Arisa Salsa Bila atau Acha adalah seorang pramuniaga minimarket yang ceria, rajin, namun terkadang egois dan kekanak-kanakan. Suatu hari ia bertemu dengan Andra Nathan Ardimana, pemuda pekerja keras yang merintis usaha percetakan sablon sandal. Di balik sikap keras kepalanya, Nathan memiliki hati yang lembut dan selalu mengalah demi orang lain.
Hubungan mereka tumbuh menjadi cinta yang tulus. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama ketika keluarga mereka menolak hubungan tersebut karena perbedaan latar belakang dan berbagai kesalahpahaman. Hinaan, penolakan, dan tekanan membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ambang perpisahan.
Meski begitu, Nathan dan Acha memilih bertahan. Mereka belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dengan rasa sayang, tetapi juga membutuhkan rasa hormat, kepercayaan, pengorbanan, dan penerimaan. Di tengah segala luka, mereka membuktikan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan tulus tidak akan pernah sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32. Respect
Pagi yang cerah akhirnya datang menyapa, membuyarkan malam panjang yang dirasakan Acha akibat rasa antusiasnya yang begitu besar.
Hari yang sudah sejak kemarin-kemarin dia nantikan dengan penuh debaran kini resmi tiba.
Sesuai dengan janji yang sudah disepakati, hari ini Nathan akan datang langsung ke rumah untuk menjemputnya berkunjung ke tempat tinggal sang pemuda.
Setelah semalam sempat susah tidur karena terlalu bersemangat yang berujung pada usapan penuh kasih dari sang mamah.
Acha bangun dengan tubuh yang terasa segar dan hati yang berbunga-bunga. Selepas bersiap-siap dan merapikan diri, dia tak sabar menantikan suara motor Nathan di halaman depan.
Kecemasan dan air mata yang sempat tumpah karena hilangnya kabar Nathan beberapa hari lalu kini telah sepenuhnya berganti dengan senyuman manis dan rasa rindu yang terbayar lunas. Acha siap melangkah menyambut hari baru bersama kekasih hatinya.
Pagi itu, suasana di kamar Acha terasa begitu sibuk dan penuh warna. Hari yang paling ditunggu-tunggu akhirnya tiba, dan Acha ingin tampil sempurna di hadapan Nathan yang sebentar lagi akan datang menjemputnya.
Acha berdiri di depan lemari bajunya yang terbuka lebar, menarik keluar satu per satu pakaian, lalu mematutkannya di depan cermin. Dia tampak mondar-mandir dengan gelisah, bingung menentukan pilihan.
Ada kaos kasual yang terlampau santai, kemeja rajut yang manis, hingga dress selutut yang membuatnya ragu apakah terlalu berlebihan atau tidak untuk sekadar berkunjung ke rumah Nathan.
Di saat Acha sedang pusing tujuh keliling memilih OOTD (Outfit of The Day) yang pas, Fitri tak sengaja lewat di depan kamarnya Acha yang tidak tertutup rapat.
Melihat kakaknya mondar-mandir seperti setrikaan dengan tumpukan baju di atas kasur, Fitri menghentikan langkahnya lalu melongok ke dalam kamar sambil tersenyum geli.
"Wih, heboh banget ini loh. Mau kondangan apa mau dating, sih?" goda Fitri sambil melangkah masuk.
Acha yang sedang memegang dua potong baju berbeda warna langsung menoleh dengan wajah memelas.
"Ih, loh! Jangan diledekin gue dong, gue lagi bingung nih mau pakai baju yang mana. Takutnya nanti A Nathan kurang suka atau nggak nyambung kalau dipakai ke rumahnya," keluh Acha jujur.
Melihat adiknya yang kebingungan setengah mati, Fitri sebagai kakak perempuan yang paham soal fesyen langsung mengambil alih komando.
Dia memeriksa satu persatu pakaian di tangan Acha, lalu memilah mana yang paling cocok dipadukan dengan cuaca hari ini dan tempat yang akan mereka kunjungi.
"Udah, nggak usah pusing begitu. Sini gue bantu pilih," ujar Fitri penuh percaya diri.
Setelah merombak sejenak tumpukan baju di kasur, Fitri akhirnya menarik sebuah blus berwarna pastel yang manis dipadukan dengan celana jeans yang rapi namun santai, lengkap dengan tas selempang kecil yang senada.
