" Ini adalah penghinaan yang tidak pernah aku alami sebelumnya".
Tanpa reaksi apapun, Hairima pergi meninggalkan Rayyan dan Rafan, dua bersaudara yang sama-sama pernah menjadi pengisi relung hati Hairima.
Rayyan. Seorang laki-laki muda dengan profesi sebagai dokter kandungan, cinta pertama Hairima yang tak pernah terucap.
Rafan. Seorang pengusaha sekaligus kakak Rayyan yang kini menjadi suami Hairima.
Akankah Hairima menjadi istri Rafan untuk selamanya? Ataukah dia akan kembali pada cinta cinta pertamanya, Rayyan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BILANOUR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Fathur dan Rhanisa
"Kau sudah siap?"
Queena mengangguk. Dia tampak cantik dengan dress senada dengan Rhanisa. Memakai hiasan rambut dan sepatu kenamaan yang sama pula dengan Rhanisa.
"Ayo, keluargaku sudah menunggu. Di sana kita akan membahas acara pernikahan kita."
"Pernikahan? bukankah Mas akan melamarku dulu?"
"Saya takut ditolak lagi. Makanya langsung saja kita bahas acara pernikahannya."
Queena tertawa.
Mereka pun sampai di rumah Mikdad yang megah. Tangan Queena begitu dingin. Rhanisa sampai bertanya padanya. Anak itu takut Queena sakit.
"Mom hanya grogi, Sayang." Mikdad menjelaskan.
Mereka masuk ke rumah dan langsung di sapa oleh para pelayan. Para pelayan itu mengarahkan mereka agar menuju ruang makan.
Sungguh meja makan yang panjang. Mewah dan elegan.
Makanan terlihat sangat banyak di atas meja. Dari menu utama, buah dan juga kue.
Orang tua Mikdad berdiri menyambut kedatangan Queena. Mereka tersenyum ramah.
"Selamat datang, Sayang. Sudah lama kami menunggu kedatangmu di rumah ini."
Ibunya Mikdad merangkul lalu memeluk Queena. Pun dengan ayahnya.
"Mari, duduk. Silakan, silakan."
Queena duduk dekat Mikdad dan Rhanisa. Membelakangi pintu masuk ruangan makan tersebut.
"Mam, kenapa masaknya banyak banget?"
"Iya, Omah. Ini tidak akan habis sama kita."
"Kalian itu. Akan ada yang datang lagi."
"Halo semuanya."
"Uncleee ...." Mata Rhanisa membelalak bahagia.
"Nah, itu dia. Adik kamu datang juga. Kebetulan dia pulang hari ini," ujar ibunya Mikdad.
Queena yang sedari tadi ikut menoleh, tidak bisa mengatakan apa-apa. Jangankan berkata sesuatu, untuk mengedipkan mata saja dia kesulitan.
"Fat, sudah lama tidak memberi kabar. Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik, Kak. Sangat baik."
Mereka saling merangkul.
"Kenalkan, ini calon istriku. Oh, bukan. Kalian pasti sudah saling mengenal bukan? kalian pernah bekerja di tempat yang sama."
"Benar. Mungkin karena itulah Queena terlihat syok." Fathur menatap Queena.
Queena segera sadar saat semua orang menatap ke arah dirinya.
"I-iya. Aku tidak menyangka jika ... jika dokter Fathur adalah adiknya Mas Mikdad." Queena menatap Fathur dengan arti yang berbeda.
"Benarkah?" Mikdad merasa kaget.
"Dia itu tipe orang yang tidak pernah peduli pada apa yang dia anggap tidak penting, Kak." Fathur menambahkan.
"Oh, begitu rupanya. Apakah itu artinya aku adalah sesuatu yang penting karena dia begitu perduli padaku."
"Tentu saja, Mas." Queena segera menjawab. "Kamu itu malaikat yang menjagaku dalam keterpurukan akibat ulah manusia bejad waktu itu." Queena melirik Fathur. "Bagaimana kamu tidak penting untukku?"
Mikdad tersenyum lalu membelai rambut Queena dengan mesra.
"Lebih baik kita mulai saja makannya. Nanti keburu dingin."
Semua orang lalu terdiam saat sang tuan rumah memberi perintah. Mereka mulai sibuk mengambil makanan.
