Satu malam, Syafiya (21) salah masuk ke kamar Zeffan (32)—kakak angkatnya sendiri. Malam terlarang itu mengubah segalanya.
Zeffan yang terbiasa dingin kini terobsesi menjadikan Syafiya wanita simpanannya. Padahal, Zeffan sudah memiliki istri anggun, Valerie (28), dan bayi berusia satu tahun.
Syafiya terjepit di antara utang budi pada Mommy Marlina dan cengkeraman obsesi Zeffan. Bisakah ia kabur, atau justru makin tenggelam dalam dosa terlarang ini?
"Kamu yang masuk ke kamarku malam itu, Syafiya. Jadi jangan mimpi bisa lepas dariku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan dan Air Mata
"M-Mommy s-sudah tahu?" tanya Syafiya dengan mata yang berkaca-kaca, dadanya naik-turun menahan sesak yang meledak. "Mommy, maafkan Syafiya... Harusnya Syafiya tidak menerima kemauan Kakak. Syafiya mohon, maafkan Syafiya, Mommy..."
Syafiya bersimpuh di depan kaki Marlina seraya tetap merengkuh Elvano dengan erat. Air matanya menetes deras membasahi marmer dingin, meluapkan seluruh rasa bersalah yang selama ini menggerogoti jiwanya.
Marlina memejamkan mata erat-erat, air mata kekecewaan meluncur melintasi pipinya. Ia menarik tubuh Syafiya agar kembali duduk di atas sofa, lalu merengkuh pundak gadis itu yang berguncang hebat.
"Jangan minta maaf sama Mommy, Syafiya," bisik Marlina serak, mengusap air mata di pipi anak angkatnya. "Mommy tidak menyalahkan kamu, Nak... Mommy tahu betul bagaimana keras dan dominannya Zeffan. Kamu pasti tidak punya pilihan untuk melawan dia, kan?"
"Syafiya takut, Mom..." adu Syafiya terisak-isak, menumpahkan segala ketakutannya yang selama ini ia pendam sendiri. "Kak Zeffan selalu mengancam... Dia bilang kalau Syafiya menolak atau berusaha lari, dia bakal buat masalah ini makin panjang dan menyakiti semua orang... Syafiya bingung harus bagaimana..."
"Astaga, Zeffan..." gumam Marlina merintih, meremas tangannya sendiri dengan tak berdaya saat menyadari betapa dalam putranya telah menjerat gadis polos ini. "Bagaimana bisa dia melakukan hal sebejat ini pada adiknya sendiri? Dia benar-benar sudah hilang akal..."
"Mommy... tolong sampaikan pada Kak Zeffan untuk menghentikan semua ini," mohon Syafiya seraya menggenggam erat jemari Marlina, menatap wanita tua itu dengan pendar harapan yang tersisa. "Syafiya mau hidup tenang... Syafiya tidak mau merusak rumah tangga Kak Zeffan dan Kak Valerie..."
"Zeffan sudah menutup telinganya dari Mommy, Syafiya," balas Marlina dengan nada teramat pasrah dan terpukul. "Tadi dia menegaskan... kamu sekarang miliknya. Dia bahkan mengancam akan membuang Mommy kalau Mommy berani mencampuri hubungannya denganmu."
Syafiya tersentak kaku, napasnya seolah terhenti mendengar penuturan itu. "K-Kak Zeffan... bilang begitu sama Mommy?"
Marlina mengangguk lemah, memeluk Syafiya dan Elvano sekaligus ke dalam dekapannya.
"Rumah ini sudah jadi sangkar buat kita, Syafiya... Dan Mommy betul-betul takut, Zeffan akan makin gelap mata kalau sampai kamu mencoba memotong rantai yang sudah dia pasang di tubuhmu."
"B-bagaimana kalau kita meminta bantuan Daddy saja?" bisik Syafiya terbata-bata dengan pendar harapan liar di matanya. "Daddy pasti bisa menasihati Kak Zeffan, kan, Mom? Kak Zeffan tidak mungkin berani melawan teguran Daddynya sendiri!"
"Itu tidak akan berhasil, Syafiya," pangkas Marlina cepat dengan suara serak, menggelengkan kepala penuh keputusasaan. "Daddymu sudah tahu bagaimana Zeffan. Yang ada Daddymu akan mengalah daripada melihat keluarga dan perusahaan kita hancur."
"Tapi kenapa, Mom?" tangis Syafiya pecah lagi, tidak mampu memahami kepasrahan ibunya. "Kenapa semua orang harus tunduk dan takut sama Kak Zeffan?! Dia sudah salah, Mom! Ini jalan yang sesat!"