"Nah, kalau pakai setelan ini, kamu kelihatan segar, rapi, tapi tetap santai. Pasti Nathan langsung terpana begitu lihat kamu keluar rumah," puji Fitri sambil tersenyum puas melihat hasil pilihannya.
Acha langsung mencoba pakaian tersebut di depan cermin dan tersenyum lebar. Pilihan sang kakak ternyata sangat pas di tubuhnya.
Rasa gugup Acha seketika berkurang, digantikan oleh semangat baru untuk segera menemui kekasihnya di luar sana.
Setelah urusan pakaian beres, Fitri ternyata belum mau berhenti me-mekover Acha.
Melihat Acha yang tampak masih agak kikuk dan kurang begitu paham soal berdandan, Fitri berinisiatif untuk memberikan sentuhan akhir yang tidak kalah penting.
"Baju udah oke, hijab udah rapi... Tapi mukanya masih polos banget kayak anak bangun tidur, teh. Duduk sini, biar gue poles sedikit biar kelihatan lebih fresh," ajak Fitri sambil menarik tangan Acha untuk duduk di depan meja rias.
Acha hanya bisa pasrah sambil tersenyum malu-malu saat Fitri mulai membuka pouch kosmetiknya. Dengan telaten dan tangan yang sudah terbiasa, Fitri mulai merias wajah adiknya itu.
Hanya dalam hitungan menit, sapuan bedak tipis, sedikit lip tint berwarna natural, serta rapian alis yang natural berhasil diselesaikan oleh sang kakak.
Begitu Fitri menyuruhnya membuka mata dan mematut diri di depan cermin, Acha langsung tertegun seketika.
Dia benar-benar merasa pangling dengan pantulan bayangannya sendiri di cermin. Riasan yang dipoleskan Fitri sama sekali tidak tebal atau berlebihan sangat tipis dan natural.
Namun berhasil menonjolkan kecantikan alami wajah Acha serta membuatnya terlihat jauh lebih segar, manis, dan memesona.
"Wah... Fit, ini beneran gue?" ucap Acha takjub sambil menyentuh pipinya sendiri dengan mata berbinar-binar.
Fitri tersenyum puas melihat hasil karyanya. "Tuh kan, apa gue bilang! Kamu aslinya tuh udah manis, tinggal dikasih sentuhan sedikit biar auranya keluar. Dijamin A Nathan bakal kelepek-klepek pas lihat ceweknya hari ini," goda Fitri sukses membuat pipi Acha merona merah muda.
Dengan penampilan yang sudah sempurna dari ujung rambut hingga ujung kaki berkat bantuan sang Adik, Acha kini jauh lebih percaya diri untuk menyambut kedatangan Nathan di halaman rumahnya.
Setelah penampilan Acha selesai dan dipoles sempurna berkat bantuan Fitri, pintu kamar tiba-tiba diketuk pelan. Ranti muncul di ambang pintu sambil tersenyum hangat.
"Acha, Fitri, yuk turun dulu. Sarapannya sudah siap di meja makan, Papah sudah nungguin dari tadi," ajak Ranti kepada kedua putrinya.
Tanpa menunggu lama, Acha dan Fitri langsung berjalan keluar kamar dan bergabung ke lantai bawah. Di ruang makan, Yanto sudah duduk rapi di kursi meja makan.
Pagi itu, Ranti telah menyiapkan menu sarapan spesial yang menggugah selera, yaitu nasi goreng rumahan yang harum mengepul dengan taburan bawang goreng dan telur mata sapi di atasnya.
Suasana sarapan pagi itu terasa begitu hangat dan penuh kebersamaan. Di tengah-tengah makan, Yanto menyempatkan diri untuk memberikan beberapa patah kata penyemangat kepada putri bungsunya.
"Makan yang bener ya, Cha. Biar nanti nggak gampang lemas pas jalan-jalan. Titip salam buat Nathan, bilang ke dia jangan ajak kamu jalan capek-capek," pesan Yanto dengan nada kebapakan yang tegas namun penuh perhatian.
Mendengar dukungan dari sang papah, semangat Acha semakin berlipat ganda. Senyuman bahagianya terus mengembang sepanjang sarapan.
Melihat antusiasme putrinya, Ranti pun tidak mau ketinggalan bersiap. Sebelum mereka beranjak dari meja makan, Ranti sudah sigap membungkus sekotak kecil obat pribadi dan vitamin ke dalam tas selempang Acha.
