Hutang budi membuat Pria setengah baya itu lupa pada gadis belia yang dulu menolongnya saat pingsan dalam melaksanakan tugas. Bertahun-tahun ia mencari, hingga akhirnya ia menemukan gadis itu dan menjodohkannya dengan 'putranya', Letnan Julang Wengkar (Elang), perwira muda yang gagah, berani, dan namanya di kenal kemiliteran.
Namun takdir punya jalan yang tak terduga. Di balik kesediaan gadis itu menerima perjodohan, tersimpan rahasia yang selama ini ia pendam dalam diam.. Hatinya bukan untuk Elang. Ia justru mencintai Letnan Dante, sahabat Elang sendiri.. Juga 'putra' dari mendiang sahabat Pak Riegan semasa muda dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Ujian ( 2 ).
Bian sungguh jengkel. Ia tidak paham alasan dirinya tidak pernah sependapat dengan Bang Dante sebagai penanggung jawab utama team. Setiap harinya, ia selalu jengkel dan berdebat dengan Letnan Wira tanpa henti.
"Sudah saya bilang, tanam pohon yang benar-benar bisa menahan air tanah. Apa sekarang??? Kau benar-benar tanam pohon cabe, tomat, terong. Niat buat sambal betul kau, ya..!!" Omel Bang Dante.
"Bisa tidak, sekali saja Abang tidak berteriak. Telingaku seperti di kerubungin semut." Balas Bian.
"Semut pun masih berpikir dua kali lipat untuk berurusan sama kamu." Bang Dante berbalik dan berjalan meninggalkan Bian.
"Dasar gorila stresss. Makanya baca arahan dari pusat baik" Pekik Bian geregetan.
"Paok..... Kau yang baca, pakai mata kepala, bukan mata batin, apalagi mata kaki."
Pria itu tidak menoleh tapi terus berceloteh. Bian terpancing emosi, ia melepas sandalnya lalu melemparnya hingga mengenai belakang kepala Bang Dante. Pria itu diam saja tanpa membalasnya sedikit pun.
:
"Aseeemmm.. Sailormoon kah dia itu?? Ezra Scarlet, atau malah Hinata Hyuga????? Ada ya bentukan perempuan begitu." Gumam Bang Dante kemudian menghisap rokoknya dalam-dalam.
"Ribut lagi kau sama Bian??" Tegur Bang Jangkar.
"Tau lah, dia itu satu-satunya perempuan yang buat kepalaku mumet setiap hari. Ratusan pohon cabe sudah ku pindahkan ke kebun warga, dia ganti lah pohon tomat, eeehh... Sekarang dia tanam terong. Kapan selesainya masalah tanam pohon ini???? Sampai malu saya sama kepala desa, untung saja mereka langsung menerima semua bibit yang saya pindahkan."
Bang Jangkar dan Bang Sabrang terkikik mendengarnya. Sebenarnya mereka tau dasar dari apa yang di lakukan Ibu Riegan, tapi.. Jika tidak dengan cara seperti ini, kedua insan manusia beda jenis itu akan terus bergelung dengan masa lalu yang gelap, kelam dan menyakitkan.
"Ngopi dulu, Bro. Jangan ributkan masalah ini lagi. Yang penting tidak ada masalah dalam penugasan kita. Dan lagi... Kepala desa dan Bian aman saja sampai sekarang." Bang Jangkar meletakan gelas kopi sahabatnya agar mereka bisa ngopi bareng.
"Ngopi melulu. Sampai siang ini saya sudah habis tiga gelas." Jawab Bang Dante tapi akhirnya meneguk juga kopi di hadapannya. "Mana dia?? Sampai jam segini belum minta tanda tanganku."
//
Di satu sisi, Bian mengadukan omelan Bang Dante yang ia dengar tanpa sengaja saat akan meminta tanda tangan pengesahan lahan yang sudah selesai di tanami pohon.
Mama Phia yang mendengarnya menahan tawa pasalnya beliau tau, gadis itu sudah melaksanakan tugas dengan baik, bahkan sangat baik. Sebenarnya keduanya sudah mulai saling memahami, hanya saja memang rasa gengsi dari keduanya menjadi penghalang terbesar, terutama Bang Dante.
Lama semakin lama, Mama Phia pun tidak tega. Entah berapa bulan berlalu, entah berapa lama interaksi diantara Bang Dante dan Bian. Kini Mama Phia merasa kedekatan itu sudah cukup, beliau ingin mendekatkan mereka dengan cara terakhir. Yang akhirnya salah satu akan mengakui bagaimana perasaan mereka saat ini.
"Ya sudah, biar besok acara tanam pohon ini diselesaikan sama Om Faisal saja, biar di handle. Besok, Bian ikut bunda. Bian suka olahraga, kan??? Besok Bunda minta, Bian jadi pelatih senam pagi untuk para anggota, bagaimana??" Tanya Mama Phia.
"Baiklah, Bunda Phia. Bisa kok." Bian tersenyum, tanpa curiga sedikitpun.
***
Di pagi itu, lapangan terbuka sudah dipenuhi para anggota, tak sedikit pula anggota remaja berada di sana.
