[SEASON 2]
Tania Putrisari, seorang gadis cantik mantan copet yang ternyata berasal dari keluarga kaya raya di Finlandia sana.
Setelah 8 tahun berada di Finland, akhirnya Tania memutuskan kembali ke Indonesia untuk menemui teman-temannya yang ada disana.
Namun, Tania harus menerima berbagai kenyataan pahit tentang orang-orang yang ia sayangi.
Seperti apa kisah Tania selanjutnya? Yuk baca aja cus kelanjutan kisahnya di Preman Cantik 2 : Serpihan Hati Tania..!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon patrickgansuwu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31 (Pesta kejutan)
...HELO!...
...WELCOME TO MY STORY!...
..."PREMAN CANTIK"...
...~~~...
PREMAN CANTIK EPS. 31
...•...
Hidup itu seperti diperkosa,
Jika tidak bisa dilawan,
Maka dinikmati saja....
...•...
...selamat membaca...🎉🎉🎉...
...|||...
Arsen & Tania sedang di mobil dalam perjalanan pulang, namun tiba-tiba saja perut Tania berbunyi menandakan kalau ia lapar.
"Kamu lapar Tania?" tanya Arsen.
"Eee iya nih kak, biasa kalo jam segini pasti laper lagi.." jawab Tania.
"Yaudah gimana kalo kita mampir dulu ke restoran deket sini? Kasian loh perut kamu kalo gak diisi makanan," ujar Arsen.
"Boleh deh kak, tapi kamu juga ikut makan ya! Soalnya aku gak bisa kalo makan sendiri.." ucap Tania.
"Iya iya aku ikut makan juga kok, yaudah pak nanti tolong kalo ada restoran kita mampir sebentar ya!" ujar Arsen.
"Baik tuan!" ucap supir.
Supir Arsen pun menjalankan mobilnya menuju restoran di dekat sana.
Sementara itu, Tania terus memandangi wajah kakaknya yang kini ada disampingnya.. Jujur ia masih sulit menerima semua ini, memang dia sudah menunjukkan bukti foto tanda lahir yang mirip seperti Tania punya. Namun, baginya itu saja belum cukup untuk bisa meyakini hatinya.
"Semoga lu emang bener kakak gue Sen, dan semoga gue bisa secepatnya ketemu sama orang tua kandung gue.." gumam Tania.
Sadar dirinya tengah diperhatikan oleh Tania, Arsen pun menoleh dan ikut menatap wajah Tania.
Sontak Tania reflek memalingkan wajahnya dari Arsen karena malu... hal itu membuat Arsen tertawa kecil.
"Lucu sekali kamu Tania, kenapa daritadi mandangin saya kayak gitu? Kamu terpesona ya sama ketampanan saya?? Haha wajarlah semua wanita pasti gitu kalo ketemu sama saya.." ujar Arsen.
"Idih kepedean banget sih kamu kak, aku itu cuma masih gak percaya aja kalo bisa ketemu sama kakak kandung aku.." ucap Tania.
Lalu, Arsen mengambil tangan Tania dan menggenggamnya erat...
"Tania, jujur saya juga gak percaya bisa temuin kamu setelah bertahun-tahun saya mencari keberadaan kamu! Ya saya sempat pasrah dan ingin menghentikan pencarian itu, tapi akhirnya salah satu anak buah saya berhasil mendapat info kalau dia melihat seorang wanita yang memiliki tanda lahir berbentuk bulan sabit di lutut kirinya.. Dia melihat itu saat menyelamatkan seorang copet dari amukan massa," ucap Arsen.
Tania diam mendengarkan cerita Arsen tersebut, ia ingin tahu lebih jelas bagaimana cara Arsen dapat menemukannya dan membebaskan dia dari penjara.
"Saya langsung gembira begitu mendengar kabar itu, ya setelahnya saya pun meminta seluruh anak buah saya untuk melacak keberadaan si pencopet itu! Butuh waktu sekitar 1 bulan untuk mereka bisa mendapatkan lokasi tempat tinggal copet itu, ya lalu mereka pun mendatangi lokasi tersebut untuk menemui bos copet itu! Mereka meminta pada bos copet tersebut untuk membawa wanita yang saya cari ke sebuah tempat, akhirnya anak buah saya itu berhasil membawa si copet ke rumah saya.. dan ya itu kamu Tania! Saya sangat senang sekali saat itu..!!" sambung Arsen.
