Masa depanku ternyata terselubung di masa laluku. Tidak sadar ternyata telah lama aku mencintaimu. Itu adalah pengakuan dari Lewi untuk sahabatnya Lea. Persahabatan yang terjalin diantara dua orang yang sama - sama berasal dari keluarga kaya. Lewi seorang CEO dan pewaris tunggal perusahaan Airlangga Group. Lea seorang dokter dan putri sulung dari salah satu konglomerat di Tanah Air. Namun mereka tidak menyadari jika di dalam persahabatan mereka telah ada cinta. Apalagi usia Lea 3 tahun lebih tua dari Lewi. Tantangan demi tantangan mereka harus lalui untuk menguji isi hati. Jarak yang memisahkan, kesibukan pekerjaan, hadirnya Vania di tengah-tengah mereka. Apakah mereka akan menyadari dan saling mengakui perasaan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Avaya 0627, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33 SEHARI BERSAMA KAMU
Pak Maman tiba di depan pintu apartemen Lewi. Lea keluar untuk mengambil makanannya.
“ Makasih ya Pak sudah ngantar makanannya. ” Lea mengambil makanan dari tangan pak
Maman.
“ Sama-sama Non. ” Pak Maman melihat Lea. Dia mengingat bagaimana majikannya mendidik kedua putri mereka. Selama sepuluh tahun pak Maman sudah bekerja untuk keluarga ini.
“ Sopan banget sih majikan kami ini. Jelas-jelas ini tugas saya, eh dibilang terima kasih. ” Pak
Maman memuji majikannya.
Lea menyiapkan makan siang dan kembali masuk ke kamar.
“ Lew, bangun! ” dia membangunkan Lewi dengan lembut.
“ Lew, bangun! ” dengan suara lebih
keras dan mengacak-acak rambut Lewi yang masih tidur.
Lewi yang masih memejamkan mata menggeliat. Perlahan-lahan dia membuka matanya.
“ Le, kamu masih di sini!? ” sadar akan keberadaan Lea.
“ Dasar! kamu amnesia ya? siapa yang ngerengek supaya aku nggak kemana - mana. Bahkan kerjapun harus di sini. ” Seakan-akan Lea menyalahkan Lewi.
“ Masa iya sih Lewi seorang pewaris tunggal Airlangga Group merengek?” sambil menunjuk dirinya.
“ Dasar kamu ya! bisa aja ngelesnya.” Lea mengacak-acak rambutnya kembali.
Sekitar sepuluh menit mereka
menghabiskan waktu dengan bercandaan yang tidak berfaedah. Akhirnya mereka menuju meja makan.
Lea memang wanita ideal. Namun dia tidak bisa memasak. Sehingga dia selalu meminta pegawainya untuk membuatkan makanan sesuai keinginannya.
“ Ini kamu yang masak? ” Lewi
bertanya.
“ Iya. ” Mendengar jawabannya Lewi berdecak kagum.
“ Tinggal di London bikin kamu jadi
pintar masak juga. ” Lewi teringat dulu dia pernah memuntahkan makanan yang dimasak oleh
Lea.
“ Tapi bohong… ” Lea tertawa puas melihat Lewi yang tertipu.
“ Ngerasa menang ya sekarang? Awas akan ada waktunya pembalasan. ” Lewi tidak mau kalah.
Lea hanya menjulurkan lidahnya dan menertawakan Lewi. Selesai makan Lea berniat ingin melanjutkan
pekerjaannya. Tetapi tiba-tiba Lewi memegang kepalanya. Dia merasakan sakit yang tidak
tertahankan.
Dengan tergesa-gesa Lea membantu Lewi untuk berbaring di sofa. Dia langsung mengambil handphonenya.
“ Har, cepat ke sini! Lewi sakit lagi! ” insting sebagai dokter langsung menghigapi Lea. Dia membantu Lewi dengan kemampuannya.
Setelah merasa lebih baik, Lea membantunya kembali ke kamar.
Setengah jam kemudian Harry sudah tiba dan langsung memeriksanya.
Setelah diperiksa, mereka membiarkan Lewi beristirahat dan mereka keluar kamar. Lea mengambilkan segelas air untuk dokter Harry.
“ Le, kamu pasti tahu kalau
Lewi akan sering mengalami hal seperti ini. Apa kamu sudah coba untuk ngobrol dengannya? ” dokter Harry memastikan hasil dari perbincangannya dengan Lea ketika di rumah sakit. Mendengar itu Lea hanya menggelengkan kepala.
“ Segera Le! kita nggak mungkin
ngebiarin dia tinggal di sini sendirian tanpa pengobatan yang intensif. ” Dokter Harry mendesak Lea. Lea menghela nafas panjang.
“ Iya, aku akan ngobrol sama Lewi setelah dia bangun. ”
Dokter Harry mengambil tasnya.
“ Le, aku harus balik ke rumah sakit.” Dokter Harry meminta ijin.
