Indonesia
NovelToon NovelToon
Putri Cacat Jadi Konglomerat

Putri Cacat Jadi Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Orang Disabilitas / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Dibuang oleh darah dagingnya sendiri hanya karena ia terlahir tidak sempurna.

Haruka tumbuh tanpa pelukan orangtua, tanpa tempat pulang. Dunia memandangnya sebelah mata... dihina, direndahkan, dianggap beban yang tak pantas hidup layak. Tapi di tengah semua penolakan itu, ada satu orang yang tak pernah melepaskannya: seorang nenek tua, satu-satunya yang mau memeluknya tanpa syarat.

Dari pelukan itulah tekad Haruka lahir. Ia bangkit, merangkak sejengkal demi sejengkal dari titik terendah, bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan satu hal: gadis cacat yang dulu mereka buang, kini akan berdiri lebih tinggi dari siapa pun yang pernah meremehkannya.

Akankah Haruka berhasil membungkam semua yang pernah menghinanya? Atau luka masa lalu akan terus menariknya kembali ke titik nol?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sembuh

Kabar itu sampai ke telinga Haruna tepat di tengah-tengah ujian try out yang sedang berlangsung. Seorang petugas tata usaha bergegas masuk ke ruang kelas, berbisik pelan kepada guru pengawas sebelum akhirnya menghampiri meja Haruna dengan wajah tergesa.

"Haruna, kamu dipanggil keluar. Ada kabar dari tetangga kamu, katanya penting banget," ucap petugas itu, suaranya berusaha tenang meski raut wajahnya menyiratkan sesuatu yang tidak baik.

Firasat buruk langsung menyergap dada Haruna. Ia bergegas meninggalkan lembar jawaban yang baru terisi separuh, berlari tertatih menuju ruang tata usaha di mana telepon sekolah masih tersambung.

Suara Bu Inah di seberang telepon terdengar panik dan terbata-bata, menjelaskan bahwa Nek Lasmi ditemukan tak sadarkan diri di lantai gubuk, kini sedang dilarikan ke puskesmas.

Dunia Haruna kembali runtuh seketika. Tanpa pikir panjang, ia berlari keluar dari sekolah, mengabaikan panggilan gurunya yang mencoba menahannya, mengabaikan ujian try out yang begitu penting bagi masa depannya. Satu-satunya yang ada dalam pikirannya sekarang hanyalah Nek Lasmi.

Sepanjang jalan menuju puskesmas, Haruna berlari sekuat tenaga yang dimilikinya. Namun kaki yang tak sempurna itu berkali-kali membuatnya terjungkal jatuh ke tanah. Lututnya lecet, telapak tangannya tergores kerikil tajam. Namun rasa sakit fisik itu sama sekali tak sebanding dengan kepanikan luar biasa yang menghantam dadanya. Setiap kali terjatuh, ia segera bangkit lagi, memaksakan diri untuk terus berlari meski air mata sudah membanjiri wajahnya, bercampur keringat dan debu jalanan.

Di tengah pelarian penuh derita itu, sebuah tekad baru tertanam kuat dalam hati Haruna. Ia tidak peduli lagi pada sekolah, pada ujian, pada masa depan yang selama ini ia perjuangkan mati-matian.

Yang ia inginkan hanya satu... berada di samping Nek Lasmi, menjaga wanita yang telah menyelamatkan hidupnya itu, sampai kapan pun itu dibutuhkan.

"Nenek harus baik-baik aja," gumamnya berulang-ulang di sela napas yang memburu, "Haruna janji, Haruna nggak akan sekolah lagi. Haruna cuma mau jaga Nenek."

Sesampainya di puskesmas dengan tubuh penuh peluh dan luka lecet, Haruna langsung disambut Bu Inah yang menunggu cemas di depan ruang perawatan, wajahnya pucat pasi dipenuhi rasa bersalah yang mendalam.

