Faiz dan Faizah adalah 2 insan yang saling jatuh cinta. Mereka telah menjalin hubungan selama hampir 4 tahun. Hingga akhirnya mereka memutuskan melangkah ke jenjang yang lebih serius. Awalnya dari kedua belah pihak sama-sama merestui hubungan mereka. Namun masalah justru muncul setelah Faiz datang kerumah Faizah untuk melamarnya. Sesuai adat yang ada pasangan yang mau menikah harus dihitung wetonnya. Jika cocok boleh berlanjut, tapi jika tidak maka akan diberi solusi. Entah itu sesaji untuk ruatan atau pantangan untuk pengantin. Namun dari sekian banyak hari, mereka harus terlahir dipasaran wage dan pahing. Dan lebih parahnya lagi jika dijodohkan mereka jatuh pada hitungan pati yang artinya kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
POV Faizah
Musuh terbesar seorang wanita dalah fikirannya sendiri. Kata itu memang benar adanya. Aku sibuk menerka-nerka sikap kak Faiz yang selalu menghindar bertatapan denganku. Aku berfikir jika hal itu ia lakukan karena ia sudah punya tambatan hati. Ia bersikap cuek karena ia begitu membenciku. Bahkan aku fikir mengangkat telfon hanya alasannya saja untuk meninggalkanku. Fikiran negatif itu terus menghantuiku dan membuat air mataku mengalir deras. Mungkin bagi kak Faiz aku hanya mantan yang seperti sampah. Harus dibuang jauh agar tak mengotori hatinya lagi.
Aku terus menangis hingga kak Faiz masuk keruanganku lagi. Ia duduk disamping brangkar dengan tatapan menunduk. Ia sama sekali tak mau menatapku. Membuatku merasa semakin kerdil.
"Kalau istri kak Faiz gak ngizinin. Lebih baik kakak pulang saja. Aku gak apa-apa kok disini sendiri. Masih ada dokter dan suster yang bisa bantu" Kataku meluapkan emosi. Rasanya percuma saja ia disini jika menambah hatiku semakin terluka. Melihat sikapnya yang seolah ingin menjauh dariku membuat tangisku tak bisa terhenti.
"Saya akan tetap disini menemanimu" jawab kak Faiz yang membuatku semakin bertanya tanya tentang statusnya sekarang. Setauku dari mbak Uma saudaranya Kak Faiz, Kak Faiz memang belum menikah. Tapi aku tak tahu faktanya. Bisa saja hati kak Faiz telah dihuni wanita lain. Hanya saja mereka belum menikah.
Kak Faiz hanya diam disampingku tanpa mau menjelaskan apapun tentang statusnya sekarang. Memang itu hal yang sangat wajar mengingat statusku yang hanya mantan baginya. Tetapi aku butuh kejelasan untuk mengobati rasa ingin tahuku.
Aku terus menatap wajah kak Faiz yang hanya menunduk dan selalu menghindari bertatapan denganku. Entah mengapa rasa bersalah ini semakin mengguncah. Aku tak bisa memaafkan kesalahanku yang telah menyakiti orang sebaik dan se setia kak Faiz. Dan yang lebih parahnya lagi, aku meninggalkannya hanya karena sebuah mitos yang belum pasti terjadi. Sungguh fikiran yang sangat sempit.
Suara azan magrib membuyarkan lamunanku yang masih saja menangis meratapi kesalahan dalam hidupku. Aku begitu kaget ketika tiba-tiba kak Faiz berdiri dan mengusap air mataku. Namun setelahnya ia meminta maaf. Membuatku semakin bertanya-tanya tentang rahasia hatinya.
"Kenapa minta maaf? Kak Faiz jijik kontak fisik dengan seorang janda? Kak Faiz minta maaf karna merasa bersalah dengan istri? Kalau kehadiranku buat kak Faiz mengganggu. Kakak pergi saja. Memang sedari dulu aku itu cuman beban" Kataku sambil menangis. Namun bukannya menjawab perkataanku atau menghiburku, justru kak Faiz sibuk lagi dengan handphon di sakunya yang berdering. Terlihat ia berbicara dengan seseorang di telphon dan menyebutkan ruangan yang aku huni. Mungkin ia sedang berbicara dengan tambatan hatinya agar menyusul kami berdua. Bisa jadi pasangannya sekarang sedang cemburu begitu tahu ia menungguiku di rumah sakit.
Dalam sela tangisku terdengar ketukan pintu dari luar. Kak Faiz membukanya dan mempersilahkan orang tersebut masuk. Aku segera menghapus air mataku agar tak terlihat oleh tamu yang datang.
Detik selanjutnya aku dibuat kaget dengan kedatangan adiknya kak Faiz. Begitupun sebaliknya. Nuha juga memperlihatkan ekspresi keterkejutannya kepadaku.
"Mbak Iza. Mbak yang sakit? Jangan bilang kalau kak Faiz yang nyebabin mbak kayak gini" Kata Nuha yang langsung duduk di kursi plastik yang ada di samping brangkar. Akupun hanya menggeleng menjawab pertanyaan mantan calon adik iparku itu. Ia datang membawa totebag dan juga tremos kecil. Sepertinya kak Faiz yang memintanya.
