hanya cerita imajinasi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon |SagiriCwan|, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dungeon
Beberapa hari berlalu setelah kekalahan Brockman, "Apa yang sebaiknya kulakukan?" gumamnya sambil menatap langit-langit kamar. "Hmm, bagaimana kalau aku mengeksplorasi goa lagi bersama Lily atau Bryan?"
Setelah menemukan ide, Ryan segera bangkit dari tempat tidurnya dan membuka portal menuju Kerajaan DeathWish. Begitu melangkah masuk, ia mendapati Bryan sedang sibuk mencari sesuatu.
"Apa yang kau cari?" tanya Ryan penasaran.
"Aku sedang mencari barang," jawab Bryan tanpa mengalihkan pandangannya dari pencarian.
"Barang apa? Biar aku membantumu mencarinya."
"Cincin dengan ukiran mata," ujar Bryan sambil terus menggeledah laci meja.
Ryan yang mendengar deskripsi itu tanpa sengaja melihat kilatan cahaya di bawah lemari. Ia pun berjongkok, memeriksa bagian bawahnya, dan menemukan sebuah cincin yang sesuai dengan yang Bryan maksud.
"Hah!? Aku menemukannya!" seru Ryan sambil meraih cincin itu.
"Benarkah?!" Bryan segera berlari mendekatinya.
Ryan mengangkat cincin tersebut dan menunjukkannya kepada Bryan. "Ini yang kau cari, kan?"
Melihat benda itu, wajah Bryan langsung berbinar. Ia menerima cincin itu dengan senyum lebar dan mengucapkan terima kasih kepada Ryan. Setelah itu, ia menatap Ryan dengan rasa ingin tahu.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau datang kemari?" tanyanya.
Ryan menghela napas panjang. "Aku bosan. Aku tidak tahu bagaimana cara menghabiskan masa liburku yang terasa sangat membosankan."
Bryan menatapnya dengan heran. "Bukannya di tempat asalmu banyak hiburan? Kenapa kau masih merasa bosan?" tanyanya.
Ryan hanya mengangkat bahu, tapi sebelum sempat menjawab, Bryan menyeringai jahil. "Ah, atau jangan-jangan kau menikmati hiburan dengan bermain dengan wanita di sana?"
Seketika wajah Ryan memerah. "Apa maksudmu, Bryan?!" protesnya malu.
Bryan tetap memasang wajah polos. "Bukankah kau sendiri yang mengatakannya waktu kita berendam di pemandian?"
Ryan terdiam sejenak, mengingat kembali percakapan mereka saat itu.
"Benarkah di tempatmu banyak hiburan?!" tanya Bryan dengan semangat waktu itu.
"Tentu saja, sangat banyak," jawab Ryan dengan bangga.
"Wow! Tempatmu luar biasa, Ryan!"
"Tentu saja," ulang Ryan, "Lalu di sana..." ia kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Bryan.
Mata Bryan langsung berbinar, dan tubuhnya seketika dipenuhi api antusiasme. "WOW!!! KEREN HABIS!!!"
Melihat ekspresi Bryan yang berlebihan, Ryan tak bisa menahan tawa.
Kembali ke masa sekarang, Ryan menggaruk kepalanya, malu dengan ucapan asalnya saat itu. "Yaa, waktu itu aku hanya asal mengatakannya saja," akunya.
Bryan mengernyit. "Maksudmu?"
Ryan segera berdiri, berusaha mengubah topik pembicaraan. "Lupakan saja yang kukatakan. Kau mau ikut denganku?"
Bryan memandang Ryan dengan tatapan curiga. "Heum, kau tidak akan melakukan hal aneh-aneh, kan?"
Ryan terkekeh. "Tenang saja. Lagipula, waktu itu aku juga tidak tahu kalau kita harus mendapatkan izin terlebih dahulu."
Bryan berpikir sejenak, lalu akhirnya mengangguk. "Baiklah, aku akan ikut."
Di Ruangan Ricardo
Ketika Ryan dan Bryan memasuki ruangan Ricardo, sang raja langsung menatap mereka dengan penuh wibawa.
"Ada apa kalian kemari?" tanya Ricardo.
"Ka..." Bryan hendak menjawab, namun Ryan dengan cepat menghentikannya.
"Apa ada tugas yang bisa kami lakukan?" tanya Ryan dengan ekspresi serius.
Melihat kesungguhan Ryan, Ricardo semakin yakin dengan kemampuannya. Ia kemudian memberikan saran agar mereka melakukan ekspedisi ke dungeon yang baru saja ditemukan oleh tim pencari.
