Indonesia
NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia

Pernikahan Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: songjihee

Mala Jinaya tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.

Ia hanya seorang junior di sebuah perusahaan yang terbiasa menunduk, mengalah, dan berkata "nggak apa-apa" setiap kali rekan senior memanfaatkannya.

Sampai sebuah kejadian membuatnya harus menikah diam-diam dengan Rafael Ibra—lead engineer yang bahkan nyaris tidak pernah ia temui di kantor.

Tidak ada pesta.

Tidak ada cinta.

Bahkan, tidak ada perasaan apapun di antara mereka.

Hanya sebuah pernikahan yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Dan yang lebih buruk, mereka harus berpura-pura tidak saling mengenal di tempat kerja.

Namun akankah mereka akan tetap begitu? atau ada yang berubah seiring berjalannya waktu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon songjihee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Pernikahan

"Saya terima nikah dan kawinnya Mala Jinaya binti Majaya dengan mas kawin tersebut, tunai."

"Sah?"

"Sah!"

Jawaban kedua saksi terdengar hampir bersamaan. Penghulu yang duduk di hadapan Ibra mengangguk, lalu memastikan kembali bahwa ijab kabul telah terlaksana dengan benar usai menengadah dan membaca doa.

"Alhamdulillah. Dengan demikian, Saudara Rafael Ibra dan Saudari Mala Jinaya telah sah menjadi suami istri."

Suami istri? Kata itu terdengar asing. Ia tidak pernah membayangkan akan duduk di hadapan penghulu, mendengar seorang laki-laki mengucapkan ijab kabul atas namanya, lalu dinyatakan sah sebagai istrinya.

Semua terasa begitu cepat.

Beberapa waktu lalu, Ibra masih sebatas atasan kerja yang hampir tak pernah berbicara dengannya. Mereka bahkan tidak pernah benar-benar dekat. Namun hari ini, laki-laki itu sudah menjadi suaminya.

Naya melirik Ibra sekilas. Laki-laki itu tampak tenang, meskipun ia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang dipikirkan Ibra.

Di sisi lain, Ibra sendiri masih berusaha mencerna perubahan status di antara mereka. Ia sudah mengucapkan ijab kabul, sudah mendengar para saksi menyatakan sah, dan kini cincin pernikahan melingkar di jari mereka.

Tidak ada yang bisa ditarik kembali dari keputusan yang sudah diambil.

Ibra melirik Naya yang kembali menunduk. Ia tahu perempuan itu belum sepenuhnya menerima keadaan mereka. Bahkan, ia sendiri masih harus belajar memahami bagaimana seharusnya bersikap kepada perempuan yang kini menjadi istrinya.

Namun, setidaknya, mulai hari ini ia tidak lagi hanya bertanggung jawab atas kejadian yang membawa mereka sampai ke titik ini. Ia juga bertanggung jawab atas kehidupan yang akan mereka jalani setelahnya.

Naya menunduk. Jemarinya saling bertaut di atas pangkuan. Perlahan Ibra menggenggam tangan Naya, Naya yang mengerti langsung menyalimi, begitupula Ibra yang langsung mencium kening Naya, sebelum akhirnya menarik diri dan melepaskan tangan Naya.

Naya justru masih memandangi cincin di jarinya. Ia menggerakkan tangannya sedikit, memastikan bahwa benda itu benar-benar terpasang di sana. Kemudian, tanpa sadar, ia mengangkat pandangan dan mendapati Ibra sedang memperhatikannya.

Keduanya sempat bertatapan sebelum Naya buru-buru mengalihkan pandangan. Ibra pun kembali menunduk, berusaha menyembunyikan kecanggungan yang sama.

Naya masih bisa merasakan singkatnya sentuhan itu. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Selama ini, dia menghindari Ibra namun sekarang laki-laki itu sudah melakukan sesuatu yang hanya pernah ia bayangkan dilakukan oleh seorang suami kepada istrinya.

Naya mengembuskan napas pelan, lalu kembali menunduk. Ia tidak ingin memikirkan terlalu jauh apa arti semua ini. Baginya, menerima keadaan hari ini saja sudah cukup sulit.

"Terima kasih," ucap Ibra pelan. Naya mengangguk kecil.

Tidak ada percakapan lebih lanjut di antara mereka. Keduanya memang sudah menjadi suami istri, tetapi keadaan itu tidak serta-merta membuat mereka tahu bagaimana harus bersikap satu sama lain.

"Alhamdulillah, akad nikah telah selesai dilaksanakan," ujar penghulu. "Semoga pernikahan ini menjadi awal yang baik bagi kalian berdua. Semoga kalian bisa menjalankan tanggung jawab sebagai suami istri dengan sebaik-baiknya."

Ibra mengangguk hormat. "Amin. Terima kasih, Pak."

Naya mengikuti dengan mengucapkan terima kasih pelan, hampir tak terdengar.

Setelah penghulu menyelesaikan urusannya, keluarga mulai menghampiri kedua mempelai untuk memberikan ucapan selamat.