"Ini Mamah bawain obat pusing sama vitamin ya, Cha. Jaga-jaga aja, takutnya nanti di rumah Nathan atau pas di jalan kamu tiba-tiba pusing karena kecapekan," ujar Ranti sambil menyerahkan tas tersebut kepada Acha.
"Diminum kalau mulai nggak enak badan, ya."
Acha menerima tas itu dengan rasa terharu dan mengangguk patuh. "Iya, Mah. Makasih banyak ya, Mamah sama Papah," ucap Acha tulus.
Baru saja mereka selesai merapikan meja makan, sayup-sayup terdengar suara deheman motor di halaman depan rumah. Sontak, kepala Acha menoleh cepat ke arah jendela.
Tok, tok, tok.
Tidak lama kemudian, suara ketukan pintu disertai salam mengalun dari luar. Benar saja, Nathan datang tepat waktu dengan mengenakan pakaian rapi, siap menjemput kekasih hatinya.
Tanpa perlu menunggu waktu lama lagi, Acha berpamitan kepada kedua orang tuanya dan kakak perempuannya dengan hati berbunga-bunga.
Begitu dia melangkah keluar halaman, Nathan langsung menyambutnya dengan senyuman manis, lalu mengajak Acha untuk segera naik ke atas motor dan berangkat menuju rumahnya.
Perjalanan menggunakan motor bersama Nathan akhirnya tiba di tempat tujuan rumah sekaligus tempat kerja Nathan. Begitu mereka sampai, suasana sekitar langsung terasa sibuk.
Di area depan dan bagian bengkel rumah, terlihat beberapa pekerja laki-laki yang sedang sibuk mondar-mandir dan berkonsentrasi penuh dengan aktivitas produksi mereka.
Hari itu, Nathan memang masih harus menyelesaikan sisa pekerjaannya, yaitu menyablon tatak sandal yang menjadi sumber penghasilannya.
Melihat banyaknya para pekerja laki-laki di area kerja terbuka tersebut, Nathan langsung bersikap protektif sekaligus menghargai Acha.
Dia tidak ingin kekasih hatinya merasa risih, risau, atau menjadi pusat perhatian yang tidak nyaman.
"Cha, mending kamu tunggu di kamar aku aja ya di dalam," ujar Nathan sambil merapikan tas Acha dengan lembut.
"Di sini lagi banyak anak-anak cowok yang kerja. Takutnya kalau kamu nongkrong di luar lama-lama, nanti malah jadi bahan omongan atau digosipin yang nggak-nggak sama tetangga atau pekerja yang lewat."
Acha mengangguk paham dan tersenyum manis menyetujui saran Nathan. Dia tahu betul maksud baik sang kekasih yang ingin menjaga privasi dan perasaannya.
Tanpa menunggu lama, Nathan mengantar Acha masuk ke dalam rumah, membukakan pintu kamarnya yang bersih namun sederhana, dan mempersilakan gadis itu untuk beristirahat dengan nyaman di dalam sana sementara dia kembali ke luar untuk melanjutkan pekerjaannya menyablon tatak sandal.
Suasana di dalam kamar Nathan perlahan-lahan mulai terasa sedikit membosankan bagi Acha. Sudah cukup lama dia berbaring di atas tempat tidur sambil memainkan ponselnya, menggulir layar aplikasi TikTok demi membunuh waktu.
Karena rasa bosan yang sudah mencapai puncaknya, Acha akhirnya memutuskan bangkit dan berjalan perlahan mendekati pintu kamar yang tidak terkunci rapat.
Dengan hati-hati, Acha mengintip dari balik celah pintu untuk melihat aktivitas Nathan di luar sana.
Dari tempatnya berdiri, Acha bisa melihat dengan jelas sosok Nathan yang sedang sibuk dan fokus berkonsentrasi penuh pada pekerjaannya menyablon tatak sandal.
Tangan pemuda itu bergerak terampil dan telaten di atas meja kerja, mencetak pola demi pola dengan penuh ketelitian tanpa terdistraksi oleh keadaan sekitar.
Seketika itu juga, rasa bosan di hati Acha langsung menguap, digantikan oleh gelombang kekaguman yang mendalam.
Melihat betapa serius, gigih, dan penuh tanggung jawabnya Nathan dalam mencari rezeki membuat pesona pemuda itu berkali-kali lipat terpancar di mata Acha.