"Pergilah ke ruang guild dan beritahu sekretaris di sana bahwa aku yang memerintahkan kalian untuk menyelesaikan dungeon itu," ujar Ricardo. "Tapi aku sarankan kalian membentuk party terlebih dahulu. Minimal ajak dua orang lagi."
Ryan dan Bryan serempak memberi hormat kepada sang raja.
"Siap, Yang Mulia!" jawab mereka dengan tegas.
Perjalanan Menuju Guild
Dalam perjalanan menuju guild, mereka berdiskusi tentang siapa saja yang akan diajak bergabung dalam party.
"Siapa yang akan kau ajak?" tanya Bryan.
"Entahlah, aku belum memikirkannya," jawab Ryan dengan lesu.
Bryan pun memberikan saran, "Bagaimana kalau kita mengajak..."
Namun sebelum ia menyelesaikan ucapannya, Bryan secara tidak sengaja menabrak seseorang yang tengah menatap pohon sakura yang berguguran.
BRAKKK!
"Aduh!"
Bryan, yang awalnya ingin memarahi orang yang ia tabrak, segera dihentikan oleh Ryan.
"Bryan! Tunggu dulu," kata Ryan sambil menyodorkan tangan untuk membantu Bryan berdiri.
Ketika melihat siapa yang ia tabrak, ekspresi Bryan berubah. "Sakura? Kau baik-baik saja?"
Sakura mengangguk tanpa ekspresi. Namun, tak lama kemudian wajahnya memerah, lalu ia memalingkan muka.
"Ada apa denganmu?" tanya Bryan yang kebingungan.
Ryan kemudian menyela, "Sakura, apakah kamu ingin bergabung dalam tim kami? Kami akan menjalankan misi dungeon dari raja."
Bryan, dengan antusias, mendekati Sakura dengan penuh semangat agar ia mau bergabung. Namun, Ryan dengan cepat menahannya agar Sakura tidak merasa terganggu.
"Bryan! Tenangkan dirimu," tegur Ryan.
"Haha, maafkan aku," ucap Bryan, menyesali tindakannya.
Setelah berpikir sejenak, Sakura akhirnya menerima tawaran tersebut, membuat Ryan merasa lega.
"Baiklah, tinggal seorang lagi yang harus kita ajak," gumam Ryan. "Ayo, ikut aku."
Mengunjungi Kath
Mereka tiba di depan rumah John Kath. Namun, Bryan tampak kurang senang dengan keputusan Ryan.
"Kenapa kau mengajaknya?" tanya Bryan kesal.
"Sudahlah, kau diam saja," jawab Ryan tegas.
Pintu rumah terbuka, dan muncullah Kath dengan penuh gaya.
"Haha, ada apa kalian datang ke rumahku?" katanya sombong. "Apa kalian ingin meminta tanda tanganku karena terpesona oleh pesonaku sebagai pria sejati?"
Bryan, yang sudah kesal dari awal, semakin memanas melihat tingkah Kath. Ia menggertakkan giginya dengan emosi meluap.
Ryan hanya bisa tersenyum masam. "Tenangkan dirimu, Bryan."
Ia kemudian membuka pembicaraan dengan Kath. "Apa kau ingin bergabung dalam tim kami, Kath?"
Kath, tanpa melewatkan kesempatan, kembali menunjukkan pesonanya yang berlebihan. Bryan hampir kehilangan kesabaran, namun Ryan buru-buru menahannya.
"Baiklah, aku akan bergabung dengan kalian, wahai rakyat rendahan," ujar Kath dengan penuh kesombongan.
Ryan hanya bisa tersenyum masam sambil berpikir, Sebaiknya aku membunuh anak ini saja waktu ujian dulu.
Mereka pun bergegas menuju guild dengan Bryan yang masih mendidih dalam kemarahannya.
Di Guild
Begitu memasuki guild, Ryan langsung terkesima melihat tempat itu. Banyak orang dengan tubuh kekar dan aura gagah memenuhi ruangan.
"Wow! Jadi ini yang disebut guild?" tanya Ryan penuh kekaguman.
"Tentu saja. Ini adalah tempat berkumpulnya rakyat jelata," jawab Kath dengan santai.
Bryan, yang masih kesal, segera menuju ruangan sekretaris untuk mengurus misi dungeon mereka. Ryan mengikuti di belakangnya.
Di dalam ruangan, Ryan menjelaskan kepada sekretaris bahwa mereka datang atas perintah Raja Ricardo. Setelah menjalani proses administrasi, mereka akhirnya mendapatkan izin untuk memulai ekspedisi dungeon pertama Ryan.
