Bagaimana jika seorang gadis hamil diluar nikah dan tidak ada yang mau bertanggung jawab terhadap kehamilannya itu ? Bahkan lelaki yang telah menghamilinya lebih memilih untuk meniti karir dibandingkan harus bertanggungjawab atas perbuatannya.
Arisha seorang gadis yang baru saja lulus dari SMA harus mengubur impiannya untuk menjadi seorang pengusaha sukses. Bahkan ia harus rela diusir dari keluarganya karena tidak ingin nama baik keluarga tercoreng karena kesalahannya.
Mampukah Arisha bertahan hidup seorang diri ? Dan mampukah Arisha melahirkan serta membesarkan anak yang ada didalam kandungannya tanpa seorang suami dan keluarga yang mendampinginya ?.
Yuk baca kisah Arisha selengkapnya dalam cerita Secangkir Kenangan karya Qiana Lail.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qiana Lail, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 33. Berita gembira
Arsenio menundukkan kepalanya, ia sebenarnya ragu dengan apa yang baru saja ia ucapkan. Mungkin hanya ia orang yang paling konyol di dunia ini.
Minta wanita yang paling ia cintai meskipun wanita itu telah bersuami dan mempunyai kehidupan yang serba mewah dan penuh dengan kebahagiaan.
"Nak siapa yang mengatakan bahwa Arisha telah bersuami ?." tanya ibu Tari.
Hal itu membuat Arsenio menatap wajah beliau dengan sedikit bingung. Apakah ada yang salah ?.
"Tidak ada yang mengatakan kepada ku Bu. Tapi mana mungkin wanita secantik Arisha tidak ada yang menyukainya Bu." jawab Arsenio jujur.
Memang tidak ada seorangpun yang mengatakan bahwa Arisha telah bersuami. Itu adalah murni dari pemikirannya sendiri. Tapi apakah mungkin Arisha belum bersuami ?.
Oleh sebab itu ia mengijinkan Arsenio untuk datang kerumah ini dan menemani Aneisha selama yang Arsenio mau ?.
"Bu, maaf jika ucapan ku tadi membuat ibu tidak nyaman..Tapi aku telah berjanji pada diriku sendiri dan juga Arisha bahwa aku akan meminta Arisha untuk menjadi istri ku."
"Dan aku mencintai Arisha dari dulu hingga saat ini. Aku telah bersumpah bahwa aku hanya akan menikah dengan Arisha."
"Jika itu tidak terjadi maka aku akan menjadi pria lajang seumur hidupku. Itu adalah sumpah dan janji yang aku ucapkan di depan makam ibuku." ucap Arsenio dengan tulus.
Ibu Tari melihat kesungguhan dalam ucapan Arsenio. Hanya saja siapa yang telah mengatakan bahwa Arisha telah menikah ?.
Jika mereka telah bertemu apakah Arisha tidak menjelaskan semuanya ?. Dan apakah Arsenio tidak mencari tau semua kebenarannya terlebih dahulu ?."
"Nak, Arisha belum bersuami. Ia adalah ibu tunggal yang berjuang seorang diri untuk menghidupi anaknya dan juga ibu."
"Semuanya ini adalah hasil kerja keras Arisha selama beberapa tahun ini. Bahkan ia sering meninggalkan Aneisha untuk bekerja."
"Jika kau ingin meminta ijin untuk menikahi Arisha ibu pasti akan selalu mendukung apapun yang Arisha putuskan."
"Tapi akan jauh lebih baik jika kau meminta ijin kepada kedua orang tuanya. Meskipun mereka telah mengusir Arisha saat itu, tetapi mereka lebih berhak memberikan ijin dibandingkan ibu yang hanya orang asing." jelas ibu Tari.
Hal itu membuat Arsenio menatap wajah wanita paruh baya dihadapannya itu dengan penuh pertanyaan.
Tapi jika memang benar Arisha belum bersuami, itu adalah hal yang sangat menggembirakan baginya. Artinya perjuangannya akan jauh lebih mudah untuk mendapatkan Arisha.
"Benarkah Arisha belum bersuami Bu ?." tanya Arsenio dengan antusias.
Dan ibu Tari hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Hal itu membuat Arsenio seperti mendapatkan durian runtuh.
Ia langsung memeluk tubuh ibu Tari, dan menciuminya berkali-kali. Setelah itu ia langsung berlari menuju kamar Aneisha.
Ia ingin memeluk gadis cilik itu untuk meluapkan rasa bahagianya. Dan ia harus berterima kasih kepada gadis cilik itu.
Karena gadis cilik itu telah menjadi perisai bagi Arisha agar tidak menerima pria yang ingin memiliki ibunya.
