Indonesia
NovelToon NovelToon
Antara Sunyi Dan Riuh

Antara Sunyi Dan Riuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Keluarga & Kasih Sayang / Persahabatan / Romansa
Popularitas:313
Nilai: 5
Nama Author: winda Whyn

Bagi Kirana Putri, rumah megah milik Orang tuanya adalah museum kaku yang sunyi. Hidup di bawah bayang-bayang prestasi kakaknya, Kanaya, membuat Kirana harus selalu tampil sempurna dan pendiam. Satu-satunya tempat ia bisa menjadi gadis riuh penuh tawa adalah saat bersama ketiga sahabatnya di sekolah.
Dunia sunyi Kirana mendadak terusik oleh kehadiran Keenan Abimara, si genius rebel dari kelas MIPA-1. Berbeda total dengan Kirana, Keenan hidup di tengah keluarga kaya yang super santai bersama Ayah Abimara dan Ibu Karina. Meski hobi melanggar aturan sekolah bersama geng cowoknya, Keenan perlahan membawa warna baru yang hangat ke hidup Kirana lewat perhatian kecil dan investasi susu cokelatnya.
Namun, kedekatan dua juara umum ini memicu badai gosip anonim di mading sekolah yang menuduh Keenan mendekati Kirana hanya demi taruhan murahan dua minggu. Diuji oleh aturan kaku rumah dan kepercayaan yang goyah, mereka harus bekerja sama membongkar kebenaran lewat rekaman CCTV sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda Whyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Debat di Ruang Tengah

Hawa hangat dari teh melati yang baru saja dituangkan oleh Ibu di atas meja kaca ruang tengah seolah mendadak membeku. Lampu gantung kristal yang memendarkan cahaya kekuningan mewah di langit-langit kediaman keluarga Abimara malam itu menjadi saksi bisu runtuhnya atmosfer santai yang biasanya selalu menghiasi rumah ini.

Di tengah ruangan, Keenan berdiri dengan tubuh tegap kaku. Sepasang mata tajamnya menyipit lurus, menghunus ke arah Ayah yang masih duduk di sofa kulit dengan wajah yang berangsur kaku. Kaus hitam polos yang melekat di tubuh tegap Keenan tampak naik-turun seiring dengan napasnya yang memburu menahan luapan amarah yang dingin.

"Ayah tanya sekali lagi, Keenan. Sopan santun kamu sebagai anak laki-laki keluarga Abimara ke mana?!" suara Ayah meninggi, nadanya berat dan dipenuhi wibawa pemimpin perusahaan besar yang tidak terbiasa dibantah oleh siapa pun. Ayah meletakkan jurnal bisnisnya ke meja dengan ketukan keras. "Kamu berani membentak Ayah hanya karena anak perempuan dari keluarga Baskara itu?!"

"Keenan gak bakal berdiri di sini dan marah kalau Ayah gak mulai duluan dengan merusak ketenangan orang lain!" balas Keenan lantang, suaranya yang bariton menggema membelah keheningan lobi rumah, membuat Kak Arkan yang baru saja keluar dari kamar atas langsung menghentikan langkah kakinya di anak tangga, menatap situasi tegang itu dengan wajah serius. Di dekat pintu dapur, Keisha mengintip dengan cemas, memeluk kotak bekal kosongnya dengan mata membelalak takut—ini pertama kalinya dia melihat abang tengahnya yang jenaka bisa semurka ini di rumah.

Ibu melangkah mendekat, memegang lengan tegap Keenan dengan lembut, mencoba menjadi penengah yang damai. "Nan, tenang dulu. Duduk dulu ya? Bicaranya pelan-pelan sama Ayah, jangan pakai emosi."

"Gimana Keenan bisa tenang, Bu?!" Keenan menoleh ke arah Ibu, nadanya melunak karena rasa hormat, namun gurat frustrasinya tidak bisa disembunyikan. "Ayah datang ke rumah Kirana sore tadi tanpa sepengetahuan Keenan. Ayah ngancam narik seluruh investasi saham Abimara Group di perusahaan ayahnya Kirana hanya karena urusan bimbingan olimpiade sekolah! Ponsel Kirana disita malam ini, dan dia dipaksa mundur dari kompetisi hari Senin besok! Apa itu yang disebut adab bisnis yang adil, Yah?!"

Ayah berdiri dari sofa kulitnya, memperkecil jarak di antara mereka hingga aura intimidasi dari pria berjas rapi itu terasa menekan. "Ayah melakukan itu demi masa depan kamu, Keenan! Ayah menerima laporan dari komite yayasan kalau kamu sengaja melewatkan jam orientasi manajemen perusahaan dan piket magang yayasan minggu ini. Waktu kamu habis hanya untuk nongkrong di kedai martabak, tempat les, dan perpustakaan sekolah demi mengejar anak perempuan itu! Kamu itu salah satu penerus Abimara Group, Nan! Otak genius kamu tidak boleh dirusak atau dialihkan fokusnya oleh hubungan remaja yang tidak bermutu!"

Mendengar kalimat terakhir Ayah, Keenan justru terkekeh renyah—sebuah tawa dingin yang dipenuhi rasa getir dan pembangkangan mutlak. Dia menyugar rambut berantakannya dengan satu sentakan cepat, menatap lurus ke dalam sepasang mata tegas Ayahnya.