Omah mengambil makanan untuk kakeknya Rhanisa. Mikdad mengambil makanannya untuk Queena. Sementara Fathur, dilayani oleh pelayan. Pun dengan Rhanisa.
"Sayang, kamu gak makan cumi panggang itu? enak loh, itu mami yang buat sendiri."
"Dia alergi, Mam." Fathur dan Mikdad menjawab secara bersamaan.
Mami dan Papi melirik ke dua anaknya secara bergantian. Sadar mereka sedang dicurigai, Fathur segera memberi alasan.
"Waktu di rumah sakit, dia merah semua kulitnya karena tidak sengaja makan sambal yang ada cuminya." Fathur menjelaskan.
Ya, Queena pernah makan cumi dan kulitnya memerah. Bukan saat di rumah sakit tapi saat mereka makan bersama di restoran. Bahkan, Fathur harus menemani Queena semalam gara-gara itu.
Bayangan Queena kembali pada masa itu. Membuat dia merasa kesal dan tidak nyaman.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Mikdad melihat Queena gelisah.
"Perutku tidak enak, Mas." Queena memberi alasan palsu.
"Mau ke kamar mandi atau istirahat?"
"Tidak perlu. Aku akan tetap di sini sampai makannya selesai."
Mereka berbisik-bisik.
"Ica sudah kenyang, Oma. Ica mau ke kamar dulu. Mau ambil mainan.". Rhanisa langsung turun dan pergi ke kamar. Wajahnya terlihat sangat tidak senang dengan acara makan malam ini. Padahal dia yang begitu antusias sebelumnya.
Fathur mengikuti.
"Ica kenapa, Mas?"
"Entahlah ... tenang saja, ada Fathur yang mungkin sedang menyusulnya. Mereka memang sangat dekat, mungkin lebih pantas jika dia yang jadi ayahnya. Hanya pada Fathur Ica bisa terbuka tentang segala hal."
Queena diam.
"Mas, aku cemas sama Ica. Dia tidak seperti biasanya meninggalkan piring yang masih berisi makanan."
"Iya. Nanti pelayan yang akan mengantarkan kamu ke kamar Ica."
"Iya, Mas."
Seorang pelayan mengantar Queena menuju kamar Rhanisa. Melewati sebuah ruangan kosong yang megah. Hanya ada permadani mewah yang terhampar, juga lampu kristal besar dan elegan. Ada dua buah tangga yang melingkar di tengah. Kanan dan kiri.
"Lewat sini, Non." Pelayan itu mengarahkan Queena untuk menaiki tangga sebelah kanan. Tibalah mereka di depan kamar Rhanisa.
"Saya permisi, Non."
"Iya, terima kasih."
Queena melangkahkan kaki semakin dekat ke pintu. Dia berhenti saat mendengar Rhanisa dan Fathur sedang berbicara.
"Uncle baru datang kok dicemberutin, sih? gak kangen?"
Hening.
"Emm, kita beli es krim atau ... cokelat, yaaa ...."
Tidak ada jawaban.
"O, iya. Kita beli sepatu baru atau beli desert box aja? atau–"
"Uncle masih suka sama ibu peri?" Rhanisa memotong ucapan Fathur.
Sepi.
"Mom udah mau menerima Daddy. Kenapa Uncle malah kembali? kenapa gak nanti aja?"
Rhanisa mulai terisak.
Kening Queena mengkerut. Dia bukannya tidak mengerti tentang ucapan Rhanisa. Hanya saja ....
Apa Ica tau tentang aku dan Fathur?
Queena bertanya dalam hati.
"Tugas Uncle di pelosok Sumatera sudah selesai, Sayang. Uncle mau kemana lagi?"
"Cari tempat lain. Ica gak mau kalau ibu peri kembali sama Uncle. Ica mau Ibu peri jadi Mommy Ica. Uncle udah janji waktu dulu. Kalau Uncle mau melepas ibu peri untuk Ica asal Ica mau berobat."
Janji? berobat? apa yang sedang mereka bicarakan?
Queena semakin penasaran dengan pembicaraan antara Fathur dan Rhanisa.
"Sayang. Kenapa gak masuk?" tanya Mikdad mengangetkan.
Baik Queena, Rhanisa dan Fathur, menoleh secara bersamaan. Queena menatap kaget pada Mikdad. Rhanisa dan Fathur menoleh ke arah pintu.