Mala Jinaya tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ia hanya seorang junior di sebuah perusahaan yang terbiasa menunduk, mengalah, dan berkata "nggak apa-apa" setiap kali rekan senior memanfaatkannya.
Sampai sebuah kejadian membuatnya harus menikah diam-diam dengan Rafael Ibra—lead engineer yang bahkan nyaris tidak pernah ia temui di kantor.
Tidak ada pesta.
Tidak ada cinta.
Bahkan, tidak ada perasaan apapun di antara mereka.
Hanya sebuah pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Dan yang lebih buruk, mereka harus berpura-pura tidak saling mengenal di tempat kerja.
Namun akankah mereka akan tetap begitu? atau ada yang berubah seiring berjalannya waktu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon songjihee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Lamaran
Sejak semalam, Bunda tak pernah berbicara apa pun lagi pada Naya. Ayah pun sama. Keduanya seolah kompak mendiamkan Naya, membuat gadis itu serba salah setiap kali berada di dekat mereka. Ditambah sejak pagi, mereka menghilang entah kemana, tak seperti biasanya.
Sepulang kerja sore itu, Naya mendapati Ayah sedang duduk di ruang tengah, sementara Bunda sibuk di dapur. Biasanya, salah satu dari mereka akan menyambutnya atau sekadar bertanya bagaimana pekerjaannya hari ini. Namun, kali ini tidak ada satu pun yang melirik ke arahnya.
"Assalamualaikum," sapa Naya pelan.
"Waalaikumsalam," jawab Bunda singkat dari dapur.
Naya meletakkan tasnya di sofa, lalu melirik Ayah yang masih sibuk dengan ponselnya. Ia ingin menyapa, tetapi melihat sikap Ayah yang sama sekali tidak menghiraukannya, Naya mengurungkan niat.
Gadis itu akhirnya kembali meraih tasnya, menaiki tangga, masuk ke kamar untuk mandi dan berganti pakaian. Sesekali ia melirik jam dinding, mengingat bahwa Ibra akan datang malam ini, lagi. Entah bagaimana nanti suasananya, mengingat kedua orang tuanya bahkan belum mau berbicara dengannya sejak kejadian kemarin.
Dan Naya kembali sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia yakin seribu persen bahwa Ibra akan datang untuk melamarnya. Ingat kata Ayah semalam, datang lagi dengan benar, sebagai laki-laki. Ah, Naya pening memikirkannya.
Menjelang malam, suara bel rumah terdengar.
Ayah yang sedang duduk di ruang tengah segera bangkit, sepertinya memang sudah menunggu sejak awal. Naya yang berada diluar dari kamar ikut mengintip dari atas, jantungnya berdegup lebih cepat ketika mendengar suara Ayah menyambut seseorang dari depan rumah. Siapa lagi kalau bukan Ibra.
Pria itu mengenakan kemeja rapi dengan celana panjang hitam. Begitu melihat Ayah, ia menundukkan kepala dengan sopan.
"Selamat malam, Om."
"Malam. Masuklah."
Ibra mengikuti Ayah menuju ruang tengah. Bunda keluar dari dapur dan duduk di samping suaminya, sedangkan Naya masih berdiri di lantai atas.
"Naya," panggil Ayah, seketika Naya hampir melompat karena terkejut.
Ia menelan ludah susah payah, meremas ujung bajunya sambil melangkah turun. Semua mata tertuju kepadanya, membuatnya kian gugup, sementara jantungnya berdegup kencang.
"Naya, duduk," ujar Ayah.
Naya menurut, duduk di samping Bunda dengan jemari yang saling meremas di atas pangkuan.
Ibra mengambil tempat duduk di hadapan mereka. Setelah mengatur napas, ia menatap Ayah dan Bunda bergantian.
"Sesuai permintaan Om kemarin, saya datang kembali malam ini." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Saya ingin melamar Naya, Om, Tante. Saya ingin menikahinya, secara resmi dan menjaganya."
Ruang tengah kembali hening.
Ayah menyandarkan punggungnya, masih dengan wajah yang sulit dibaca. "Kamu sudah memikirkan keputusan ini baik-baik, Nak?"
Ibra tertegun, tanpa sadar menahan napasnya. Nak? Kemarin pria itu memarahinya, bahkan mencacinya habis-habisan. Namun, malam ini, panggilan itu terdengar begitu berbeda. Ada kelembutan dalam nada suara Ayah Naya yang sama sekali tidak ia duga.
"S-sudah, Om." Entah kenapa Ibra jadi tergugu, mendengar nada suara Ayah Naya barusan.
"Dan kamu paham bahwa menikah bukan cuma soal bertanggung jawab atas hamilnya Naya, kan?"
"Paham sekali, Om."
Ayah mengangguk, lalu matanya yang semula biasa kini sedikit menajam. "Kalau begitu, jangan hanya bicara kepada kami. Anak saya yang akan menjalani pernikahan itu. Saya tidak akan memutuskan semuanya tanpa mendengar jawabannya lebih dulu."
Ibra mengangguk, kemudian mengalihkan pandangan kepada Naya.
"Naya, apa kamu bersedia menikah dengan saya?"
Deg
Jantungnya terasa berhenti saat itu juga. Bagaimana ini? Apa yang harus ia katakan?
Naya terdiam cukup lama. Jemarinya saling meremas di atas pangkuan, sementara Ibra masih menunggu jawaban darinya.
"Naya, jawab," ujar Ayah tegas.
Naya menoleh sekilas. "Naya belum tahu, Yah."