“ Thank you ya. ” Lea memegang tangan dokter Harry dengan kedua tangannya. Dokter Harry membalasnya dengan tersenyum.
Dokter Harry keluar dan berpapasan dengan Susi. Susi adalah salah satu asisten yang mengurus
keperluan di rumah Lea. Dia termasuk orang yang sangat diandalkan untuk mengurus
keperluan keluarga Gunawan.
“ Non, ini barang-barangnya. ” Susi memberikan tas kepada Lea.
“ Sus, tolong siapkan makan malam ya! maaf merepotkan. ” Susi mengangguk dan tersenyum sebagai bentuk setuju dengan perintah majikannya.
“ Tidak apa-apa Non. Itu memang tugas saya. ” Susi berjalan menuju dapur.
Lea kembali ke kamar untuk memastikan kondisi Lewi. Dia melihat Lewi masih tertidur karena efek obat yang diberikan oleh dokter Harry. Lea duduk di sampingnya dan merapikan posisi bantal Lewi.
“ Kamu ini memang keras kepala!
Semua kuatir sama kamu, tapi kamu malah gengsi untuk pulang. ” Lea membelai rambut Lewi.
Merasa terganggu dengan perlakuan Lea, Lewi terbangun. Dengan mata yang masih terpejam dan menahan kantuk dia bertanya.
“ Kamu nggak capek? sudah istirahat dulu! ” Lewi menarik tangan Lea yang sedari tadi masih mengelus kepalanya.
“ Iya nanti aku istirahat
setelah mandi. Masih ada kerjaan yang harus diselesaikan. ”
Masih menahan kantuk, Lewi
memainkan jari-jari Lea yang sejak tadi masih dipegang.
“ Maaf ya, aku sudah bikin kamu susah. ” Lewi minta maaf dengan mata yang masih terpejam.
“ Ulu...ulu... ” Lea menarik jarinya dan mencubit hidung Lewi.
“ Kamu istirahat lagi saja. Aku tahu kamu masih ngantuk. Sebagai pasien kamu harus banyak istirahat! mengerti? ” Lea memberi perintah kepada pewaris Airlangga Group itu.
Lewi kembali menutup matanya. Takut mengganggu Lewi yang sedang tidur, Lea membawa laptopnya keluar dan duduk di sofa.
“ Sus, ” demikian dia memanggil asistennya.
Mendengar namanya dipanggil,
Susi langsung meninggalkan dapur dan menemui majikannya.
“ Tolong siapkan lemon juice ya! " Lea berniat melanjutkan pekerjaannya sambil menikmati lemon juice.
Ketika Lea ingin melanjutkan pekerjaannya, kedua bola matanya mulai protes.
" Sus, saya mau istirahat sebentar. Kalau lemon juicenya sudah beres bangunin saya ya! setelah meminumnya, saya mau langsung mandi. " Untuk ART seperti Susi, dia tidak memiliki jawaban lain selain setuju dengan permintaan majikannya.
Lea memutuskan untuk tidur. Dia ingin mengabulkan permintaan tubuhnya untuk istirahat.
Pengaruh obat yang diminum oleh Lewi telah hilang. Sekarang dia merasa lebih segar dari sebelumnya. Dia keluar kamar dan melihat Lea yang sedang tidur pulas di sofa.
Karena minuman hangat sudah disiapkan, Susi berniat akan membangunkan Lea. Sadar akan kehadiran Susi, Lewi meletakkan jarinya di bibir sebagai pertanda supaya Susi tidak menggangu tidurnya.
“ Tapi Tuan, tadi non berpesan untuk dibangunkan jika minumannya sudah jadi. ” Susi menjelaskan
kepada Lewi.
“ Biarkan dia! nanti bikin minuman yang baru lagi saja. ” Lewi memintanya untuk membawa kembali minuman itu ke dapur.
" Baik Tuan. " Susi hanya menurut kepada sahabat dari majikannya itu.
Lewi menuju kamar mandi. Dia merasa badannya sangat lengket. Hampir tiga puluh menit di kamar mandi akhirnya dia selesai juga. Dia melihat Lea masih tertidur.
Dia masuk kamar untuk memakai baju. Dia kembali lagi untuk mengecek Lea. Melihat Lea yang tidur tanpa bantal, Lewi langsung duduk, mengangkat kepala Lea dan memindahkannya ke atas kedua pahanya.
Dia melambaikan tangan ke Susi. Mengerti arti lambaian tangan itu, Susi mendekat.
“ Tolong ambilkan selimut di kamar!” Lewi meminta bantuan Susi untuk mengambil selimut dari kamarnya.
Susi berpaling dan berjalan menuju kamar lalu kembali lagi membawa selimut. Lewi menyelimuti Lea dari ujung kaki sampai leher.