Di bawah temaram lampu ruangan kerja dengan butiran keringat tipis yang menghiasi pelipis Nathan, pemuda itu terlihat begitu tampan dan jantan di mata Acha.
Jantung Acha berdegup sedikit lebih kencang, sementara senyuman manis tersungging di bibirnya.
Perasaan cintanya semakin membuncah, merasa sangat bersyukur memiliki kekasih yang pekerja keras dan pantang menyerah seperti Nathan.
Waktu menunjukkan tengah hari. Aktivitas menyablon tatak sandal di luar sana akhirnya dihentikan sejenak begitu azan zuhur berkumandang dan perut mulai terasa keroncongan.
Nathan yang baru saja mencuci tangannya dari sisa-sisa cat sablon segera melangkah masuk ke kamar untuk menghampiri Acha.
Dia mendapati kekasihnya itu sedang duduk manis, rupanya sudah bersiap-siap setelah mengintip kegiatannya tadi.
"Udah selesai kerjaannya?" tanya Acha sambil merapikan tas kecilnya.
Nathan tersenyum ramah sambil mengangguk. "Udah, capek juga ternyata. Yuk, kita cari makan siang dulu. Perut aku udah keroncongan nih," ajak Nathan.
Nathan kemudian mengajak Acha keluar untuk menikmati makan siang bersama. Alih-alih pergi ke tempat makan yang mewah, Nathan membimbing Acha menuju sebuah warung nasi sederhana yang terletak tidak jauh dari tempat kerjanya.
"Kita makan di warteg langganan aku ya, Cha. Makanannya enak, bersih, dan rasanya rumahan banget. Cocok buat ngisi tenaga kita siang ini," ujar Nathan sambil memarkirkan motornya di samping warteg bernuansa sederhana tersebut.
Acha menyambut ajakan itu dengan antusias. Baginya, tidak masalah di mana pun mereka makan, yang terpenting adalah bisa menghabiskan waktu bersama Nathan setelah sempat terpisah oleh rasa cemas kemarin.
Keduanya pun melangkah masuk berdampingan, siap memilih berbagai hidangan lezat rumahan yang tersaji di balik etalase kaca warteg langganan Nathan.
Begitu tiba di depan etalase kaca warteg, Acha dan Nathan langsung mengambil piring bersih untuk memilih lauk pauk kesukaan masing-masing.
Pilihan aroma masakan rumahan yang harum seketika menggugah selera makan mereka yang sudah lapar.
Acha tampak antusias mengambil nasi secukupnya, lalu memilih lauk favoritnya. Dia mengambil bakso balado yang tampak menggoda dengan balutan bumbu merah merona.
Dipadukan dengan sepotong ayam goreng yang gurih, serta tidak lupa menambahkan sesendok sambal ijo khas yang pedasnya menggigit.
Di sisi sebelah, Nathan memilih menu yang lebih hangat dan menyegarkan untuk mengembalikan energinya setelah seharian berkutat dengan pekerjaan sablon.
Dia mengambil semangkuk sayur sop bening yang mengepulkan uap hangat, lengkap dengan isian suiran ayam yang empuk, lalu menyantapnya bersama sambal bawang pedas gurih yang menjadi andalannya.
Setelah piring masing-masing terisi penuh dengan menu pilihan, keduanya mencari meja kosong yang nyaman di sudut warteg.
Duduk berhadap-hadapan sambil menikmati makan siang sederhana itu membuat suasana terasa begitu hangat, intim, dan penuh gelak tawa kecil di antara mereka.
Kebersamaan yang hangat di warteg langganan itu mendadak berubah menjadi kepanikan. Di tengah suapan makanan, Acha tiba-tiba berhenti mengunyah.
Wajahnya yang tadinya ceria mendadak memucat pasi, sementara kedua tangannya spontan meremas perut bagian atas dengan ekspresi menahan sakit yang luar biasa.
"Aduh..." rintih Acha pelan dengan suara bergetar.
Keringat dingin seketika bercucuran di pelipisnya, membuat napasnya tersengal-sengal.
Melihat perubahan drastis pada kekasihnya, Nathan langsung terkejut setengah mati. Dia meletakkan sendoknya dengan kasar dan buru-buru beranjak dari kursi.
"Acha! Kamu kenapa? Ada yang sakit?" tanya Nathan dengan nada panik, suaranya hampir tenggelam oleh kebisingan warteg.
