Telah ku lewati perjalanan panjang dengan air mata...
lelah ku melangkah dengan harapan yang hampa....
ku cari sinar terang tuk jalan gelap didepan mata, namun tak kunjung ku jumpa...
Hati menjerit serta memanjatkan doa....
berharap semua cepat mendapatkan akhir bahagia....
Di tengah hati gudah dan gelisah secercah cahaya datang menerpa....
ke hadiran yang ku nanti telah tiba...
dan ku pilih dirimu tuk melengkapi hidup dan menemani sisa umur ku...
Tak banyak ku pinta padamu cukup cintai ku segenap jiwamu dan bimbing aku agar tetap di jalan yang benar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raudah Sahidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan
Rania melangkah sayuran segar dan bumbu dapur, pagi ini terasa sedikit asing. Rania berjalan pelan menyusuri lorong-lorong pasar yang sempit dan padat, menyapa beberapa pedagang yang ia kenal dengan senyum yang tipis dan tak secerah biasanya.
Semua pemandangan itu biasanya membuatnya merasa hidup dan terhubung dengan dunia di sekitarnya, namun hari ini semuanya tampak berjalan tanpa dia, seolah ia sedang berdiri di balik kaca bening yang memisahkannya dari segala keriuhan itu. Hatinya gelisah, seolah ada sesuatu yang menghimpit dadanya pelan namun terus-menerus.
"Eh, Rania! Sudah datang rupanya" sapa Bu Rahma begitu melihat sosok gadis itu mendekat ke arah lapak sayurnya.
Wanita paruh baya itu sedang menyusun tumpukan sayuran hijau dengan cekatan, tangannya yang kasar dan penuh guratan pengalaman bergerak lincah menata kangkung dan bayam agar terlihat rapi dan menarik pembeli. Wajahnya yang keriput tersenyum ramah menyambut kedatangan Rania seperti hari-hari sebelumnya.
"Kok wajahmu kelihatan beda pagi ini, Nak? Pucat dan tak bersemangat begitu. Ada yang mengganjal di hati ya?" tanyanya lembut, matanya yang cermat dan penuh keibuan tak melewatkan sedikit pun perubahan raut wajah gadis itu.
Rania tersentuh oleh perhatian itu, rasa hangat menjalar di dadanya, namun di saat yang sama rasa bersalah mulai menyelinap masuk. Ia segera mengangkat wajahnya dan mencoba tersenyum lebih lebar, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang sedang menguasainya.
"Tidak apa-apa, Bu. Mungkin hanya sedikit kurang tidur saja semalam" jawabnya pelan, meski ia tahu itu bukan alasan yang sepenuhnya jujur.
Ia tidak bisa tidur semalam bukan karena sakit atau lelah, melainkan karena pikirannya terus berputar tanpa henti, memikirkan setiap kemungkinan dan setiap pilihan yang harus ia ambil. Ia meletakkan tas anyamannya di sudut lapak, lalu segera mengambil tempatnya seperti biasa, mulai menyusun sayuran dengan tangan yang bergerak otomatis namun pikirannya tetap tertinggal di teras rumahnya tadi pagi.
Bu Rahma tidak bertanya lagi, namun tatapannya yang penuh pengertian menyiratkan bahwa ia tidak sepenuhnya percaya pada jawaban itu. Ia hanya mengangguk pelan, lalu kembali melayani pembeli yang datang dengan senyum yang tetap ramah. Namun sesekali matanya melirik Rania—melirik saat gadis itu menimbang sayuran dengan wajah yang kosong, melirik saat gadis itu tersenyum pada pembeli namun senyum itu tak sampai ke matanya. Bu Rahma diam saja, tidak menekan, tidak mendesak, karena ia tahu bahwa kadang-kadang seseorang butuh waktu untuk siap bercerita.
Sepanjang pagi itu, Rania berusaha sekuat tenaga untuk fokus pada pekerjaannya. Ia melayani pembeli dengan sopan, menyapa mereka dengan ramah seperti biasa, menimbang sayuran dengan teliti, menghitung uang kembalian dengan cermat.
Namun setiap kali ada jeda, bayangan tawaran Dimas kembali hadir. Restoran itu... tempat yang bersih, nyaman, dengan gaji yang tentu saja jauh lebih baik daripada apa yang ia dapatkan di sini. Ia tahu itu kesempatan yang jarang sekali datang kepada orang seperti dirinya—gadis desa yang hanya lulusan sekolah menengah, tanpa koneksi dan tanpa keahlian khusus selain ketekunan dan kesederhanaan hidupnya.