"Kak, selain tanda lahir itu.. Apa kamu ada bukti lain yang menyatakan kalo aku emang adik kamu?" tanya Tania.
"Tentu saja, ini dia bukti lain yang kamu minta.." ucap Arsen sambil menunjukkan sebuah kalung dengan liontin berbentuk sabit di tengahnya.
Tania terperangah saat melihat kalung itu..
"Darimana kamu dapetin kalung itu?" tanya Tania heran.
"Tentu saja dari bos kamu Tania, anak buah saya yang meminta ini darinya saat mereka menemui bos kamu di markasnya.." jelas Arsen sambil tersenyum.
"Terus hubungannya sama bukti kalau aku adik kamu apa??" tanya Tania bingung.
Arsen kembali merogoh kantong celananya dan mengambil foto bayi yang sebelumnya ia tunjukkan pada Tania juga.
"Kamu lihat kan? Kalungnya sama persis kayak yang dipake bayi ini??" ujar Arsen.
Ya kini sudah 2 bukti ditunjukkan oleh Arsen pada Tania, membuat Tania semakin percaya kalau Arsen benarlah Abang kandungnya.
"Kelihatannya emang dia bener kakak kandung gue, tapi kenapa ya perasaan gue masih belum mau percaya gitu aja sama dia.." gumam Tania.
Lalu, mereka sudah sampai di sebuah restoran mewah yang berada disana.
"Kita udah sampe, yuk turun!" ucap Arsen.
Tania mengangguk dan turun dari mobil setelah Arsen turun lebih dulu..
...•••...
Reno & Rosa telah selesai mendekor ruang tamu rumah Reno, ya tentu saja untuk membuat pesta kejutan ulang tahun Anggi alias mamah Reno.
Terlihat juga ada banyak pengamen yang membantu mereka menghias ruang tersebut.. tentu saja itu semua atas perintah Reno.
"Ren, kuenya mau dikeluarin sekarang apa nanti aja?" tanya Rosa.
"Menurut kamu gimana? Bagusnya dikeluarin sekarang atau nanti??" Reno malah berbalik nanya sama Rosa.
"Eee kalo aku sih mending nanti aja Ren pas mamah kamu udah sampe, ya biar surprise gitu!" ucap Rosa.
"Oh yaudah kalo gitu nanti aja dikeluarin nya.." ucap Reno.
Lalu, Reno pun mengirim pesan pada papahnya yang memberitahu jika semuanya sudah siap.
Setelah itu, Reno meminta semua orang disana bersembunyi di posisi masing-masing.
"Ok semuanya tolong ngumpet dulu ya, jadi nanti pas mamah saya dateng kita langsung kasih surprise ke mamah! Kalian nih nanti jangan lupa mainin musik yang enak ya..!!" ujar Reno.
"Iya siap bang..!!" jawab para pengamen itu serentak.
Rosa tersenyum karena kagum pada Reno yang mau melibatkan pengamen jalanan tersebut, padahal ia bisa saja menyewa pemain musik handal kalau dia mau.
"Yaudah Rosa, kita juga sembunyi disana yuk!" ucap Reno.
"Oke," ucap Rosa.
Lagi-lagi Reno reflek menarik tangan Rosa dan membawanya ke tempat persembunyian, ya tentu saja Rosa juga kegeeran lagi.
...•••...
Disisi lain, Joshua mendatangi markas bang Jordi untuk menanyakan tentang Tania.
Terlihat Jordi sedang asyik menghitung uang hasil nyopet hari itu di tangannya...
"Bang, mana Tania?" ujar Joshua.
"Lah lu apa-apaan sih dateng-dateng nanyain Tania? Gua gak tahu dia dimana!" ujar Jordi.
