Anya, seorang wanita biasa yang hidupnya tenang, terpaksa terjebak dalam kesepakatan berbahaya untuk menjadi tunangan palsu Kenji, Tuan Muda dari klan mafia paling ditakuti, selama enam bulan demi melunasi utang ayahnya.
Rencananya tampak sederhana, hanya perlu berpura-pura jatuh cinta di depan publik, namun Anya segera menyadari bahwa hidup di sisi Kenji berarti menghadapi dunia yang gelap dan mematikan, di mana pengkhianatan, pertumpahan darah, dan ancaman dari geng rival menjadi makanan sehari-hari.
Anya harus berjuang bertahan hidup di jaring kekejaman mafia sambil melawan perasaan terlarang yang mulai tumbuh untuk pria berbahaya yang hidupnya selalu berlumuran darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Pagi itu, sinar matahari terasa lebih hangat menyinari kota.
Anya sedang duduk santai di sofa ruang redaksi sambil memegang secangkir teh hangat.
Matanya terus menatap ke arah layar televisi besar yang terpasang di dinding.
"Breaking News: Skandal Korupsi Terbesar Abad Ini Terungkap!"
Presenter berita wanita di layar itu membacakan naskahnya dengan ekspresi tegang.
"Dokumen aliran dana pencucian uang yang melibatkan Walikota dan sindikat Naga Hitam telah bocor ke publik."
"Pihak kepolisian pusat saat ini sedang dalam perjalanan menuju kediaman Walikota untuk melakukan penangkapan."
Kenji berdiri di belakang sofa Anya dengan tangan disilangkan di dada.
Pria itu tersenyum miring melihat layar televisi tersebut.
"Hanya butuh waktu enam jam bagiku untuk menghancurkan pria tua sombong itu dari kursinya," gumam Kenji puas.
Bima masuk ke dalam ruang redaksi dengan langkah cepat.
"Tuan Muda, operasi pembersihan markas utama Naga Hitam sedang berlangsung saat ini."
Bima melaporkan situasi terkini di lapangan.
"Karena Walikota sudah tidak bisa melindungi mereka lagi, sisa pasukan Naga Hitam langsung menyerah tanpa perlawanan."
"Bagus, pastikan tidak ada satu pun dari mereka yang lolos dari kota ini," perintah Kenji tegas.
"Siap, Tuan Muda," jawab Bima mengangguk hormat.
Anya meletakkan cangkir tehnya ke atas meja dan menoleh ke arah Kenji.
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Anya.
"Kita pulang," jawab Kenji singkat.
"Perang ini sudah selesai, saatnya kembali ke istana kita."
Satu jam kemudian, mobil van hitam mereka berhenti di depan gerbang utama kediaman Bratadikara.
Klak.
Pintu mobil terbuka dan Anya melangkah turun dengan perasaan yang sangat berbeda dari pertama kali dia datang ke sini.
Dulu dia masuk ke rumah ini sebagai seorang gadis miskin yang ketakutan karena utang ayahnya.
Sekarang, dia kembali sebagai sosok yang berdiri setara di samping penguasa rumah ini.
Di depan pintu utama, puluhan pelayan dan penjaga sudah berbaris rapi membentuk lorong penyambutan.
"Selamat datang kembali, Tuan Muda Kenji! Selamat datang kembali, Nyonya Anya!"
Mereka semua berteriak serempak sambil membungkukkan badan sembilan puluh derajat.
Nyonya Martha berdiri paling depan dengan wajahnya yang kaku.
Namun kali ini, tidak ada lagi tatapan meremehkan dari wanita paruh baya itu.
"Tuan Muda, Nyonya, syukurlah kalian pulang dengan selamat," sapa Nyonya Martha sopan.
"Siapkan air hangat untuk mandi dan makanan yang paling enak untuk Ratu kita ini, Martha," perintah Kenji santai.
"Baik, Tuan Muda, semuanya sudah kami siapkan di kamar Nyonya."
Anya tersenyum canggung mendapat perlakuan yang sangat terhormat ini.
Dia melangkah masuk ke dalam rumah dan langsung disambut oleh kehangatan interior mewahnya.
"Mandi dan istirahatlah, aku harus pergi mengurus sisa-sisa Naga Hitam di pelabuhan selatan," ucap Kenji.
Pria itu mengusap puncak kepala Anya dengan lembut.
"Kau mau pergi lagi? Tapi kau kan baru pulang dan belum tidur sama sekali," protes Anya cemas.
"Hanya sebentar, aku janji akan pulang sebelum makan malam."
Kenji mengecup dahi Anya sekilas sebelum berjalan keluar dari rumah utama diiringi oleh Bima.
Anya hanya bisa menghela napas pasrah melihat pria gila kerja itu pergi.
Setelah mandi dengan air hangat dan menyantap makan siang yang lezat, Anya menjatuhkan dirinya ke atas kasur empuknya.
Bruk.
Rasa lelah fisik dan mental yang menumpuk selama beberapa hari terakhir langsung menyerangnya secara bersamaan.
