Indonesia
NovelToon NovelToon
Secercah Cahaya

Secercah Cahaya

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Penyelamat / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.

Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!

Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Kesalahpahaman

"Bodo amat, kita nggak bisa diam aja! Ayo temui guru!" seru Rio, suaranya menggelegar membakar semangat teman-temannya.

Tanpa membuang waktu, mereka bergegas mengikuti langkah lebar Rio menuju lobi utama museum. Setibanya di sana, Rio langsung mencegat salah satu guru pembimbing mereka dengan raut wajah panik.

"Pak Taryo, ayolah! Kita harus ke kantor polisi sekarang!" desak Rio dengan napas memburu.

Pak Taryo tampak kewalahan. "Aduh, anak-anak! Ini berbahaya. Ini urusan pihak berwajib. Kalau kalian nekat ikut campur dan malah terseret masalah serius, Bapak yang akan disalahkan!"

"Tapi... tapi kan Danu nggak salah, Pak!" sela Zahra dengan suara bergetar karena panik dan frustrasi.

"Pokoknya tidak! Kalian tetap di sini sampai arahan selanjutnya!" tegas Pak Taryo, melipat tangannya di dada, mencoba mempertahankan wibawanya.

Reno mendecak kesal, memutar bola matanya malas. "Haa... percuma debat sama bapak-bapak. Mending kita jalan sendiri aja, yuk teman-teman!" ajak Reno mantap.

"Ayo!" sahut yang lain serempak. Mereka pun nekat menerobos keluar dari pintu kaca gedung museum, mengabaikan seruan guru mereka.

Melihat murid-muridnya membangkang, Pak Taryo kelabakan dan berusaha mengejar mereka sampai ke pelataran depan. "Heei! Kalian!! Dibilangin bandel banget sih!" teriaknya dengan napas ngos-ngosan.

Rio menoleh sambil terus berjalan mundur. "Maaf, Pak! Mending Bapak nggak usah ngejar kami. Izin, Pak, ini darurat solidaritas!"

Mereka berlima kini berdiri di pinggir jalan raya yang bising, dikepung asap knalpot dan lautan kendaraan yang padat merayap. Udara panas siang itu seakan menambah keruwetan di kepala mereka.

"Haa... terus selanjutnya gimana, Ren? Lu kan kaya, panggil mobil kek atau apa," tuntut Rio sambil menyeka keringat di dahinya.

Reno mengusap dagunya, menatap nanar ke arah jalanan yang stuck total. "Hmm... bentar. Masalahnya, sekaya apa pun gue, panggil taksi atau mobil semahal apa pun tetap aja nggak bisa terbang ngelewatin macet jahanam ini."

"Astaga!" Zahra seketika memegang kepalanya, merasa hampir pingsan saking stresnya memikirkan nasib Danu.

Sementara itu, di tempat yang terasa seperti neraka bagi Danu...

"Tunggu, Pak! Saya nggak salah! Sumpah bukan saya!" teriak Danu putus asa dari kursi pemeriksaannya di kantor polisi.

"Diam! Lebih baik kamu dipenjara dulu untuk penahanan sementara. Kalau nanti ada keterangan atau bukti kuat yang menunjukkan kamu tidak bersalah, baru kami bebaskan!" bentak seorang petugas dengan raut wajah tanpa kompromi.

"Tidaaakk... ayolah, Pak... Pak, tolong dengarkan saya!"

Danu terus meronta saat tubuhnya mulai diseret paksa oleh dua petugas menuju blok sel tahanan. Begitu melewati lorong yang remang-remang, mata Danu membelalak. Di balik jeruji-jeruji besi itu, tatapan-tatapan tajam dari para tahanan berbadan kekar dan bertampang garang menyambutnya. Atmosfer gelap dan pengap itu seolah mencekik lehernya.

Seketika, memori kelam dari masa lalunya menyeruak hebat. Trauma itu kembali menghantam kesadarannya tanpa ampun, membuat dadanya sesak.

Pintu sel paling pojok dibuka, dan tubuh Danu didorong masuk sebelum akhirnya terdengar suara jeruji dikunci rapat. Klang!