"Haruna, maafin Ibu," ucap Bu Inah begitu melihat kedatangan gadis itu, suaranya bergetar hebat. "Ibu cuma tinggal sebentar ke belakang. Eh, pas balik, Nenek udah jatuh nggak sadarkan diri. Maafin Ibu, Har, harusnya Ibu lebih hati-hati jagain Nenek."

Sesaat, amarah sempat menyeruak dalam dada Haruna. Namun ia segera menahannya, menyadari bahwa Bu Inah sama sekali bukan orang yang harus disalahkan. Wanita itu sudah begitu banyak membantu tanpa pamrih selama ini, bahkan rela meninggalkan urusan rumah tangganya sendiri demi menjaga Nek Lasmi. Sebuah kecelakaan tak bisa disalahkan sepenuhnya pada satu orang.

"Nggak apa-apa, Bu. Ini bukan salah Ibu," ucap Haruna, meski suaranya masih bergetar menahan tangis, "Ibu udah bantu Haruna dan Nenek banyak banget. Haruna yang harusnya berterima kasih."

Tak lama pintu ruang perawatan terbuka, dan seorang dokter melangkah keluar dengan wajah yang sulit ditebak ekspresinya. Haruna langsung menghampirinya, hatinya berdegup kencang menahan kecemasan yang luar biasa.

"Dok, gimana keadaan Nenek saya?" tanya Haruna, suaranya penuh harap sekaligus ketakutan.

Dokter itu menatap Haruna sejenak, matanya menyiratkan sesuatu yang sulit diucapkan dengan kata-kata. "Kamu... sebaiknya banyak-banyak habiskan waktu bersama Nenek kamu sekarang," ucapnya pelan, tanpa penjelasan lebih lanjut, sebelum akhirnya berlalu meninggalkan Haruna yang berdiri mematung di tempatnya.

Sebagai gadis yang selama ini dikenal begitu cerdas, Haruna paham betul makna tersembunyi di balik kalimat singkat itu. Sesuatu yang begitu berat, yang tak sanggup diucapkan secara langsung oleh sang dokter, kini menghantam kesadarannya dengan begitu telak.

Dengan langkah gemetar, Haruna melangkah masuk ke dalam ruang perawatan. Namun begitu pintu terbuka, ia justru disambut pemandangan yang membuatnya terkejut... Nek Lasmi terbaring di ranjang dengan wajah yang tampak jauh lebih segar, bibirnya yang dulu kaku kini bisa tersenyum sempurna, matanya berbinar cerah seperti dulu.

"Haruna," panggil Nek Lasmi, suaranya jernih dan jelas, jauh berbeda dari gumaman tak jelas yang selama ini Haruna dengar.

Air mata Haruna langsung mengalir deras mendengar suara itu. Jauh di lubuk hatinya, ia tahu betul apa arti dari perubahan mendadak ini, sebuah pengetahuan pahit yang pernah ia baca dalam buku-buku kesehatan tentang kondisi pasien kritis.

Namun saat ini, Haruna memilih untuk menutup mata dari kenyataan itu, memilih untuk menipu dirinya sendiri sejenak, membiarkan dirinya percaya bahwa ini adalah keajaiban kesembuhan yang sesungguhnya.

"Nek..." Haruna berlari kecil menghampiri ranjang, menggenggam tangan neneknya erat-erat.

"Nenek udah sembuh, Nak," ucap Nek Lasmi, tersenyum lebar, tangannya mengusap lembut pipi Haruna yang basah oleh air mata. "Nenek udah bisa ngomong jelas lagi, kan? Alhamdulillah."

"Iya, Nek. Alhamdulillah," Haruna mengangguk, mencoba tersenyum meski hatinya terasa hancur berkeping-keping, seolah ada firasat yang begitu jelas namun ia paksa untuk diabaikan.

"Makanya, sekarang Haruna harus fokus sekolah lagi, ya. Lanjut kuliah, jangan lagi mikirin Nenek terus," lanjut Nek Lasmi, suaranya penuh keyakinan. "Nenek udah nggak akan ngerepotin Haruna lagi setelah ini. Nenek janji."