Hanya dalam hitungan detik, Anya sudah tertidur sangat lelap.
Hari berlalu dengan cepat hingga matahari mulai terbenam di ufuk barat.
Tok. Tok.
Ketukan pelan di pintu kamarnya membangunkan Anya dari tidur siangnya yang sangat panjang.
"Nyonya Anya, Tuan Muda sudah kembali dan menunggu Anda di ruang makan utama."
Suara Dina terdengar dari balik pintu.
Anya mengucek matanya dan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh malam.
"Iya, Dina, aku segera turun," jawab Anya.
Anya merapikan rambutnya sedikit lalu bergegas menuruni tangga menuju ruang makan.
Ruang makan itu terlihat berbeda malam ini.
Meja makannya tidak lagi diisi oleh banyak orang seperti sebelumnya.
Hanya ada Kenji yang duduk di kursi utama dengan mengenakan kemeja putih kasual.
Paman Haris dan Leon sudah tidak ada lagi di sana.
"Kau sudah bangun," sapa Kenji saat melihat Anya melangkah masuk.
"Kenapa kau tidak membangunkanku lebih awal? Kau pasti sudah menungguku lama," ucap Anya merasa bersalah.
"Tidak masalah, aku menikmati keheningan rumah ini tanpa adanya pengkhianat di sekitarku," jawab Kenji santai.
Kenji menarik kursi di sebelahnya mempersilakan Anya duduk.
"Makanlah, masakan koki kita malam ini sangat luar biasa," ucap Kenji sambil menuangkan air ke gelas Anya.
Mereka makan malam dalam keheningan yang nyaman.
Tidak ada lagi perdebatan sengit atau ketegangan yang mencekik seperti saat pertama kali Anya makan di ruangan ini.
"Kenji, ibu... bagaimana keadaan ibumu?" tanya Anya memecah keheningan setelah menghabiskan makanannya.
Kenji meletakkan sendoknya lalu menatap Anya.
"Kondisinya semakin membaik, dokter bilang dia sudah bisa berbicara lebih lancar sekarang."
Kenji tersenyum tipis membayangkan ibunya.
"Dia terus-menerus menanyakan kabarmu dan memintaku untuk membawamu menjenguknya."
"Tentu saja aku mau menjenguknya, besok pagi kita bisa ke rumah sakit," jawab Anya antusias.
"Ibumu pasti bosan sendirian di sana."
"Terima kasih, Anya."
Kenji menggenggam tangan Anya di atas meja.
"Karena kau, aku bisa menyelamatkan ibuku dan mengusir benalu di keluargaku."
Anya menggelengkan kepalanya pelan.
"Kau sendirilah yang menyelamatkan dirimu dan keluargamu, Kenji, aku hanya sedikit membantu."
Mereka berdua saling menatap dalam diam, menyalurkan perasaan yang tidak perlu lagi diungkapkan dengan kata-kata.
[Pemberitahuan Sistem: Arc 2 Selesai.]
[Menghitung total poin dan hadiah penyelesaian Arc...]
Anya sedikit terkejut melihat layar sistem tiba-tiba muncul di pandangannya.
Dia sudah hampir melupakan keberadaan sistem ini karena terlalu sibuk bertahan hidup.
[Hadiah Penyelesaian Arc 2: Poin Kecerdasan +20, Poin Pesona +10, Poin Stamina +10.]
[Keterampilan Baru Terbuka: 'Aura Dominasi' (Pasif) - Membuat NPC atau musuh level rendah merasa segan dan takut pada Anda secara otomatis.]
"Aura Dominasi? Kedengarannya seperti kemampuan seorang villain di novel fantasi," batin Anya geli.
Tapi kemampuan ini pasti akan sangat berguna jika dia harus menghadapi preman-preman rendahan lagi di masa depan.
"Kenapa kau tersenyum sendiri?" tanya Kenji membuyarkan lamunan Anya.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya merasa senang karena akhirnya kita bisa bernapas lega," bohong Anya lancar.
Kenji mengusap punggung tangan Anya dengan ibu jarinya.
"Perang ini mungkin sudah selesai, Anya."
"Tapi dunia bawah tanah ini tidak akan pernah benar-benar damai."
Kenji menatap mata Anya dengan pandangan yang jauh lebih serius dari sebelumnya.
"Selalu ada serigala baru yang mengincar tahtaku dari luar sana."
"Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Anya menelan ludah.
"Aku akan memperkuat klan Bratadikara hingga tidak ada satu pun klan di negara ini yang berani menantang kita."
Kenji menarik tangan Anya dan mengecup punggung tangannya dengan lembut.
"Dan aku butuh Ratuku untuk berdiri di sampingku saat aku melakukan itu."
Anya merasakan jantungnya berdebar kencang mendengar janji yang terdengar seperti lamaran pernikahan tersebut.
"Aku tidak akan pernah pergi dari sisimu, Kenji Bratadikara," jawab Anya mantap.