Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.
Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!
Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Konfrontasi pertama
Jam istirahat sekolah akhirnya tiba
Di salah satu sudut kantin, Rio, Putri, Zahra, Reno, dan Nadia berkumpul di meja yang agak jauh dari keramaian. Mereka kembali membahas kejadian di museum dan berbagai kejanggalan yang belum terpecahkan.
Nadia menopang dagunya dengan satu tangan. Tatapannya bergantian menelusuri wajah teman-temannya.
“Jadi, setelah semua yang kita temukan, langkah selanjutnya apa?”
Rio menyandarkan punggungnya ke kursi sebelum menjawab.
“Kita harus mencari tahu siapa pria misterius yang bekerja sama dengan Gavin di rekaman CCTV museum.”
Zahra mengangguk pelan, tetapi raut wajahnya menunjukkan keraguan.
“Masalahnya, wajah pria itu cuma terlihat sebagian. Kalau kita hanya mengandalkan rekaman tersebut, rasanya bakal sulit menemukan identitasnya.”
“Bagaimana kalau kita mencari petunjuk langsung di sekitar museum?” usul Putri. “Mungkin ada benda yang tertinggal atau petunjuk lain yang belum diperiksa.”
Keempat pasang mata langsung beralih kepada Reno.
Reno yang sedang minum hampir tersedak.
“Kenapa kalian melihatku seperti itu?”
“Bukannya kamu punya banyak akses dan fasilitas?” tanya Nadia polos.
“Punya,” jawab Reno. “Tapi bukan berarti semuanya bisa kupakai sesuka hati.”
“Lho, kenapa?” Putri memiringkan kepala.
Reno menghela napas panjang.
“Sejak kemarin, aksesku dibatasi ayahku. Katanya, aku sudah keterlaluan karena meminjam pengawalnya untuk menerobos kemacetan.”
Rio menatapnya datar.
“Kamu meminjam pengawal hanya untuk menerobos kemacetan?”
“Jangan menghakimiku. Waktu itu aku sedang terburu-buru.”
“Hebat,” gumam Nadia. “Kita punya masalah besar, tetapi fasilitas detektif kita malah disita.”
“Dan kita masih belum tahu bagaimana cara membantu Danu,” tambah Zahra, suaranya terdengar lebih berat.
Suasana meja itu mendadak sedikit muram.
Rio menatap meja di hadapannya, mencoba menyusun kembali semua potongan informasi yang mereka miliki.
“Kita jangan menyelesaikan semuanya sekaligus. Untuk sekarang, ada tiga hal yang belum kita pahami: alasan Gavin mencuri vas itu, identitas pria yang bersamanya, dan hubungan semua ini dengan kasus Danu.”
Putri mengangguk. “Kalau begitu, kita mulai dari vasnya. Kenapa Gavin sampai repot-repot mencurinya?”
“Mungkin vas itu punya nilai yang sangat tinggi,” jawab Nadia. “Bukan cuma karena usianya, tetapi juga karena sesuatu yang terkandung di dalamnya. Bisa jadi ada kode atau informasi yang dibutuhkan rekan bisnisnya.”
“Kalau begitu, mungkin dia ingin menjualnya di pasar gelap,” sahut Putri. “Barang bersejarah seperti itu pasti bisa menghasilkan banyak uang bagi orang yang tepat.”
Reno menyilangkan tangan.
“Atau justru bukan soal uang. Bisa saja dia menganggap vas itu sebagai semacam trofi. Sesuatu yang bisa dia gunakan untuk membuktikan bahwa dirinya mampu melakukan pekerjaan kotor bagi rekan bisnis keluarganya.”
Rio mendengarkan semua dugaan itu tanpa langsung menanggapi.
“Bisa jadi,” katanya akhirnya. “Tapi kita belum punya bukti untuk memastikan salah satunya benar.”
Zahra mengembuskan napas pelan.
“Jadi, kita masih menebak-nebak.”
“Untuk sekarang, iya.” Rio mengangguk. “Kita catat semua kemungkinan ini, tetapi jangan menganggapnya sebagai fakta. Prioritas kita tetap mencari petunjuk yang bisa membuktikan apa yang sebenarnya terjadi.”
Bel masuk berbunyi, memotong diskusi mereka.
Nadia berdiri sambil merapikan seragamnya.
“Baiklah. Kita kembali ke kelas dulu. Siapa tahu setelah ini ada ide yang lebih masuk akal.”
“Semoga saja,” gumam Reno.
Mereka pun meninggalkan meja kantin dan kembali mengikuti pelajaran.
Namun, hingga bel pulang berbunyi, tak satu pun dari mereka berhasil menemukan jawaban baru.
Sore harinya, Rio berjalan sendirian menuju rumahnya.
Pikirannya masih dipenuhi berbagai pertanyaan tentang Gavin, vas yang dicuri, dan nasib Danu. Semakin dipikirkan, semakin banyak hal yang terasa tidak masuk akal.
Rio mengembuskan napas kesal.
“Kenapa semuanya malah makin rumit?”
Begitu sampai di depan gerbang rumahnya, langkah Rio mendadak terhenti.
Seseorang sedang bersandar santai di dekat gerbang itu, seolah sudah menunggunya cukup lama.
Gavin.
Rio mengerutkan kening. Ia tidak pernah memberi tahu Gavin alamat rumahnya.
“Ngapain kamu di sini?”
Gavin mengangkat wajah. Senyum tipis langsung muncul di bibirnya saat melihat ekspresi Rio.
“Wah, sambutannya tidak ramah sekali.”
