Semasa Joanna kecil ia tidak pernah menyukai kehadiran anak-anak laki-laki yang tinggal satu rumah dengannya. Namun, ketika duduk dibangku SMA Joanna merasa dirinya merasakan gejolak aneh. Ia benci jika Juan dekat dengan orang lain. Ia tidak bisa mengartikan perasaannya pada laki-laki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agnettasybilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33 : Graduation day
...- happy reading -...
...***...
Hari ini lumayan sibuk, sejak subuh tadi Juan sudah bersiap dengan jas yang pernah ia beli dengan Joanna dulu. Naura yang membantu putranya memakai setelan jas itu terdiam.
"Mama ngga nyangka sayang, mama bisa lihat kamu lulus sekolah. Sekarang siap-siap ya kita berangkat." Juan mengangguk cepat, diambilnya tas miliknya lalu berjalan meninggalkan kamar bernuansa abu-abu itu.
Dengan langkah tegap Juan menuruni tiap anak tangga, menarik atensi semua orang di bawah sana. Joanna yang sudah rapih memakai kebaya maroon terperangah saat netranya tertuju ke tangga. Sejenak rasanya dunianya berhenti, senyum malu malu milik Juan tak luput dari pandangan nya.
"Udah siap?" tanya Juan.
Setelah semua mengangguk akhirnya mereka berlima memilih segera berangkat. Joanna sengaja memisahkan diri menggunakan mobil miliknya. Joanna itu sengaja menginap sejak kemarin agar bisa menemani hari penting Juan hari ini. Matanya berkaca kaca, hari sudah banyak berlalu. Lalu Joanna meraih ponselnya sembari menyetir, ia mengetik sesuatu lalu menempelkan ponselnya ke telinga.
"Halo? Kalian udah otw?"
"Oke deh sip, jangan telat ya ini hari penting untuk Juan."
Setelah menunggu lawan bicaranya selesai, Joanna mematikan ponselnya dan kembali fokus pada jalanan.
Sekarang Juan terdiam tiba-tiba, kaki bergerak kesana kemari dengan wajah gugup, tapi hal itu tidak mengurangi ketampanannya. Matanya melirik menyapu sekitar, ruangan itu sudah dipenuhi orang. Lalu matanya bertemu pandang dengan Joanna yang baru datang, perempuan itu ikut duduk disamping Anna.
Juan menatap Joanna khawatir namun perempuan itu hanya tersenyum ke arahnya, seolah mengatakan bahwa semua akan baik baik saja.
"Oke karena semua sudah datang, maka saya akan buka acara hari ini. Yaitu, kelulusan SMA Erlangga."
Semua bertepuk tangan melihat dari jauh para murid yang akan lulus. Juan beberapa kali menghela nafas saat acara dimulai, satu persatu nama di panggil hingga tiba giliran nya.
Setelah namanya di panggil, Juan berjalan menuju ke arah panggung aula sementara mata para murid lain tertuju padanya.
Lelaki itu bersyukur bisa mengucapkan kata pembuka dan ucap syukur dengan lancar. Setelah mendapat buku kelulusan dan bunga, Juan berlari dengan semangat menuju ke arah keluarganya.
"Selamat ya, kamu udah lulus," ujar Joanna sembari memberikannya bucket bunga mawar yang indah. Juan tersenyum lalu mengambilnya.
"Makasih Kak Joanna. Kapan dibelinya?" Juan mencium aroma bunga tersebut, sangat wangi.
"Tadi di jalan, biar fresh." Joanna terkekeh sembari mengelus puncak kepala Juan dengan sayang.
"Ekhmm, pagi pagi mata sama kuping gue gatel," ledek Anna ke arah keduanya.
"Juan, kok dia sirik terus sih?" tanya Joanna sedikit berbisik ke Juan, sebenarnya Joanna meledek balik Anna.
"Ga tau tuh, efek jomblo kali."
"Kalian berdua bener bener ya, gue pites lo satu satu," geram Anna.
"Lariiiii."
Juan menarik lengan Joanna mengajaknya keluar dari aula sementara kedua orang tuanya mengobrol dengan Ayah dan Bunda Joanna.
Joanna dan Juan tertawa puas setelah berhasil keluar dari aula, sekarang keduanya saling bertatapan.
"Aku punya sesuatu buat kamu." Juan mengernyit heran menatap Joanna yang tersenyum simpul.
"Apa? Jangan aneh aneh ya?" Juan menatap tajam ke arah Joanna. Terakhir kali Joanna bicara seperti itu saat perempuan itu membelikannya seekor kadal berwarna hijau.