Acha menggelengkan kepalanya lemah, namun ringisannya semakin menjadi-jadi. Asam lambungnya rupanya kumat secara tiba-tiba.
kemungkinan besar dipicu oleh kombinasi rasa lelah, kurang tidur semalam, serta makanan pedas berminyak yang tidak sengaja disantapnya setelah perutnya sempat kosong seharian kemarin.
Mengingat Acha baru saja sembuh dari sakit dan kini malah drop di luar, Nathan tidak ingin ambil pusing. Tanpa pikir panjang.
Dia segera membayarkan makanan mereka, memapah Acha keluar dari warteg dengan hati-hati, dan mendudukkannya di atas motor.
"Bertahan sebentar ya, Cha. Kita langsung balik ke rumah aku sekarang," ucap Nathan penuh cemas.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Nathan langsung memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang namun pasti, membawa Acha kembali ke kamarnya agar gadis itu bisa segera berbaring dan mendapatkan pertolongan pertama.
Setibanya di rumah, Nathan segera mematikan mesin motornya dan dengan sigap membopong serta memapah Acha yang lemas memasuki kamar.
Sesampainya di dalam, dia langsung membaringkan tubuh kekasihnya itu dengan sangat hati-hati di atas tempat tidurnya yang empuk.
Acha tampak meringis pelan sambil memegangi perutnya yang terasa perih akibat asam lambungnya yang kambuh. Napasnya masih terdengar sesak dan wajahnya terlihat sangat pucat.
Melihat kondisi Acha yang mengkhawatirkan, Nathan teringat pesan dari orang rumah.
Dia dengan cepat menggeledah tas selempang Acha dan menemukan sekotak kecil obat lambung serta vitamin yang sebelumnya sudah disiapkan oleh Ranti.
Nathan dengan telaten menyiapkan segelas air hangat, lalu membantu Acha mengubah posisinya menjadi setengah duduk.
Sambil melontarkan kata-kata penenang dengan suara lembutnya, Nathan menyuapkan obat tersebut ke mulut Acha dan membantunya meminum air hangat perlahan-lahan.
"Pelan-pelan minumnya, Cha. Tarik napas yang dalam, ya... Semoga nyerinya cepat reda," bisik Nathan penuh perhatian, terus menemani dan mengelus lembut puncak kepala Acha demi mengurangi rasa sakit yang sedang melanda gadis itu.
Melihat Acha yang masih berbaring lemah dengan wajah menahan perih akibat asam lambungnya yang kambuh, Nathan merasa tidak tega.
Dia duduk di tepi ranjang, terus mengelus lembut lengan dan kepala kekasihnya untuk menenangkan rasa sakit yang melanda.
Pelan-pelan, Nathan mendekatkan wajahnya, memberikan kecupan lembut di kening Acha guna menyalurkan ketenangan.
Acha, yang masih lemas dan terkejut dengan tindakan tersebut, sempat menggelengkan kepala pelan tanda menolak, merasa tidak enak di tengah kondisinya yang sedang sakit.
"Aa mau ngapain" Ucap Acha merasa panik.
Namun, Nathan membisikkan kata-kata penenang dengan lembut, "Udah kamu tengah yah, santai aja, jangan takut kan ada aku" Ucap Nathan meminta Acha untuk memejamkan mata, rileks, dan membiarkan tubuhnya beristirahat.
Merasa nyaman dengan kehadiran dan kehangatan sang kekasih, penolakan Acha perlahan memudar dia mulai menurut dan membiarkan dirinya terhanyut dalam suasana yang menenangkan.
Dalam keheningan kamar tersebut, sentuhan Nathan yang semula membelai penuh kasih perlahan beralih memberikan kehangatan lebih di tubuh Acha, membuat gadis itu perlahan melupakan rasa sakitnya, merasa aman, dan menikmati setiap momen intim di sisi Nathan.
Rasa sakit yang tadinya mendera perut Acha perlahan-lahan seolah menguap, tergantikan oleh gelombang kehangatan dan debaran halus yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Sentuhan penuh perhatian dari Nathan berhasil merilekskan saraf-sarafnya yang tegang.
Tanpa Acha sadari, desahan tertahan lolos begitu saja dari celah bibirnya saat tangan Nathan memberikan kehangatan yang semakin intens.
"Ahhh....A.... Jang...ah..." Suara kecil itu seakan menjadi isyarat tak langsung yang membakar semangat dan keberanian Nathan lebih jauh lagi.
