Ada yang bilang kalau masa SMA adalah masa yang paling indah di mana kau akhirnya bisa merasakan apa arti sebenarnya dari cinta. Bukan lagi cinta monyet yang biasa kejadian saat SD atau SMP.
Vindra baru menyadari hal itu ketika Heyra sudah sangat jauh darinya. Ia tak bisa tidur dengan tenang, tak bisa fokus belajar, tak bisa melepaskan pikirannya dari Heyra kala ia tak bisa mengetahui keadaannya, tak bisa berada di dekatnya, tak bisa menjadi penghibur kala Heyra sedih.
"Heyra, dia orangnya pendiam. Pemalu juga. Dia orangnya baik, ramah, gak banyak tingkah, dan... manis plus imut."
"Kadang suka kebayang kalau misalnya dia dinakalin sama anak nakal atau di-bully istilahnya. aku... aku gak tega bro. anak sebaik itu, semanis itu di-bully sampe nangis. Gak bisa bayangin aku."
"Kalau emang sampe kejadian gimana bro?"
"Yaa... mungkin hatiku akan pecah menjadi kepingan-kepingan kecil kayak gelas yang jatuh. Rasanya apa? sakit. berdenyut-denyut di sini. Pengen ikut nangis juga rasanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Green Jacket, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rehabilitasi
Keesokan harinya, mereka berkumpul di lapangan basket tua dekat rumah Fando. Bima menjelaskan rencananya dengan antusias: mengajak ayah Fando bermain basket bersama, mencoba menghidupkan kembali passion lamanya dan membangun jembatan komunikasi antara ayah dan anak.
Fando awalnya skeptis. "Lo yakin ini bakal berhasil? Bokap gue udah lama banget nggak megang bola basket."
"Justru itu," Bima mengedipkan mata. "Kadang, untuk memperbaiki masa kini, kita perlu kembali ke masa lalu."
Dengan jantung berdegup kencang, Fando berdiri di ambang pintu teras, menatap punggung ayahnya yang membungkuk. Senja mulai turun, mewarnai langit dengan semburat oranye dan merah muda. Angin sepoi-sepoi membawa aroma melati dari kebun tetangga, bercampur dengan bau samar alkohol yang menguar dari botol bir di samping kursi ayahnya.
Fando menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian. Ia menggenggam bola basket usang di tangannya, kenangan akan masa-masa indah yang kini terasa begitu jauh. "Pak," katanya hati-hati, suaranya sedikit bergetar. "Fando... Fando kangen momen-momen main basket bareng Bapak. Mau... mau main bareng nggak?"
Ayahnya perlahan menoleh. Mata mereka bertemu, dan Fando melihat berbagai emosi berkecamuk di sana - kerinduan, penyesalan, dan setitik harapan yang nyaris padam. Garis-garis lelah di wajah ayahnya terlihat semakin dalam. "Main basket?" tanyanya ragu, suaranya serak. "Bapak udah lama nggak—"
"Nggak apa-apa, Pak," Fando tersenyum, mengulurkan tangannya. Ia berusaha menyembunyikan getaran dalam suaranya. "Kita bisa mulai pelan-pelan."
Sejenak, ayahnya hanya menatap tangan Fando. Keraguan dan rasa malu terpancar jelas di matanya. Lalu, perlahan, ia menyambut uluran tangan anaknya. Sentuhan itu terasa kasar dan hangat, mengingatkan Fando akan momen-momen indah di masa lalu.
Mereka berjalan dalam diam menuju lapangan basket kecil di ujung jalan. Lapangan itu tidak lebih dari sepetak aspal retak dengan ring yang sudah berkarat, namun bagi Fando, tempat ini menyimpan sejuta kenangan. Dulu, setiap Minggu sore, ayahnya selalu mengajaknya bermain di sini. Mereka akan berlarian, tertawa, dan berbagi momen-momen berharga. Sampai alkohol mulai mengambil alih hidup ayahnya.
Awalnya permainan terasa canggung. Ayah Fando bergerak kaku, operannya sering meleset. Namun perlahan-lahan, seiring berjalannya waktu, senyum mulai terkembang di wajah pria paruh baya itu. Ada kilatan familiar di matanya, sebuah percikan semangat yang telah lama hilang.