Mendengar kalimat itu, tangis Haruna semakin pecah tak terbendung. Ia menggeleng kuat, namun tak sanggup mengeluarkan satu kata pun dari bibirnya yang bergetar hebat.

"Haruna," Nek Lasmi menatap cucunya lekat-lekat, suaranya melembut namun penuh ketegasan, "Nenek mau Haruna janji sama Nenek. Janji Haruna akan selesaikan sekolah, lanjut kuliah, jadi sarjana yang paling pintar. Wujudkan semua cita-cita yang dulu Haruna impiin sejak kecil. Janji sama Nenek, ya?"

Haruna hanya bisa terdiam, isakannya semakin keras. Namun Nek Lasmi terus menatapnya penuh harap, menunggu jawaban yang begitu ia inginkan.

"Janji, Nak?" ulang Nek Lasmi lembut namun mendesak.

Dengan hati yang terasa teriris-iris. Haruna akhirnya mengangguk pelan, suaranya nyaris tak terdengar di antara isakan yang tak kunjung reda. "Haruna janji, Nek. Haruna akan jadi orang sukses, seperti yang Nenek mau."

Mendengar janji itu, wajah Nek Lasmi berseri-seri, senyum lega terpancar jelas di bibirnya. "Alhamdulillah," bisiknya penuh syukur.

Setelah beberapa saat terdiam menikmati kebersamaan itu, Nek Lasmi kembali membuka suara, kali ini terdengar lebih lemah. "Nak, Nenek ngantuk banget rasanya. Nenek mau tidur dulu, ya."

Haruna mengangguk. Meski ada sesuatu di dalam dadanya yang terasa begitu berat, seolah ada bagian dari dirinya yang menjerit menolak permintaan sederhana itu. "Iya, Nek. Tidur aja."

"Nenek boleh tidur, kan?" tanya Nek Lasmi lagi, seolah meminta izin yang begitu tulus, matanya menatap penuh kasih ke arah cucunya.

Dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti, Haruna mengangguk perlahan. Meski setiap serat hatinya berteriak menolak. "Boleh, Nek. Tidur yang nyenyak, ya."

Sebelum benar-benar menutup matanya, Nek Lasmi menatap Haruna lama sekali. Seolah ingin merekam setiap detail wajah cucu kesayangannya itu untuk selamanya. "Haruna," bisiknya lembut, "Nenek sayang banget sama Haruna. Sayang banget, Nak."

"Haruna juga sayang banget sama Nenek," jawab Haruna terisak, menggenggam tangan neneknya semakin erat. Seolah tak rela melepaskannya barang sedetik pun.

Dengan tangan yang masih tersisa sedikit tenaga, Nek Lasmi mengangkat jarinya, mengusap lembut air mata yang terus mengalir deras di pipi Haruna. "Udah, jangan nangis lagi, ya Nak. Nenek nggak suka lihat Haruna nangis."

Mendengar permintaan itu, Haruna mati-matian berusaha menahan isakannya. Memaksakan sudut bibirnya untuk membentuk senyuman meski rasanya begitu berat dan menyakitkan. Seolah setiap otot di wajahnya menolak untuk tersenyum di tengah kepedihan yang begitu besar.

Melihat senyum yang dipaksakan itu, Nek Lasmi justru tersenyum lebih lebar, matanya berbinar penuh kebanggaan. "Nah, gitu dong. Senyum Haruna itu paling cantik sedunia," ucapnya lembut, suaranya semakin melemah. "Nenek bangga banget... punya cucu kayak Haruna."

Setelah mengucapkan kalimat itu, perlahan-lahan kelopak mata Nek Lasmi mulai menutup. Ekspresi wajahnya begitu tenang dan damai, seolah tak ada lagi beban yang menggelayuti hatinya.

Namun itu bukanlah tidur biasa yang selama ini Haruna kenal. Genggaman tangan yang tadinya masih terasa hangat itu perlahan melemah, lalu benar-benar terkulai lunglai di atas ranjang. Napas yang tadi masih bisa Haruna rasakan, kini perlahan menghilang, digantikan oleh keheningan yang begitu menyayat, mencekam seluruh ruangan.

