Indonesia
NovelToon NovelToon
Perfect Bad Fiance

Perfect Bad Fiance

Status: tamat
Genre:Ketos / Tamat
Popularitas:613.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: fieksel259

BANTU SUPPORT CERITA INI DENGAN LIKE, VOTE, DAN COMMENT.
VISUAL TOKOH MUNGKIN AKAN MENGALAMI PERUBAHAN

Dipertemukan dengan sesama bad guy membuat Bianca dan Alvaro terlihat seperti kucing dan anjing yang saling mengganggu dan tak bisa akur. Dan entah kenapa seorang bad boy itu menjabat sebagai ketua OSIS, anak pemilik yayasan, dan juga menangkup sebagai ketua genk Swataru.

Jika takdir meminta mereka bersama

Jika bumi menginginkan mereka menjadi satu

Dan jika semesta mengharapkan mereka menjadi satu insan

Hati besi pun akan tetap meleleh seiringnya waktu dan seiring logika mau memikirkan hal itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieksel259, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tersinggung

Bianca terus memotong wortel yang sudah ia kupas kulitnya terlebih dulu dengan telaten. Tak ada ocehan yang ditujukan kepala Alvaro yang kini tengah membumbui ayam. Laki-laki itu bahkan heran mengapa gadis itu sedari tadi terus menutup mulutnya, tak ada suara yang keluar dari mulut perempuan yang cukup cerewet, "Kenapa sih lo?" Tak tahan lagi dengan sikap Bianca, Alvaro akhirnya menanyakan tentang apa yang yang terjadi pada Bianca.

Bianca menatap pada Alvaro yang berdiri di sebelahnya, "Gue kenapa?" Memberi pertanyaan bukan jawaban yang Alvaro inginkan.

Alvaro membalas tatapan Bianca sekilas, "Kenapa diem mulu dari tadi, kuota ngomong lo habis?" Cibir Alvaro dengan tangan yang mengambil beberapa bawang dan mengupas kulitnya.

Bianca mengangkat bahunya acuh lalu kembali melanjutkan kegiatannya, "Hak gue dong mau ngomong atau nggak" Ucapnya dengan nada suara dingin.

Tak.

Pisau itu terlepas dari pegangan Bianca, membuat Alvaro yang ada di sampingnya sedikit tersentak. "Ish, pake luka segala lagi" Omel Bianca saat permukaan jemarinya menguatkan darah akibat pisau yang ia pegang.

Alvaro melepaskan pisau yang ia pegang, laki-laki itu meraih tangan Bianca, "Sini liat" Ia memperhatikan jemari tersebut yang darahnya terus mengalir. Tak terlalu masalah sebenarnya hanya saja jika dibiarkan mungkin membuat masakan mereka ternodai.

"Mau dipakein plester gak?" Tawar Alvaro. Ia tak keberatan dengan mengambilkan kotak P3K dan memasangkan plester pada luka Bianca. Lagipula ia juga merasa tak enak hati akan perkataan sang Oma kepada Bianca.

Bianca menarik tangannya daripada Alvaro, "Gak usah, gak terlalu masalah buat gue" Ucapnya kemudian. Ia mengambil selembar tisu yang ada di dekatnya lalu mengusap darah itu.

"Dihh" Cibir Alvaro yang menganggap jika Bianca terlalu bersikap baik-baik saja. Tapi ya ia mengakui jika perempuan itu berbeda dengan yang lain. Perempuan adalah makhluk lemah di matanya. Jadi bisa dibilang bertemu dengan seorang Bianca cukup mengubah pola pikirnya kepada seorang perempuan.

"Lanjutin itu, gue mau nyuci ini dulu" Ucap Bianca sambil menunjuk pekerjaan Alvaro yang sempat terhenti. Ia beralih menuju wastafel dan membasuh luka kecilnya itu dengan air mengalir.

"Hm" Alvaro melanjutkan kegiatan memotongnya sambil sesekali menanyakan hal yang harus ia lakukan di detik berikutnya.

Setelah kurang lebih sembilan puluh menit berkutat dengan peralatan dapur, akhirnya santapan makan siang mereka telah tersedia di atas meja makan. Dan semua orang yang ada dalam rumah itu telah memenuhi meja makan.

Alvaro dan Bianca duduk bersebelahan dengan tatapan yang mengarah pada Oma yang kini menyantap makanan yang mereka berdua buat dengan rukun. Ya itu termasuk hal yang langka saat sebuah kerukunan terjadi di antara keduanya.

"Gimana Oma?" Tanya Alvaro meminta pendapat pada sang Oma. Berharap makanan ini sesuai dengan lidahnya.

Oma menatap pada Alvaro dan juga Bianca dengan tatapan dingin yang mendominan, "Lumayan" Ucapnya kemudian. Menimbulkan senyum di wajah yang lainnya.