Danu jatuh terduduk di sudut dinding yang dingin. Tubuhnya gemetar hebat, ia menekuk lutut dan memeluknya erat-erat. "Haa... kenapa bisa begini..." isaknya pelan. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah, mengalir deras membasahi pipinya. Di tengah keputusasaannya yang kelam, ia berbisik lirih, "Teman-teman... tolong aku...."

Pada waktu yang sama, lautan kendaraan di jalan raya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan bergerak. Reno, Rio, Putri, Zahra, dan Nadia masih terjebak di dalam mobil SUV mewah yang kini terasa seperti oven kepanikan.

"Aduh, ini bisa dipercepat nggak sih?! Seharusnya kan kita udah bisa sampai ke sana dari tadi!" keluh Zahra sambil menggoyang-goyangkan bahu sang sopir dari kursi belakang.

Sang sopir, yang tak lain dan tak bukan adalah Reno sendiri, hanya bisa mendengus. Sopir pribadinya sudah ia suruh pulang sejak awal karena mobil itu tidak akan muat menampung mereka berenam jika ditambah Danu nanti.

"Haa... bentar, bentar. Kalau begini terus kita mending keluar dari mobil dan lari aja deh," sungut Reno sambil memikirkan solusi gila.

"Ayolah cepet! Danu pasti nangis di sana sendirian!" Zahra makin panik, membayangkan nasib teman mereka di balik jeruji besi.

"Hei, hei, tenang ya, Sis. Gue tahu lu cemas banget... tapi kita harus tenang dulu biar bisa mikir," bujuk Nadia sambil mengelus punggung Zahra.

"Iya, bener kata Nadia. Jangan panik," Putri mengangguk setuju, meski wajahnya sendiri pucat pasi.

"Haa... ya udah... cepet pikirin caranya..." lirih Zahra, nyaris kehabisan tenaga.

Reno memukul setir mobil dengan frustrasi. "Hmm... haa... sepertinya gue harus membangkang lagi."

Tanpa membuang waktu, Reno merogoh ponselnya, mencari satu-satunya kontak darurat yang paling ia hindari. Panggilan tersambung. Begitu terdengar suara dari seberang, Reno langsung berteriak, mengabaikan segala sopan santun.

"PAPA! AKHIRNYA DIANGKAT! PA... PLEASE... BERIKAN AKU PENGAWAL PAPA BUAT BIKIN JALAN PINTAS SEKARANG!"

"Mau buat apa kamu teriak-teriak begitu?" sahut suara berat dan tegas dari seberang telepon.

"BACOT! Aku lagi malas berdebat! Serahkan saja, Pak Tua!" bentak Reno nekat, urat lehernya sampai menonjol. Teman-temannya di dalam mobil sampai menahan napas mendengar Reno mengumpat pada ayahnya sendiri yang terkenal menakutkan.

"Apa kamu bilang?!"

Tiba-tiba, dari ujung telepon, sayup-sayup terdengar suara bisikan seorang perempuan yang sangat tenang. "Sst... serahkan saja."

"Tapi..." ayah Reno terdengar ragu.

"Serahkan saja," desak suara perempuan itu lagi, lebih tegas namun lembut.

Terdengar helaan napas berat. "Ahh... kamu beruntung. Baiklah, Ayah izinkan kali ini!"

Reno mengernyit bingung. "Eh, tunggu dulu... itu tadi suara siapa, Pa? Pa?!"

Tut. Tut.

Telepon dimatikan sepihak. Reno menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut, namun Zahra segera menepuk pundaknya. "Ayo! Ke sana sekarang!" semangatnya kembali menyala.

"Haa... bentar, tunggu dulu pengawalnya ke mari. Kita minggirin mobilnya," intruksi Reno.

Mereka berlima akhirnya turun dan duduk gelisah di kursi panjang pinggir jalan, menunggu bantuan datang.

"Sampai kapan kita nunggu?" tanya Zahra sambil menggigit kuku.

"Sabar, nanti juga datang," jawab Nadia menenangkan.

"Nah, itu dia datang!" seru Putri sambil menunjuk ke arah jalan.

"Wah, datang beneran!" Rio melompat kegirangan.

Dua motor patwal berukuran besar dengan sirine menyala membelah kemacetan, menghampiri mereka. Pengawal itu memberi arahan singkat agar mobil Reno mengikuti rapat dari belakang. Mereka berlima kembali masuk ke mobil, bersiap untuk perjalanan gila.