Mama Liana menjadi salah satu orang pertama yang memeluk Naya. "Wah, cantik sekali. Selamat, ya, Nak," katanya lembut. "Sekarang kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kami."

Naya membalas pelukan itu dengan canggung. "Terima kasih, Tante."

Mama Liana tersenyum tipis, kemudian mengusap bahu Naya. "Panggil Mama saja, Naya."

Naya terdiam sebentar sebelum menjawab dengan ragu, "I-iya, Ma."

Sementara itu, Papa Ibra menyalami putranya dan menepuk bahunya. "Jaga istrimu baik-baik."

"Iya, Pa."

"Kalau butuh sesuatu, bilang. Ingat, Papa selalu di belakangmu."

"Terimakasih, Pa." Ibra memeluk papanya. Rasanya Ibra ingin menangis, perjalanan dirinya sudah sejauh ini. Tanpa Papa, Ibra mungkin tak tahu harus melakukan apa.

"Jangan nangis, malu-maluin nanti. Tegakkan tubuhmu, be gantle,"

Ibra terkekeh pelan. "Siap."

Di sisi lain, Bunda Ratna menghampiri Naya. Perempuan itu sempat menatap cincin di jari putrinya sebelum mengusap pipinya.

"Patuhi suamimu, ya, Sayang," kata Bunda. Naya terdiam sesaat. Ia merindukan panggilan itu, selama seminggu terakhir Bunda memanggilnya dengan namanya. Naya merasa janggal, ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia baik-baik saja. Dan ketika mendengar Bunda memanggilnya seperti biasa membuat dadanya terasa sesak.

"Bunda maaf--"

"Sudah-sudah, jangan menangis, nanti make up nya luntur." Bunda memeluknya. Ada banyak hal yang ingin ia katakan kepada putrinya, tetapi untuk saat ini, ia memilih menahan semuanya. Ia tidak ingin membuat Naya semakin gugup di tengah keluarga yang sedang berkumpul. Dalam hati meminta maaf atas apa yang terjadi, Ratna tahu putrinya tak menginginkan pernikahan ini.

Ayah Naya--Majaya, mendekati Ibra setelah Ikrar--Papa Ibra mendatangi Naya. "Ibra, saya mau bicara sebentar."

Ibra segera menghadapnya. "Iya, Om."

Majaya mengajaknya sedikit menjauh dari kerumunan keluarga. Tatapannya masih serius, sama seperti ketika mereka berbicara di rumahnya kala itu.

"Sekarang kamu sudah menjadi suami Naya. Saya ingin kamu benar-benar memahami tanggung jawabmu."Ibra mengangguk dan mendengarkan. "Jangan menganggap semuanya selesai hanya karena kalian sudah menikah. Naya bukan sekadar seseorang yang harus kamu nikahi karena kejadian kemarin. Dia anak saya, dan saya ingin dia diperlakukan dengan baik."

"Saya mengerti, Om."

"Naya belum tentu langsung bisa menerima semua perubahan ini, tolong maklumi sifat kekanakannya. Pernikahan ini juga bukan sesuatu yang dia rencanakan. Jadi, jangan memaksanya untuk langsung terbiasa dengan keadaan kalian, ya."

Ibra terdiam sejenak sebelum menjawab, "Saya tidak akan memaksanya, Om."

"Kalau ada masalah, bicarakan. Jangan membiarkan dia menghadapi semuanya sendirian, sebagai catatan bahwa Naya itu sangat rentan. Apalagi sekarang dia sedang mengandung, saya mau kamu harus lebih memperhatikan keadaannya."

"Saya akan berusaha melakukan itu, Om. Saya tidak bisa menjanjikan bahwa saya akan selalu tahu apa yang harus dilakukan, tapi saya akan belajar dan berusaha menjaga Naya sebaik mungkin, sebagai suaminya."

Majaya memperhatikan wajah Ibra selama beberapa saat. "Baik. Saya berharap kamu benar-benar menepati ucapanmu."

"Iya, Om."

"Mulai sekarang panggil Ayah, saya juga orang tuamu."

Ibra mengangguk dan tersenyum. "Iya, Yah."

Ayah langsung memeluk Ibra, erat. "Kalau kamu sudah tidak ingin dia, kembalikan saja. Saya siap menerimanya kembali."

"Iya, Ayah. Saya usahakan itu tidak akan pernah terjadi."

Papa Ibra yang rupanya mendengar percakapan mereka kemudian ikut mendekat setelah Ibra mengurai pelukan. "Majaya, saya juga ingin menyampaikan sesuatu."

Majaya menoleh kepadanya.

"Saya tahu apa yang terjadi bukan sesuatu yang mudah diterima. Kami juga tidak pernah mengharapkan anak-anak kita harus menghadapi keadaan seperti ini." Papa berhenti sejenak. "Namun, sekarang mereka sudah menikah. Kami berharap kita bisa sama-sama membantu mereka menjalani kehidupan baru ini."

