Analepsis : Pertemuan yang mendatangkan perpisahan
Ini bukan soal mempertaruhkan waktu di usia muda tuk masa depan. Ini hanya tentang siapapun yang berusaha untuk bertahan hidup jauh lebih baik lagi.
Jika kita bisa sedikit menghargai kehadiran orang lain di hidup kita. Mungkin batin tidak akan merasa perih untuk merasakan penyesalan, karena sulit mempertahankannya tuk tetap menunggu esok hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Analepsis ^ 31
Melangkah cepat masuk ke dalam perusahaan, pandangan Yumna lurus kedepan tanpa melihat sekitar. Karena tujuannya saat ini adalah ruangannya, dan mungkin Yumna akan mendapat tatapan tidak suka dari Vallen. Apalagi tadi Yumna sempat pergi tanpa mengatakaan apapun. Seharusnya Yumna bilang pada Vallen, agar temannya itu dapat membantunya.
Tibanya Yuman di ruang kerja, wanita itu langsung mendapat cetusan dari Vallen yang sibuk melihat layar komputernya. Karena Vallen harus memantau postingan para publik yang mengarah pada Malla. Dan untung saja, tidak ada artikel tentang kehilangan Malla. "Apa kau sudah menemukannya?"
"Aku tidak melihatnya di mana pun. Bagaiman dengan media, apa mereka sudah tahu?" Yunna memberi sahutan, sembari mendekatkan diri ke arah Vallen. Tanpa duduk kursi kerjanya.
"Belum ada. Dan sebisa mungkin kita harus segera menemukan Malla. Karena, lambat laun publik akan tahu. Apalagi jika kita membatalkan jadwal Malla." Tanggap Vallen yang tidak mengalihkan pandangannya.
Dan Yumna hanya mengangguk paham, sebelum melangkah keluar untuk pergi menemui seseorang yang mungkin tengah sibuk dengan tugasnya dari atasan.
Saat berada di lorong tepat di depan ruang manajemen, Yumna melihat kearah temannya yang ternyata ikut masuk ke dalam perusahaan. Pria itu tengah mengobrol dengan Lingga yang juga ada disana. Dan Yumna tidak ingin bertanya-tanya apa yang tengah mereka bicarakan. Karena Yumna harus mencari titik celah, agar tahu di mana keberadaan Malla saat ini.
Tapi langkahnya mulai memelan saat melihat kearah Yudha yang kini berjalan cepat menuruni anak tangga. Raut pria itu terlihat sangat kacaunya, jika pun senyum kecil masih di ukir di wajah Yudha untuk memberi sapaan pada orang-orang yang lalang di sekitar pria itu.
"Apa dia baik-baik saja?" Gumam Yumna yang entah kenapa merasa bersalah sendiri. Karena saudaranya, pria itu harus menanggung pahitnya sendiri.
"Malla menelpon mu?" Cetus seseorang. Membuat Yumna menoleh kearah sosok pria yang menatap Yumna penuh khawatir.
"Nomornya tidak aktif." Pelan Yumna sebagai jawaban.
"Di mana Rama? Apa dia juga mencari Malla?" Bertanya adalah hal paling mudah bagi Yumna. Daripada diam menutup mulusnya, yang membuat dirinya penasaran.
Tama mengangguk kecil sebagai jawaban. "Sejak tahu Malla hilang, dia langsung mencari Malla."
Diam sejenak, Yumna menelan ludahnya. Begitu ragu untuk membuka suara. Tapi Yumna harus memberitahu Tama. "Aku tadi bertemu dengan seseorang, dia melihat Malla masuk ke dalam mobil. Dia kira Malla bersama managernya, jadi dia tidak menghentikan Malla." Sangat hati-hati kalimat itu keluar dari mulut Yumna.
"Dia melihatnya di mana?" Tidak begitu cepat, Tama melontarkan pertanyaannya.
"Di lokasi syuting. Aku juga sudah mencarinya disana lun juga tidak ada." Jujur Yumna yang tidak akan menutup apapun.
"Kau masih ingat, orang yang melihat Malla?" Ada keraguan yang terselip di kalimat itu. Tapi tama tetap menampilkan wajah sedikit seriusnya.
"Dia ada di ruangan mu." Sahut Yumna.
"Ruangan ku?" Kening Tama mengerut samar.
"Mungkin dia teman Lingga."
Saat kalimat itu diucapkan Yumna. Dengan cepat Tama melangkah ke arah ruangan untuk menginterogasi seseorang yang mungkin juga tidak akan tahu jawabannya. Tapi setidaknya, Tama harus berusaha lebih dulu. Siapa tahu, orang itu mengingat nomor plat mobil yang membawa pergi Malla.