Disaat CJuan berteriak karena merasa geli, Juan justru dengan polosnya mengatakan bahwa kadal itu sangat lucu dan ingin Juan memeliharanya.
Joanna terkekeh geli. "Ngga kok, kamu pasti suka." Juan mengangguk pasrah, semoga saja ucapan Joanna benar.
"Yaudah, ada apa emangnya?" Joanna mengeluarkan sebuah pita dan berdiri di belakang Juan.
"Eh ada apa nih?"
"Tutup mata dulu." Joanna memakaikan pita itu ke mata Juan.
"Ih takut..."
"Gapapa, aman kok."
Joanna kembali mengangguk, lalu dapat Juan rasakan kedua tangan Joanna di kedua pundaknya lalu Joanna mendorong tubuh Juan untuk melangkah sesuai yang ia arahkan. Terdengar suara ribut dari kejauhan membuat Juan berhenti karena ragu.
"Tenang aja aku ada di belakang kamu," bisik Joanna tepat di telinga Juan. Keduanya kembali melangkah, lalu berhenti di sebuah tempat yang ia yakini rerumputan, pasti taman sekolah.
Penutup mata itu dibuka, lalu Juan terkejut melihat apa yang ada di hadapan nya.
"SURPRISE!!"
Disana ada seluruh member Girlvy bahkan Yuda, Saka dan Gerald, berdiri disana tersenyum ke arahnya. Juan meremas erat telapak tangan Joanna dengan mata berkaca kaca. la rindu dengan suasana ini, ia rindu dengan semuanya.
"Surprise Juan!!" teriak Helga
Juan masih terdiam, menatap satu persatu ke arah mereka. Hingga matanya bertemu dengan mata Laras, saling mengunci dengan tatapan mendalam.
"Juan? Lo ga ada niatan meluk kita bertiga gitu?" Juan langsung memutuskan kontak matanya lalu berjalan ke arah Yuda, Saka dan Gerald dengan merentangkan kedua tangan nya. Mereka berempat berpelukan erat, saling melepas rindu.
"Kita kangen banget sama lo tau ga?" Ujar Yuda.
"Iya nih lo pergi ga bilang bilang, gabisa dihubungin seminggu." Saka memasang wajah kesal.
"Duh maafff, yang penting kan kita contact an lagi, bisa ketemu lagi." Ketiganya mengangguk Setuju.
"Eh ayo makan Juan, Joanna nyiapin ini semua loh."
Tunjuk Gerald ke arah makanan di depan sana yang sudah berjejer rapih, seperti pesta taman.
"Kalian duluan deh, nanti gue nyusul."
Saka yang hendak protes segera di tarik oleh Yuda untuk menjauh, disusul oleh Gerald. Yuda tahu, Juan perlu waktu untuk berbicara dengan Laras saat perempuan itu berjalan mendekat ke arah mereka.
"Halo Ju, long time no see," sapa Laras sembari tersenyum.
"Eh, halo Kak."
"Gimana kabar kamu?" tanya Laras dengan basa-basi.
"Baik kok Kak, seperti yang Kakak liat." Juan tersenyum tipis.
"Kalo Kakak?"
"Baik, tapi ga sebaik yang kamu liat." Laras tetap tersenyum, tapi hal itu membuat Juan merasa tak enak.
"Kita semua udah tau, kamu jadian sama Joanna kan?" Juan hanya mengangguk pelan.
"Congrats ya, atas kelulusan nya." Laras menyodorkan tangan nya, lalu Juan sambut dengan senyum manis.
"Semoga hidup kamu tetep bahagia, kalau Joanna nyakitin kamu bilang aja, aku siap ganti posisi dia kapan pun."
Hal itu membuat Juan menegang, namun tawa Laras pecah begitu saja.
"Bercanda bercanda, tapi kalo emang mau cerita, gapapa. Aku pendengar yang baik." Tawar Laras, Juan menghela nafas lega lalu mengangguk.
"Makasih Kak, makasih buat semuanya. Kakak udah nyelamatin hidup aku berkali kali."
Laras mengangguk lalu dari jauh Joanna memanggil keduanya untuk segera bergabung disana. Juan segera berlari menghampiri yang lain sementara Laras menatap Juan yang memeluk Joanna erat bahkan mengecup lembut pipi Joanna.
Laras tersenyum, senyum tulus disertai helaan nafas berat. Lalu ia berjalan ke arah yang sama, ikut bergabung dan menikmati acara.