"Sialan, kenapa bisa jadi begini sih? Besok aku harus menikahi gadis manja itu. Rasanya aku ingin bunuh diri saja. Reva, kamu dimana sih sayang? Kenapa kamu tega ninggalin aku?" Gumam Rendy sendu.
Keesokan harinya baik dari keluarga pihak Anin maupun keluarga Rendy sudah sama-sama sibuk.
Anin juga sudah selesai di rias oleh MUA terkenal yang dipilihkan oleh calon mertuanya. Rasa kagum terdengar setelah MUA selesai merias wajah Anin menjadi sangat cantik dan anggun.
" Masya Allah cantik banget pengantin ku. Nggak perlu banyak dempul sana-sini karena memang sudah cantik bawaan lahir." Ucap seorang perias tersebut di hadapan Anin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atik's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33
Bahkan Herman sering melihat Reva mendatangi klub malam tetapi bukan menjadi pengunjung seperti wanita yang hanya ingin bersenang-senang ketika merasakan penat dalam hidupnya. Tetapi Reva mendatangi klub malam untuk bekerja sebagai wanita penghibur makanan pria hidung belang seperti dirinya, hanya saja Herman tidak pernah memakai jasa wanita itu.
"Perlu untuk selalu kamu ingat ya Nin untuk tidak boleh terlalu banyak beban pikiran. Usahain kamu untuk selalu bahagia agar kondisi jantungmu semakin membaik. Dan jangan pernah sekali saja lupa untuk minum obat, ini resepnya sudah aku tulis tinggal kamu pergi ke apotek untuk menebus, dan ini jadwal periksa kamu selanjutnya sudah aku tulis tanggal dan harinya di sini jangan sampai kamu lupa."
"Baik Kak. Kalau gitu Anin permisi dulu ya Kak. Ingat jangan sampai suamiku tahu dengan kedatanganku ke sini ya Kak." Ucap Anin mengingatkan sepupu suaminya itu.
Herman hanya tersenyum sambil mengacungkan jari jempol pertanda ia paham dengan maksud Anin.
Setelah Anin keluar dari ruangannya Herman menghela nafasnya berat. "Semoga semuanya berjalan dengan baik dan penyakitmu segera sembuh Nin. Kamu sangat beruntung mempunyai istri tangguh dan mandiri seperti Anin Ren. Wanita itu bahkan tidak ingin membuat kamu terbebani dengan penyakitnya. Semoga kamu sudah benar-benar bisa mencintainya Ren." Batin Herman setelah melihat Anin yang sudah berlalu meninggalkan ruangannya.
Disaat Anin akan keluar dari rumah sakit, tak sengaja ia bertemu dengan Nevan bersama Astri yang akan mendatangi dokter kandungan.
Anin sedikit takut jika keduanya melihat dirinya yang datang dari arah spesialis jantung. Tapi dengan segera ia berjalan seperti biasa agar tidak terlihat gugub di depan sahabat suaminya itu.
"Anin? Kamu ngapain disini? Periksa juga? Sakit apa?" Ucap Astri yang terus mencecar banyak pertanyaan pada Anin.
"Ehm,, tidak mbak, saya hanya mengantarkan teman saya saja tadi, dan sekarang dia sudah selesai menunggu didepan. Mbak Astri sendiri?" Tanya Anin balik.
"Oh gitu? Aku mau cek kandungan Nin."
"Kandungan? Mbak Astri hamil?" Tanya Anin sedikit terkejut.
"Alhamdulillah Nin, setelah beberapa tahun menunggu dan sudah divonis tidak bisa hamil, akhirnya dengan izin sang pencipta istri saya bisa hamil." Jawab Nevan bahagia.
"Alhamdulillah kak, ikut seneng. Ya udah kalau gitu saya pamit dulu ya kak, suami saya pasti sudah menunggu karena tadi saya sudah janji untuk mendatanginya dan makan siang bersama dikantor."
"Iya, salam ya buat Rendy ."
Anin mengangguk lalu meninggalkan kedua pasangan yang tengah berbahagia itu.
"Semoga aku juga bisa segera hamil menyusul mbak Astri biar ada keramaian dirumah." Batin Anin penuh doa dan harapan.
Kini Nevan dan Astri sudah selesai dan mereka keluar dari ruang periksa. Keduanya semakin bahagia karena mengetahui kondisi janin didalam kandungan Astri semakin berkembang maksimal. Kini mereka sudah memasuki mobil untuk segera meninggalkan rumah sakit tersebut.