Sedangkan kini Yumna kembali ke ruangannya. Karena niatnya sudah tidak ada lagi. Apalagi orang yang dia tuju telah pergi meninggalkan lingkungan perusahaan untuk menyelesaikan tanggung jawabanya itu.
Satu balasan pesan itu membuat Yumna dengan cepat melihat layar handphonenya. Orang itu mengirim alamat di mana dia bersama berada saat ini. Dan tanpa berpikir lagi Malla berdiri dari duduknya. Untuk berjalan pergi, akan tetapi seseorang menghalangi jalannya. Hal itu membuat Yumna tersenyum canggung.
"Mau pergi kemana?" Wajah datar itu sudah menjadi makanan sehari-hari untuk Yumna saat bersama Vallen.
"Toilet! Kau mau ikut?" Bohong bukan berarti Yumna tidak butuh bantuan dari Vallen. Hanya saja, Yumna tidak mau menyangkut pautkan siapapun. Karena Yumna harus menepati janjinya. Jika tidak, orang itu pasti akan melakukan hal gila pada Malla. Dan Yumna tidak mau itu terjadi.
"Ohh! Aku kira kau ingin mencari Malla. Jika kau mencarinya, aku akan ikut bersama mu." Cetus Vallen, yang menawarkan dirinya. Karena mau bagaimana pun, Vallen juga harus memberi bantuan pada temannya.
"Banyak yang sudah mencarinya, dan itu juga sudah sesuai rencana. Jika aku melakukannya tanpa ikut prosedur yang sudah di atur. Itu akan mengacaukan segalanya." Akhir Yumna. Kini melangkah keluar keluar setelah mendapat jawaban dari Vallen yang hanya mengangguk kecil.
Kaki jenjang milik Yumna telah sampai di akhir anak tangga lantai satu. Kini Yumna melangkah kearah di mana pintu utama keluar dari bangunan itu, untuk menuju ketempat yang tidak Yumna ketahui. Tapi sebisa mungkin Yumna akan mencari tahu tempat itu, tanpa siapapun orang yang mengenalnya.
Akan tetapi, tangan kekar entah milik siapa yang begitu gesit melekatkan topi hitam dikepala Yumna. Tersentak akan hal itu, tapi Yumna juga tidak meronta. Karena kini tahu, siapa yang melakukan hal itu padanya.
"Aku akan membantu mu mencari Malla." Tawaran yang tidak diinginkan itu tercetus begitu saja dari mulut orang itu. Tak lain teman sekolah Yumna.
Dengan seyum tulus, tangan kekar perlahan menarik pergelangan tangan milik Yumna. Hanya diam tidak bergerak. Itu membuat sang pria kembali menoleh ke arah Yumna.
"Ada apa?" Tanyanya sedikit menyimpan rasa khawatir kepada Yumna.
"Kau tidak perlu melakukan ini." Pelan Yumna, sedikit mengadah untuk membalas tatapan sang lawan. Dengan perlahan menjauhkan tangannya dari cengkeraman itu.
"Itu akan membuat reputasi mu buruk. Aku tidak mau melihat karier yang sudah kau bangun dari nol, itu hancur dalam sekejap karena membantu ku. Apalagi posisinya saat ini benar-benar tidak mendukung." Senyum kecil terukir diwajah Yumna. Jika pun hati kecilnya begitu sakit teman karena telah mencetuskan kalimat seperti itu kepada temannya sendiri.
"Sebelumnya terima kasih kau sudah mengantarku tadi." Kepala Yumna mengangguk kecil, dengan ludah getir yang Yumna telan lebih dulu sebelum mengimbuhkan perkataannya. "Maaf sebelumnya."
Sebentar melihat temannya sebentar, kini Yumna melangkah pergi tanpa menunggu tanggapan dari pria itu. Karena tidak ingin membuang waktunya untuk berbasa-basi dengan siapapun untuk saat ini. Jika pun niat temannya itu baik, tapi Yumna benar-benar tidak bisa memberi ruang untuk pria itu.
"Aku benar-benar minta maaf Yuan." Ucap Yumna dalam hati, tanpa menghentikan langkah kakinya. Dan tanpa ada niat menoleh ke belakang, tepat di mana Yuan berada.
Yuandra, pria muda yang sudah meniti kariernya sebagai seorang public figure sejak dia lulus dari sekolah menengah tinggi. Hingga dia harus merelakan masa mudahnya untuk bekerja demi pemasukan hidupnya. Dan Yuan juga harus menerima kenyataan. Jika menjadi publik figur itu tidak semudah apa yang ada di pikirannya saat ini.
Karena Yuan harus menjaga jarak dengan beberapa orang. Terutama temannya sekolahnya satu itu. Tapi jika Yuan berani untuk tidak memperbarui kontraknya dengan perusahaan. Apa mungkin Yuan akan mendapat sedikit kebebasan dari rumah barunya?