Namun, di sisi lain, bagaimana dengan Bu Rahma? Wanita itu telah memberinya pekerjaan saat ia sangat membutuhkannya, saat ia dan ibunya hampir tidak memiliki apa-apa untuk bertahan hidup.
Bu Rahma tidak pernah membedakan perlakuan terhadapnya, tidak pernah memperlakukannya seperti pembantu, melainkan seperti anak sendiri. Ia selalu memberinya bagian yang layak, bahkan sering kali memberinya sedikit lebih hanya karena tahu kondisi keluarganya. Bagaimana mungkin ia pergi begitu saja? Rasanya seperti mengkhianati kebaikan yang telah diterimanya selama ini, rasanya seperti meninggalkan orang yang telah menolongnya saat ia jatuh. Pikiran itu menimbulkan rasa bersalah yang menghujam hatinya, membuatnya merasa egois dan tidak tahu berterima kasih.
Hari itu berlalu dengan lambat dan berat. Sore pun akhirnya tiba, matahari mulai condong ke barat, menyinari pasar yang kini mulai sepi. Rania membantu Bu Rahma membereskan sisa dagangan, melipat terpal dengan tangan yang bergerak lambat, menata keranjang-keranjang kosong di sudut lapak dengan gerakan yang tak secepat biasanya. Saat semua pekerjaan selesai dan mereka duduk berdua di bangku kayu panjang di belakang lapak, Bu Rahma menyodorkan upah hari itu dengan senyum lembut. Rania menerima uang itu dengan tangan yang sedikit gemetar, melipatnya perlahan dan menyimpannya ke dalam saku bajunya dengan hati-hati.
"Rania..." panggil Bu Rahma pelan, suaranya terdengar tenang namun penuh perhatian.
"Sekarang sudah sepi, hanya kita berdua di sini. Katakan pada Ibu, apa yang sebenarnya sedang membebanipikiranmu? Sejak pagi Ibu melihatmu tidak tenang. Jangan pendam sendiri, Nak. Kadang membagi beban membuatnya terasa lebih ringan" tanya bu rahma.
Rania menatap mata Bu Rahma yang penuh kelembutan dan ketulusan, dan seketika itu juga rasa ingin menahan diri perlahan luruh. Matanya terasa hangat, napasnya terhenti sejenak di kerongkongan sebelum akhirnya ia menghela napas panjang dan bercerita.
"Bu..." mulainya pelan, suaranya bergetar sedikit.
"Ada seseorang yang menawarkan aku pekerjaan baru. Di sebuah restoran yang bagus, gajinya lebih baik daripada di sini, jam kerjanya juga teratur sehingga aku masih bisa pulang membantu Mama di rumah"Ia berhenti sejenak, menelan ludah dengan susah payah.
"Tapi... aku bingung, Bu. Aku tidak tahu harus bagaimana. Kalau aku menerima tawaran itu, aku harus meninggalkan Ibu. Dan aku tidak akan pernah lupa betapa baiknya Ibu padaku selama ini" ucap rania.
Bu Rahma mendengarkan dengan tenang, tangannya yang kasar namun hangat mengusap punggung tangan Rania perlahan, memberikan kekuatan pada gadis itu untuk melanjutkan ucapannya. Wajahnya tidak tampak kecewa, tidak pula marah, hanya senyum yang penuh pengertian dan kasih sayang tulus.
"Jadi itu yang membuatmu gelisah seharian ini?" tanya Bu Rahma lembut setelah Rania selesai bercerita.
"Rania, dengarkan Ibu baik-baik ya. Ibu senang sekali mendengarnya. Sungguh senang. Itu berarti ada orang yang melihat ketekunan dan kejujuranmu, ada orang yang mau membantumu melangkah lebih jauh dari tempatmu berdiri sekarang"
"Tapi Ibu..." potong Rania pelan, air mata mulai menggenang di sudut matanya.
"Bagaimana dengan Ibu? Siapa yang akan membantu Ibu di sini?"
Bu Rahma tersenyum dan mengusap air mata yang mulai menetes di pipi Rania dengan ujung jarinya yang kasar namun lembut.
