Sekuel ketiga dari buku sebelumnya: 'Cinderella Ubi Rebus dan Kutukan Mbah Golok Sakti'
Niatnya kuliah desain di Paris, Sella (19 tahun) malah terjebak skandal gara-gara nekat meminum setengah gelas jus jeruk sisa milik Raditama Abraham (25 tahun), seorang CEO muda yang kaku sekaku robot.
Siapa sangka, jus itu ternyata sudah dicampur obat halusinasi oleh musuh bisnis Adit!
Akibat salah kamar dan kehilangan kendali, malam itu berubah jadi bencana. Bukannya romantis, Sella yang berhalusinasi malah menjadikan Adit kuda tunggangan dan mengakhirinya dengan tendangan maut ke area vital Adit sampai sang CEO pingsan!
Kiamat tiba esok paginya. Papa Kaizen, mantan komandan militer yang galak, mendobrak pintu hotel. Melihat kamar berantakan dan bercak merah misterius di seprai, vonis mati langsung dijatuhkan: PULANG KE JAKARTA DAN NIKAH BESOK PAGI!
Bagaimana nasib rumah tangga paksa antara CEO Robot Kaku dan Istri Bar-bar ini? Apalagi, rahasia malam itu sebenarnya murni salah paham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Rahasia yang Bocor dan Ancaman Ponsel Pintar
"Sella? Itu suara siapa? Kok ada cowok teriak-teriak di tempat kamu?!" tanya Erlangga di layar ponsel, wajahnya berubah tegang dan dipenuhi rasa curiga yang mendalam.
Wajah Sella seketika pias, seputih kertas tanpa darah. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya yang menggenggam ponsel dengan gemetar hebat.
"Emm... itu, ada tetangga yang agak sedeng, Lang! Hobinya teriak-teriak nggak jelas di koridor lorong, makanya aku sedikit nggak nyaman tinggal di sini. Udah dulu ya, nanti aku telepon lagi kalau situasinya sudah aman. Bye!" ucap Sella dengan nada bicara yang dipercepat, seolah sedang dikejar hantu.
TUT!
Sella memutus sambungan video call itu dengan gerakan kasar. Jantungnya serasa mau copot dan pindah ke lutut saat itu juga. Ia menyandarkan punggungnya ke pintu kamar, mencoba mengatur ritme napasnya yang morat-marit. Bagaimana mungkin si drakula kaku sekaku robot itu bisa melacak posisinya sampai ke apartemen pribadinya secepat kilat?
BRAKKK!
Pintu apartemen luar dihantam sekali lagi hingga terbuka lebar dengan kasar. Sella berjengit kaget, ia merapatkan jaket kulit hitamnya seolah benda itu bisa melindunginya dari amukan sang CEO Abraham Company.
Adit melangkah masuk dengan aura yang begitu gelap, hingga suhu ruangan yang memang sudah dingin terasa semakin membeku kaku. Jas navy-nya sudah tersampir di lengan kiri, menyisakan kemeja katun putih dengan dasi sutra yang sudah ditarik longgar. Sepasang mata elangnya yang tajam langsung mengunci sosok Sella yang berdiri gemetar di ambang pintu kamar.
"Tetangga sedeng, hm?" suara Adit terdengar sangat rendah, berat, dan mengandung ancaman yang nyata bagi saraf pendengaran.
Ia berjalan mendekat dengan langkah kaku, setiap ketukan sepatunya di lantai kayu terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangan Sella.
Adit berhenti tepat di depan posisi berdiri Sella, mengurung pergerakan gadis itu sepenuhnya dengan kedua tangannya yang bertumpu pada daun pintu di sisi kiri dan kanan kepala Sella.
"Jadi, sekarang gue cuma dianggap tetangga sedeng setelah lo kuras habis isi kartu hitam gue buat membeli boneka dan bunga satu toko penuh di Paris?" bisik Adit dengan nada mengintimidasi batin.
Jarak mereka terlampau dekat, sampai Sella bisa mencium aroma aftershave maskulin Adit yang bercampur dengan hawa kemarahan yang membara.
Sella mendongakkan wajahnya, mencoba memasang ekspresi berani meski lututnya sudah lemas tak bertenaga.