Mendengar desahan kekasihnya, Nathan semakin terbuai. Didorong oleh rasa sayang sekaligus hasrat yang kian membuncah, dia perlahan memasukkan tangannya menyusup ke dalam pakaian Acha, menyentuh langsung kulit halus di area dadanya dengan gerakan yang terukur dan penuh kelembutan.
"Ja... Nga... An...A" Ucap Acha mencegah tangan Nathan masuk kedalam bajunya.
"Sayang kamu tentang yah, kita lakukan semuanya pelan pelan, aku janji kamu gak akan merasakan sakit" Ucap Nathan menekankan nadanya menahan nada desahan.
Di tengah remang cahaya kamar dan keheningan sore itu, Acha tidak lagi melawan. Dia membiarkan dirinya sepenuhnya dikuasai oleh suasana, hanyut dalam pelukan dan sentuhan intim yang diberikan oleh sang kekasih.
Suasana di dalam kamar yang tenang semakin menghanyutkan keduanya. Di tengah debaran jantung yang berpacu cepat, Nathan menatap manik mata Acha yang sayu penuh kerinduan.
Dengan suara serak dan penuh kelembutan, dia melontarkan sebuah permintaan yang membuat napas Acha tertahan sejenak.
"Cha... Boleh ya, aku buka baju kamu?" bisik Nathan pelan, meminta izin dengan penuh kehati-hatian meski tangannya masih betah memberikan kehangatan di tubuh sang kekasih.
Acha menatap Nathan sejenak. Alih-alih merasa ragu atau menolak seperti sebelumnya, gelombang rasa percaya dan rasa sayang yang begitu besar pada sang kekasih membuat keraguannya lenyap seketika.
Tanpa berkata-kata, Acha justru mengangkat kedua tangannya sendiri, meraih ujung bajunya, dan perlahan-lahan membuka serta menanggalkan pakaiannya di hadapan Nathan.
Tindakan berani itu sontak membuat mata Nathan terbelalak kagum. Kulit putih bersih Acha kini terekspos di bawah temaram cahaya kamar.
Melihat kesempatan tersebut, Nathan langsung mendekat dengan penuh puja. Dia melingkarkan tangannya, merengkuh tubuh Acha.
Nathan mulai meraba serta memijat lembut sepasang gunung kembar kekasihnya yang kini hanya terhalang oleh kain bra tipis, menciptakan sensasi hangat yang membuat Acha kembali mendesah pelan dalam pelukannya.
Suasana di dalam kamar semakin hanyut dalam debaran dan kehangatan yang kian memuncak.
Napas keduanya terdengar memburu di tengah keheningan sore itu. Dengan pandangan penuh rasa ingin dan kasih sayang, Nathan menatap Acha yang terbaring pasrah dalam dekapannya.
"Cha... Boleh ya, aku cium dan jilat bagian sini kamu yah?" bisik Nathan pelan, meminta izin sekali lagi dengan penuh kehati-hatian untuk memastikan kekasihnya merasa nyaman.
Acha menatap manik mata Nathan dengan sayu, lalu mengangguk pelan sebagai tanda setuju.
Namun, dia menyertakan satu peringatan kecil dengan suara berbisik, "Iya... tapi pelan-pelan ya, A, takutnya sakit..."
Nathan mengangguk meyakinkan. Perlahan, dia membuka kaitan bra Acha dan mendekatkan wajahnya.
Begitu kulit mulus itu tersentuh, Nathan mulai menjilat perlahan panjang puting d4d4 Acha dengan penuh kelembutan.
"Ahhhh..... Hhhaaa.. Aa.. " Keluh Acha tak bisa menahan gejolak hasratnya.
Sentuhan hangat lidah Nathan yang basah di area sensitif itu membuat Acha langsung terperanjat kecil, dan tanpa sengaja sebuah desahan panjang lolos begitu saja dari bibirnya.
Beruntung bagi mereka, waktu menunjukkan sore menjelang malam dan para karyawan di tempat kerja luar sudah pulang semua, sehingga suara desahan itu aman dari pendengaran orang lain.
Mendengar respons Acha yang begitu hanyut, Nathan semakin bersemangat namun tetap menjaga kelembutannya.
