Indonesia
NovelToon NovelToon
Untukmu, Anakku Yang Pertama

Untukmu, Anakku Yang Pertama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Single Mom / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Untukmu, Anakku Yang Pertama
​Penulis: Aksara Handini
Genre: Drama / Keluarga / Inspiratif
​Sinopsis / Deskripsi Cerita
​Menjadi seorang ibu muda bukanlah hal yang mudah, terlebih ketika garis takdir menuntut Ibu Dini untuk berjuang sendirian demi buah hati tercintanya, Aidil. Bagi Dini, Aidil bukan sekadar anak pertama, melainkan simbol harapan, kekuatan, dan alasan terbesarnya untuk terus berdiri di tengah badai kehidupan.
​"Janji yang tak pernah ia langgar, bahkan saat dunia meninggalkannya."
​Ketika dunia membelakangi mereka dan ujian datang bertubi-tubi, Dini tak pernah menyerah. Ia mengorbankan setiap impian pribadinya demi memastikan Aidil mendapatkan masa depan yang layak. Setiap detik perjuangannya kini bukan lagi tentang dirinya sendiri, melainkan tentang senyuman dan masa depan anak laki-laki kecilnya itu.
​"Untukmu, Anakku Yang Pertama" adalah sebuah kisah yang menguras emosi tentang ketulusan kasih sayang seorang ibu, besarnya pengorbanan yang tak terhitung,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 Kala Datang Membawa Sebuah Niat

Pagi itu, Dini merasa ada sesuatu yang aneh.

Bukan pada pesanan kue yang semakin banyak. Bukan pula pada pekerja Dapur Ibu Dini yang sejak pukul lima pagi sudah memenuhi dapur dengan suara loyang, kukusan, dan obrolan yang bersahut-sahutan.

Keanehan itu bernama Kala.

Biasanya laki-laki itu sudah muncul sebelum pukul delapan.

Kadang membawa kopi.

Kadang membawa bahan baku yang dibutuhkan dapur.

Kadang datang tanpa membawa apa-apa, lalu berakhir mengangkat karung tepung atau memperbaiki keran bocor.

Tetapi hari ini—

Kala tidak terlihat.

“Bu Dini.”

“Hm?”

“Gula merahnya taruh mana?”

Dini tersentak dari lamunannya.

“Di rak belakang.”

Santi mengangguk.

Beberapa langkah kemudian, perempuan itu berhenti dan menoleh lagi.

“Bu.”

“Apa?”

“Pak Kala belum datang, ya?”

Sendok di tangan Dini berhenti.

“Kenapa tanya aku?”

Santi tersenyum nakal.

“Ya siapa tahu Ibu tahu.”

“Memangnya aku sekretarisnya?”

Mbak Ning yang sedang membungkus lemper langsung tertawa.

“Bukan sekretaris. Calon—”

“Mbak Ning!”

Seluruh dapur meledak dalam tawa.

Wajah Dini memerah.

“Kerja! Pesanan masih banyak malah gosip!”

“Iya, Bos!”

Mereka menjawab hampir bersamaan.

Dini menggeleng sambil menahan senyum.

Namun beberapa menit kemudian, tanpa sadar matanya kembali melihat pintu.

Kosong.

Dini mendesah pelan.

Kenapa aku malah menunggunya?

Ia segera menyibukkan diri.

Menjelang siang, Aidil pulang.

Anak kecil itu berlari masuk dengan tas yang bergoyang-goyang di punggungnya.

“Bundaaa!”

Dini segera berjongkok.

“Pelan-pelan.”

Aidil langsung memeluknya.

“Bunda, tadi Aidil gambar keluarga!”

“Wah, mana?”

Aidil membuka tasnya.

Sebuah kertas agak kusut dikeluarkan dengan bangga.

Dini menerimanya.

Ada beberapa gambar manusia sederhana.

Satu perempuan berjilbab.

Seorang anak kecil.

Dan seorang laki-laki tinggi di sebelahnya.

Dini menunjuk perempuan itu.

“Ini siapa?”

“Bunda.”

“Kalau ini?”

“Aidil.”

Dini kemudian menunjuk laki-laki paling tinggi.

“Ini siapa?”

Aidil menjawab tanpa ragu.

“Om Kala.”

Senyum Dini perlahan menghilang.

Ia menatap gambar itu lebih lama.

“Kenapa Om Kala ikut digambar?”

Aidil mengerutkan dahi seolah pertanyaan itu sangat aneh.

“Kan keluarga.”