"Ibu sudah lama berdagang di sini, Nak. Ibu sudah terbiasa. Akan ada orang lain yang datang dan membantu Ibu nanti. Tapi kesempatan untukmu... kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Kamu berhak mendapatkan kehidupan yang lebih baik, berhak membantu Mamamu dengan lebih tenang, berhak mengembangkan dirimu. Jangan pernah merasa bersalah karena ingin maju, Rania. Itu bukan pengkhianatan, itu justru cara terbaik untuk berterima kasih—dengan menjadi orang yang lebih baik dan berguna bagi orang lain" ucap bu rahma.
Kata-kata Bu Rahma menembus langsung ke dalam hati Rania, meluruhkan beban berat yang selama ini menekan pikirannya. Ia menatap wajah wanita di hadapannya itu dengan rasa haru yang mendalam, menyadari betapa mulianya hati Bu Rahma—bahkan di saat ia mungkin kehilangan pembantunya, ia justru mendoakan kebaikan untuk Rania.
"Terima kasih, Bu..." bisik Rania, air matanya kini mengalir bebas namun hatinya terasa jauh lebih ringan dari sebelumnya.
"Terima kasih sudah mengerti. Terima kasih sudah membiarkan aku melangkah" ucap rania penuh haru.
"Pergilah ke tempatmu yang baru, Nak" ucap Bu Rahma lembut sambil menepuk pelan punggung tangan Rania.
"Kerjakan dengan jujur, tekun, dan jangan lupa tetap menjadi dirimu yang sederhana seperti sekarang. Itu saja yang Ibu minta"
Rania mengangguk pelan, menyeka air matanya dengan punggung tangan, lalu tersenyum—senyum yang kali ini terasa lebih tulus dan lega. Ia memeluk Bu Rahma erat-erat, memeluk wanita yang telah memberinya harapan saat ia masih belum tahu ke mana harus melangkah. Pelukan itu penuh dengan rasa terima kasih yang tak terucapkan, penuh dengan penghormatan dan kasih sayang yang tulus.
Setelah berpamitan dengan hati yang jauh lebih tenang, Rania melangkah pulang. Langkah kakinya kini ringan dan mantap, berbeda dengan pagi tadi yang penuh keraguan. Angin sore berhembus lembut menyapu wajahnya, membawa aroma tanah basah dan bunga-bunga liar di pinggir jalan.
Pikirannya kini sudah jelas ia akan menerima tawaran Dimas. Ia akan melangkah ke tempat yang baru, memulai babak baru dalam hidupnya, membawa serta doa dan restu dari Bu Rahma yang akan selalu ia simpan di dalam hati.
Sesampainya di rumah, Rania menemukan ibunya Jihan sedang duduk di teras sambil menjahit pakaian. Cahaya matahari sore yang meredup menyinari wajah ibunya yang tampak tenang dan damai. Jihan mendongak saat mendengar langkah kaki putrinya, segera meletakkan jahitannya dan tersenyum menyambut Rania.
"Sudah pulang, Nak?" sapa Jihan lembut.
"Wajahmu kelihatan lebih cerah dari biasanya. Ada kabar baik ya?"tanya jihan.
Rania tersenyum mendengar pertanyaan ibunya, lalu duduk di sampingnya, menggenggam tangan ibunya yang hangat dan lembut.
"Iya, Ma. Ada kabar baik"jawabnya pelan namun penuh keyakinan.
"Ada yang menawarkan aku pekerjaan di restoran, gajinya lebih baik dan jam kerjanya teratur. Aku sudah bicara dengan Bu Rahma... dan dia mendukungku" ucap rania.
Jihan menatap putrinya dengan mata yang berbinar bahagia, lalu segera menarik Rania ke dalam pelukannya yang hangat dan meneduhkan.
"Syukurlah, Nak. Mama sangat bangga padamu. Kamu memang anak yang rajin dan berbakti. Mama yakin kamu akan bisa melakukannya dengan baik" ucap jihan.
Malam itu, setelah makan malam yang sederhana namun hangat, Rania duduk di meja kecil di kamarnya, menuliskan pesan singkat untuk Dimas. Tangan yang tadi gemetar ragu kini bergerak mantap "Kak, aku menerima tawaran itu. Terima kasih sudah percaya padaku" tulis rania.
Saat kata-kata itu tertulis jelas di di layar pondelnya, Rania merasa seolah sebuah pintu besar baru saja terbuka di hadapannya—pintu menuju masa depan yang lebih cerah, di mana ia bisa berdiri tegak, membantu ibunya, dan mungkin... suatu hari nanti, bisa membuktikan bahwa ia berharga.
Bersambung..