Setelah beberapa saat, mereka beristirahat di pinggir lapangan. Fando memberanikan diri untuk bicara, "Pak," katanya hati-hati, mengusap keringat di dahinya. "Fando... Fando kangen momen-momen kayak gini."
Ayahnya terdiam, matanya menerawang jauh ke arah matahari terbenam. Ada kesedihan dan penyesalan yang terpancar di sana. "Bapak juga, Fan," bisiknya pelan, suaranya serak menahan emosi. "Bapak... bapak minta maaf udah ninggalin kamu sendirian selama ini."
Momen itu menjadi titik balik. Perlahan tapi pasti, suasana di rumah mulai berubah. Ayah Fando masih kadang marah, terutama saat stres karena pencarian kerja yang tak kunjung membuahkan hasil, tapi intensitasnya berkurang. Ia mulai menghabiskan lebih banyak waktu bermain basket dengan Fando di halaman belakang, menciptakan momen-momen kebersamaan yang telah lama hilang.
Namun, masalah alkohol ayahnya masih menjadi kendala besar. Beberapa kali, Fando mendapati ayahnya tergeletak mabuk di ruang tamu, botol-botol bir berserakan di sekitarnya. Hatinya hancur melihat pemandangan itu. Ia sering mendapati ibunya menangis diam-diam di dapur, frustrasi dengan situasi yang tak kunjung membaik.
Di sekolah, Fando sering mengalami kesulitan berkonsentrasi. Nilainya menurun, dan ia sering melamun di kelas. Bu Ratna, guru BK-nya, menyadari perubahan ini dan mengajaknya bicara.
"Ada apa, Fando?" tanya Bu Ratna lembut saat Fando duduk di ruangannya yang nyaman, dihiasi tanaman hias dan poster-poster motivasi. "Kamu terlihat berbeda belakangan ini."
Fando terdiam sejenak, matanya tertuju pada aquarium kecil di sudut ruangan. Ikan-ikan kecil berenang dengan tenang, seolah tak memiliki beban. "Bu," akhirnya ia bersuara, "kalau... kalau ada anggota keluarga yang punya masalah alkohol, gimana ya caranya bantu?"
Bu Ratna menatapnya penuh pengertian. "Ini tentang ayahmu, kan?" tanyanya hati-hati. Fando mengangguk pelan. "Fando, kamu tidak sendirian. Ada banyak remaja yang menghadapi situasi serupa. Yang penting, kamu harus ingat bahwa ini bukan salahmu."
Mereka berbicara panjang lebar. Bu Ratna memberikan Fando informasi tentang support group untuk keluarga pecandu alkohol dan menawarkan untuk berbicara dengan orang tuanya. Fando merasa sedikit lega, tapi juga takut. Bagaimana jika ayahnya marah?
Suatu malam, Fando memberanikan diri untuk bicara. Ia mendekati ayahnya yang sedang duduk termenung di beranda, sebotol bir di tangannya. Langit malam bertabur bintang, kontras dengan kegelapan yang menyelimuti hati Fando.
"Pak," Fando memulai dengan hati-hati, duduk di samping ayahnya. "Fando... Fando pengen nanya sesuatu. Kenapa... kenapa Bapak suka minum?"
Ayahnya terdiam lama, matanya menatap jauh ke kegelapan malam. Lalu, dengan suara bergetar, ia mulai bercerita. Tentang tekanan pekerjaan yang membuatnya stress, tentang rasa tidak berdaya setelah di-PHK, dan tentang bagaimana alkohol menjadi pelariannya. Ia bercerita tentang ayahnya sendiri yang juga pecandu alkohol, dan bagaimana ia bersumpah tidak akan menjadi seperti itu. Namun takdir berkata lain.
"Maaf, Fan," isaknya, air mata mulai mengalir di pipinya yang kasar. "Bapak... Bapak udah ngancurin semuanya ya? Bapak udah jadi ayah yang gagal."
Fando berlutut di samping ayahnya, merangkulnya erat. Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, mereka menangis bersama, melepaskan semua emosi yang telah lama terpendam. Di balik pintu, ibu Fando mendengarkan, air mata mengalir di pipinya.