"Nek?" panggil Haruna pelan, suaranya bergetar hebat, menggenggam tangan itu lebih erat, berharap ada respons yang akan kembali. "Nek, bangun, Nek..."

Namun tak ada jawaban. Tak ada lagi kedipan mata, tak ada lagi senyum hangat yang selalu menenangkan hatinya sejak kecil.

Wanita tua yang telah menyelamatkannya dari teras rumah kosong belasan tahun silam, yang membesarkannya dengan cinta tanpa syarat di tengah keterbatasan, yang selalu ada di setiap air mata dan tawa yang pernah ia lewat. Kini telah pergi untuk selamanya, meninggalkan Haruna sendirian di dunia yang begitu luas dan sunyi.

1
Ilfa Yarni
akhirnya ank kandung dan ank pungutnya bagas bertemu gmn kelanjutannya ya
Iffanaya 😽
nah kan ternyata anak angkat bahkan istri nya sendiri gk tau, kyk nya setelah buang Hanura ngangkat anak buat gantiin Hanura
Ilfa Yarni
akhirnya ank pungutnya satu universitas dgn haruna aku ingin lihat gmn reaksi bagas klo ketemu haruna apakah dia sadar klo itu ank yg dia buang
Muft Smoker
apa reynand ank yg di ambil Bagas setelah buang haruna ,, buat gantiin haruna???
Iffanaya 😽
apa setelah buang haruna, Larasati hamil lg tp umur nya 18 thn seumuran haruna 🤔
Ilfa Yarni
nah lo wmang enk ank kandung dibuang itu sireynan km pungut dmn
Iffanaya 😽
duuuh jd nangis aku Thor bacanya 😭😭 sedih bgt semangat haruna
Ilfa Yarni
aaa aku Baca ini nagis trus semangat ya haruna km bisa bumtikan pd dunia bahwa ketidaksempurnaan tubuhmu tidak akan menghalangi kesuksesanmu
Muft Smoker
semangat trus haruna ,,
aq GX bakal bosen buat ngucapin kata tu ,,
disaat org yg sempurna byk yg malas2aan ,, Krn merasa punya hidup yg serba berkecukupan ,,
malah menyia2kan hidup muda ny ,,
sedangkan km yg punya kekurangan tdk prnh menyrut kan semangat mu ,,
nenek mu pasti bangga melihat mu dari atas sana haruna ,,
Ilfa Yarni
aaaa sedih bamget aku sampe nangis bacanya aku benci sama kedua orangtua aruna yg tega membuangnya krn kakinya ga normal
Ilfa Yarni
huhuhu. sedih bamget
Muft Smoker
terkadang emnk kondisi seseorang yg di bilang parah ,,
tau2 keliatan ny sembuh seperti biasa ,, yx pertanda kalo tu kondisi sementara sebelum mereka pergii ,, 🥹😭😭😭 ,,

semangat trus haruna ,, km boleh berduka ,, tp cita2 jgn sampe di lupain,,
Muft Smoker
km bnr haruna ,, mimpi bisa menunggu tp nenek mu entah sampai Kpn bisa nunggu ,,
semangat haruna ,,
ni hanya kesuksesan yg tertunda ,,
msh ad jalan lain menuju sukses yg bisa km raih ,,
Muft Smoker
semangat haruna ,, di balik ini semua pasti ada kejutan besar buat dirimu ,,
Ilfa Yarni
knp tib2 begitu kan jadi pecah konsentrasi haruna
Ilfa Yarni
km sangat pintar haruna km pasti bisa mask universitas itu
Muft Smoker
semangat haruna ,, km pasti bisa sukses ,,
Ilfa Yarni
km pasti sukses haruna aku yakin itu
Muft Smoker
semangat haruna ,,
km harus tunjukin ma org2 yg jahatin km ,,
kalo keterbatasan km tdk menghilang kan semangat km belajar ,,
Ilfa Yarni
Ayo hatina tunjukkan klo km itu pintar biar mrk yg jahat pdmu melongo krn syok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!