“Di balik senyum indahnya, tersimpan luka yang tak pernah terlihat.”
mas aku bukan orang baik pergih saja:"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
wanita malam: senyuman licik
Jessica berusaha mencari perhatian orang tua Kevin dengan memasang wajah memelas, seolah ingin dikasihani.
"Tante... sepertinya Kevin tidak menyukai kehadiranku di sini ya?"
"Jangan begitu, Sayang. Kevin kebetulan sedang banyak urusan saja. Kamu tidak perlu khawatir."
"Om dan Tante akan memastikan hubunganmu dengan Kevin berjalan lancar."
"Terima kasih banyak atas dukungan Om dan Tante." Jessica menunduk lemah. "Aku hanya takut Kevin memang tidak menyukaiku. Aku tidak ingin memaksakan perasaannya padaku."
"Bersabarlah, Jessica. Kevin memang wataknya dingin begitu. Lama-kelamaan dia juga akan berhati baik kok. Kamu tenang saja ya."
"Iya, Tante..." ucapnya sambil memeluk Ibu Kevin.
Di dalam hati, Jessica yang sudah merencanakan segalanya hanya tersenyum licik.
Kevin, kamu itu milikku. Tidak boleh ada orang lain yang memilikimu.
"Oh iya, Tante, kebetulan sudah malam. Aku izin pulang dulu ya. Om, Tante, selamat tinggal."
"Hati-hati di jalan ya, Jessica."
"Iya, Tante."
Jessica pun pergi meninggalkan kediaman keluarga Mahendra.
Setelah kepergiannya, Ibu Kevin mengeluarkan kekesalannya terhadap sikap anaknya.
"Pa, kenapa sih Kevin begitu sekali? Dia tidak menghormati kita sebagai orang tuanya. Dia malah memilih wanita rendahan itu dibandingkan Jessica."
"Aku benar-benar pusing dengan sifat keras kepala anakmu ini."
"Tenang saja, Ma. Perjodohan ini sudah lama Papa tetapkan. Kamu tidak perlu cemas akan hal itu."
"Kevin kemungkinan besar hanya main-main saja. Nanti kalau dia sudah bosan, pasti akan membuang gadis itu."
"Dia mustahil benar-benar mencintai gadis itu, Ma. Dia wanita dari kalangan bawah, sedangkan kita jauh berbeda. Tidak mungkin Kevin mengorbankan reputasinya hanya demi wanita seperti itu."
"Benar juga apa yang Papa katakan. Kevin mungkin hanya tertarik sesaat. Pasti dia akan meninggalkan wanita itu. Tidak pantas rasanya keluarga Mahendra menerima wanita seperti itu ke dalam lingkaran kita."
"Sabar saja, Ma. Papa akan membujuk Kevin agar meninggalkan wanita itu."
"Kamu tenang saja, tidak perlu dipikirkan terus."
"Iya, Papa... Mungkin aku yang terlalu memikirkannya. Anakku sampai berani melawan orang tuanya gara-gara rasa suka seperti itu."
"Aku tidak akan terima jika mereka bersatu. Aku sama sekali tidak setuju."
"Papa akan berusaha sebaiknya ya, Ma. Semoga Kevin segera berubah pikiran dan meninggalkan wanita itu."
Jessica berhasil memainkan peranannya dengan manis dan lemah, membuat orang tua Kevin semakin memihak padanya dan membenci Alya. Di balik pintu, mereka merencanakan segala cara untuk memisahkan Kevin dan Alya, dengan meremehkan latar belakang gadis itu. Kevin yang tidak tahu apa-apa sedang berjuang sendiri, sementara Alya menjadi sasaran kebencian yang tidak adil.
Nenek yang ternyata mendengarkan percakapan itu dari kejauhan pun mulai angkat bicara.
"Sebaiknya kalian jangan terlalu ikut campur urusan anak muda. Biarkan Kevin sendiri yang menentukan siapa pilihannya. Kalian sebagai orang tua seharusnya mendukung, bukan memaksakan kehendak sendiri."
"Bukan begitu, Ibu," sanggah Mama Kevin. "Wanita itu memang sama sekali tidak pantas untuk Kevin. Pasti dialah yang memengaruhi pikiran anak kami sampai seperti ini. Entah dengan cara apa dia bisa membuat Kevin mencintainya begitu."
Nenek menatap tajam namun lembut. "Aku hanya menginginkan yang terbaik untuk cucuku. Jangan sampai kalian merampas kebahagiaannya.
Kata-kata Nenek menjadi teguran keras yang menembus kesombongan mereka. Ia tidak terperdaya oleh status atau kepura-puraan. Baginya, perasaan tulus dan kebahagiaan Kevin jauh lebih berharga daripada sekadar perjodohan menguntungkan dan nama besar keluarga. Keberpihakan Nenek menjadi satu-satunya harapan di tengah kebencian orang tua Kevin terhadap Alya.
Kevin merasa cemas, ia terus mencoba menghubungi Alya namun tak kunjung diangkat. Kenapa dia ya? Ada apa gerangan?
Rasa khawatir mulai memenuhi hatinya. Ia pun segera menghubungi Dion.
"Dion, apakah Nona Alya masih ada di rumah sakit?"
"Masih ada, Tuan. Sedang menemani ibunya."
"Baik, aku segera ke sana."
