Indonesia
NovelToon NovelToon
Sang Penghancur Rantai Takdir

Sang Penghancur Rantai Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:203
Nilai: 5
Nama Author: * z *

Kisah ini menceritakan perjalanan seorang anak bernama Kai,
seorang pangeran dari kerajaan yang sama sekali tidak memiliki bakat dalam sihir,
dan memiliki takdir yang sangat buruk.

Dijauhi. Disakiti. Bahkan dikhianati.
Seluruh hidupnya hanya dipenuhi oleh rasa sakit yang tiada akhir.

Namun pada suatu waktu, dia tiba-tiba mendapatkan kekuatan misterius.
Kekuatan yang bahkan tidak bisa dijelaskan oleh para Dewa.
Dengan kekuatan yang dimilikinya itu, dia mulai merasakan perbedaan pada dirinya sendiri.

Namun seiring berjalannya waktu, dia terus-menerus dihajar oleh sebuah fakta:
Takdirnya yang buruk.

Tapi saat dia ingin menyerah dan lari karena sangat takut untuk melawan takdirnya sendiri,
dia bertemu dengan banyak orang-orang yang akan membantunya sedikit demi sedikit.

Pada akhirnya, hanya dia yang akan memutuskan:
Lari dan pasrah menghadapi takdirnya...
atau
Menghancurkan takdirnya dan membuat takdirnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon * z *, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24_Perubahan akan dimulai

suara gemercik air terdengar ketika kami berlari, Kami berdua berarti melewati beberapa gang yang gelap dan sempit

Lampu minyak dari rumah warga berkedip-kedip, bayangan kami memanjang di dinding yang lembab.

Para warga kota dan para ksatria mulai berkumpul di setiap sudut kota untuk mencari kami, teriakan panik dari warga atas insiden yang aku buat menggema ke setiap kota

Dari jauh masih terdengar peluit ksatria, tapi suaranya makin pelan, ketutup suara gemercik air selokan.

Setelah berlari seharian kami akhirnya sampai ke sebuah tempat, di tempat tersebut terdapat rumah kosong dua lantai yang cukup besar dan jaraknya berada dekat dengan tembok pembatas kota

Cat tembok rumah itu sudah mengelupas, kaca jendelanya pecah, tapi pintunya masih kokoh. Rumah yang sudah lama ditinggalkan.

Kami pun membuka pintu rumah itu dan masuk ke dalam untuk bersembunyi, di dalam nafas kami terengah-engah karena kelelahan setelah bertarung dan kemudian berlari cukup jauh

Udara di dalam rumah dingin dan berdebu. Aroma kayu lapuk langsung menusuk hidung. Aku baru sadar tapak kakiku ninggalin bercak darah di lantai berdebu. Luka di bahu yang tadi sembuh ternyata masih rembes.

Stella menatap ke arah para budak itu "apa kalian kelelahan? Apa kalian lapar?"

Aku langsung menyenderkan badanku ke tembok dan kemudian duduk "lelahnya! Aku pikir kita akan tertangkap" nafasku masih terengah-engah

Stella langsung mengambil sesuatu dari balik mantelnya, beberapa roti yang ternyata dia ambil, dia langsung memberikan roti-roti itu kepada para budak-budak itu "makanlah, jangan sungkan.." sambil tersenyum tipis

Tangannya sedikit gemetar waktu nyodorin roti, tapi dia paksa tetap senyum.

Para budak-budak itu pun langsung mengambil roti-roti itu dengan pelan-pelan dari tangan Stella dan langsung memakannya "te-terima ka-kasih, kakak.." sambil gemetar ketakutan

Mereka makannya pelan-pelan, kayak takut rotinya diambil lagi.

Stella yang mendengar itu langsung tersenyum lebar dan langsung duduk kemudian mengelus kepala mereka dengan lembut "sama-sama.. ouh iya bagaimana kalian bisa menjadi budak seperti ini?"

Mereka menundukkan kepalanya sedikit "ka-kami sebenernya adalah korban para bandit, setelah mereka membunuh orang tua kami, mereka membawa kami ke Baron wilayah ini, dan akhirnya kami dijual kepala gereja.." air mata mulai menetes dari mereka

Stella menundukkan kepalanya dan melepaskan topengnya pelan-pelan "begitu ya.. pasti berat untuk kalian, tapi tenang saja" dia memeluk para anak-anak itu dengan lembut "karena kalian sekarang sudah aman.."

Salah satu anak itu berjalan ke arahku, dia memberikan rotinya kepadaku "ini.. kakak belum makan, kakak pasti kelelahan.."

Stella menoleh ke arahku dan langsung berjalan ke arahku "tenang saja.. roti itu milikmu, milik kakak itu" dia mengambil roti dari balik mantelnya lagi "adalah yang ini.."