Sikap Nuha sungguh berbeda dengan kak Faiz. Ia ramah dan berbicara panjang lebar. Membuatku sejenak meluapkan rasa sedihku. Sementara aku berbasa-basi dengan Nuha, kak Faiz sibuk membuka totebag yang dibawa oleh adiknya. Tak berapa lama kak Faiz menghampiriku dengan segelas teh hangat ditangannya. Aku menerimanya dengan tangan kiriku lalu meminumnya sedikit. Sensasi hangatnya sedikit memberi rasa nyaman pada perutku yang memang belum sempat terisi apapun dari tadi siang. Namun rasa laparku tak begitu menggangguku. Karena yang kurasa hanya sedih dan sedih melihat kak Faiz ada didekatku namun hatinya tak lagi bisa aku jangkau.
Setelah aku selesai minum dan mengembalikan gelas pada kak Faiz. Ia pun segera meraih kotak makan dan memberikannya kepadaku.
"Makan dulu. Biar di temani Nuha. Saya mau sholat ke musola" Kata kak Faiz yang aku jawab dengan anggukan. Sementara Nuha hanya senyum-senyum memperhatikan interaksi kami berdua.
"Kak Faiz gak ngajar ke pondok?" Pertanyaan Nuha barusan membuatku sadar bahwa banyak hal yang berubah di hidup kak Faiz setelah tak bersamaku. Jika dulu ia hanya mengajar di sekolah ternyata sekarang ia punya kesibukan lain. Andai dulu kita jadi menikah mungkin kak Faiz tak akan berada pada fase ini. Fase dimana ia sukses berkarir dan mengamalkan ilmunya.
"Astagfirullah. Kakak lupa. Biar kakak telpon Kyai Harun dulu kalau gitu" Jawab kak Faiz. Ia lalu merogoh kembali handphone yang ada di sakunya lalu melangkah keluar ruangan.
"Mbak Iza mau gak Nuha bantu suapin? Masak makan pakai tangan kiri. Gak sopan lah mbak" Nuha meraih kotak makan yang aku pegang lalu mulai menyuapkan makanan ke mulutku. Akupun hanya bisa tersenyum mendapat perlakuan istimewa dari Nuha. Orang yang seharusnya ikut membenciku karena aku telah melukai hati kakaknya.
"Makan yang banyak mbak. Biar cepet pulih. Ini makanan dari kedainya kak Faiz lho" kata Nuha memberi tahuku. Ia pun mulai bercerita tentang kesibukan kak Faiz sekarang. Tentang usaha barunya yang baru di rintis. Tentang kesibukannya mengajar. Bahkan katanya, kak Faiz berniat untuk melanjutkan study. Ia ingin kuliah S2 untuk menunjang karirnya.
"Kalau kak Faiz tahu mbak Izza aku suapin pasti udah ngamuk dia" Kata Nuha mulai mencairkan suasana. Hatiku yang tadinya sedih melihat sikap dinginnya kak Faiz kini berbalik menjadi bahagia melihat Nuha yang selalu ceria.
"Kamu ini bisa aja. Palingan kakakmu ngamuk gara-gara gak mau adeknya akrab sama janda. Tau sendiri kan janda itu konotasinya selalu ke arah negatif. Gak pernah ada baiknya. Lagian sepertinya Kakakmu sekarang sudah benci banget sama mbak. Mbak minta maaf aja gak di respon. Maaf ya dek kalau keputusan mbak buat keluarga kalian kecewa" kataku yang dijawab anggukan oleh Nuha.
"Ya mbak gak apa-apa. Kami gak pernah nyalahin mbak. Karna biar bagaimanapun itu adat yang masih dipegang keluarganya mbak Izza." Jawab Nuha yang masih setia menyuapkan makanan ke mulutku.
"Kalau soal sikapnya kak Faiz, sepertinya mbak salah faham deh. Masak sih mbak kak Faiz sikapnya acuh gitu? Kayaknya Gak mungkin deh kalau kak Faiz bisa benci sama mbak. Dia itu masih care sama mbak. Mungkin malahan masih cinta. Lha wong kalau dirumah didesak suruh nikah sama orang lain aja gak mau kok. Katanya ku tunggu jandamu. Eh malah kesampaian" Terlihat Nuha sedikit merasa bersalah dengan ucapannya barusan. Terbukti ia segera minta maaf dan mengoreksi ucapannya.
"Maaf mbak. Maksud Nuha gak gitu. Bukan nyumpahin mbak jadi janda. Mbak tahu sendiri kan kak Faiz orangnya keras kepala. Saking kerasnya dia bahkan tetep mencintai mbak biarpun mbak udah nikah. Kalau sekarang dia cuek gitu sih emang jaim aja mbak" Nuha bercerita tentang kebucinan kak Faiz kepadaku dulu yang membuatku merasa menjadi wanita yang paling beruntung bertemu orang yang se setia kak Faiz.
Untuk menyiasatinya harus diucap LIMO LIKUR, insyaallah aman.
ini menurut adat Jawa, entah benar atau salah wallohu a'lam