"L-lo penguntit! Ngapain lo nekat ke sini?! Ini apartemen pribadi milik gue, hak asasi gue mau teleponan atau video call sama siapa saja!"
Adit tertawa sinis, sebuah tawa kering yang sama sekali tidak terdengar ramah di telinga. "Hak asasi? Lupa lo kalau kemarin pagi kita baru saja tanda tangan dokumen resmi di KUA yang menyatakan kalau lo itu sudah sah jadi istri gue secara hukum negara?!"
Adit merampas ponsel pintar dari tangan Sella dengan gerakan yang sangat cepat dan taktis, hingga Sella tidak sempat menghindar. Mata elang Adit menyipit tajam saat melihat layar ponsel yang masih menampilkan riwayat kontak bernama "Erlangga ❤️".
"Erlangga?"
Adit menyebut nama itu dengan nada suara meremehkan, namun ada kilat pengenalan di dalam ingatannya.
"Adiknya si Aji, kan? Teman SMA gue dulu yang paling berisik di kelas? Nggak menyangka seleranya seburuk ini sampai mau menjalin hubungan dengan mahasiswi manja sepertimu."
Sella melotot sempurna, tidak terima nama kekasihnya dihina. "Jangan bawa-bawa Erlangga! Dia jauh lebih baik dan hangat dari lo yang kaku kayak batu es! Dan jangan bawa-bawa Kak Aji juga!"
"Oh ya? Sayangnya, lo sekarang terikat kontrak pernikahan sama batu es ini," sahut Adit dingin.
Pria itu langsung memasukkan ponsel Sella ke dalam saku celana kainnya dengan gerakan kaku. "Mulai sekarang, ponsel ini resmi gue sita sampai lo belajar caranya menghargai suami sendiri!"
"BALIKIN NGGAK! DASAR DRAKULA POSESIF!"
Sella mulai meronta beringas, memukul dada bidang Adit berkali-kali menggunakan kepalan tangannya, namun pria itu bergeming layaknya batu karang yang kokoh di tengah deburan ombak. Adit justru semakin menekan tubuh tegapnya maju, mengunci gerakan Sella sepenuhnya di balik dinding.
"Ikut gue pulang ke apartemen utama sekarang, atau gue telepon Papa lo sekarang juga dan bilang kalau anaknya lagi asyik selingkuh jarak jauh di hari pertama pernikahannya. Pilih mana, Nyonya Struk Belanjaan?" ancam Adit mutlak.
Sella terdiam seketika, sepasang mata bulatnya mendadak berkaca-kaca menahan rasa marah, malu, dan kesal karena selalu kalah telak dari pria kaku di depannya ini.
"Asal lo tahu ya, Om! Buat apa gue ikut pulang sama pria yang hatinya masih nyangkut di cewek lain?! Buat apa gue ada di dekat lo, menyandang status istri lo secara hukum, tapi nama gue nggak pernah ada di hati lo!"
Sella berteriak histeris tepat di depan wajah Adit, suaranya pecah menahan isak tangis yang sudah menumpuk di ujung tenggorokan. Ia tidak peduli lagi dengan intimidasi fisik Adit. Rasa sesak luar biasa setelah menguping pembicaraan intim antara Adit dan Jasmine Clarissa di ruang kerja tadi benar-benar meledak sekarang.
Adit tertegun seketika di tempatnya berdiri. Cengkeraman tangannya di daun pintu perlahan mengendur kaku. Sorot matanya yang tadi penuh kilat amarah mendadak berubah menjadi goyah dan penuh kebimbangan. Ia tidak menyangka mahasiswi berusia 19 tahun di depannya ini akan bicara sefrontal itu—terutama soal wanita masa lalunya.
"Lo... lo dengar apa saja tadi di ruang kerja apartemen?" tanya Adit dengan nada suara yang mendadak melunak pelan, nyaris berbisik di depan wajah Sella.
Sella tertawa miris di tengah tangisnya, air mata akhirnya lolos membasahi pipinya yang semerah stroberi.
"Gue nggak budek, Om! Gue dengar semuanya dengan jelas. Lo bilang masih mencintai Jasmine, kan? Terus ngapain lo repot-repot ke sini menyeret-nyeret gue kembali? Kejar saja dia! Kasih kartu hitam lo itu ke dia, bukan ke gue yang lo anggap mahasiswi pengganggu ini!"