Di Dalam Dungeon
Pintu batu besar tertutup di belakang mereka begitu mereka melangkah masuk, meninggalkan mereka dalam kegelapan.
"Kenapa dungeonnya gelap begini?" tanya Bryan sambil meraba-raba di udara.
"Karena kau tidak punya skill, bahkan penglihatan malam pun tidak," ejek Kath sambil menyalakan bola cahaya dari tangannya.
"Kau ingin kubunuh di sini?" Bryan melotot.
mereka berdua pun saling beradu melotot
Ryan yang memerhatikan dari belakang hanya menghela nafas.
Saat mereka melangkah lebih jauh, lantai tiba-tiba mengeluarkan bunyi 'klik'.
"Jangan bergerak!" seru Ryan.
Namun, terlambat. Bryan yang penasaran malah melangkah maju. "Emang disini aja jebakan?"
Dan tiba-tiba lantai di bawahnya terbuka.
"WAAAHH!" Bryan jatuh ke dalam lubang.
"Begitulah nasib orang tanpa skill," kata Kath sambil tertawa.
Sakura segera melompat masuk ke dalam lubang untuk menyelamatkan Bryan.
"Sakura?!" Ryan panik.
Beberapa detik kemudian, Sakura keluar dari lubang dengan membawa Bryan di pundaknya.
"Apa kau baik baik saja?" kata Sakura sambil meletakkan Bryan di lantai.
Bryan hanya bisa duduk. "aku hanya ingin mengecek apakah lubangnya dalam atau tidak..."
Kath menepuk dahinya. "Kalau kau ingin tahu dalam atau tidak, lempar saja batu, bukan Dirimu."
Teka-Teki Dungeon: Pintu Misterius
Mereka sampai di sebuah ruangan dengan dua pintu besar. Di atas masing-masing pintu, ada tulisan kuno.
"Biar aku yang baca," kata Kath sambil mendekati pintu. "Pintu pertama berkata, 'Pilih aku, maka perjalananmu akan mudah.' Pintu kedua berkata, 'Pilih aku, maka kau akan mendapatkan hadiah besar.'"
Bryan langsung menunjuk pintu kedua. "Jelas yang hadiah besar!"
Ryan berpikir sejenak. "Biasanya, kalau ada pilihan seperti ini, yang terlihat menguntungkan pasti jebakan. Aku pilih yang pertama."
Mereka masuk ke pintu pertama, dan benar saja, mereka sampai di sebuah jalan yang aman. Beberapa detik kemudian, mereka mendengar suara ledakan dari balik pintu kedua.
"Aku benci teka-teki seperti ini," gerutu Bryan sambil merapikan pakaiannya.
Bos Dungeon: Ogre Raksasa
Di ruang terakhir, mereka berhadapan dengan bos dungeon: seekor Ogre Raksasa dengan gada besar.
"Baiklah, saatnya bertarung!" seru Ryan.
Sakura menghilang dalam sekejap dan muncul di belakang Ogre, memberikan serangan cepat. Kath mengeluarkan sihir petirnya untuk menahan gerakan Ogre.
Sementara itu, Bryan...
"AKU HARUS MELAKUKAN SESUATU!" Bryan mengambil batu kecil dan melemparkannya ke kepala Ogre.
'Pluk.'
Ogre itu tidak bergerak selama beberapa detik, lalu perlahan menoleh ke arah Bryan dengan ekspresi marah.
"...Aku salah langkah." Bryan langsung lari ketakutan.
Ryan menghela napas, lalu menarik kerah baju Bryan dan melompat menjauh bersama.
"Kenapa kau menyelamatkanku?" Bryan bertanya.
"Jangan terlalu gegabah mengambil tindakan" Ujar Ryan.
Setelah pertempuran sengit—dan banyak aksi konyol dari Bryan—akhirnya mereka berhasil mengalahkan Ogre dengan kombinasi sihir Kath, kecepatan Sakura, dan pukulan kuat Ryan. Bryan? Dia tersandung dan secara tidak sengaja menarik tuas jebakan yang menjatuhkan batu besar di atas kepala Ogre, mengakhiri pertarungan dengan cara yang tidak terduga.
"Aku tahu aku jenius!" kata Bryan bangga.
Mereka pun keluar bersama dari dungeon dengan rasa senang dan bahagia, dan hasil Dungeon mereka membagikan 50% kepada Guild, 50% nya dibagi 4 untuk mereka.
ga ada ujung pangkalnya, ga ada awal dan akhir.