"Karena Zeffan memegang kendali atas segalanya di rumah ini, Syafiya!" desis Marlina, meremas kedua bahu Syafiya agar gadis itu menatapnya lurus. "Hampir seluruh saham dan aset utama keluarga kita sudah dialihkan atas nama Zeffan sejak tiga tahun lalu. Daddymu cuma punya nama, tapi kekuasaan mutlak ada di tangan Kakakmu!"
Syafiya membelalak tak percaya, tubuhnya terasa mendadak lemas sampai-sampai ia harus memeluk Elvano semakin erat agar tidak merosot.
"Daddymu pernah mencoba menentang keputusan Zeffan saat masalah Valerie pertama kali mencuat," lanjut Marlina dengan air mata yang menetes di pipinya yang keriput. "Tahu apa yang Zeffan lakukan? Dia mengancam akan membekukan seluruh aset dan membongkar rahasia bisnis keluarga ke publik. Daddymu hampir kena serangan jantung karena stres saat itu, Syafiya..."
"Jadi... tidak ada satu orang pun yang bisa menghentikan Kak Zeffan?" cicit Syafiya terperanjat, tenggorokannya serasa tersekat oleh rasa takut yang luar biasa pekat.
"Tidak ada, Sayang..." bisik Marlina pasrah, mengusap air mata di pipi Syafiya yang tak kunjung berhenti mengalir. "Zeffan itu gila. Makin kita melawan dan berontak, makin kejam dia akan mengikatmu. Satu-satunya cara agar kamu aman di rumah ini... adalah menuruti kemauannya dan jangan pernah menyulut amarahnya."
"T-tapi... apa Mommy tidak marah kepada Syafiya?" bisik Syafiya serak, suara tangisnya nyaris tak terdengar saat kalimat yang paling menakutkan itu akhirnya terucap. "Bisa dibilang... Syafiya ini simpanannya Kak Zeffan, Mom..."
Marlina tersentak kaku. Kata-kata itu menghantam dadanya bagaikan godam berat. Namun, melihat tubuh Syafiya yang gemetar hebat dengan pandangan penuh rasa hina dan dosa, Marlina justru tidak sanggup melampiaskan kemarahan. Ia membawa Syafiya ke dalam dekapannya, memeluk anak angkatnya itu erat-erat.
"Bagaimana bisa Mommy marah sama kamu, Syafiya...?" rintih Marlina dengan air mata yang menetes di bahu Syafiya. "Kamu itu korban di rumah ini. Mommy yang gagal melindungimu dari anak Mommy sendiri."
"Tapi Syafiya kotor, Mom..." histeris Syafiya meledak di dalam dekapan Marlina, meremas pakaian ibu angkatnya. "Syafiya khianati kepercayaan Mommy... Syafiya merusak pernikahan Kak Valerie... Syafiya hina, Mom..."
"Tidak, Syafiya! Jangan bicara begitu!" pangkas Marlina tegas seraya melepaskan pelukannya dan memegang kedua sisi wajah Syafiya yang basah kuyup oleh air mata. "Kamu tidak pernah menginginkan ini, kan? Kamu dipaksa! Zeffan yang menggunakan kekuasaan dan ancamannya untuk memanipulasi kamu!"
"T-tapi Kak Zeffan selalu tidur di kamar Syafiya, Mom..." cicit Syafiya terbata-bata dengan bibir gemetar, menatap Marlina dengan ketakutan yang teramat telanjang. "Meskipun... meskipun Kakak tidak pernah menyentuh Syafiya lebih jauh selain ciuman... tapi Syafiya merasa bersalah setiap kali melihat Mommy dan Elvano..."
Marlina tertegun mendengar pengakuan jujur itu. Ada sedikit rasa lega yang menyeruak di dadanya mengetahui Zeffan belum merenggut kesucian anak angkatnya, namun di saat yang sama, ia makin merinding membayangkan tingkat obsesi dingin yang dimiliki putranya.
"Dengar Mommy, Syafiya," bisik Marlina penuh penekanan, menatap lurus ke dalam iris mata Syafiya. "Kamu tidak hina, dan kamu bukan simpanan siapa pun. Mulai hari ini, simpan rahasia ini rapat-rapat. Jangan pernah buat Zeffan tersinggung atau merasa ditolak, tapi jaga dirimu baik-baik... Mommy akan cari cara untuk menyelamatkan kamu dari rumah ini tanpa membuat Zeffan curiga."