"Masa sih lu gak tahu? Kan lu bosnya bang, harusnya lu tahu dong dia dimana sekarang!" ujar Joshua.
"Ya ampun ini anak ngeyel banget ya kalo dibilangin, gua kagak tahu suer si Tania dimana..!! Lagian buat apa sih lu tanyain keberadaan Tania?" ujar Jordi.
"Gua cuma khawatir aja bang, gua takut dia kenapa-napa setelah keluar penjara.. emang lu sama sekali gak tahu info tentang dia??" ucap Joshua.
"Yang gua tau cuma waktu itu ada seorang pria berjas dateng kesini minta dibawain Tania, dia ngasih gua uang banyak supaya bisa bawa Tania ke tempat dia! Tapi karena Tania di penjara, akhirnya dia sendiri yang bebasin si Tania dari sana! Ya mungkin aja sekarang Tania udah dibawa sama dia.." jelas Jordi.
"Siapa orang yang bawa Tania itu bang?" tanya Joshua.
"Buset dah gua kagak tahu, eh tapi ini nih dia sempet kasih kartu namanya ke gua waktu itu.." ujar Jordi sambil memberikan sebuah kartu nama pada Joshua.
Joshua pun mengambil kartu nama tersebut dan membacanya...
"Sandi Alfiansyah? Jalan Padjajaran nomor 13? Gua harus kesana sekarang!" gumam Joshua.
Joshua langsung pergi begitu saja dari markas Jordi tanpa pamit karena sepertinya ia buru-buru.
...•••...
Darma & Anggi sampai di rumah, Bowo yang bertugas di depan pun membukakan pintu gerbang untuk mereka agar bisa masuk.
Ya setelah itu mereka turun dari mobil, namun sebelum masuk ke rumah Darma meminta Anggi untuk menutup matanya mengenakan kain yang diberikan Darma.
"Mah sebentar, nih pake ini dulu ya buat nutupin mata mamah!" ucap Darma.
"Ish apa sih pah ngapain pake tutup-tutup mata segala? Mamah gak mau ah!" ujar Anggi menolak.
"Yah ayolah mah gapapa kok, papah cuma mau tunjukin sesuatu ke mamah.. Mau ya pake ini ya!" ucap Darma membujuk Anggi.
Akhirnya Anggi mau memakai penutup mata itu..
"Iya deh mamah mau, tapi janji ya gak aneh-aneh..!!" ujar Anggi.
"Iya mah mana mungkin sih papah kayak gitu!" ujar Darma.
Lalu, Darma segera memakaikan penutup mata itu pada Anggi.. ya setelah itu mereka pun berjalan masuk ke rumah dengan Darma menuntun Anggi.
Sedangkan, Bowo tampak berbisik pada Baim sepertinya membicarakan kejutan yang disiapkan Reno.
"Eh Im, enak banget ya nyonya dikasih kejutan kayak gitu di hari ulang tahunnya.." ujar Bowo.
"Emang kenapa? Lu iri sama nyonya besar? Udah lah Wo namanya juga orang kaya pasti begitu," ujar Baim.
"Iya sih hehe lah gua boro-boro dikasih kejutan begitu, orang pulang gak bawa duit aja disuruh tidur di luar.." ujar Bowo.
"Sabar Wo kita senasib kok!" ucap Baim.
Ya akhirnya Darma & Anggi sampai tepat di depan pintu rumah mereka.. Dengan perlahan Darma membuka pintu dan menuntun lagi Anggi ke dalam.
Ya suasana di dalam sana sangat sepi serta gelap, tentu saja karena itu memang sengaja dilakukan.
Lalu, Darma membukakan penutup mata Anggi sambil berhitung...
"Nah sekarang papah buka ya penutupnya, dalam hitungan ketiga bakal papah buka ok.. satu, dua, tiga!" ujar Darma.
Darma pun membuka penutup mata Anggi, dibarengi dengan suara teriakan dari orang-orang disana.
"KEJUTAN..!!!"
Melihat semua dekorasi disana, Anggi langsung terharu karena ternyata banyak yang mengingat hari ulang tahunnya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...BACA YA QUOTES NYA..!!!...