Stella langsung menjulurkan tangannya dan memberi roti itu kepadaku sambil tersenyum lebar "ini makanlah.. kau pasti kelelahan setelah semua itu kan?"

Aku menatap dengan tajam ke arah matanya "terima kasih.." aku mengambil roti dari tangannya dan memakannya

Dia langsung merobek mantelnya dan langsung mengumpulkan kayu-kayu yang ada di dalam rumah ini, dia mengambil korek kayu dari sakunya dan langsung membakar mantelnya untuk membuat api "dengan begini sip, Sudah beres"

Api kecil itu langsung bikin bayangan kami goyang di dinding. Dingin di kaki mulai hilang.

Raut wajah anak-anak itu langsung berubah, mereka tersenyum sambil mengelilingi api itu "hangatnya! Nyaman! Aku benar-benar mengantuk!"

Anak-anak itu merapat, bahu ketemu bahu, dengerin suara api yang meletik pelan.

Dia berjalan ke arahku dan duduk di samping ku "hei.. untuk masalah kali ini, maaf, gara-gara aku kau harus terlibat hal seperti ini"

Aku menurunkan bahuku dan menatap ke arahnya "daripada meminta maaf, aku lebih suka jika kau berterima kasih"

Dia langsung membelalak dan menundukkan kepalanya "tapi.. karena aku, kita jadi dalam masalah seperti ini.."

Aku langsung menoleh ke arah anak-anak itu "menurutku tindakan mu kali ini, bukanlah sebuah kesalahan" dia langsung menatap ke arahku sambil membelalak "kau lebih memilih untuk menyelamatkan anak-anak itu, daripada menyelamatkan nyawa mu sendiri, menurutku itu bukanlah tindakan yang salah"

Dia langsung menundukkan kepalanya dan menutupi wajahnya dengan kedua lututnya "begitu ya.. kalau begitu, terima kasih karena sudah menolongku"

Suaranya kecil, hampir ketutup suara api. Dia ngomong sambil nunduk, gak berani natap aku.

Anak-anak itu akhirnya tidur, mereka tidur di tepi api unggun itu sambil tersenyum tipis, aku melihat wajah mereka _mereka semua pasti sudah melewati banyak cobaan, sama sepertiku_

Stella mengangkat wajahnya dan menatap ke arah mereka "sepertinya aku tidak akan menutupi apapun lagi padamu" dia menoleh ke arahku "sebenarnya aku adalah mata-mata yang dikirim kerajaan salfaria setelah kerajaan Eiden menetapkan diri menjadi kekaisaran"

Aku langsung menatapnya dengan wajah datar "aku sudah tahu akan itu.."

Stella langsung tersentak, matanya membelalak "HEHH!!" Wajahnya langsung berkeringat "kau sudah tahu?"

"Tentu saja, mana ada orang biasa yang memilki zirah yang memliki kualitas sebagus itu, dan yang terpenting" aku menatapnya dengan tajam "mereka tidak mungkin membawa alat sihir seperti kamera"

"Pasti kau sudah mengambil beberapa bukti penjualan para budak di ibu kota kan, dan kau berencana untuk mengambil jalan pintas dengan masuk ke lembah kemudian memanjat tebingnya ketika sudah berada di tengah lembah untuk menutupi jejak"

Keringatnya mulai bercucuran, dia memalingkan wajahnya dariku _BAGAIMANA DIA BISA TAHU TENTANG RENCANA KU!!_ dia langsung menoleh ke arahku "begitulah.." dia langsung menundukkan kepalanya padaku "tolong jangan beri tahu siapapun! aku mohon! aku akan lakukan apapun untukmu!"

Aku menatapnya dengan senyum tipis "baiklah.. bagaimana kalau begini, kau akan berbagi informasi padaku"

Dia mengangkat kepalanya, ekornya mengibas telinganya berdenyut "pertukaran informasi? Boleh saja.."

"Baiklah sebagai awalan dari pertukaran informasi kita, pertama aku ingin kau memberikan setiap informasi yang kau punya tanpa terkecuali"

Dia mengambil beberapa foto yang di dalam fotonya terdapat beberapa bukti dokumen penjualan budak yang dilakukan sejumlah Baron yang ada di kekaisaran "hanya ini saja, informasi yang ku punya" dia pun menjelaskan juga keadaan kekaisaran baru-baru ini padaku