"Hubungan tidak bermutu, Yah?" tanya Keenan, nadanya mendadak merendah namun sangat tajam menembus keheningan ruangan. "Ayah tahu gak? Selama ini Keenan manjat pagar sekolah, masuk ruang BK, dan gak pernah peduli sama nilai karena Keenan bosen dengan semua aturan kaku yang Ayah siapin di perusahaan. Tapi sejak Keenan ketemu Kirana di kelas bimbingan sains, sejak Keenan duduk di sebelah dia di sela bimbingan sekolah... untuk pertama kalinya Keenan punya alasan buat serius belajar. Nilai kuis Fisika Keenan sempurna minggu ini karena Keenan pengen berdiri sejajar di sebelah dia sebagai partner delegasi yang bisa diandalkan!"

Keenan mengepalkan tangannya kuat-kuat di sisi tubuh hingga buku-buku jarinya memutih. "Kirana gak pernah ngerusak fokus Keenan. Dia justru yang bikin Keenan tahu arti tanggung jawab akademik yang sebenernya! Rumah dia udah terlalu kaku dan sunyi karena tekanan orang tuanya, dan Keenan udah janji sama diri Keenan sendiri, juga sama Kak Naya... kalau Keenan bakal jadi orang yang selalu jaga keriuhan bahagia di hidup Kirana agar gak pernah redup. Tapi sore ini... Ayah justru datang membawa kesunyian baru yang lebih kejam buat dia."

Suasana mendadak senyap secara ekstrem selama beberapa menit penuh. Hanya suara detak jam dinding besar bergaya klasik yang terdengar berdetak lambat.

Kak Arkan melangkah turun dari anak tangga, berjalan mendekati meja tengah lalu menepuk bahu Ayah dengan gurat kedewasaan penuh pertimbangan. "Yah... Arkan rasa kali ini Keenan bener. Arkan lihat mereka belajar bareng di balkon lantai dua hari Sabtu lalu. Kirana itu anak yang sangat baik, sopan, dan prestasinya luar biasa. Kehadiran Kirana justru membawa pengaruh positif yang luar biasa buat perubahan sikap Keenan di sekolah. Menekan keluarga mereka dengan urusan investasi saham perusahaan itu... rasanya terlalu berlebihan untuk urusan anak SMA."

Ibu ikut mengangguk kompak, menggenggam tangan kaku Ayah dengan penuh kasih sayang seorang istri yang bijaksana. "Iya, Ayah. Ibu juga sudah sempat mengobrol dalam dengan Kirana saat membuatkan martabak telor kemarin. Anak itu murni fokus belajar untuk membanggakan keluarganya. Jangan biarkan urusan ambisi bisnis kita di Abimara Group mengorbankan kebahagiaan dan masa depan anak-anak yang jujur seperti mereka."

Ayah menatap wajah Ibu, lalu beralih menatap Kak Arkan, dan terakhir mengunci pandangannya pada wajah Keenan yang masih memasang benteng pertahanan keteguhan yang mutlak tak tergoyahkan. Gurat amarah di wajah tegas Ayah perlahan-lahan mulai mengendur, digantikan oleh helaian napas panjang yang sarat akan gundah yang mendalam. Ego kaku dari pria penguasa bisnis itu untuk pertama kalinya mendadak goyah setelah mendengar pembelaan yang begitu berani dari putra tengahnya.

"Kamu... bener-bener gak mau mundur dari tim olimpiade gabungan sekolah hari Senin nanti, Keenan?" tanya Ayah, nadanya kini sudah merendah, terdengar kaku namun tidak lagi dipenuhi hawa dingin yang menusuk.

"Gak akan pernah, Yah," jawab Keenan dengan nada suara yang teratur, jelas, tegas, dan dipenuhi oleh ketulusan mutlak seorang remaja yang sedang pasang badan melindungi sang pemilik hati. "Hari Senin nanti, Keenan bakal tetep datang ke kelas bimbingan gabungan Bu Endang. Dan kalau Ayah tetep nekat menarik investasi saham dari perusahaan ayahnya Kirana hanya karena keputusan ini... silakan. Tapi Ayah harus bersiap kehilangan nama Keenan Abimara dari daftar ahli waris seluruh yayasan dan perusahaan Abimara Group mulai malam ini juga."

Mendengar ancaman pembangkangan total yang begitu mahal dari anak genius kesayangannya, Ayah tertegun diam mematung tanpa bisa membalas satu kata pun. Keenan tidak menunggu jawaban Ayah lagi. Dia memutar tubuhnya dengan gesit, menyambar jaket denim longgar andalannya di atas sofa, lalu melangkah lebar-lebar menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua dengan derap langkah kaki yang berisik, sebelum menutup pintu kamarnya dengan satu dentuman renyah yang mengunci keteguhan sikapnya.

Malam semakin larut saat ruang tengah kediaman Abimara kembali diselimuti oleh keheningan ganjil. Namun di dalam kamarnya, Keenan duduk di tepi kasur sambil menggenggam erat ponselnya, menatap lurus ke luar jendela kaca besar yang menghadap ke arah langit malam kota yang ungu gelap. Rahangnya mengetat rapat, sepasang mata tajamnya memancarkan binar tekad yang tak pernah padam. Dia tahu, badai di rumahnya malam ini mungkin baru saja diredam, namun hari Senin besok di sekolah, dia harus bersiap menghadapi babak perjuangan sesungguhnya demi menembus sekat benteng sunyi yang sedang mengurung Kirana. Keriuhan rasanya telah resmi menjadi senjata pelindung terkuatnya, siap bergerak maju

1
winda Whyn
siap terimakasih kak... ayo kita saling membantu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!