Motor pengawal itu mulai membuka jalan, memotong melalui rute-rute tikus dan jalanan berliku yang padat oleh warga. Karena jalanan terlalu sempit dan banyak orang yang berkerumun, Rio tiba-tiba mendapat ide nekat. Ia menurunkan kaca jendela, merogoh saku jaketnya, dan mengeluarkan sisa petasan mercon dari acara main-main mereka beberapa waktu lalu.

Ia menyalakan sumbunya dan melemparnya ke arah tanah lapang di depan. BAM!

Orang-orang refleks menyingkir karena kaget, memberi peringatan keras bahwa mobil ini sedang melaju dalam kondisi darurat. Meski nekat dan sukses bikin jantung teman-temannya mau copot, taktik gila Rio berhasil membelah jalan yang lebih terbuka.

Sesampainya kembali di jalan raya yang lengang, Reno langsung menginjak pedal gas dalam-dalam.

"Pakai sabuk pengaman, teman-teman!"

Wuishhh! SUV itu melesat membelah angin.

Setibanya di pelataran kantor polisi, rem berdecit keras. Kelimanya langsung berhamburan turun dari mobil dan berjalan setengah berlari ke arah pintu masuk.

Namun, langkah mereka dihadang oleh seorang petugas piket berwajah garang. "Kenapa kalian di sini? Ini bukan tempat bermain anak sekolah."

"Teman kami ditangkap, Pak! Padahal dia nggak salah apa-apa!" sergah Rio maju ke depan, menatap tajam petugas itu.

Petugas itu menaikkan sebelah alisnya. "Teman kalian? Siapa nama teman kalian?"

"DANU!" jawab mereka serempak dengan suara lantang.

Melihat kegigihan kelima anak itu, sang petugas menghela napas. "Baiklah, silakan masuk."

Awalnya, saking semangatnya, mereka berlima berniat langsung menerobos ke area blok sel tahanan. Namun, beberapa polisi segera menghadang dan memberitahu bahwa prosedur besuk harus dilakukan di ruang pertemuan khusus. Mereka pun dituntun masuk ke sebuah ruangan bernuansa putih pucat dengan meja panjang di tengahnya.

Sementara itu, di dalam sel paling pojok, Danu masih meringkuk memeluk lututnya. Ketika seorang penjaga menyebutkan bahwa teman-temannya datang, sepercik cahaya harapan kembali menyala di matanya. Tangannya segera diborgol ke depan, dan ia dituntun menyusuri lorong dingin itu menuju ruang pertemuan.

Begitu pintu ruangan dibuka, Danu setengah berlari menghampiri mereka.

"Kalian! Kalian ada di sini!" seru Danu, suaranya bergetar hebat. "Syukurlah... kalian bisa bebasin aku nggak?" tanyanya dengan tatapan memohon. Kantung matanya memerah dan bengkak, jejak air mata masih tercetak jelas di pipinya.

Zahra menutup mulutnya, menahan isak tangis melihat kondisi sahabatnya. "Danu... kamu habis nangis, ya?"

Danu tertawa sumbang, tawanya terdengar sangat rapuh. "Hahaha... iya. Kupikir... aku nggak akan bisa bertemu kalian lagi."

Rio langsung melangkah maju, menepuk bahu Danu dengan mantap. "Tenang saja, Nu. Gue Rio, sahabat lu! Gue pasti akan bantu lu keluar dari sini... tapi... kita ngobrol bentar, ya."

"Oke," angguk Danu lemah.

"Jadi... lu... nggak diapa-apain kan di dalem?" tanya Rio. Wajahnya memancarkan kekhawatiran, sementara di bawah meja, tanpa ada yang menyadari, kedua tangannya saling meremas, gemetar hebat. Ia menunduk dalam, mati-matian mengatur napasnya yang mendadak terasa berat. Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya.

​"Nggak ada sih... untungnya para tahanan lain cuma diam," jawab Danu jujur.

​"Bagus kalau begitu..." balas Rio dengan suara sedikit parau.