"Belum tahu apa? Kamu sudah tahu apa yang terjadi. Ibra juga sudah datang ke sini untuk bertanggung jawab. Sekarang, apa lagi yang kamu tunggu?" Nada suara Ayah meninggi.
"Tapi, Yah--"
"Ayah enggak mau mendengar alasan lagi, Naya." Suara Ayah meninggi. "Ayah sudah memikirkan ini baik-baik. Kamu mengandung anaknya, dan dia datang dengan niat baik, untuk menikahimu. Menurut Ayah, ini jalan terbaik untuk kalian."
Naya menggigit bibirnya. Ia tahu Ayah masih marah, tetapi kali ini kemarahan itu membuatnya sulit menyampaikan apa yang sebenarnya ia rasakan.
"Ayah mau kamu menerima lamaran ini," lanjutnya. "Jangan sampai kamu menyesali keputusanmu sendiri nanti."
Bunda yang duduk di samping Naya hanya diam. Wajahnya masih menyimpan kekecewaan sejak kejadian kemarin.
Ibra menatap Naya, kemudian kembali menghadap Ayah, lalu Naya lagi. "Saya bersungguh-sungguh, Naya. Saya akan menjaga kamu, apapun yang terjadi." Ibra berusaha meyakinkan gadis itu, meski ia sendiri tahu bahwa kata-kata saja tidak akan cukup untuk menghapus ketakutan Naya.
Ayah mengangguk singkat. "Lamaran diterima. Kalau begitu, kita bicarakan langkah selanjutnya. Saya tidak mau urusan ini dibiarkan berlarut-larut."
Naya melotot. "Ayah!"
"Berhenti menolak, Naya."
Naya menunduk. Air matanya jatuh begitu saja, membuat Bunda segera merengkuhnya ke dalam pelukan. Gadis itu menangis tanpa suara, sementara Ibra hanya bisa memandangnya dengan perasaan bersalah yang kian menumpuk.
Ibra melontar banyak maaf dalam hati. Dia tahu Naya tidak mau, tapi ini yang terbaik untuk masa depannya. Mau bagaimanapun, perutnya akan membesar nanti. Dan pembicaraannya dengan orang tuanya sore tadi juga masih terngiang-ngiang di kepala.
"Jangan membuat malu keluarga mereka, Ibra. Keluarga kita masih bisa di tutupi, tapi mereka? Tadi pagi, kami sudah sepakat. Dan sudah ada perjanjian hitam di atas putih. Ini jalur terbaik, jadi jangan ragu. Kamu tahu selalu ada Papa dibelakangmu, kan?"
Ucapan Papanya kembali terngiang di benak Ibra. Pria itu mengembuskan napas pelan sebelum kembali memusatkan perhatian pada pembicaraan di hadapannya, menyadarkan diri dari lamunan singkatnya.
"Tentukan tanggalnya, tempatnya juga privasinya."
Ibra mengangkat wajah. Ayah Naya sudah kembali membicarakan persiapan pernikahan, seolah keputusan itu memang tidak akan berubah lagi. "Iya, Om."
"Saya tidak mau masalah keluarga saya, atau juga kamu menjadi bahan pembicaraan orang lain. Apalagi sampai menjadi gosip di luar sana." Ayah menatap Ibra lekat-lekat. "Kita harus melindungi Naya. Kamu mengerti maksud saya?"
"Mengerti, Om. Saya juga tidak ingin hal-hal buruk terjadi lagi."
"Bagus. Soal tanggal, saya ingin secepatnya. Jangan berlama-lama hanya untuk mempersiapkan acara. Yang penting pernikahannya sah."
"Iya, Om. Saya akan membicarakannya dengan keluarga saya nanti."
Bunda yang sejak tadi mendengarkan akhirnya menimpali, "Kalau begitu, kita persiapkan seperlunya saja. Tidak perlu berlebihan."
Ibra mengiyakan. Sesekali pandangannya beralih kepada Naya, tetapi gadis itu masih menangis, tanpa ada bicara.
"Naya," panggil Ayah.
Naya melepaskan diri dari pelukan Bunda, ia menoleh dengan wajah penuh air mata.
"Mulai sekarang, kamu juga harus mempersiapkan diri. Ayah tidak ingin kamu terus menghindari pembicaraan ini."
Naya hanya mengangguk, pasrah pada keadaan yang tak memihaknya sama sekali.
Ayah kembali menghadap Ibra. "Saya pegang ucapanmu. Jangan sampai setelah semua ini dibicarakan, kamu justru berubah pikiran."
"Tidak akn, Om. Saya serius dengan keputusan saya."
Ayah mengangguk singkat. Baginya, pembicaraan malam itu sudah cukup jelas. Tinggal kedua keluarga bertemu untuk menentukan tanggal dan menyelesaikan persiapan pernikahan mereka.
Seolah belum cukup dengan semua keputusan yang sudah dibuat malam itu, Ibra kemudian merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam.
Naya yang sejak tadi menunduk sontak mengangkat wajahnya ketika Ibra membuka kotak tersebut. Sepasang cincin tampak di dalamnya, membuat gadis itu terdiam.
"Ini memang sudah saya persiapkan," ujar Ibra kepada Ayah dan Bunda sebelum mengalihkan pandangan kepada Naya. "Naya, boleh saya pasangkan?"
Naya menatapnya beberapa saat. Melirik pada dua orang tuanya. Hatinya menjerit tak terima, tetapi ia tahu penolakan hanya akan memperpanjang pertengkaran yang sudah melelahkan. Dengan jemari gemetar, ia akhirnya mengulurkan tangan kepada Ibra. "Iya."
Makasih thor lanjut up ya