Indonesia
NovelToon NovelToon
Penyesalan Suami: Istriku Ternyata Seorang Konglomerat

Penyesalan Suami: Istriku Ternyata Seorang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Kinara rela meninggalkan status sebagai anak konglomerat demi bisa menikah dengan kekasih hatinya. Ia rela hidup susah, menemani dari nol dan berjuang bersama dengan sang suami hingga sukses. Namun nyatanya semua pengorbanan itu tidak membuat kehidupan rumah tangga Kinara baik-baik saja. Setelah 5 tahun membina rumah tangga bersama, Rashid justru tega mengkhianatinya. Kinara ditalak dan dibuang begitu saja seperti barang yang tak lagi berguna.

Tak terima dikhianati, Kinara bertekad untuk membalas semua perbuatan mantan suami dan juga selingkuhannya. Mampukah Kinara kembali ke keluarga Santoso dan membalaskan dendam sakit hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 — Penyesalan?

Di dalam ruang perawatan, Marissa telah dipindahkan ke tempat tidur setelah pemeriksaan awal selesai. Seorang perawat memeriksa kondisinya secara berkala, sementara dokter menjelaskan bahwa ia perlu menjalani pemantauan lebih lanjut.

Marissa mendengarkan penjelasan itu dengan mata berkaca-kaca.

"Dokter, bagaimana dengan bayi saya?" tanyanya sekali lagi.

Dokter itu kemudian duduk di dekat tempat tidurnya agar dapat berbicara dengan lebih jelas. "Kami sedang mengevaluasi hasil pemeriksaan. Saya memahami bahwa Ibu sangat khawatir, tetapi kami perlu memastikan kondisi Ibu terlebih dahulu dan memantau perkembangan kehamilan dengan cermat."

Marissa menggenggam tangan perawat di sampingnya. "Saya hanya ingin anak saya baik-baik saja."

"Saya mengerti," jawab dokter lembut. "Kami akan melakukan yang terbaik untuk memberikan perawatan yang sesuai."

Setelah dokter meninggalkan ruangan, Marissa menoleh ke arah jendela. Cahaya pagi mulai masuk melalui celah tirai, tetapi pemandangan itu tidak memberinya ketenangan.

Marissa memejamkan mata, berusaha menahan air mata yang kembali mengalir. Tangannya bergerak perlahan menyentuh perutnya. "Maafkan Mama," bisiknya.

Suaranya begitu lirih hingga nyaris tak terdengar. "Mama seharusnya bisa memberikan kehidupan yang lebih baik untukmu."

Air mata mengalir di pelipisnya. Selama ini, Marissa selalu meyakinkan dirinya bahwa bertahan bersama Rashid adalah keputusan yang tepat. Ia berpikir bahwa setelah anak mereka lahir, mungkin Rashid akan berubah. Mungkin pria itu akan lebih memperhatikannya, lebih bertanggung jawab, dan akhirnya berhenti memikirkan Kinara.

Namun, kejadian pagi ini membuatnya mempertanyakan semua harapan yang selama ini ia bangun.

Bagaimana jika tidak ada yang berubah? Bagaimana jika anak mereka harus tumbuh di tengah pertengkaran yang sama?.Dan bagaimana jika suatu hari nanti ia kembali terluka hanya karena Rashid tidak mampu mengendalikan kemarahannya?

Marissa membuka mata, menatap langit-langit ruangan dengan tatapan kosong. Ia tidak lagi memikirkan bagaimana caranya membuat Rashid memilih dirinya. Yang ia inginkan sekarang adalah dirinya dan anaknya selamat.

Menjelang siang, Rashid akhirnya diperbolehkan menemui Marissa setelah kondisi perempuan itu dinilai cukup stabil untuk menerima kunjungan singkat. Ia memasuki ruangan dengan langkah pelan.

Marissa terbaring di tempat tidur, wajahnya masih pucat. Sebuah alat pemantau terpasang di dekatnya, sementara cairan infus mengalir melalui selang kecil di tangannya.

Ketika menyadari kedatangan Rashid, Marissa menoleh sekilas sebelum kembali memalingkan wajah.