Aku melihat setiap foto dan mendengarkan ceritanya itu dengan seksama _kurang lebihnya aku sudah mengerti, pertama kerajaan Eiden berhasil mendapatkan beberapa pegunungan yang ada di wilayah kerajaan Trufel yang dipimpin oleh ras dark elf, dan beberapa wilayah yang dekat dengan reruntuhan penyihir es yang dijaga kerajaan salfaria, karena mereka terus memperbesar wilayah-wilayahnya, para raja tiap kerajaan khawatir bahwa akan terjadi perang besar-besaran yang akan terjadi, untuk itulah orang-orang seperti Stella ada, mereka mencari setiap kesalahan yang melanggar perjanjian internasional agar kekaisaran berhenti mengambil wilayah-wilayah lain, dan memberikan kompensasi yang besar kepada setiap kerajaan sebagai hukuman karena melanggar perjanjian itu, salah satunya adalah perbudakan ilegal_

Aku mengambil sebuah foto dan melihatnya dengan seksama, dan setelah aku perhatikan aku langsung tersentak setelah melihat yang ada di dalam foto tersebut "Projek Homunculus"

aku menunjukan foto itu kepada Stella "apa maksud dari foto ini?"

Dia melihat foto itu dan langsung menghela nafasnya "huhh.. seperti yang saat itu aku bicarakan, gereja sedang membuat sebuah manusia yang melebihi batas normalnya"

"Batas normal? Apa maksudmu?"

Dia menunjuk ke arah tubuhnya "Kau tahu kan bahwa setiap makhluk hidup memiliki jumlah mana yang berbeda-beda"

Aku mengangguk pelan "tentu saja, kalau tidak salah jumlah mana itu bisa terus dikembangkan dengan latihan"

Dia mengangguk pelan "tepat sekali, hanya saja untuk melatih batasan mana itu diperlukan latihan khusus yang sangat lama, dan dari situlah tujuan Projek Homunculus ini dibuat, pihak gereja ingin membuat manusia buatan yang memiliki jumlah mana yang sangat besar, tanpa perlu berlatih lagi untuk dijadikan sebuah pasukan"

Tanganku yang urat hitamnya masih berdenyut langsung ku kepal. _Manusia buatan tanpa latihan... bukankah aku juga sama?_

Aku menatap ke arah para anak-anak itu "Lalu apa hubungannya Projek Homunculus ini dengan para budak, dan kekasihmu yang hilang itu?"

Dia menundukkan kepalanya sedikit "pihak gereja memindahkan jiwa mereka dan mencuci ingatan mereka sehingga mereka akan selalu senantiasa berpihak kepada gereja"

Aku langsung menoleh ke arahnya, mataku membelalak "memindahkan jiwa? Bagaimana caranya?

Dia menggelengkan kepalanya pelan "untuk itu aku tidak tahu, tapi aku pernah dengar dari beberapa biarawan di gereja pusat, membicarakan tentang seorang gadis dwarf yang berhasil membuat alat sihir yang mampu memindahkan jiwa seseorang ke tubuh yang baru"

Mataku masih membelalak _jka saja, aku berhasil mendapatkan catatan proses pembuatan alat sihir itu, aku bisa menebus kesalahanku dimasa lalu_ tanganku mengepal dengan sangat erat

Aku langsung menjulurkan tanganku kepadanya "dengar Stella, aku akan membantumu dalam misi mu"

Dia menatap ke arah wajahku dengan heran "apa? Apa aku tidak salah dengar?"

"Aku serius untuk membantumu, dan bunkankah kau ingin memanfaatkan ku" sambil tersenyum tipis ke arahnya

Dia langsung tersentak lalu mendegak "ba-baillah, tapi sebelum itu... Apa yang jadi alasanmu untuk membantuku, maaf saja karena kita akan berkerja sama aku perlu tahu niat sekutuku sendiri"

"Aku pikir kau adalah gadis yang berkepala kosong, tapi kau bisa memperhatikan detail seperti itu juga"

Dahi dan alis Stella langsung mengerut, bahunya meninggi "SIAPA YANG KAU BILANG GADIS BERKEPALA KOSONG HAH!!"

Aku menatap api unggun itu "aku memiliki beberapa masalah dengan orang-orang gereja dan kekaisaran, jadi aku hanya ingin sedikit membalas tindakan mereka padaku selain itu aku ingin menebus kesalahanku yang aku perbuat pada anggota keluarga ku" aku menjawab pertanyaan itu dengan wajah serius

Mendengar hal itu Stella langsung menurunkan bahunya "ternyata hanya itu.." dia menjulurkan tangannya padaku "kalau begitu mohon bantuannya, sora"

Aku menoleh ke arahnya dan menjabat tangannya "aku juga mohon bantuannya, Stella"

Setelah itu kami berdua pun tidur dan berhasil melewati hari yang panjang

Api mulai mengecil. Cahaya dari luar tembok pembatas kota sesekali lewat, bayangan patroli ksatria. Jejak darah di lantai masih di sana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!