Setelah kehilangan ayah dan melihat ibunya terbaring koma, Karissa justru dikhianati oleh Louis, kekasihnya sendiri, yang berselingkuh dengan sahabatnya.
Dalam amarah dan rasa kecewa, Karissa mengambil keputusan nekat—menikahi ayah Louis.
Kini Karissa bukan lagi kekasih Louis, melainkan ibu tirinya.
Namun tinggal serumah dengan pria yang pernah dicintainya ternyata jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan. Louis membencinya, tetapi di saat yang sama, ia juga tidak rela kehilangan Karissa.
Karissa ingin membalas dendam. Tapi tanpa sadar, ia justru terjebak dalam permainan cinta yang ia mulai sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tusya Ryma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Bagaimana Caranya?
Siang ini, kondisi Karina sudah mulai membaik. Luka di tangannya sudah diperiksa oleh dokter, dan sore ini dia sudah boleh pulang.
"Nih, pakaian untukmu!" Karissa menyerahkan kantong berisi satu set pakaian wanita pada kakaknya.
"Sore ini kau sudah boleh pulang! Pakaianmu yang kemarin sudah dibuang karena kotor!"
Karina mengambilnya, lalu membuka pakaian itu dari dalam kantong belanjaan. Ketika ia melihat sebuah atasan lengan panjang dan celana jeans panjang, tiba-tiba keningnya mengerut. Terlihat bahwa dia tidak suka dengan pakaian yang adiknya belikan.
"Apa ini?" Karina segera memasukkan kembali pakaian itu ke dalam kantong belanjaan.
"Seleramu begitu tua!" ejeknya pada Karissa.
"Harusnya kau membelikan pakaian tanpa lengan dengan rok pendek di atas lutut. Itu baru keren!"
Karina segera mengembalikan kantong belanjaan itu pada Karissa, enggan untuk mengenakan pakaian yang serba tertutup seperti itu.
Karissa mengambilnya. Merasa kecewa karena kakaknya tidak mau menerima barang yang sudah ia beli dengan susah payah.
"Lihatlah! Di tanganmu ada luka robek yang cukup dalam. Di kakimu juga ada beberapa luka lecet. Kalau tidak memakai pakaian panjang, apa kau ingin memperlihatkan semua luka di tubuhmu pada orang lain? Apa itu akan terlihat lebih bagus daripada memakai pakaian serba panjang ini?" tanya Karissa dengan menaikkan nada suaranya.
Itu membuat Karina berpikir, 'Benar juga!'
"Sini!" Ia segera mengambil kantong pakaian itu dari tangan adiknya.
"Aku akan memakainya! Daripada memakai pakaian pasien keluar dari rumah sakit, lebih baik aku memakai pakaian jelekmu ini!"
Karina masih saja mengejeknya, sama sekali tidak ingin berterima kasih pada adiknya karena sudah begitu perhatian membelikan pakaian baru.
Karissa tidak lagi berbicara. Ia mengalihkan pembicaraan dan menanyakan tentang kejadian semalam.
"Sebenarnya, apa yang terjadi? Kenapa bisa terluka?"
Karina yang saat ini duduk di atas tempat tidur sambil bersandar, menatap kosong ke atas langit-langit ruangan seolah sedang mengingat sesuatu.
Ia mulai bercerita, "Semalam, aku dan beberapa temanku pergi di klub malam. Lalu, Faby dibawa oleh dua orang pria. Tidak lama, dia memberitahu kami bahwa dia dibawa ke gedung tua itu. Aku dan Soffi langsung pergi ke sana untuk membantu Faby. Sampai di sana, kedua pria itu menyerang kami. Mereka membawa senjata tajam. Entah bagaimana caranya, aku lupa, pisau itu menusuk lenganku. Ketika aku sudah terluka, mereka pergi entah ke mana!"
"Apa??? Teman macam apa seperti itu? Di saat membutuhkan bantuan, mereka tidak segan untuk menghubungimu! Tapi, saat kau terluka, mereka pergi begitu saja meninggalkanmu di gedung tua itu! Kalau bukan karena tidak tulus berteman denganmu, lantas apa?" ucap Karissa dengan kesal.
Karissa sangat kesal pada teman-teman Karina yang tidak bertanggung jawab. Pergi begitu saja setelah Karina terluka. Bahkan, lukanya sangat parah.
"Tidak apa-apa! Mereka hanya takut disalahkan saja! Bukan benar-benar jahat meninggalkan aku sendirian di sana," bela Karina.
"Heemfuhhh!"
Karissa hanya bisa menarik napas panjang, lalu membuangnya. Tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Sudahlah! Jangan banyak pikiran! Kau istirahat saja dulu! Nanti sore, kita pulang!"
"O iya!" Tiba-tiba Karissa teringat sesuatu. Ia segera bertanya, "Sekarang, kau tinggal di mana?"