"Syukurlah" Ucap Bianca dengan lega. Setidaknya satu kata itu mengatakan jika apa yang ia masak tak buruk. Oh ayolah kapan ia membuat kegagalan dalam hal yang begitu sepele seperti ini.

Orang tua Alvaro sudah mulai menikmati makan siang mereka, sambil sesekali melempar pujian pada Bianca yang cukup mahir dalam hal memasak. Bahkan Killa mengatakan jika Alvaro beruntung mendapatkan pasangan seperti Bianca yang memilki selera makanan yang cukup baik ia bahkan menduga jika selama ini anaknya diberi makanan rumahan yang dijamin kesehatannya. Tak tahu saja Killa jika sebelum ini Bianca dan Alvaro selalu memesan junk food setiap ingin makan. Sungguh sebuah pemborosan.

"Tapi rasa dari makanan ini tidak membuktikan dia adalah perempuan yang baik" Ucapan dari Oma menghentikan kegiatan makan itu, Bianca yang sudah menyendok nasi di piringnya kini terhenti dengan kepala yang tertunduk. Apa dia akan dihina lagi?

"Apa ada yang ia pahami tentang Alvaro? Ada yang ia ketahui tentang kehidupan tunangannya sendiri? Apakah ia tahu segala macam kesukaan Alvaro? Nyatanya tidak, buktinya tak satu pun ada makanan kesukaan Alvaro di atas meja ini" Alvaro saja merasa jika perkataan itu keterlaluan, apalagi Bianca yang menjadi korban objek cibiran Oma. Ia menatap pada Bianca yang ada di sampingnya, perempuan itu tetap mempertahankan tundukan kepalanya.

"Bu..." Sagara benar-benar tak enak hati kepada tunangan putranya itu.

"Diam kamu Sagara!" Hardik Oma pada putranya.

Merasa jika mood makan siangnya menghilang, Bianca melepas sendok yang ia pegang, tersenyum penuh keterpaksaan dihadapan 'keluarga' barunya tersebut, "Emm, Bianca ke atas dulu ya? Tiba-tiba aja perut Bianca kram" Ia bangkit berdiri.

"I-iya Nak"

Killa memberi kode pada putranya untuk menyusul kepergian Bianca. Ia merasa tak enak hati akan apa yang dikatakan mertuanya terhadap Bianca.

Alvaro paham dengan kode sang Bunda, ia lantas meneguk air mineralnya, "Alvaro nyusul Bianca dulu ya?" Laki-laki itu melangkah pergi meninggalkan keluarganya dan juga piring yang masih berisikan makanan yang belum habis.

Tanpa mengetuk pintu kamar Bianca terlebih dulu, Alvaro langsung memasuki kamar perempuan itu. Menemukan seorang Bianca Alexa Sendrawan tengah mengusap bulir air mata yang memenuhi pipinya.

Ingin ketawa tapi laki-laki itu merasa bersalah pada sang tunangan. Bagaimana pun ia merasa iba dengan perempuan yang mendapatkan perkataan yang pedas dari sang Oma.

"Bi" Laki-laki itu menghampiri Bianca setelah menutup pintu kamar perempuan itu, menyamakan tinggi badannya di depan Bianca yang duduk di atas kasur queen size dan masih mengusap air matanya dengan segera akibat kedatangan Alvaro. "Lo nangis?" Bertanya dengan nada ingin tahu.

"Nggak, gue ketawa. Bisa gak sih lo nggak usah ngasih gue pertanyaan bodoh lo itu?" Kesal Bianca pada Alvaro. Tak bisakah Alvaro membaca suasana hatinya yang sungguh tersinggung akan perkataan Oma?

Alvaro mengangkat bahunya acuh, ia ikut duduk di sebelah Bianca dengan tangan yang membantu perempuan itu mengusap air mata, ia menjauhkan tangan Bianca dan menggantikan jemari lentik itu untuk menghapus mutiara cairnya, "Ya lo ngapain sih ambil hati banget sama omongan Oma" Ucapnya kemudian.

Air mata itu kembali mengalir dengan derasnya, membuat Alvaro kelabakan mengapa mood perempuan itu begitu sensitif hari ini, "Ya elo enak dibela mulu sama Oma lo itu sedangkan gue yang kena caciannya" Omel Bianca sambil terus menangis.

"...eneg tahu Al, diomongin yang kek gitu. Emang Oma lo paham tentang gue? Nggak kan? Terus kenapa dia seenaknya men-judge gue?" Katanya dengan nada suara serak. Ia terus menangis dan tangan Alvaro masih mengusap air matanya. Sungguh perhatian sekali laki-laki itu saat merasa bersalah.