Dada Dini terasa sesak.

“Siapa yang bilang Om Kala keluarga?”

“Aidil.”

“Kenapa?”

Aidil berpikir.

“Karena Om Kala sayang Bunda.”

Dini terdiam.

“Terus Om Kala sayang Aidil.”

Anak itu kembali memasukkan kertas ke tas.

“Kalau keluarga harus sayang, kan?”

Dini tidak mampu menjawab.

Ia hanya mengusap kepala anaknya.

“Iya.”

Aidil tersenyum.

“Berarti benar.”

Kemudian ia berlari menuju dapur mencari Mbak Ning.

Dini tetap berdiri.

Kalimat anaknya terus terngiang.

Kan keluarga.

Entah mengapa justru itulah yang membuat ketakutan lama kembali muncul.

Dini pernah percaya pada keluarga.

Pernah percaya pada pernikahan.

Pernah percaya bahwa seorang suami akan berdiri di samping istrinya ketika dunia sedang tidak ramah.

Kenyataan mengajarinya sebaliknya.

Sekarang Kala perlahan masuk ke kehidupan mereka.

Bukan hanya ke hatinya.

Tetapi juga ke hati Aidil.

Dan itulah yang membuat Dini takut.

Bagaimana jika semuanya terulang?

Kalau dirinya terluka lagi, mungkin ia masih bisa bangkit.

Tetapi bagaimana kalau Aidil ikut terluka?

Sore itu Kala akhirnya datang.

Namun ia tidak sendiri.

Dini yang sedang mencatat pesanan mendengar suara kendaraan berhenti di depan ruko.

Ia tidak langsung melihat.

Sampai Mbak Ning berlari masuk.

“Din!”

“Apa?”

“Kamu keluar sebentar.”

“Kenapa?”

“Pokoknya keluar.”

Dini mengernyit.

“Pesanan belum—”

“Biar aku urus.”

Ada sesuatu dalam ekspresi Mbak Ning yang membuat Dini curiga.

Ia melepaskan celemek.

Begitu sampai di teras, langkahnya terhenti.

Kala berdiri di sana.

Mengenakan kemeja batik lengan panjang.

Rambutnya tertata rapi.

Tidak seperti biasanya.

Di sampingnya berdiri seorang perempuan berusia sekitar enam puluh tahun.

Wajahnya teduh.

Kerudung sederhana membingkai wajah yang mulai dihiasi kerutan.

Seorang laki-laki tua berdiri di sebelahnya.

Dini menelan ludah.

Kala melangkah mendekat.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Dini memandang ketiga orang itu bergantian.

“Ini...?”

Kala terlihat gugup.

Untuk pertama kalinya Dini melihat laki-laki itu seperti kehilangan kata-kata.

Perempuan di sampingnya tersenyum.

“Saya ibunya Kala.”

Jantung Dini berdegup keras.

Ia buru-buru menyalami tangan perempuan itu.

“Maaf, Bu. Saya tidak tahu mau datang.”

“Memang sengaja tidak diberi tahu.”

Perempuan itu melirik anaknya.

“Katanya takut kamu kabur.”

“Bu.”

Kala langsung protes.

Dini hampir tertawa.

“Silakan masuk.”

Mereka duduk di ruangan sederhana di samping dapur.

Mbak Ning menyediakan teh dan beberapa jenis kue.

Namun sebelum pergi, perempuan itu sempat melirik Dini sambil mengangkat kedua alisnya.

Dini membalas dengan tatapan tajam.

Jangan macam-macam.

Mbak Ning menahan tawa lalu pergi.

Suasana berubah canggung.

Dini duduk dengan tangan bertaut di pangkuannya.

Kala duduk di seberang.

Ayah Kala mengambil secangkir teh.

Sedangkan ibunya memandang Dini dengan senyum lembut.

“Kami sudah banyak mendengar tentang kamu.”

Dini gugup.

“Semoga yang baik-baik, Bu.”

“Tidak.”

Dini langsung menatap Kala.

Kala terbatuk.

Ibunya tertawa.

“Bercanda.”

Dini akhirnya tersenyum.

“Kata Kala, kamu perempuan pekerja keras.”

Dini menunduk.

“Masih belajar, Bu.”

“Dan punya anak laki-laki?”

“Iya.”

“Mana anaknya?”

“Aidil!”

Terdengar suara dari belakang.

“Aidil, dipanggil Bunda!”

Beberapa detik kemudian Aidil muncul.

Langkahnya melambat ketika melihat orang-orang asing.

Dini memanggil.