Dia mulai mengulumnya perlahan, sementara sebelah tangannya yang bebas bergerak menyusup ke bawah rok Acha, meraba dan menggosokkan jarinya dengan lembut di area kewanitaan kekasihnya yang terhalang pakaian dalam.
Sentuhan ganda yang begitu intens dan membuai itu membuat pertahanan Acha runtuh seketika.
Kepalanya menengadah ke belakang dengan mata terpejam, merasakan gelombang kenikmatan luar biasa yang membuat detak jantungnya berpacu tak karuan di dalam dekapan erat sang kekasih.
Meskipun suasana di dalam kamar begitu hanyut dalam keintiman dan emosi yang memuncak, Acha tiba-tiba tersadar ketika Nathan bersiap untuk melangkah lebih jauh.
Dengan gerakan cepat namun lembut, Acha meraih pergelangan tangan Nathan dan menahannya agar tidak bergerak lebih dalam ke balik roknya.
"Jangan, A..." bisik Acha dengan suara bergetar, menatap kekasihnya dengan pandangan yang menyiratkan keraguan sekaligus permohonan untuk berhenti sejenak.
Nathan yang melihat ekspresi dan mendengar ucapan Acha langsung menghentikan gerakannya. Sebagai kekasih yang sangat menghargai dan menyayangi Acha, dia sama sekali tidak berniat untuk memaksa.
Nathan tahu persis batasan dan langsung mengerti apa yang dimaksud oleh kekasihnya itu, terlebih mengingat kondisi kesehatan Acha yang sebelumnya sempat drop dan asam lambungnya kambuh hari ini.
Meskipun hasrat dan kehangatan masih terasa di udara, Nathan menarik tangannya perlahan dengan senyuman pengertian.
Dia menatap Acha lekat-lekat, lalu memberikan kecupan lembut di kening gadis itu untuk menenangkan perasaannya.
"Iya, nggak apa-apa, sayang. Aku ngerti," ucap Nathan lembut dengan suara menenangkan.
Bagi Nathan, apa yang sudah mereka lewati hari ini mulai dari pelukan, ciuman, hingga cumbuan hangat tadi sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan rasa sayang mereka.
Dia tahu masih ada hari esok, dan urusan yang lebih jauh bisa mereka simpan dan lakukan lagi di lain waktu saat situasinya benar-benar tepat.
Suasana di kamar perlahan kembali tenang. Keduanya saling merangkul dalam kehangatan, menikmati sisa waktu sore hari dengan rasa aman dan pengertian yang semakin mempererat hubungan mereka.
Setelah suasana di dalam kamar kembali tenang dan mereka berdua duduk berdampingan merapikan diri, Nathan menarik napas pelan.
Dia menatap Acha dengan tatapan yang sedikit meredup, seolah ada sesuatu yang ingin dia ceritakan namun sempat tertunda karena momen keintiman tadi.
"Cha..." panggil Nathan pelan, memecah keheningan sore di kamarnya.
Acha menoleh, membalas tatapan sang kekasih dengan senyuman lembut. "Kenapa, A? Ada apa?" tanya Acha penasaran.
Nathan tersenyum tipis, lalu meraih tangan Acha dan menggenggamnya hangat. Dengan jujur, dia mulai menceritakan kondisi keuangannya akhir-akhir ini.
"Aku mau bilang sama kamu kalau aku baru saja menjual handphone aku yang terpaksa aku jual" Ucap Nathan bercerita bahwa beberapa hari yang lalu sedang ada masalah.
"Aku ngelakuin itu semua karena aku harus menutupi cicilan atau tagihan motornya yang sudah menunggak dan harus segera dibayar agar tidak berbunga atau ditarik" Ucap Nathan menjelaskan panjang lebar.
"Oke, aa tenang yah pelan-pelan aja aku gak bakal kemana mana" Ucap Acha memegang tangannya Nathan memberikan kekuatan.
"Setelah uang dari penjualan ponselnya aku pakai untuk melunasi tagihan itu Cha, sisa uangnya yang minim itu hanya cukup untuk membelikan aku sebuah handphone bekas keluaran lama yang kondisinya sudah agak usang dan murah."
Mendengar cerita tersebut, hati Acha seketika tersentuh. Dia kini paham mengapa beberapa hari sebelumnya Nathan sempat sulit dihubungi atau tidak ada kabar, yang sempat membuat Acha menangis khawatir.
"Aku mengerti kok kesulitan kamu, udah yah kan sekarang udah ada aku disini" Alih-alih merasa kecewa, Acha justru semakin mengagumi ketulusan dan kerja keras Nathan.
