Satu Atap Bersama Mantan
Aira seorang gadis yang hobi berbelanja menggantungkan hidupnya pada pundi-pundi kekayaan keluarganya terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan rekening banknya yang terancam diblokir papinya.
Namun di hari pernikahannya niatnya untuk kabur justru malah bertemu mantan pacarnya yang 8 tahun lalu mencampakkannya dengan alasan dingin.
Devan, cinta pertama Aira sekaligus mantan Aira yang sangat ia benci ternyata adalah calon suaminya.
Dua orang yang masih sama-sama sayang, tapi sangat gengsi dalam mengakui perasaannya.
Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka kedepannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 : Rencana Pembalasan
Begitu mobil Devan akhirnya berbelok keluar dari pelataran rumah Nadia, keheningan langsung menyergap interior mobil.
Nadia baru saja turun sekitar dua puluh detik yang lalu, Aira yang sejak tadi menahan napas langsung meledak.
"Bisa gak sih lain kali gak usah ajak-ajak gue keluar lagi?!" sembur Aira sengit, memutar tubuhnya menghadap Devan yang sedang memutar kemudi menuju jalan raya.
Pria itu justru menyunggingkan senyum tipisnya yang super menyebalkan, melirik Aira lewat sudut mata. "Lah, kenapa emangnya? Tadi pas naik roller coaster lu seneng-seneng aja tuh. Kenapa pas di mobil mendadak senewen gini?"
"Lu pantesnya nanya sama diri lu sendiri ya!" Aira memajukan tubuhnya. "Gue ini manusia, Devan! Bukan patung pajangan yang lu seret ke taman cuma buat nontonin lu asyik pacaran—eh, asyik tebar pesona sama cewek lu itu!"
"Nadia cuma mitra bisnis keluarga gue, Aira," sahut Devan santai, nadanya kelewat tenang. "Lagian dia emang lagi butuh tumpangan, masa iya gue tega nolak?"
"Halah! Mitra bisnis apa mitra masa lalu?!" bentak Aira. "Gue gak buta ya! Dari tadi di taman sampai di dalam mobil, lu berdua asyik ketawa-tawa, ngobrolin masa lalu lah, masa kuliah lah... terus gue dibiarin kayak orang bego di samping lu! Kalau emang lu mau nostalgia sama dia, mending lu jalan berdua aja sana! Gak usah pake acara ajak gue segala!"
Bukannya panik atau merasa bersalah diamuk habis-habisan, Devan justru menepi pelan ke pinggir jalan. Pria itu mematikan lampu sein, menarik rem tangan, lalu memutar seluruh tubuhnya menghadap Aira.
Pria itu menyandarkan siku di atas kemudi, menatap Aira yang napasnya memburu cepat dengan pipi yang merona merah padam karena amarah.
"Bentar, bentar..." Devan menyunggingkan cengirannya yang paling tengil. "Nyonya Aira... lu lagi cemburu ya?"
Jleg!
Aira membeku di tempatnya.
"S-siapa yang cemburu?!" sembur Aira gagap. "Dih! Pede banget lu! Gue cuma kesal karena lu gak punya sopan santun, bukan karena cemburu!"
"Masa sih bukan cemburu?" goda Devan makin menjadi-jadi, memajukan wajahnya sedikit mendekati Aira. "Muka lu merah banget lho dari tadi. Terus nada bicara lu persis banget kayak istri yang lagi kepanasan ngeliat suaminya dipuji cewek lain. Ngaku aja deh, Ra. Lu cemburu kan ngeliat gue akrab sama Nadia?"
"GAK!" jerit Aira histeris, mendorong bahu Devan dengan kedua tangannya agar pria itu menjauh. "Jangan mimpi ya lu, Devan Argawinata! Gue gak akan pernah cemburu sama cowok tengil dan kegatelan kayak lu!"
Devan tertawa renyah. Pria itu kembali memposisikan duduknya, melepas rem tangan, dan melanjutkan perjalanan pulang menuju penthouse.
Namun, di sepanjang sisa perjalanan, Devan tidak berhenti bersenandung kecil dengan raut wajah yang sangat puas.