Bian berdiri di depan mereka, mengenakan setelan olahraga yang sopan, kaos lengan panjang berwarna putih dipadukan celana panjang hitam dengan pinggang tertutup slayer, rambutnya terikat ekor kuda.
Tak ada yang salah dan berlebihan, tak ada yang terbuka. Namun entah mengapa, di mata seseorang yang sedang berdiri di pinggir lapangan, pemandangan itu terasa sangat sulit untuk dibiarkan begitu saja. Ada tidak rela gadis itu menjadi pusat perhatian banyak orang.
Di bawah pohon rindang, tangan Bang Dante melipat kedua tangan di depan dada, keningnya berkerut. Mata itu tak berkedip menatap ke arah Bian. Setiap kali gadis itu mengangkat tangan, membungkuk, meliuk atau berputar memberi contoh gerakan, ubun-ubunnya serasa terbakar, dadanya sesak seakan ada batu besar yang menekan. Batinnya berusaha menenangkan diri. Tapi logika itu kalah telak oleh rasa yang mendadak tak terkendali.
Bang Dante sangat mengerti situasinya. Namun yang membuatnya semakin geram bukanlah Bian, tapi para anggota remaja di barisan depan. Mereka bukannya ikut bergerak dengan benar, mata mereka justru terus menatap Bian dengan tatapan usil, senyum-senyum sendiri, gerakan tubuh mereka amburadul tak beraturan. Ada yang bergerak lambat sengaja agar bisa melihat lebih lama, ada yang berbisik-bisik sambil menunjuk ke arah Bian, dan ada yang sama sekali tak menggerakkan tubuhnya, hanya terpaku memandang.
"Apa yang kalian lihat...!!!! Kenapa kalian semua mendadak polio???" Tegur Bang Dante.
"Siap..!!"
Bang Dante menggeram pelan di tenggorokannya. Langkah kakinya tak sadar maju selangkah, lalu berhenti. Tapi saat melihat salah satu pemuda itu sengaja membungkuk sangat dalam sambil tersenyum nakal ke arah Bian, membuat pertahanan dirinya runtuh seketika.
"Mbak Bian, selesai senam.. Saya minta nomer telepon, donk..!! Saya mau di ajari senam private." Kata salah seorang anggota tersebut.
Jemari Bang Dante langsung mengepal kuat. Lagu hampir selesai untuk mode gerakan pendinginan, Bang Dante berjalan ke tengah lapangan lalu berdiri di depan Bian, menutupinya dari pandangan siapa pun.
"Ini senam, bukan kalian lihat perempuan meliuk di tengah tiang." Tegur Bang Dante. "Kau Serda Umar, ikut saya ke belakang..!!!"
"Siap."
~
Bang Dante menguarkan asap rokok, ia menunggui Serda Umar yang sedang mendapatkan sikap tobat darinya. "Kau minta apa tadi??? Nomer telepon pelatih senam?? B******n juga kau, ya??"
"Siap, salah."
"Kita baku hantam saja lah, bro. Calon istri Pasie Intel dia itu." Kata Bang Dante.
Seketika wajah Serda Umar semakin merah padam di buatnya. "Siap salah, Pasie."
Tak lama Bian datang, ia tak tega melihat seorang anggota sedang 'di aniaya'.
"Sini.. Ikut aku..!!!" Bian menarik lengan Bang Dante.
"Mau kemana???" Tanya Bang Dante.
"Kenapa Abang jahat sekali??? Memangnya dia salah apa???"
"Ya dia mau kurang ajar sama kamu, makanya saya hukum." Jawab Bang Dante.
"Yang memarahi aku tiap hari, itu lebih kurang ajar. Bagaimana kalau dia hanya bercanda." Kata Bian.
"Saya ini paham isi otak laki-laki. Apa maksud dia tadi, minta senam private segala."
"Ya senam, senam seperti tadi.. Hanya berdua." Ujar Bian.
"Ini nih, ada gila-gilanya pikirmu itu. Mana ada senam private laki-laki dan perempuan hanya berdua. Kau mau di telannya bulat-bulat???" Sambar Bang Dante.
"Kenapa sih, aku harus bertemu dengan laki-laki yang pikirannya ruwet macam Abang. Dia nggak akan buat macam-macam." Bian masih terus keras kepala karena ngeyelnya.
"Terserah kau, sana datangi dia. Ajak senam sama-sama, goyang kiri kanan, hoho hihe guling botol. Sampai kau nangis, saya tampar betul kau, ya."
Bian meneguk ludahnya, agaknya ia pun mulai takut. Ia mengingat perlakuan mantan kekasihnya beberapa bulan yang lalu hingga Mama Phia menyelamatkannya.
"Hmm.. Bang, kalau Bian mau menolak.. Bagaimana cara bilangnya??" Tanya Bian.
"Bilang saja..... Kau..... Calon istri saya. Aman dah ituuu."
.
.
.
.
lanjut mba Nara
Tokoh ceritanya mba Nara...pria² yg bertanggungjawab👍
lanjut mba nara👍
mba Nara, ngasih bawangnya banyak bgt🥹🥹
huaaa...ga rela klo pada pisah😭
lanjut mba Nara🥰
itu lg si vivian...melu² ngobong blarak....adeeehhh koq yo ora kapok... njaluk dijak gelud ae iki
lanjut mba nara