Rashid berhenti di sisi tempat tidur. "Marissa,” panggilnya pelan. "Aku sudah berbicara dengan dokter. Mereka masih melakukan pemantauan untuk memastikan kondisi kehamilanmu."

Marissa tetap diam, ia tahu Rashid datang dan memanggilnya, tetapi ia enggan untuk menatap wajah pria itu.

Rashid menarik kursi, lalu duduk di samping tempat tidurnya. Untuk beberapa saat, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Biasanya, ia akan langsung menyampaikan pendapatnya, membela diri, atau mencari cara agar percakapan berakhir sesuai keinginannya. Namun, kali ini semua kalimat yang muncul di benaknya terasa tidak pantas diucapkan.

Akhirnya, ia menunduk. "Aku minta maaf."

Marissa masih berpura-pura memejamkan mata. Rasanya, sekarang ia begitu muak melihat Rashid, apalagi setelah semua yang terjadi.

Rashid mengangkat wajahnya. "Marissa. Aku tahu kau sudah bangun."

"Aku tidak ingin melihatmu sekarang. Pergilah," katanya pada akhirnya. Suaranya terdengar lemah, tetapi cukup tegas untuk membuat Rashid terdiam.

"Aku bilang pergi, Rashid. Kau tidak dengar?." Marissa menarik napas perlahan. "Aku sangat lelah sekarang."

Rashid menunduk kembali. "Aku tahu aku salah. Aku hanya ingin menemanimu di sini."

"Jika kau benar-benar tahu, seharusnya kau tidak melakukan itu kepadaku." Tidak ada teriakan dalam suara Marissa. Tidak ada pula kemarahan yang meledak-ledak seperti ketika mereka bertengkar di rumah. Tetapi justru ketenangan itulah yang membuat Rashid kesulitan menatapnya.

"Aku takut kehilangan anakku," lanjut Marissa. "Aku bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Aku hanya bisa berbaring di sini dan menunggu dokter memberitahuku apakah anakku baik-baik saja." Ia berhenti sejenak. Air mata menggenang di sudut matanya. "Dan semua itu terjadi karena ulahmu!"

Rashid meremas jemarinya sendiri. "Aku tidak pernah berniat membuatmu terluka."

"Tetapi kau sudah melukaiku, tanpa sadar."

Kalimat itu membuat Rashid tidak mampu menjawab.

Marissa menoleh kepadanya untuk pertama kalinya sejak ia memasuki ruangan. "Aku memang marah kepadamu. Aku juga mengatakan banyak hal yang mungkin tidak ingin kau dengar. Namun, itu tidak memberimu hak untuk menyakitiku."

"Aku tahu."

"Apakah kau tahu bagaimana perasaanku ketika melihatmu berdiri di hadapanku tadi pagi?" Marissa menelan ludah. "Aku bukan hanya takut karena terjatuh. Aku takut karena untuk pertama kalinya, aku benar-benar tidak tahu apakah aku aman berada di dekatmu."

Rashid merasa dadanya seperti dihantam sesuatu.

Ia ingin mengatakan bahwa dirinya tidak akan pernah menyakiti Marissa lagi. Ia ingin berjanji bahwa kejadian seperti ini tidak akan terulang. Tapi, ia juga menyadari bahwa janji yang diucapkan begitu saja tidak akan menghapus ketakutan perempuan itu.

"Aku tidak akan memaksamu bicara denganku," katanya akhirnya. "Kau bisa beristirahat. Aku akan menunggu kabar dari dokter di luar."

Marissa kembali memalingkan wajah sambil mengusap air matanya.

Rashid berdiri perlahan. Sebelum meninggalkan ruangan, ia sempat menatap perempuan itu sekali lagi.

Tidak ada yang berubah pada wajah Marissa, tetapi ia tahu bahwa sesuatu di antara mereka telah retak lebih jauh.

Ketika pintu tertutup di belakangnya, Rashid berdiri beberapa saat di lorong. Ia datang ke rumah sakit dengan harapan semuanya masih bisa diperbaiki melalui permintaan maaf. Tapi, percakapan singkat itu membuatnya menyadari bahwa ada luka yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengucapkan kata maaf.

