Ini bukan sekadar cerita tentang cinta beda kasta. Ini adalah perjalanan tentang sebuah nama besar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dibalik asap
"Silakan, Ibu Mita, Mbak Vani.
Diminum es tehnya selagi masih dingin," kata Rico sembari meletakkan nampan dan menyodorkan dua gelas kaca besar itu ke atas meja kayu dengan senyuman ramah yang dipaksakan.
Tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun karena kerongkongannya yang sudah terlampau kering, Vani langsung menyambar gelas miliknya. Wanita itu meminum es teh manis tersebut dengan lahap hingga tersisa setengah.
Sementara itu, pandangan Rico beralih diam-diam menatap lekat ke arah Mita, menantikan gerakan tangan sang bos besar.
Namun... Mita tidak langsung menyentuh gelasnya.
Dia hanya duduk santai di sofa kain tersebut, lalu membuka tas jinjingnya untuk mengeluarkan sebungkus rokok mentol premium.
Dengan gerakan jemari yang sangat anggun dan tenang, Mita membuka bungkus tersebut, mengambil sebatang rokok, lalu membakarnya dengan pemantik gas.
Rico sedikit terkejut dengan perbuatan Ibu Mita yang mendadak merokok di ruang tamunya. Sepasang matanya sempat melebar,.
Namun, demi menjaga penyamarannya, Rico memilih untuk tetap diam dan tidak menegur kelakuan atasannya.
"Maaf, Ibu Mita, Mbak Vani... saya izin ke belakang sebentar," kata Rico berpamitan secara formal. Jantungnya berdegup kencang, dia butuh waktu untuk menenangkan diri sejenak dari ketegangan gila ini.
"Ya," jawab Mita pendek di sela hembusan asap rokoknya.
Rico pun berdiri dan berjalan cepat ke arah belakang rumahnya, masuk ke dalam area dapur yang sepi dan menutup pintu sekat.
'Tunggu bentar... tunggu bentar...' kata Rico berulang kali di dalam hati, memeras jemarinya yang mendadak dingin. Dia berdiri mematung di dekat wastafel dapur, menghitung detik demi detik demi menunggu reaksi obat tidur dosis tinggi yang telah dia campurkan pada kedua minuman tersebut.
Lima menit berlalu di ruang tamu, efek obat bius cair itu bekerja dengan sangat cepat pada tubuh Vani yang sudah meminumnya setengah gelas. Kepala sekretaris pribadi itu mulai terasa berat, pandangannya mengabur, dan dia pun terlihat mulai menguap beberapa kali tanpa bisa ditahan.
"Aduh... kok tiba-tiba ngantuk banget ya, Bu..." gumam Vani dengan suara yang mendadak sengau dan berat. Tubuhnya perlahan merosot, bersandar lemas pada sandaran sofa.
"Istirahat aja dulu, Vani. Kamu kelelahan setelah keliling lapangan tadi," kata Mita dengan nada suara yang terdengar sangat tenang dan datar. Matanya melirik ke arah Vani yang dalam hitungan detik berikutnya langsung terpejam dan tak sadarkan diri sepenuhnya.
Begitu memastikan sekretarisnya telah tertidur, pandangan mata Mita seketika berubah menjadi sangat dingin dan menusuk. Tatapannya tertuju lurus pada gelas es teh manis yang disuguhkan Rico untuknya. Sebagai seorang direktur utama yang terbiasa menghadapi berbagai macam intrik, kelicikan, dan pengkhianatan di dunia bisnis, gerak-gerik gugup dan tangan gemetar Rico saat menyuguhkan minuman tadi sama sekali tidak lolos dari pengamatannya.
'Permainan bocah...'
kata Mita mencemooh di dalam hati.
Tanpa membuang waktu, Mita bergerak cepat namun tanpa suara. Dia mengambil gelas minumannya, berjalan mendekati jendela ruang tamu yang terbuka sedikit, dan langsung membuang seluruh isi es teh manis tersebut ke luar jendela, membiarkan cairannya terserap tanah gembur. Setelah gelasnya kosong , dia kembali meletakkannya di atas meja dengan posisi semula, seolah-olah dia telah meminumnya sampai habis.
Dengan gerakan yang tenang namun taktis, Mita merogoh ponsel pintarnya dari dalam saku pakaian kasualnya. Dia membuka aplikasi pesan singkat dan langsung menghubungi sopir pribadinya yang sejak tadi berjaga di dalam sedan mewah di depan gerbang proyek seberang jalan.
"Bawa mobil ke depan gang rumah Rico sekarang. Standby di depan pintu rumahnya.
Tunggu kode dari saya."
setelah menekan tombol kirim,
Mita memasukkan kembali ponselnya. Dia menarik napas dalam-dalam, bersiap memainkan perannya.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki mendekat. Rico pun kembali dari arah dapur dengan raut wajah yang kembali dipasang sepoles mungkin.
"Maaf, Bu Mita... tadi ada urusan dikit di belakang," ucap Rico membungkuk sopan, namun matanya langsung berbinar girang saat mendapati Vani sudah terkulai pingsan di sofa. Pandangannya kemudian beralih cepat ke arah gelas Mita yang sudah kosong di atas meja.
"Owh, enggak apa-apa," sahut Mita dengan nada pelan. Sesuai dengan taktik sandiwaranya, Mita pun sengaja menguap lebar, menopang kepalanya dengan sebelah tangan seolah-olah tenaganya mulai menguap.
"Aduh... kok siang ini aku mendadak mengantuk sekali ya Rico..." ucap Mita berpura-pura, membiarkan matanya sayu menyipit menatap bawahnya.
Mendengar kalimat itu keluar langsung dari mulut sang idola, adrenalin Rico bergolak hebat mencapai puncaknya. Kegembiraan hebat yang teramat sangat menyeruak di dadanya.
"Mungkin Ibu terlalu lelah karena cuaca di luar kota sangat panas hari ini," jawab Rico dengan nada suara yang diatur selembut mungkin, mencoba menenangkan sisa kesadaran bos besarnya.
Ayo... sebentar lagi... sebentar lagi kamu akan jatuh, Mita!' kata Rico bersorak penuh kemenangan di dalam hati,
menatap tubuh anggun Ibu Mita yang perlahan mulai menyandarkan kepalanya ke sofa, sama sekali tidak menyadari bahwa di balik kelopak mata Mita yang berpura-pura terpejam, sebuah jebakan balik yang mematikan dari sang bos besar sedang bersiap untuk menghancurkan seluruh hidup dan kariernya dalam hitungan detik.