“Sini, Nak.”

Aidil mendekat dan berdiri di samping ibunya.

“Salim.”

Aidil menyalami kedua orang tua Kala.

Ibu Kala tersenyum lebar.

“Ya Allah, ganteng sekali.”

Aidil malu-malu.

“Namanya siapa?”

“Aidil.”

“Umur berapa?”

Aidil menjawab dengan jari.

Perempuan itu tertawa.

Kala memandang Dini.

Tatapan mereka bertemu sesaat.

Kemudian Dini cepat-cepat mengalihkannya.

Setelah Aidil kembali bermain, suasana kembali hening.

Kali ini ayah Kala yang berbicara.

“Dini.”

“Iya, Pak.”

“Kedatangan kami bukan sekadar berkunjung.”

Dini sudah menduganya.

Tetapi tetap saja jantungnya semakin cepat.

Ayah Kala menatap putranya.

Kala menarik napas.

Kemudian berdiri.

Ia berpindah tempat dan duduk lebih dekat di hadapan Dini.

“Din.”

Dini tidak menjawab.

“Aku sebenarnya sudah lama ingin bicara.”

“Bicara apa?”

Kala tersenyum gugup.

“Kamu tahu.”

“Kalau aku tahu, kamu tidak perlu bicara.”

Ayah Kala tertawa kecil.

“Lawanmu berat, La.”

Kala menggaruk tengkuk.

Kemudian ekspresinya berubah serius.

“Aku ingin menikahimu.”

Ruangan mendadak sunyi.

Dini merasa seluruh suara dari dapur menghilang.

Padahal ia masih mendengar bunyi kukusan.

Suara orang berbicara.

Kendaraan lewat.

Tetapi semuanya terasa jauh.

Kala melanjutkan.

“Aku tidak datang untuk menggantikan siapa pun.”

Dini menatapnya.

“Aku juga tidak ingin menjadi penyelamatmu.”

Mata Dini mulai berkaca-kaca.

“Kamu sudah bisa menyelamatkan dirimu sendiri jauh sebelum aku datang.”

Kala tersenyum.

“Aku cuma ingin berjalan di sampingmu.”

Dini menggigit bibir.

“Kala...”

“Aku tahu kamu takut.”

Kalimat itu membuatnya terdiam.

“Aku tahu pernikahan pertamamu meninggalkan banyak luka.”

Kala tidak menyebut Yudi.

Tidak perlu.

“Aku tidak meminta kamu melupakan semuanya.”

Ia menarik napas.

“Aku hanya meminta kesempatan untuk membuktikan bahwa tidak semua rumah harus membuat seseorang ingin melarikan diri.”

Air mata Dini akhirnya jatuh.

Ibu Kala mengusap matanya sendiri.

Namun Dini belum menjawab.

Ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting daripada perasaannya.

“Aidil bagaimana?”

Kala tersenyum.

“Apa maksudmu?”

“Kalau kita menikah.”

Dini menatapnya serius.

“Aidil bukan anak kandungmu.”

“Aku tahu.”

“Sekarang mungkin kamu menyayanginya.”

Kala diam.

“Tapi nanti kalau kita punya anak sendiri?”

Suasana berubah.

Dini mengusap air matanya.

“Aku tidak mau Aidil merasa menjadi orang asing di rumahnya sendiri.”

Kala tidak langsung menjawab.

Dini melanjutkan.

“Aku pernah kehilangan rumah, Kala.”

Suaranya bergetar.

“Aku bisa menerima kalau suatu hari kamu tidak mencintaiku lagi.”

Kala hendak menyela.

Tetapi Dini mengangkat tangan.

“Dengarkan dulu.”

Kala mengangguk.

“Tapi aku tidak akan pernah menerima kalau Aidil disakiti.”

Mata Dini memerah.

“Dia sudah terlalu banyak melewati semuanya bersamaku.”

Kala menatapnya lama.

Kemudian ia berdiri.

Tanpa berkata apa-apa, ia berjalan ke belakang.

Dini bingung.

Beberapa detik kemudian—

“Aidil!”

“Om Kala!”

Kala kembali sambil menggandeng Aidil.

Ia berjongkok agar sejajar dengan anak itu.

“Aidil.”

“Iya?”

“Om boleh tanya?”

Aidil mengangguk.

“Kalau Om menikah sama Bunda, boleh?”

Dini membelalakkan mata.

“Kala!”

Namun Aidil justru berpikir serius.

“Menikah itu apa?”

Ayah Kala langsung tertawa.