Rashid harus menghadapi kenyataan bahwa Marissa kini takut kepadanya dan ketakutan itu muncul bukan karena perkataan orang lain, tetapi karena tindakannya sendiri.

Beberapa jam kemudian, dokter kembali menemui Rashid untuk menjelaskan perkembangan kondisi Marissa. Rashid segera berdiri dari kursi tunggu. "Bagaimana keadaan Marissa, Dokter?"

"Kondisinya cukup stabil untuk saat ini, tetapi kami masih perlu melakukan pemantauan. Kami akan menjelaskan hasil pemeriksaan kehamilannya setelah evaluasi selesai."

Rashid mengangguk cepat, berusaha memahami setiap kata. "Apakah saya boleh menemuinya lagi?"

"Boleh, selama pasien bersedia dan kunjungan tidak mengganggu perawatannya."

"Baik, Dokter. Terima kasih."

Setelah dokter pergi, Rashid kembali duduk, ia belum mendapatkan seluruh jawaban yang diinginkannya. Kekhawatiran mengenai anak yang dikandung Marissa masih membayangi pikirannya, sementara rasa bersalah atas kejadian pagi tadi semakin sulit diabaikan.

Ponselnya bergetar di dalam saku, beberapa pesan masuk dari kantornya, menanyakan jadwal rapat dan sejumlah persoalan yang membutuhkan persetujuannya. Ada pula panggilan tak terjawab dari asistennya.

Biasanya, Rashid akan segera menanggapi semua itu. Ia tidak suka membiarkan pekerjaan menumpuk, terlebih ketika perusahaannya sedang menghadapi tekanan dari sejumlah mitra bisnis. Tetapi kali ini ia hanya memandangi layar ponselnya sebelum mematikannya.

Untuk sementara, tidak ada rapat yang lebih penting daripada menunggu kabar mengenai Marissa dan anak mereka. Ia menyandarkan kepala ke dinding, memejamkan mata, lalu mengembuskan napas panjang.

Bayangan Kinara kembali melintas di benaknya, tetapi kali ini ia segera menepisnya. Ia tidak ingin menjadikan perempuan itu sebagai pelarian dari kenyataan yang sedang dihadapinya. Kinara telah memilih jalannya sendiri. Sementara dirinya harus bertanggung jawab atas jalan yang ia pilih.

Di balik pintu ruang perawatan, Marissa masih menjalani pemantauan medis. Masa depan kehamilannya belum dapat dipastikan sepenuhnya, dan hubungan mereka pun berada di titik yang semakin sulit diperbaiki.

Rashid tidak tahu bagaimana semuanya akan berakhir.

Namun, satu hal mulai ia pahami, kehilangan bukanlah alasan untuk melukai orang lain, dan penyesalan tidak akan pernah menghapus tanggung jawabnya.

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
semoga mereka selamat 😣
Dini Anggraini
ini pasti do'a Kirana dan air mata Kirana yang telah jatuh terlalu banyak mangkanya rumah tangga pelakor dan rasyid gak berkah ada saja cobaannya kak. 🥰
Dini Anggraini: kinara kak salah ketik saya 🙏
total 1 replies
Lee Mba Young
laki tukang selingkuh itu kl bikin Salah dng jalang nya selalu minta maaf.
tp kl bikin Salah dng istri sah gk pernh minta maaf.

gedek banget semoga karma nya makin menyakit kan buat Rasyid Dan Marisa
Lee Mba Young
gk seru jalang gk keguguran. hrse keguguran trus gk bisa hamil lagi 🔥 biar nnti Rasyid selingkuh 🤣.

cm gitu tok gk seru banget.
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Cerita yg sangat menyentuh 👍🏻👍🏻👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
waduh 😣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kau tidak bisa
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
tidak akan bisa 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Rasakan 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
🥺🥺🥺
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
itu kesalahanmu sendiri 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
baru sadar ya 🤣🤣🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
mengacak rambutnya
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sembarangan, bertemu ortu lah 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Rasain 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kinara
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Lihat sendiri kan kelakuannya 🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kau hanya akan mendapat malu 😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!