"Ranti apa kamu ingat denganku ?."

"Iya aku ingat." Ingatan pahit yang menimbulkan luka berbekas dan sekarang di korek lagi, ingatan 20 tahun lalu. " Kamu istri kedua Yudi." Ucapnya dengan lirih.

Kamila ingin membenarkan bahwa dirinyalah satu-satunya istri Yudi tapi saat ini bukan itu yang terpenting. "Apa benar gadis yang ada di depanku ini adalah anaknya Yudi ?."

Bunda melihat Rana dan tak mungkin menyembunyikan fakta ini lebih lama, toh merek suatu saat akan tau juga. "Iya benar."

"Siapa namamu nak ?."

"Fahrana." Ia menjawab singkat hanya untuk bersikap sopan.

"Baik Fahrana dan Ranti, begini ada hal penting yang ingin ku beritahu kepada kalian soal Yudi yang adalah ayah kamu, beliau sekarang sedang terbaring sakit parah dan ingin bertemu kalian."

"Sudah sangat lama kami di buang dan di telantarkan, kenapa baru cari kami sekarang?." Rana meluap emosinya.

"Aku tau memang salah Yudi tak mencari kalian selama ini tapi aku harap dia bisa menebus dosanya, dan jika kalian berkenan bisakah kalian mengunjunginya karena kondisinya saat ini sangat parah.

Acting Kamila sangat bagus, ia merendah diri dan membuat Maira merasa aneh dengan mamanya yang bersikap sangat berbeda, ia hanya diam saat mamanya bicara agar tak rusak suasana.

"Aku tidak tau sampai kapan waktunya tiba, aku benar-benar takut Yudi akan pergi untuk selamanya." Ranti dan Fahrana tertegun dan sepertinya masuk dalam perangkap tangis palsu.

"Dan jika berkenan bisakah nak Fahrana menyumbangkan salah satu ginjal untuk ayah kandungnya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!