“Aku tanya, ngapain kamu di sini?”
“Tidak boleh berkunjung?”
“Ke rumah orang yang bahkan tidak mengundangmu?”
Gavin terkekeh. “Santai saja. Aku cuma ingin melihat wajahmu.”
Rio mengepalkan tangan.
“Wajahku?”
“Ya.” Gavin mencondongkan tubuh sedikit, mengamati Rio dengan tatapan mengejek. “Kau tahu, wajahmu mengingatkanku pada merek teh kemasan itu. Murahan dan gampang ditebak.”
Rahang Rio mengeras.
“Kalau cuma mau menghina, lebih baik pergi.”
“Kenapa? Tersinggung?”
Gavin tersenyum semakin lebar ketika melihat kemarahan Rio.
“Padahal aku baru datang. Aku bahkan belum melakukan apa-apa.”
“Jadi, memang itu tujuanmu? Datang ke sini hanya untuk membuatku marah?”
“Kurang lebih.” Gavin mengangkat bahu. “Melihatmu kesal dan frustrasi ternyata cukup menghibur.”
Rio melangkah mendekat. Berbagai kejadian yang menimpa mereka beberapa hari terakhir kembali terlintas di benaknya.
“Kenapa?” desisnya.
Gavin mengangkat alis.
“Apa?”
“Kenapa kamu melakukan semua ini kepada kami? Apa salah kami sampai kamu terus mengganggu kami? Dan kenapa kamu mencuri vas itu?”
Rio mencengkeram kerah baju Gavin.
“Jawab aku!”
Untuk sesaat, Gavin hanya menatap tangan Rio. Kemudian, dengan gerakan kasar, ia menepisnya hingga Rio terpaksa melepaskan cengkeramannya.
“Jangan pernah menyentuhku seperti itu.”
Gavin merapikan kerah bajunya, lalu menatap Rio dengan dingin.
“Semua itu bukan urusanmu. Tujuanku terlalu besar untuk dipahami otak semut sepertimu.”
Rio menahan amarahnya.
“Jangan menghindar dari pertanyaanku!”
Namun, Gavin sudah berbalik dan mulai melangkah pergi.
“Urus saja temanmu yang sekarang mendekam di penjara. Kalau perlu, menangislah bersamanya.”
Langkah Rio terhenti sesaat.
Gavin mengetahui cukup banyak tentang Danu untuk menggunakan keadaan itu sebagai bahan ejekan. Namun, sebelum Rio sempat mengejarnya dengan pertanyaan lain, Gavin kembali melontarkan satu kalimat.
“Dasar pecundang.”
Gavin terus berjalan menjauhi rumah itu.
Rio menatap punggungnya dengan kedua tangan mengepal. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi tak satu pun terasa cukup untuk meluapkan kemarahannya.
Lalu, cahaya matahari sore menyinari wajah Gavin dari sudut yang berbeda.
Keringat yang mengalir di dahinya membuat lapisan riasan tebal di sana mulai luntur.
Awalnya, Rio tidak terlalu memperhatikannya.
Namun, ketika Gavin mengusap dahinya dengan punggung tangan, sebagian riasan itu semakin bergeser.
Dan sesuatu yang tersembunyi di baliknya mulai terlihat.
Kulit gelap dengan tekstur tidak rata.
Bekas luka bakar.
Mata Rio membelalak.
Senyum mengejek yang sejak tadi terbayang di benaknya seolah menghilang begitu saja. Ia menatap bagian dahi Gavin yang kini terlihat samar dari kejauhan, sementara dadanya mendadak terasa sesak.
Tidak mungkin.
Kenapa bekas luka itu terasa begitu familier?
Rio berusaha mengingat sesuatu, tetapi pikirannya justru dipenuhi potongan-potongan samar yang tak mampu ia susun. Ada suara benda berat yang jatuh. Ada bunyi yang pernah membuatnya ketakutan. Ada kenangan yang selama ini berusaha ia kubur sedalam mungkin.
Kepalanya mulai berdenyut.
“Tidak….”
Rio mundur selangkah.
Tangannya terangkat, mencengkeram sisi kepalanya seolah ingin menghentikan semua bayangan yang mendadak bermunculan.
Suara di sekelilingnya terasa menjauh. Jalanan yang biasanya ia kenal mendadak tampak asing, sementara napasnya menjadi pendek dan tidak teratur.
Gavin sudah hampir mencapai ujung jalan ketika Rio mencoba memanggilnya.
Namun, suaranya tertahan di tenggorokan.
Tubuh Rio menegang. Ia kembali mundur, kali ini hampir kehilangan keseimbangan.
Apa sebenarnya yang sedang terjadi?
Kenapa hanya dengan melihat bekas luka itu, seluruh tubuhnya bereaksi seolah sedang menghadapi sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada Gavin sendiri?
Rio mengangkat wajahnya, berusaha melihat Gavin sekali lagi.
Tetapi sosok itu telah menghilang di ujung jalan.
Tinggallah Rio seorang diri di depan gerbang rumahnya, dengan kepala berdenyut dan napas yang belum juga kembali normal.
Ia menatap jalan kosong di hadapannya.
Satu pertanyaan terus berputar di benaknya.
Siapa sebenarnya Gavin?
Dan yang lebih menakutkan—
Mengapa bekas luka bakar di dahinya terasa begitu akrab bagi Rio, seolah luka itu terhubung dengan masa lalu yang selama ini berusaha ia lupakan?
aku juga penasaran sama karya kamu, Danu...