​Danu memicingkan mata, menyadari ada yang aneh dari gelagat temannya. "Kenapa lu, Yo? Kepala lu nunduk gitu?"

​Rio tersentak pelan. Ia buru-buru mengangkat kepalanya dan memaksakan tawa yang terdengar canggung. "Hahahaha, gapapa! Oh iya, gue ada pertanyaan lagi nih buat lu." Rio berusaha keras mengalihkan perhatian, buru-buru menyembunyikan tangannya ke dalam saku jaket.

​"Pertanyaan apa?"

​Rio menelan ludah, melirik jam dinding yang berdetak. "Lu... ah, sudahlah. Sepertinya waktu kita bicara sudah habis," potong Rio cepat.

Nadia melirik jam di tangannya. "Lu benar, Yo. Waktu besuk kita habis."

Mereka terpaksa meninggalkan Danu. Saat melangkah keluar dari ruangan itu, tak ada lagi air mata atau kepanikan. Perasaan sedih dan hancur yang tadi menguasai kini terkunci rapat-rapat di balik raut wajah yang berubah dingin dan serius.

Begitu pintu kantor polisi tertutup di belakang mereka, kelimanya serempak mengeluarkan ponsel masing-masing. Mata mereka menajam, jari-jemari bergerak cepat di atas layar.

Pencarian baru saja dimulai. Mereka akan melacak setiap titik lokasi, setiap kemungkinan, dan setiap jejak digital untuk menemukan satu nama: Gavin Mahendra.

1
mama Al
semoga Rio bisa jadi teman baik untuk Danu
Wednesday
biasa anak obesitas kebanyakan sensitif
Miu.Nuha
betulah ya... ketika keluarga gk bisa dirasa seperti keluarga, tpi dpt bestie baik gini rasany kek punya sodara ☺
aku juga penasaran sama karya kamu, Danu...
MF015
akhirnya ada juga yang mau temenan sama Danu seperti Rio
ginevra
tuh kan... ada kan yang punya hati baik
ginevra
tidak tidak... jangan berpikiran kayak gitu. banyak kok yang bakalan suka sama kamu. banyak orang yang pikirannya terbuka. cuma kamu belum nemuin aja
ginevra
aku tahu perasaanmu.... cobalah diet dan berolahraga... tapi bukan untuk menjadi lebih kurus tapi lebih sehat aja. karena kamu bersinar dengan caramu sendiri.... love yourself
Siti Aisyah
Danu kamu hebat gendut jangan jadikan masalah untukmu tetap semangat buat kurusin badan ya dan jangan makan mie mulu nu kasian perutmu😆
Maya 摩耶
Kayaknya gk mungkin kau bisa tak terlihat deh nu
Maya 摩耶
emang sebesar apa sih si danu ini?
Hamzah: yang gemuk
total 2 replies
Maya 摩耶
Kayaknya itu bukan karena badanmu deh nu
Hamzah: terus apa dong 😅
total 1 replies
Pencari Cerita
masih ada teman yang nerima kondisi kamu ko Danu, semangat
LUNEYA
🌹🌹☺️ Selalu seperti itu kalau anak laki-laki gemuk, dia akan diejek, Orang-orang sangat iri pada orang gemuk, tetapi mereka memiliki keuntungan. ☺️🌹😎
internona Nerrazurri
semoga Danu dan Rio bisa menjadi teman baik
Fairuz
yang semangat ya danu, semua pasti akan di lewati dengan baik 💪
Myz Pena
ya ampun danu.. please jangan suka merendahkan diri mu sendiri.. semua harus di syukuri dan tetap zmngat dalam menjalani hidup 🤧
Myz Pena
bayu anaknya agak berisi ya badannya ? apakah dia juga dari keluarga yang sederhana ?
Hamzah: iya agak berisi badannya
total 2 replies
𝔇𝔧𝔞𝔣𝔞𝔯 𝔖𝔲𝔴𝔦𝔱𝔬
Danu kapan mau jadi kurus atuh😄
Hamzah: kapan-kapan 😂
total 1 replies
indah Mayaddah f
Ya Allah Danu 😭 dibuang sama keluarga sendiri dan harus bertahan hidup sendirian di kosan sempit, kebayang sepi dan sakitnya jadi Danu 🥺
Tio Buki
Semangat ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!