Tetapi mereka tidak menyadari bahwa semenjak mereka keluar dari rumah sakit ada seseorang yang mengikuti dan mengintainya dari kejauhan.
Rasa sakit hati Reva saat Nevan hanya mempermainkannya dan lebih memilih Astri membuatnya gelap mata sehingga ia berencana untuk mencelakai dan melenyapkan sepasang suami istri yang tengah berbahagia itu.
Reva sengaja menyewa mobil untuk mengikuti Nevan bersama istrinya agar rencananya tidak berantakan. Ia sudah siap-siap menunggu mobil Nevan keluar dari tempat parkir lalu mulai mengikutinya dengan tenang karena tidak mungkin Nevan mengenali mobil yang ia tumpangi.
"Kalau kamu menyakitiku, maka jangan harap aku akan diam begitu saja! Aku akan berbuat lebih menyakitkan dari apa yang sudah kalian lakukan padaku. Jangan pikir kalian bisa bernafas lega dan hidup bahagia setelah merusak mimpi dan hidupku." Ucap Reva yang hanya didengarnya sendiri didalam mobil sambil tertawa licik.
Reva semakin merasa dendam saat dirinya hanya dimanfaatkan saja oleh pria yang ia kira benar-benar mempunyai rasa cinta padanya melebihi rasa cinta pria tersebut pada istri sah. Dia juga merasa bodoh karena percaya dengan mulut busuk Nevan yang akan menikahi dan membuatnya bahagia sehingga ia rela meninggalkan Rendy yang sudah serius ingin menikahinya.
Rendy dan Anin kini sudah berada disebuah restoran mewah. Keduanya akan makan siang bersama seperti apa yang sudah dikatakan oleh Rendy tadi pagi. Rendy sangat senang karena Anin menepati janjinya untuk menyusul dirinya kekantor sehingga dia tidak perlu menahan rindu pada Anin.
"Kamu mau pesan apa sayang?" Tanya Rendy sembari membuka buku menu.
Rendy tidak mendengar suara sang istri yang membuatnya menoleh ke arah Anin dan mendapati istrinya yang kini sedang melamun. Rendy memang sudah merasa ada yang berbeda sejak Anin datang ke kantornya. Ani terlihat lebih pendiam dan murung sehingga membuat Rendy menduga-duga ada apa gerangan yang sedang terjadi pada istrinya tersebut.
"Sayang, kenapa melamun?" Tanya Rendy sembari menepuk bahu Anin sehingga wanita itu tersadar dari lamunannya.
"Iya kak, ada apa?" Tanya Anin yang terkejut.
"Sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan? Cerita aja sama aku!"
"Nggak ada masalah apa-apa kak. Aku cuma kangen aja sama mama dan papa." Ucap Anin. Walaupun tidak mengatakan yang sebenarnya tapi Anin memang tidak berbohong sebab ia sangat merindukan kedua orangtuanya entah kenapa sejak tadi ia memang selalu teringat dengan kedua orangtuanya. Rendy yang tak ingin istrinya kembali bersedih berusaha mencari topik pembicaraan lain.
Sedangkan di tempat lain, sedang ada kejadian kecelakaan dan terlihat warga yang mengerumuni mobil yang terlihat rusak parah.
"Cepat hubungi ambulans dan polisi, sepertinya korban terluka parah."
Ternyata kecelakaan itu adalah salah satu dari rencana buruk yang sudah dibuat Reva agar Nevan dan istrinya sirna dari dunia ini.
Reva yang sebelumnya menyewa mobil dan membuntuti Nevan bersama istrinya sejak keluar rumah sakit, ternyata ia buta mata buta hati sehingga nekat membuat rencana agar sepasang suami istri itu agar meninggal.
Sebenarnya semenjak Nevan keluar dari rumah sakit ia sudah merasa ada yang aneh dengan mobil dibelakangnya yang selalu mengikuti mobil miliknya. Karena tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Nevan berusaha menghindar agar mobil tersebut tidak bisa mengikutinya lagi.
Tetapi dengan cepat Tari menginjak gas dan mamacu mobilnya mengikuti mobil Nevan yang berusaha menghindarinya.
Nevan seketika melirik sang istri yang sedang sibuk yang sedang sibuk dengan ponselnya. Laki-laki itu sudah merasakan firasat buruk yang akan menimpa mereka. Nevan yang melihat persimpangan di depan dengan cepat memacu mobilnya dan melihat mobil di belakangnya berusaha mengejar mobilnya maka dengan cepat Nevan berbelok sehingga membuat Reva tidak bisa mengejarnya.
maksudnya ANIN kan