"Hah ... aku? Aku tinggal di rumah sewaan! Tapi, kau tidak perlu mengantarku pulang! Aku bisa sendiri," jawabnya, menolak untuk diantar pulang.
"Bayar saja nanti biaya rumah sakitnya! Itu sudah lebih dari membantu," tambah Karina dengan menebalkan muka.
Sama sekali tidak merasa canggung dengan permintaannya itu.
Karissa kembali terdiam, tidak menjawab ucapan kakaknya.
***
Di gedung perusahaan milik Tuan Lee, Louis dan Marine sedang duduk di sofa ruang kerja Tuan Lee sambil membicarakan masalah pekerjaan. Mereka diperintahkan untuk pergi ke Kota C—menyelesaikan beberapa pekerjaan.
"Penerbangan nanti malam! Fans sudah menyiapkan dua tiket dan dua kamar hotel untuk kalian," ucap Tuan Lee pada Louis dan Marine.
"Ada beberapa proposal yang harus kalian bawa! Besok, sebelum bertemu dengan klien, pastikan kalian sudah membaca semua isi proposal itu! Jangan sampai kalian tidak mengerti dan salah mengambil keputusan," tambah Tuan Lee dengan tegas.
Itu membuat Marine dan Louis segera mengangguk.
"Baik, kami mengerti!"
"Semuanya sudah jelas! Kalian boleh kembali!"
"Baik, Pak!" Marine segera bangkit berdiri, bersiap untuk pergi ke ruangannya.
Louis terdiam sesaat sebelum ia bangkit berdiri dan pergi meninggalkan ruangan itu, lalu kembali ke ruang kerjanya.
Ia memikirkan bahwa nanti malam harus pergi ke Kota C untuk tugas. Padahal, tadi pagi sebelum Karissa pergi dari kamarnya, Louis sudah berjanji akan mengajak Karissa makan malam setelah mengantarkan Karina pulang. Tapi sekarang ... sudah tidak bisa.
'Bagaimana ini?'
"Louis!"
Tiba-tiba Marine membuka pintu dan masuk ke ruang kerjanya.
"Untuk nanti malam, biar aku membantumu mengemas barang yang akan kau bawa!"
Marine mendekati Louis, memegang lengan kekar pria itu dengan manja. "Nanti sore, antar aku pulang dulu! Setelah itu, baru ke rumahmu, ya!"
Selalu saja seperti itu. Setiap hari, Louis harus mengantar Marine pulang karena semenjak bekerja menjadi asisten pribadinya di kantor, wanita itu tidak pernah membawa mobilnya. Setiap hari, dia pergi ke kantor diantar oleh adik laki-lakinya, dan pulang harus diantar oleh Louis.
"Baiklah!" Louis tidak punya pilihan lain. "Tapi, nanti, kau tidak perlu membantu mengemas barangku. Aku bisa melakukannya sendiri," tolaknya.
"Jam tujuh malam, kita bertemu di bandara saja! Aku akan naik taksi dari rumah," tambah Louis lagi.
"Emmhh, baiklah!" Dengan enggan, Marine melepaskan pelukannya pada lengan Louis.
"Aku kembali dulu ke ruanganku! Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan sebelum jam pulang!"
"Baiklah!" Louis mengangguk. Tiba-tiba wanita itu berjinjit dan mengecup bibirnya dengan pelan.
"Bye, Sayang!" Lalu Marine pergi meninggalkan ruangan itu.
Louis mematung di tempat, melihat punggung wanita itu sudah menghilang di balik pintu.
Ia meraba bibirnya sendiri yang sudah dikecup oleh Marine.
"Bagaimana caranya untuk menjauhi Marine?"
"Tidak mungkin tiba-tiba meminta putus tanpa alasan!"
"Tapi, alasan apa yang bisa membua kami putus?"
"Aiishh, sial!" Louis menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa frustrasi karena terus memikirkan hal itu.
***
Sore hari, di rumah sakit tempat Karina dirawat, mereka keluar dari rumah sakit itu setelah Karissa membayar semua biaya tagihan.
Di halaman rumah sakit, Karina segera menghentikan taksi.
Ia membuka pintu mobil sambil berkata, "Kariss, pulanglah! Tidak perlu mengantarku, aku bisa sendiri!"
"Aku pergi dulu, ya! Bye!" Dia melambaikan tangan sebelum benar-benar masuk ke dalam mobil.
Karissa mematung di tempat, melihat kakaknya sudah pergi tanpa mengajaknya juga. Padahal, dari pagi, dirinya sudah menemani Karina di ruang perawatan. Ia ingin memastikan kakaknya sampai dengan selamat di rumahnya dan beristirahat untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Tapi ... kakaknya itu malah mengabaikan Karissa begitu saja.
Apakah ini yang dinamakan adik kakak yang saling menyayangi?
Ketika dirinya masih melamun, tiba-tiba ponselnya berdering. Karissa segera mengambil ponsel dari saku celana dan melihat nama yang tertera di sana.
"Louis?"