Keesokan harinya, ayah Fando mengejutkan keluarganya dengan sebuah pengumuman:
"Bapak... Bapak mau ikut program rehabilitasi alkohol."
Fando dan ibunya saling pandang, tak percaya dengan apa yang mereka dengar. Ada secercah harapan yang mulai tumbuh di hati mereka. Namun, perjalanan mereka masih panjang.
Minggu-minggu berikutnya tidak mudah. Ada hari-hari di mana ayah Fando nyaris menyerah, ingin kembali minum. Withdrawal symptoms membuatnya mudah marah dan frustrasi. Tapi Fando dan ibunya, dengan dukungan dari teman-teman Fando dan Bu Ratna, selalu ada untuk menyemangatinya.
Mereka mulai mengadakan "malam keluarga" setiap minggu. Kadang bermain basket, kadang menonton film, atau hanya mengobrol. Perlahan tapi pasti, hubungan mereka mulai membaik. Komunikasi yang dulu terhambat mulai mengalir, dan mereka belajar untuk saling memahami.
Namun, tantangan baru muncul ketika ayah Fando akhirnya mendapat pekerjaan baru. Stres kembali menghantui, dan godaan untuk kembali minum semakin kuat. Fando sering mendapati ayahnya menatap kosong ke arah lemari tempat dulu ia menyimpan minumannya.
Suatu malam, Fando pulang terlambat karena latihan basket. Ia menemukan rumah dalam keadaan gelap. Panik mulai menyelimutinya. Apakah ayahnya kembali minum? Dengan tangan gemetar, ia membuka pintu.
Di ruang tamu, ia menemukan ayah dan ibunya duduk bersama, diterangi cahaya lilin. Di meja, tergeletak sebuah kue ulang tahun sederhana. "Selamat ulang tahun, Fan," kata ayahnya, tersenyum hangat. "Maaf, listrik mati. Tapi Bapak nggak mau melewatkan momen ini."
Air mata Fando mengalir deras. Ia memeluk kedua orang tuanya erat. Malam itu, di bawah cahaya lilin yang remang, mereka berbagi cerita dan tawa. Fando tahu, perjalanan mereka masih panjang. Masih akan ada hari-hari sulit.
Tapi malam ini, ia bersyukur. Karena cinta dan harapan, bahkan dalam kegelapan, masih bisa bersinar terang.Tiga bulan kemudian, ayah Fando merayakan "kelulusan" dari program rehabilitasinya. Ia mengajak keluarganya dan teman-teman Fando untuk makan malam bersama di restoran favorit mereka.
Di tengah makan malam, ayah Fando berdiri, mengangkat gelasnya yang berisi jus jeruk. "Terima kasih," katanya, suaranya bergetar oleh emosi. "Terima kasih sudah tidak menyerah pada Bapak. Fando, teman-teman... kalian telah menyelamatkan Bapak.
Malam itu ditutup dengan pelukan hangat dan janji untuk terus berjuang bersama. Fando menatap keluarga dan teman-temannya, hatinya dipenuhi rasa syukur dan harapan. Ia tahu, perjalanan mereka masih panjang, tapi setidaknya kini mereka memiliki satu sama lain untuk bersandar.
"Terima kasih," katanya, suaranya bergetar oleh emosi. "Kalian... kalian udah nyelametin hidup Bapak."
Fando tersenyum, ada kilau air mata di sudut matanya. "Kita keluarga, Pak. Kita hadapi ini sama-sama."
Malam itu, saat berbaring di tempat tidurnya, Fando menatap langit-langit kamarnya. Ia teringat perjalanan panjang yang telah mereka lalui. Dari ketakutan, kemarahan, hingga akhirnya penerimaan dan harapan.
Ponselnya berdering. Pesan dari Vindra di grup chat:
"Fan, besok jadi kan main basket bareng bokap lo?"
Fando tersenyum, mengetik balasan:
"Jadi dong. Bokap gue udah nantang-nantang nih. Katanya mau ngalahin tim kita."
Ia tahu perjalanan mereka masih panjang. Masih ada hari-hari sulit yang harus dihadapi. Tapi kini, Fando merasa harapan itu nyata. Dan yang terpenting, ia tidak sendirian dalam menghadapinya.