Pemuda itu tidak gengsi mengakui kesulitannya dan memilih bertanggung jawab penuh atas kewajibannya dibanding menurunkan gengsinya semata.
Acha membalas genggaman tangan Nathan erat-erat, memberikan senyuman paling tulus untuk menguatkan kekasihnya itu bahwa mereka akan selalu melewati masa-masa sulit bersama.
Mendengar cerita jujur dari Nathan mengenai perjuangannya melunasi tagihan motor hingga harus merelakan ponsel lamanya, rasa prihatin yang mendalam langsung menyelimuti hati Acha.
Seketika itu juga, ingatan Acha melayang pada hari-hari sebelumnya ketika dia sempat merasa cemas, sedih, dan menangis karena mengira Nathan mengabaikannya.
Ternyata, di balik sikap tenang Nathan selama ini, pemuda itu sedang memikul beban finansial yang cukup berat seorang diri.
Tidak ada secercah pun rasa kecewa atau gengsi di mata Acha. Yang ada justru gelombang rasa sayang dan empati yang semakin besar.
Acha tahu betul betapa kerasnya Nathan bekerja, mulai dari menyablon tatak sandal hingga membanting tulang demi memenuhi tanggung jawabnya.
Dengan mata yang berbinar tulus, Acha meraih wajah Nathan, lalu menatap manik mata kekasihnya itu lekat-lekat.
"Aa... kenapa nggak cerita dari kemarin-kemarin?" ucap Acha lembut, suaranya terdengar penuh ketulusan.
"Kalau aa lagi ada beban atau kesulitan kayak gini, jangan dipendam sendiri lagi yah. Kan ada aku di sini."
Nathan tertegun sejenak, menatap Acha dengan perasaan hangat yang tiba-tiba membuncah di dadanya.
Beban berat yang selama ini dia rasakan di pundaknya mendadak terasa jauh lebih ringan saat mendengar kalimat tersebut.
Acha lantas menggenggam tangan Nathan erat-erat, memberikan janji setianya.
"Mulai sekarang, aku janji akan selalu nemenin aa, disaat susah maupun senang. Aa bebas cerita apa aja sama aku, bagi semua kesedihan atau masalah aa sama aku, ya? Kita hadapi bareng-bareng."
Mendengar ketulusan dan dukungan penuh dari Acha, senyuman tulus akhirnya terukir di wajah Nathan.
Rasa lelah dan beban hidup yang selama ini menghimpitnya seolah lenyap seketika, terhapuskan oleh kehadiran seorang kekasih yang benar-benar mencintainya apa adanya.
Di dalam kamar yang sederhana itu, keduanya saling berpelukan erat, merajut kisah dan keyakinan untuk melangkah bersama menghadapi hari-hari ke depan.
Obrolan dari hati ke hati di kamar sederhana itu akhirnya harus disudahi oleh waktu.
Tanpa terasa, semburat jingga mulai menghiasi langit sore, menandakan hari semakin beranjak petang.
Melihat waktu yang kian senja, Nathan langsung teringat pada kedua orang tua Acha. Dia tidak ingin kekasihnya dicari-cari atau membuat Ranti serta Yanto merasa khawatir di rumah. Terlebih lagi, kondisi kesehatan Acha sempat drop dan asam lambungnya kambuh tadi siang.
"Cha, nggak terasa ya udah sore banget. Yuk, siap-siap. Aku antar kamu pulang sekarang, ya. Takutnya Mamah sama Papah kamu nyariin dan malah khawatir kalau kemalaman," ajak Nathan sambil meraih kunci motornya di atas meja.
Acha mengangguk patuh. Dia merapikan kembali pakaian serta tasnya, lalu menyunggingkan senyuman manis sebagai bentuk terima kasih atas perhatian dan hari yang luar biasa, meski sempat diwarnai sedikit drama kesehatan yang dia habiskan bersama kekasihnya.
Tidak lama kemudian, keduanya keluar dari rumah. Nathan dengan sigap membantu Acha naik ke atas motornya. Dengan kecepatan yang pas dan penuh kehati-hatian, Nathan memacu kendaraannya membelah jalanan sore menuju rumah Acha, memastikan kekasih hatinya tiba kembali di rumah dengan selamat, aman, dan membawa kenangan hangat di antara mereka.
Be to continued