Mama Liana yang kini berdiri di samping suaminya turut berbicara.

"Naya akan kami terima dengan baik. Saya tidak ingin dia merasa sendirian di keluarga kami. Kalau ada apa-apa, saya berharap dia juga bisa bercerita kepada saya dan kita semua."

Majaya mengangguk pelan. "Saya berterima kasih karena kalian bersedia menerima Naya. Saya hanya ingin dia baik-baik saja."

"Kami memahami itu," jawab Mama Liana.

Majaya menghela napas. Kekecewaan yang sebelumnya begitu besar memang tidak serta-merta hilang, tetapi setidaknya ia bisa melihat bahwa keluarga Ibra juga berusaha menerima keadaan ini.

Tidak jauh dari mereka, Kakek Pratama memperhatikan percakapan tersebut dalam diam.

Setelah pembicaraan Majaya dengan kedua orang tua Ibra selesai, Majaya menghampiri Kakek yang duduk di salah satu sudut ruangan.

"Pak Pratama."

Kakek mengangkat wajah. "Ya," sahutnya singkat.

Majaya duduk di kursi kosong di dekatnya. "Saya ingin meminta maaf atas sikap saya kemarin. Saya terlalu terbawa emosi."

"Saya marah karena memikirkan keadaan Naya. Saya kecewa dengan apa yang terjadi, tetapi saya juga tahu bahwa kemarahan saya tidak akan mengubah keadaan." Majaya menunduk sedikit. "Terima kasih karena Bapak dan keluarga bersedia menerima putri saya."

Kakek mengangguk perlahan, tongkat di sampingnya ia ketukkan di lantai. "Aku memahami perasaanmu. Bagaimanapun, kita sama-sama orang tua. Aku juga tidak ingin cucuku menganggap pernikahan ini sebagai sesuatu yang bisa dijalani sesuka hatinya. Jadi, jangan takut, putrimu tidak akan terluka."

Majaya kembali menatapnya.

"Karena itu, kuharap kita bisa memastikan mereka menjalankan tanggung jawab masing-masing. Jangan sampai pernikahan ini justru menjadi alasan mereka terus bertengkar. Aku tidak ingin ada perceraian," tutur Pratama.

"Saya setuju, Pak."

Kakek mengangguk sekali lagi, menandakan bahwa pembicaraan mereka cukup sampai di situ.

Naya ditempatnya menatap sekelilingnya, sepi. Ini seperti bukan pernikahan, seperti yang pernah ia dambakan sebelumnya.

Tidak ada kerumunan tamu atau suara riuh seperti yang biasa terdengar di acara pernikahan. Hanya keluarga intinya dan keluarga inti Ibra yang berada di sana, ditemani seorang fotografer yang sesekali mengambil gambar untuk mengabadikan momen pernikahan mereka.

Begitulah hari itu berjalan, tak ada pesta, tak ada cinta, dan tak ada rasa. Hanya sebuah pernikahan yang terjadi karena keadaan yang memaksa mereka untuk bersama.

1
Agus Tina
Selamat Naya dan Obra, sekarang tinggal bawa Naya ke psikolog kayaknya dia memerlukan hal itu ....
Agus Tina
Sebenarnya bukan hamya salah Ibra, mereka berdua korban dr keadaan, walaupin sebenarnya bisa dicegah
Agus Tina
Naya ...
Agus Tina
Ayolah Naya, Ibra ... putuskan cepat keburu perut Naya nggak bisa ditutupi lagi, apalagi modelan Naya hamil yg mualnya parah kayaknya ... berabe nanti kalau orang kantor sama orangtuanya menyadari perubahan itu ...
Agus Tina
Naya keras kepala sekali ...
Enz99
bagus sekali
Hosniyah Niyah
lanjut Thor ❤❤❤😘😘😘💞💞💞🥰🥰🥰👍👍👍👌👌👌
Agus Tina
Thor kutunggu up nya ...
Agus Tina
Naya, Ibra ... lama sekali kalian memutuskan .... greregaten banget
Agus Tina
Penasaran banget ... double up thor
Agus Tina
Ayolah Naya yg penting nikah aja dulu, nggak tinggal bareng juga gak pa2 sampai trauma kamu sembuh. Lama2 gregeten sama Naya ...
Makasih thor lanjut up ya
Agus Tina
Terimakasih sudah update ... ditunggu kelanjutannya
ronaaksara: terimakasih sudah rela menunggu🫶
total 1 replies
Agus Tina
Thor ,lama banget Naya ngambil keputusannya jadi pusing sendiri sama gregetan pakai banget ...
Aksara Nirmaya
akhirnyaa updateee, thanksss kakkk🫰
Aksara Nirmaya
kakkk kapannn updateeee😭😭
ronaaksara: haii, segera yaa. Masih sibuk rl😭😭
total 1 replies
Aksara Nirmaya
Ceritanya baguss, semangat kakk
ronaaksara: terimakasihhh, kamu juga yaa💪💪
total 1 replies
licy
alurnya sukaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!