Gadis cilik itu hanya memberikan lampu hijau kepada dirinya sendiri. Ya hanya ia pria asing yang bisa diterima oleh Aneisha.
Dan saat ia masuk kedalam kamar bernuansa pink itu, gadis cantik itu masih terlelap sambil menyunggingkan senyuman.
Tanpa ragu lagi, Arsenio langsung bergabung di ranjang bersama malaikat kecil yang telah membukakan pintu agar ia bisa memiliki Arisha.
Dengan lembut Arsenio memeluk tubuh mungil itu. Sungguh perasaan yang sangat luar biasa. Meskipun ia belum resmi menjadi suami Arisha tapi setidaknya ia sangat bahagia mengetahui bahwa Arisha masih sendiri.
"Papa I love you." bisik Aneisha sambil berbisik dan membalas pelukan hangat Arsenio.
"I love you too, mu princess." jawab Arsenio dengan hati yang berbunga-bunga.
Mendengar jawaban dari Arsenio, Aneisha lalu bangkit dan menciuminya berkali-kali. Ia begitu bahagia saat apa yang ia inginkan terwujud.
Selama ini ia begitu merindukan sosok seorang ayah. Kini ia bahkan bisa merasakan bagaimana hangatnya dan damainya pelukan seorang ayah.
Tak terasa air matanya menetes membasahi pipi. Dan air bening itu jatuh tepat di wajah Arsenio. Dengan lembut Arsenio menghapus cairan bening itu dari wajah mungil dihadapannya itu.
Dengan Punuh kasih ia benamkan wajah gadis cilik itu kedalam dadanya. Ia membelai lembut gadis cantik itu agar lebih tenang.
"Mengapa kau menangis ? Apakah papa melakukan kesalahan ?." tanya Arsenio.
"Iya papa jahat, mengapa papa baru datang untuk menemui Aneisha ! Selama ini Aneisha begitu iri melihat teman-teman Aneisha. Mereka semua mempunyai seorang papa."
"Tapi Aneisha tidak, hanya mama, nenek, paman Rian dan paman-paman yang lainnya yang menemani dan menjaga Aneisha." ucap gadis itu dengan menangis.
Hati Arsenio terasa begitu sakit mendengar ucapan dari gadis itu. Ia juga sangat memahami bagaimana rasanya hidup tanpa seorang ayah dan hanya dibesarkan oleh seorang ibu.
Meskipun semua kemewahan ia dapatkan namun tetap ada rasa yang kosong di dalam hati. Dan disaat yang lain bisa bersama kedua orang tuanya, ia hanya bisa menatap mereka dengan rasa iri.
"Maafkan papa sayang, selama ini papa mencari kalian kesana kemari tapi kalian hilang seperti ditelan bumi. Sehingga papa tidak bisa menemukan kalian berdua."
"Mulai saat ini, papa tidak akan membiarkan kalian pergi jauh dari papa. Papa akan menggenggam tangan kalian berdua dengan sangat erat agar kita tidak akan pernah terpisah lagi." jawab Arsenio.
"Kalian ? Apakah itu artinya aku mempunyai seorang saudara yang lain ?." tanya Aneisha dengan wajah polosnya.
Arsenio hanya tersenyum, ia lupa bahwa saat ini ia sedang berbicara dengan seorang anak yang baru berusia empat tahun.
"Kalian yang papa maksud adalah Aneisha dan juga mama. Karena hanya kalian berdua yang ada didalam hati papa."
"Dan jika ada seorang saudara Aneisha itu adalah adik kecil yang kelak akan dilahirkan oleh mama untuk hadiah spesial buat papa dan juga Aneisha." jelas Arsenio sambil menatap wajah polos Aneisha.
"Yeyyy ! Berarti aku akan mempunyai seorang adik dan aku akan menjadi seorang kakak." ucap Aneisha dengan penuh kebahagiaan.
"Tapi kapan adik itu akan lahir pa ?." tanya Aneisha kemudian.
"Setelah adik yang papa dan mama buat jadi." jawab Arsenio dengan tersenyum.
Membayangkan ia bisa menghabiskan malam bersama Arisha saja sudah membuat ia begitu bahagia, bagaimana jika mereka membuat seorang adik untuk Aneisha.
Pasti hal itu jauh lebih menyenangkan dan penuh dengan kebahagiaan. Ah Arisha membayangkan saja membuat aku sudah tak sabar lagi.
Tapi seandainya ia tau sejak awal jika Arisha masih sendiri, maka malam itu juga ia akan menikahi Arisha secara sah, agar apa yang ia bayangkan bisa segera terwujud.
yuk baca novel ku "aku ga idiot" langsung cek profil ku yaa 🥰
terimakasih..