Sementara itu, Aira membuang pandangannya ke luar jendela, menyilangkan tangan di dada. Di balik raut kesalnya, ada satu kesadaran yang menghantam kepala Aira.
Tunggu dulu... batin Aira, matanya menyipit tajam menatap bayangan Devan dari kaca jendela.
Sikap dia yang sok akrab sama Nadia tadi... reaksi dia yang langsung ngetawain gue pas gue amuk... ini cowok sengaja banget kan?! Dia emang sengaja manfaatin Nadia buat bikin gue cemburu dan kelihatan butuh sama dia kan!
Aira menggeretakkan giginya.
Oh, gitu cara main lu, Argawinata? Lu pikir cuma lu doang yang bisa bikin panas? Oke. Kita lihat... siapa yang bakal kebakar duluan nanti! tekad Aira dalam hati, menyusun rencana pembalasan dendam.
Kesempatan emas yang ditunggu-tunggu Aira akhirnya datang beberapa hari kemudian.
Sebuah undangan dari Asosiasi Pengusaha Muda Indonesia mendarat di meja mereka. Malam ini, sebuah acara gala bisnis tahunan berskala besar digelar di ballroom hotel bintang lima ternama di kawasan Sudirman.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menikah secara tertutup, Devan memutuskan untuk membawa Aira secara resmi ke publik sebagai istrinya.
Di dalam kamarnya, Aira berdiri di depan cermin rias.
Aira sengaja tidak tampil biasa saja malam ini. Ia memilih gaun malam berwarna merah marun dengan potongan off-shoulder yang memamerkan bahunya dan lekuk tubuhnya. Rambut hitam panjangnya ditata bergelombang ke satu sisi, sementara polesan makeup-nya dibuat tajam pada bagian mata dengan sentuhan lipstik merah menyala.
Ia memakai perhiasan simpel namun mewah pemberian Papi Surya, dan sepasang stiletto hitam yang membuat posturnya makin jenjang.
Aira menatap pantulan dirinya di cermin, menyunggingkan senyuman puas.
Malam ini, lu bakal lihat sendiri, Devan...
Klek.
Pintu kamar terbuka. Devan melangkah masuk sambil merapikan dasi kupu-kupu pada setelan jas tuxedo hitamnya. Pria itu kelihatan sangat tampan dan gagah, seperti biasa.
Namun, begitu pandangan mata Devan mendarat pada sosok Aira yang sedang berdiri di dekat meja rias... langkah kaki Devan seketika terhenti.
Pria itu terpaku di tempatnya. Matanya membelalak pelan, menyapu penampilan Aira dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Napas Devan tertahan di tenggorokan selama beberapa detik. Aira malam ini... benar-benar cantik luar biasa, anggun dan seksi membuat dadanya berdesir tak menentu.
Aira menyadari reaksi Devan yang tertegun itu. Dengan gaya paling santai dan penuh percaya diri, Aira menyambar tas genggamnya lalu melangkah mendekati Devan.
"Kenapa? Lu melongo gitu kayak baru ngeliat hantu," ledek Aira, menyejajarkan posisinya di depan Devan sambil menyunggingkan senyuman manis.
Devan berdeham keras, buru-buru menetralkan raut kagetnya meski telinganya mulai merona merah tipis. "E-ekhem... enggak. Baju lu... agak terlalu terbuka gak sih bagian bahunya?"
"Dih, biasa aja tuh," balas Aira santai, mengibaskan rambutnya ke belakang bahunya. "Ini gaun standar acara gala kali. Kenapa? Lu takut ketutupan sama cantiknya istri lu sendiri?"
Devan merapikan kerah jasnya, memasang kembali raut sok tenang. "Ngapain takut? Bagus dong kalau istri gue cantik, berarti selera gue emang gak pernah gagal."
Aira cuma terkekeh pelan dalam hati.
Tunggu aja pas kita sampai di sana, Devan.
Ballroom hotel bintang lima itu sudah disulap menjadi tempat yang sangat megah. Lampu-lampu kristal gantung memancarkan pendar keemasan, alunan musik terdengar lembut, dan puluhan pebisnis papan atas, pejabat, serta selebriti papan atas tampak lalu-lalang saling bertukar sapa.