"Baik, Tuan. Saya akan menunggu dan menjaga di sini."
Kevin menghela napas lega mendengar kabar itu, namun rasa rindu dan ingin segera bertemu tak bisa ditahan lagi. Ia menginjak gas lebih cepat, berharap bisa segera sampai di samping Alya untuk menenangkan jarak yang sempat tercipta, serta melepaskan rasa muak dari sandiwara di rumah utama.
Ih, kenapa sih Om ini suka sekali mengirim pesan berturut-turut? Sudah tahu kalau sedang tidak enak hati, malas sekali rasanya harus membalasnya.
Kenapa ya akhir-akhir ini perasaanku sering sekali berubah-ubah? Mungkin memang sedang kesal, apalagi teringat tatapan mereka yang meremehkan itu.
Alya menyimpan ponselnya dengan sebal. Meski tahu niat Kevin baik, rasa rendah diri dan ketidak tenangan di hatinya membuatnya enggan merespons. Ia merasa terhimpit antara kasih sayang Kevin dan rasa tidak pantas yang terus dipupuk oleh lingkungan.
Kevin melaju kencang dengan mobilnya, akhirnya ia pun tiba di tujuan.
Ia melihat Alya sedang tertidur.
Ya tuhan.. dia sampai terlelap. Tidurnya begitu nyenyak.
Ibu Alya yang masih terjaga pun berbicara kepada Kevin.
"Nak Kevin... sepertinya Alya kelelahan menjaga Tante."
"Iya, Tante. Benar sekali, tidurnya sangat lelap."
"Bawalah Alya untuk beristirahat yang cukup ya."
"Baik, Tante. Kalau begitu aku pamit dulu."
"Hati-hati ya, Nak Kevin."
"Iya, Tante. Siap."
Kevin menggendong Alya dengan lembut menuju mobil.
"Dion, kamu yang menyetir ya. Biar aku dan Alya duduk di belakang. Dia sepertinya sangat lelah, aku takut mengganggu tidurnya."
"Baik, Tuan."
"Bawa mobilnya jangan terlalu kencang, jalannya pelan saja seperti biasa."
"Baik, Tuan."
Sepanjang perjalanan, Kevin tak lepas menatap wajah Alya—gadis polos dan manis yang membuat hatinya berdebar kencang. Aku sangat mencintaimu, Alya. Jangan pernah pergi dari sisiku, batinnya dalam.
Sangat lembut dan tenteram. Di dalam mobil yang bergerak tenang, Kevin merasa betapa berharganya Alya baginya. Jauh dari hiruk-pikuk tuntutan keluarga dan sandiwara Jessica, hanya ada mereka berdua dalam kehangatan yang sunyi. Ketulusan cintanya menjadi tameng bagi Alya yang sedang terlelap.
Tiba-tiba aku terbangun karena jalanan yang sedikit rusak berguncang.
Aku melihat Kevin di sampingku. Ternyata aku tertidur pulas di pangkuannya.
"Kamu sudah bangun?"
"Iya... aku sudah bangun. Kamu menjemput ku di rumah sakit ya?" tanyaku.
"Kenapa kamu tidak memberi kabar padaku? Pesanku dari tadi tidak dibalas."
Alya tersipu malu mengingat sikapnya yang tadi.
"Tadi... aku sedang menemani Mama."
"Kamu kenapa, Alya? Kok mukanya cemberut begitu?"
"Aku tidak kenapa-napa kok."
"Yaudah kalau begitu. Jangan cemburu terus nanti cepat tua lho kayak nenek-nenek."
"Ih, kamu ya! Malah mengejekku."
"Kalau aku nenek-nenek, berarti kamu kakek-kake dong."
"Tidak apa-apa kan? Menua bersama itu indah."
"Dasar Om-Om tukang gombal!"
Kekakuan di antara mereka perlahan mencair lewat candaan manis. Kevin dengan pintar meredam keraguan Alya, dan suasana yang tadinya dingin berubah menjadi hangat serta penuh kasih sayang. Kata-kata "menua bersama" terasa begitu dalam dan menenangkan hati Alya.
Tiba-tiba Kevin memelukku begitu erat, membuatku merasa sangat dekat dengannya.
"Kevin, jangan di sini ya... malu dong, ada Dion."
Kevin menoleh sedikit. "Dion, apakah kamu melihat atau mendengar apa-apa?"
"Tidak, Tuan," jawab Dion tenang dari depan.
"Tuh kan? Dion saja tidak merasa keberatan. Kamu cuma cari alasan saja," godanya.
"Ih, bukan begitu! Aku benar-benar malu dilihat orang," jawabku dengan wajah memerah padam.
Tanpa banyak bicara, Kevin langsung mencium kening Alya dengan lembut.
"Sudah ya, tidak usah malu lagi."
"Begitu dong..."
"Tapi ingat ya, begitu sampai rumah aku tidak akan melepaskan mu lagi."
"Ih, kok jadi takut begini..." ucapku sambil tersenyum tersipu.
Kecanggungan Alya perlahan hilang digantikan kehangatan dan rasa aman. Sikap Kevin yang tenang, sedikit menggoda namun penuh kasih, berhasil membuat senyum kembali terukir di bibirnya. Janji manis itu membuat hati Alya berdebar—campuran antara gugup dan bahagia yang meluap-luap.