🍃🦋No BoomLike🦋🍃
🍀Fav, Like, Comment🍀
🥰Thanks for Support🥰
Pernikahan impian yang diinginkan berlandaskan cinta, nyatanya harus dilalui penuh pengorbanan. Caci-maki tanpa alasan jatuh dalam pelukan. Pernikahan suci menjadi taruhan. Banyak luka dan cerita menyayat batin yang diciptakan oleh sang ibu mertua.
Akankah Fathia menemukan seseorang bagai oase dalam keringnya mahligai pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asma Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32#BERBAKTI PADA ORANG TUA
Yusra terharu akan kesiapan ibunya demi membiarkan dia mendapatkan kesempatan kedua mewujudkan impian sederhana yang selama ini menjadi harapan terbesarnya. Sungguh hati merengkuh ketenangan meski tidak menyingkirkan kegelisahan atas perjodohan, ia hanya bersyukur memiliki seorang ibu yang luar biasa baiknya.
Sebenarnya kedua orangtua adalah manusia yang paling berjasa dan utama bagi diri seseorang. Allah ta’ala telah memerintahkan dalam berbagai tempat di dalam al Qur’an agar berbakti kepada kedua orangtua. Allah menyebutkan berbarengan dengan pentauhidan-Nya. Hak kedua orangtua merupakan hak terbesar yang harus dilaksanakan oleh setiap Muslim.
Namun beberapa hak yang wajib dilakukan oleh anak semasa kedua orangtua hidup dan setelah meninggal tentu saja berbeda. Satu cara untuk berbakti kepada orang tua ketika masih hidup seperti yang dilakukan Yusra. Dimana gadis itu menuruti permintaan sang ayah terkasih.
Setiap insan pemilik raga harus tau jika mentaati kedua orang tua hukumnya wajib atas setiap Muslim. Haram hukumnya mendurhakai keduanya. Tidak diperbolehkan sedikit pun mendurhakai mereka berdua kecuali apabila mereka menyuruh untuk menyekutukan Allah atau mendurhakai-Nya.
Hal ini juga terdapat dalam Firman-Nya yang memiliki arti, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya…” [QS.Lukman/31: 15].
Adapun jika bukan dalam perkara yang mendurhakai Allah, wajib mentaati keduanya. Ini termasuk perkara yang paling diwajibkan. Oleh karena itu, seorang Muslim tidak boleh mendurhakai apa saja yang diperintahkan oleh kedua orang tua. Selain itu berbakti dan merendahkan hati.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang memiliki arti, : “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya..” [QS.Al Ahqaf/46: 15].
Perintah berbuat baik ini bahkan lebih ditegaskan jika usia kedua orang tua semakin tua dan lanjut hingga kondisi mereka melemah dan sangat membutuhkan bantuan dan perhatian dari anaknya. Maka dimana-mana seorang anak selayaknya memperlakukan kedua orang tua dengan perasaan cinta tanpa memikirkan pamrih apalagi mengedepankan ego sendiri.
"Bu, Yusra cuma mau do'a dan restu sebelum memulai hidup baru. Lagipula selama kita masih bisa bersama, InsyaAllah semua baik-baik saja." ucap Yusra mengakhiri obrolan berat yang sempat membuatnya dilema.
Kenyataannya ia masih terpengaruh oleh keadaan yang semakin sulit di dalam hidupnya. Selama menuruti keinginan hati sang ayah tercinta, ia hampir melupakan kebahagiaan di dalam keinginan sederhananya. Apalagi sekelebat ingatan menyapu sisa rasa yang ia punya.
Setelah berhari-hari menjalani rutinitas yang membuat ia merasa menjadi wanita tanpa kesibukan. Akhirnya ia sadar jika pria yang akan menjadi tunangan bukanlah seorang pasangan tepat sesuai harapan. Dari sudut pandangnya, Rahil bukan lelaki pemilik kejujuran apalagi kepedulian.
Hal itu dibuktikan di setiap pertemukan dimana ia selalu ditinggalkan begitu saja tanpa ada kata perpisahan. Bukannya mengesampingkan bukti nyata yang mana ia tahu penyebab sikap Rahil di luar kendali kedua orang tua. Pria itu masih terpengaruh kehidupan yang hancur setelah kepergian sang istri.
Kegelisahan yang Yusra rasakan bukan tanpa sebab tetapi sayangnya gadis itu hanya bisa diam menyimpan kebenaran di dalam hatinya. Selain itu, ia tidak ingin ayahnya merasa kecewa atas jodoh yang telah dipilihkan untuknya. Apapun yang menjadi takdir, ia siap melanjutkan pertempuran di dalam hidupnya.
Seulas senyum yang menghiasi wajah putrinya membuat hati seorang ibu lega. Wanita paruh baya itu kembali memeluk raga Yusra dengan sambutan suara syukur alhamdulillah memiliki putri berbakti yang selalu siap menerima keputusan kedua orang tua. Sementara di luar sana hanya dipenuhi keramaian orang yang lalu lalang.
Persiapan acara masih dilangsungkannya tanpa ada kendala bahkan ayah Yusra begitu semangat menjadi komando pengatur acara untuk menyambut kehidupan baru sang putri tersayang. Pria paruh baya itu masih berpikir jika keputusannya adalah demi kebaikan Yusra tetapi melupakan fakta tentang Fathia sebagai istri sah calon menantunya.
"Aku tidak sabar melihat putriku bersanding dengan Rahil di atas pelaminan. Semoga acaranya lancar dan tidak ada halangan hingga hari pernikahan nanti, aamiin."
Harapan seorang ayah selalu sama hanya saja ketika perasaan tertutup oleh rasa yang tidak biasa, maka kemungkinan melupakan firasat di depan mata. Bagaimanapun sebagai orang tua memiliki kepekaan ketika menyangkut masa depan kehidupan anak-anaknya. Sementara di sisi lain, Rahil lelah berdiri di depan jendela.
Pria itu terjebak di rumah sakit hanya karena ulahnya sendiri tapi apapun hasilnya harus dipastikan agar tidak menjadi batu sandungan di kemudian hari. Akan tetapi di tengah kebosanan tiba-tiba teralihkan suara dering ponsel yang terdengar begitu bising mengusik ketenangan di sekelilingnya. Tatapan mata terpatri menatap layar si benda pipih yang menampilkan sebuah nama tak asing baginya.
"Astaga, aku hampir lupa ada acara keluarga. Bagaimana sekarang, apa aku meninggalkannya di rumah sakit saja, ya?" gumam Rahil tanpa kepedulian terhadap istri sirinya.