Begitu pintu ganda ballroom terbuka dan pembawa acara mengumumkan kedatangan Devan Argawinata bersama istrinya, perhatian sebagian besar tamu undangan teralih pada mereka.
Kamera-kamera wartawan bisnis di area pintu masuk berkelebat menyalakan kilatan lampu flash.
"Itu... Pak Devan Argawinata kan?"
"Gila, istrinya cantik banget!"
"Serasi banget mereka berdua, kayak pangeran sama putri!"
Devan merapatkan tubuhnya di samping Aira, mengulurkan siku tangannya. "Rangkul lengan gue, Ra. Bikin pameran dikit di depan wartawan."
Aira melingkarkan jemarinya di lengan Devan. Mereka berjalan menyusuri karpet merah menuju area tengah.
Namun, drama pembalasan dendam Aira baru saja dimulai.
Begitu mereka memasuki area jamuan utama, Devan langsung disapa oleh beberapa kolega bisnis lamanya. Devan sibuk membalas sapaan para direktur perusahaan partner, sementara Aira berdiri di sampingnya dengan senyuman anggun.
Tak butuh waktu lama, penampilan memukau Aira langsung menarik perhatian para pria lajang nan mapan di acara tersebut.
Seorang pria tinggi berwajah tampan dengan setelan jas abu-abu—salah satu pengusaha muda sukses putra pemilik jaringan hotel ternama—melangkah mendekati tempat mereka berdiri dengan segelas champagne di tangannya.
"Woy, Devan," sapa pria itu, lalu pandangannya beralih pada Aira, pria itu tak menutupi ekspresi kagumnya. "Dan... siapa wanita luar biasa cantik di sebelah kamu ini?"
Devan tersenyum tipis, merangkulkan tangannya di pinggang Aira secara refleks. "Ini Aira, istriku, Rendy."
Pria bernama Rendy itu mengulurkan tangannya pada Aira, tersenyum sangat manis. "Suatu kehormatan bisa bertemu langsung dengan Nyonya Argawinata. Suaminya pengusaha sukses, dan ternyata istrinya lebih mirip bidadari daripada manusia biasa."
Aira yang dari tadi menunggu momen ini langsung meluncurkan aksi pembalasannya.
Aira menyambut uluran tangan Rendy dengan senyuman paling manis yang pernah ia keluarkan.
"Terima kasih banyak atas pujiannya, Kak Rendy," sahut Aira. "Saya juga sering denger nama Kak Rendy dari berita bisnis, ternyata aslinya jauh lebih ganteng ya."
Deg!
Cengkeraman tangan Devan di pinggang Aira mengerat.
Devan menoleh ke arah Aira. Matanya membelalak tak percaya melihat bagaimana istrinya—yang biasanya judes pada pria asing—sekarang malah tebar pesona.
Rendy yang mendapat balasan semanis itu langsung terkekeh riang, matanya makin berbinar menatap Aira. "Wah, sanjungan dari wanita secantik Anda bener-bener bikin malam saya makin sempurna, Aira."
"Aira," panggil Devan pelan. Pria itu menarik pinggang Aira ke tubuhnya, mencoba memutus kontak mata antara Aira dan Rendy.
Tapi Aira sama sekali tidak mempedulikan sinyal ancaman dari Devan. Ia malah makin meladeni obrolan Rendy, tertawa pelan saat Rendy melemparkan lelucon ringan, dan sesekali menyentuh lengan tasnya sendiri dengan gaya yang sangat menawan.
Aira bisa merasakan betapa panasnya hawa tubuh Devan di sampingnya, mata pria itu menatap Rendy seperti mau menelan pria itu hidup-hidup.
Gimana, Devan? batin Aira bersorak riang di dalam hati, menyunggingkan senyuman kemenangan.
Enak kan rasanya ngeliat pasangan lu diincar dan dipuji orang lain di depan mata lu sendiri?
karena 8 tahun itu bukan waktu yang sebentar untuk bisa membenci orang
gak sabar liat Devan bucin😍