Alvaro diam beberapa saat, "Lagian tampang lo kek tampang preman mana muka judes mulu, sesekali senyum kek" Ucapnya dengan jujur, bagaimana Oma tak berkata seperti itu jika wajah Bianca saja seperti mengangkat bendera perang kepada beliau.

"Kalau emang gini dari lahir mau gimana lagi?" Ucap Bianca lagi kekesalannya. Ia memang terlahir dengan raut wajah ini, lalu ingin diubah seperti apa? Apa ia harus selalu memasang wajah ceria bak orang gila? Tak mungkin kan?

Bianca menatap pada Alvaro yang masih setia menghapus air matanya, "Oma lo kapan pulangnya sih? Kalau dia nggak pulang-pulang mending gue yang pergi mengungsi" Nada suaranya seperti merengek pada Alvaro. Ia bahkan mengayunkan kakinya dengan begitu menggemaskan.

Setelah merasa jika air mata itu tak mengalir lagi, Alvaro menjauhkan tangannya daripada Bianca, "Lagian tumben amat lo kesinggung, biasanya sama gue nggak" Ucapnya dengan nada serius.

"Beda Al. Semuanya jelas beda" Ucap Bianca yang merasa jika pikiran Alvaro terlalu dangkal hingga menyamakan semua sindiran itu sama adanya, "...lo yang sepantaran sama gue ya walaupun beda setahun masih gue wajarin. Sedangkan gue dengan Oma lo sudah terpaut berpuluh-puluh tahun, pola pikirnya udah beda Al" Jelas Bianca yang mencoba membuat Alvaro paham dengan apa yang ia rasakan.

Bianca benar adanya, ucapan Oma begitu keterlaluan. Laki-laki itu menghela nafasnya sejenak, "Kalau lo udah mendingan kita turun ke bawah buat makan siang" Ucapannya dibalas dengan gelengan kepala oleh Bianca.

"Lo makan aja sana, bilangin gue sakit perut gara-gara datang bulan" Ucapnya dengan uring-uringan.

"Bi..." Suara lembut mengalihkan pandangan keduanya, seorang wanita paruh baya membuka pintu kamar Bianca dan melangkah masuk.

"Tante"

Killa menghampiri tunangan putranya tersebut dan mengelus rambutnya lembut, "Maafin Oma ya Bianca, dia memang kayak gitu orangnya" Ucapnya dengan lembut.

Tapi itu keterlaluan bagi gue, batin Bianca seakan memprotes perlakuan Oma terhadap dirinya yang kini menjabat sebagai tunangan Alvaro.

"Iya Tan, Bianca paham"

_________

Instagram : fionakesl259

1
kyoww
WOI AKU TERAKHIR BACA 2021🤣
Lhisa Amira Nhatasya
jd mls baca, jd Bianca kok cepat bgt memaafkn, pdhal sdh di hina, ditampar, ksih plajaran kek dlu sm si al
Fereinchsovetsky
kok nggak ada novel my cold husband
Defi
Al maksud kamu memang baik, membangun usaha sendiri sampai waktu untuk Bianca gak ada tapi terfikir ga sih, kalau-kalau Bianca sudah bersama yang lain apa ga tambah nyesek tuh 😮‍💨😮‍💨
Defi
ikutan mewek juga 🥲..
Defi
seharusnya memang kamu ga melakukannya meskipun tidak seperti Bianca bayangkan Juan 🙄
Defi
kamu ketahuan 😂😂.. diluar perkiraan ya, biasanya gelud aja eh rupanya punya hubungan 😂🤣
Defi
visual tokohnya cantik-cantik dan ganteng
Defi
Ga apa-apa Bi, Alvaro juga memiliki perasaan yang sama tapi ada yang mengganjal ya soalnya Alvaro lagi ingat sahabat kecilnya, apa jangan-jangan itu Bianca
Defi
Jessi siapanya Al inih
Defi
Dibalik sikap Bianca yang keras tersimpan rasa sakit yang dalam
Defi
Apa Bianca pernah dilecehkan ya
Defi
Sikap mereka sudah mulai mencair sih makanya terlihat manis kan 😂
Defi
Bianca pernah dekat sama Juan di masa lalu 🤔
Defi
Pantas saja Aldo bilang ke Alvaro kalau Alvaro salah mengeluarkan Bianca dari genk ternyata Bianca memang benar-benar pintar
Defi
tapi sikapnya yang egois dan arogan tetap saja ga mau mengakui salah dan Bianca juga yang disalahkan
Defi
Bagus Bi, udah saatnya kamu bersuara biar Oma dan Alvaro terbuka matanya
Defi
Wajar sih mulut Alvaro kalau ngomong pedas rupanya nurun dari sang Oma
Defi
Alvaro egois 😂
Defi
Bakalan bertemu setiap waktu dan tentunya ributnya juga 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!