Kala hampir kehilangan kata-kata.

“Ya... Om tinggal sama Bunda dan Aidil.”

Mata Aidil membesar.

“Setiap hari?”

“Iya.”

“Beli martabak?”

Dini menutup wajah.

Semua orang tertawa.

Kala mengangguk.

“Kadang-kadang.”

Aidil terlihat senang.

“Boleh!”

Kala tersenyum.

Namun kemudian ia mengatakan sesuatu yang membuat Dini menahan napas.

“Kalau nanti Om punya anak lagi, Aidil tetap anak Om.”

Anak kecil itu tidak sepenuhnya memahami.

Tetapi Dini memahami setiap katanya.

Kala menatapnya.

“Aku tidak bisa menjanjikan akan menjadi ayah sempurna.”

Suaranya rendah.

“Tapi aku bisa berjanji tidak akan pernah membuat Aidil merasa harus bersaing mendapatkan kasih sayang di rumahnya sendiri.”

Air mata Dini kembali mengalir.

Aidil tiba-tiba memeluk Kala.

“Om Kala jangan pergi.”

Kala memejamkan mata.

Tangannya memeluk anak itu.

“Insyaallah.”

Dini menutup mulutnya menahan tangis.

Malam harinya, setelah semua orang pulang, Dini duduk sendirian di kamar.

Aidil sudah tertidur.

Di atas meja terdapat sebuah kotak kecil.

Bukan cincin.

Kala sengaja tidak membawa cincin.

Katanya, ia tidak ingin membuat Dini merasa harus mengatakan iya hanya karena keluarganya sudah datang.

Di dalam kotak itu hanya ada sebuah kertas.

Dini membukanya.

Tulisan tangan Kala memenuhi beberapa baris.

Aku tidak meminta jawaban hari ini.

Pikirkan baik-baik.

Kalau jawabanmu tidak, aku akan menghormatinya.

Kalau jawabanmu iya, aku tidak menjanjikan kehidupan tanpa masalah.

Aku hanya berjanji kita akan menghadapinya sebagai satu keluarga.

Dini membaca kalimat terakhir berulang kali.

Satu keluarga.

Tangannya menyentuh rambut Aidil.

“Bunda harus bagaimana, Nak?”

Aidil tentu tidak menjawab.

Dini menatap langit-langit.

Ia teringat malam ketika Yudi mengusirnya.

Kemudian teringat pagi ketika dirinya melahirkan Aidil dalam keterbatasan.

Ia teringat tangis.

Kelaparan.

Pengadilan.

Kebakaran.

Semua yang membuatnya belajar berdiri sendiri.

Dini takut.

Sangat takut.

Bukan karena ia tidak mencintai Kala.

Justru karena ia mulai mencintainya.

Dan mencintai seseorang berarti memberikan kepadanya kemungkinan untuk melukai kita.

Namun ada perbedaan besar antara Kala dan laki-laki dari masa lalunya.

Kala tidak meminta Dini menyerahkan hidupnya.

Ia hanya meminta izin untuk berjalan bersamanya.

Dini mengambil buku catatannya.

Di halaman terakhir, ia menulis satu kalimat.

Mungkin menjadi perempuan mandiri bukan berarti harus menjalani semuanya sendirian.

Air matanya jatuh tepat di bawah tulisan itu.

Kemudian—

tok... tok... tok...

Dini menoleh ke jendela.

Mbak Ning berdiri di luar.

“Din!”

Dini membuka jendela.

“Apa, Mbak?”

“Belum tidur?”

“Belum.”

Mbak Ning menyeringai.

“Jadi?”

“Jadi apa?”

“Kala.”

Dini langsung menutup jendela.

“DIN!”

Dini tertawa.

“Besok saja!”

“Jawabannya apa?”

“Pulang sana!”

Mbak Ning masih berteriak dari luar.

“Kalau kamu nolak, kasih ke aku saja!”

“MBAK NING!”

Tawa mereka pecah di tengah malam.

Untuk pertama kalinya, pembicaraan tentang pernikahan tidak membuat Dini merasa terperangkap.

Ia justru tersenyum.

Namun Dini belum tahu bahwa sebelum dirinya sempat memberikan jawaban kepada Kala, sebuah kejadian pada keesokan harinya akan menguji niat laki-laki itu jauh lebih cepat dari yang mereka bayangkan.

1
Lisa
Rendi harus mempertimbangkan dgn sungguh²..menyerahkan data ke pihsk lawan atau tetap berada di pihak dapur Dini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!