“ Kamu pasti capek! aku mau pulang ke rumah. Aku tahu kamu ada di sini karena kuatir samaku. ” Lewi memandang wajah Lea yang sedang tidur.
handphone Lea yang terletak di atas meja berbunyi. Suara itu membangunkan Lea dari tidurnya. Dia baru sadar jika beberapa menit terakhir dia tidur di pangkuan Lewi. Dia merapikan rambutnya lalu
duduk di samping Lewi. Tiba-tiba dia jadi salah tingkah.
“ Kamu ngapain di sini? " pertanyaan spontan yang keluar dari mulut manis Lea.
“ Nungguin kamu bangun. ” Lewi memberikan jawaban yang membuat wajah Lea memerah.
Tanpa menjawab, Lea mengambil handphonennya dari atas meja. Dia ada panggilan tak terjawab dari ayahnya. Lea menghubungi kembali nomor itu.
“ iya Pa, hari ini Lea nginab di apartemen Lewi. Ada pak
Maman dan Susi juga di sini. ” Lea tahu prinsip ayahnya bahwa pria dan wanita yang belum menikah tidak boleh tinggal berdua.
“ Iya tadi pak Asep sudah jelasin ke papa. Kamu sudah makan? apa perlu papa kirim makanan ke sana? ” Gunawan kuatir terhadap anak sulungnya.
“ Nggak perlu Pa! tadi Susi sudah belanja dan masak. ” Mendengar penjelasan Lea, Gunawan merasa lega karena Susi yang bisa diandalkan ada di sana.
“ Ya sudah kalau gitu. ” Terdengar
suara ayahnya yang tidak keberatan dengan apa yang dia lakukan.
“ Love you Pa! ” lalu membiarkan ayahnya mengakhirinya. Lewi masih memperhatikan wajah Lea.
“ Kamu kenapa sih ngelihatin terus?” Lea langsung bertanya. Hal itu membuat Lewi tertawa keras.
“ Tadikan kamu ngigau. Sudah ngigau, ngences lagi. ” Mendengar itu secara spontan Lea membersihkan bibirnya dengan tangan.
Tingkahnya semakin membuat Lewi tertawa dan hal itu semakin membuat Lea kesal. Tiba-tiba mereka berhenti karena Susi memanggil mereka.
“ Non, makan malam sudah siap! ” tanpa menjawab Susi, Lea langsung berdiri dan menghela nafas.
“ Hufttt... ” Dia masih merasa kesal atas apa yang telah dilakukan Lewi. Lagi-lagi Lewi tertawa puas. Lewi mengikutinya dari belakang karena perutnya juga sudah memberi signal lapar.
“ Sus, kamu makan juga ya! ” Lea membalikkan pandangannya
kepada Susi. Sontak hal itu membuat Susi kaget. Dia sangat sadar posisinya. Apalagi ada Lewi
pewaris Airlangga Group.
“ Tapi Non, ” berusaha membantah.
“ Sudah nggak apa-apa Sus. Kita sama-sama tamu di sini. kamu duduk di sini! ” Lea menepuk bantalan kursi yang ada di sampingnya. Susi masih canggung dan melihat ke arah Lewi. Mengerti apa yang di pikiran Susi,
“ sudah Sus nggak usah perdulikan dia! ” Lea memberi perintah tanpa menoleh ke arah Susi. Susi akhirnya duduk satu meja dengan majikannya.
“ Maaf Tuan. ” Susi menoleh ke arah Lewi.
“ Kenapa kamu minta maaf ke dia? yang ngegaji kamukan bukan dia? ” Lea melihatnya dan bertanya. Susi tidak berani menjawab.
Gemas dengan perlakuan Lea, Lewi langsung menarik hidungnya. Tingkah mereka semakin membuat Susi merasa canggung.
Setelah selesai makan Susi langsung membereskan meja makan dan menyiapkan handuk. Dia tahu majikannya akan segera mandi.
“ kenapa lihat-lihat? ” Lea masih kesal dengan Lewi.
“ Sudah jangan marah terus! Nanti cepat tua! ” Lewi tiba-tiba memindahkan posisi duduknya semakin dekat dengan Lea.
“ Aku akan pulang ke rumah. ” Lewi memberitahu Lea tentang keputusannya.
“ tapi tunggu dulu! aku pulang bukan karena mama dan papa ya! aku pulang karena kamu yang ngerengek. ” Lewi memberi alasannya.
Mendengar itu Lea merasa tidak terima.
“ Idih, siapa yang ngerengek? ” Lewi belum membalas sanggahan Lea, Susi sudah memintanya untuk
mandi.
“ Mandi sana! ” bercampur kesal Lea berdiri dan masuk menuju ke kamar mandi. Lewi memperhatikannya dengan tersenyum.
ada part extra nya dong kaa,,massa iya cuma sampe situ kita kan pengen tau keseharian mereka selanjutnya biar bisa ngobatin rasa kangenn and pengen liat mereka sweet gtu ka author hehehhe love you thor aku pdamu😘😘