Sella mendorong dada bidang Adit dengan sisa tenaga fisiknya yang menipis, berusaha sekuat tenaga menciptakan jarak di antara mereka berdua.
"Balikin ponsel gue, dan pergi dari sini. Anggap saja kita nggak pernah kenal satu sama lain."
Adit mematung kaku melihat Sella yang menangis sesenggukan dengan tubuh bergetar di depannya. Ada rasa sakit yang aneh mendadak menyerang rongga dadanya—sebuah rasa bersalah yang jauh lebih menyiksa daripada saat perusahaannya kehilangan kontrak bisnis bernilai triliunan rupiah.
Pria itu menatap ponsel Sella di tangannya, lalu beralih menatap wajah sembab gadis itu lagi.
"Gue nggak bakal mengembalikan ponsel lo kalau lo masih nekat mau menghubungi Erlangga di Jakarta," ucap Adit, berusaha keras mengembalikan otoritas CEO-nya meski nada suaranya terdengar tidak yakin lagi.
"Dan soal Jasmine... urusan itu nggak sesederhana yang baru saja lo dengar, Sella."
"Nggak usah menjelaskan apa-apa! Gue nggak butuh dongeng pembelaan dari lo!"
Sella memalingkan wajah cantiknya ke arah lain, menyeka air matanya dengan kasar menggunakan jaket kulit hitamnya.
Adit menghela napas panjang tanda pasrah. Pria itu melangkah maju satu tindak, membuat tubuh Sella kembali tegang bersiaga penuh. Namun kali ini, Adit tidak mengunci pergerakannya lagi. Ia justru mengulurkan tangan kanannya, ragu sejenak sebelum akhirnya menyentuh bahu Sella yang masih bergetar hebat.
"Pulang dulu ke apartemen utama. Kota Paris lagi bahaya buat lo sendirian di tempat asing seperti ini. Gue janji nggak bakal marah-marah lagi... asal lo jangan bertindak nekat kabur-kaburan kayak tadi," bujuk Adit dengan nada suara yang jauh lebih lembut, sebuah nada yang sangat tidak mencerminkan ciri khas seorang Raditama Abraham yang kaku akut.
"Bahaya apaan? Gue bukan anak kecil lagi, Om! Gue bisa jaga diri sendiri!"
Sella menyentak bahunya dengan kasar, berusaha sekuat tenaga melepaskan sentuhan tangan Adit di tubuhnya. Sepasang mata bulatnya yang sembab masih menatap wajah Adit dengan kobaran emosi kemarahan.
Adit berdecak pelan, rasa sabarnya yang setipis tisu mulai terkikis kembali menghadapi kekerasan kepala istrinya.
"Ck. Keras kepala banget sih lo kalau dikasih tahu secara logis! Oke, kalau gitu gue bakal telepon Erlangga sekarang juga di depan muka lo. Gue bakal kasih tahu dia kalau sahabat kakaknya ini sudah resmi menjadi suami sah dari pacar kesayangannya. Setelah itu, gue bakal langsung telepon Papa lo lewat sambungan internasional. Jadi, gue nggak bakal disalahin atau digantung di Menara Eiffel sama bokap lo kalau lo sampai kenapa-napa di apartemen kosong ini!"
Adit sudah merogoh ponsel pintarnya sendiri dari saku celana kain, jemari tangannya bergerak cepat di atas layar seolah benar-benar akan menekan nomor telepon Aji atau Kaizen Saputra malam ini juga.
"Jangan! Jangan telepon mereka!" seru Sella panik ketakutan. Ia secara refleks langsung menubruk lengan kekar Adit, berusaha sekuat tenaga merebut ponsel pintar pria itu dari atas udara.
Adit dengan sengaja mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke atas plafon, memanfaatkan perbedaan tinggi badan mereka yang mencolok. Pria kaku itu menatap langsung ke arah wajah panik Sella dengan sebuah seringai kemenangan yang sangat menyebalkan di bibirnya.
"Kenapa? Lo takut diputusin secara sepihak sama Erlangga? Atau lo takut dimarahin habis-habisan sama bokap lo karena nekat kabur dari rumah suami?"