Indonesia
NovelToon NovelToon
MENIKAHI MANTANKU

MENIKAHI MANTANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Satu Atap Bersama Mantan

Aira seorang gadis yang hobi berbelanja menggantungkan hidupnya pada pundi-pundi kekayaan keluarganya terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan rekening banknya yang terancam diblokir papinya.

Namun di hari pernikahannya niatnya untuk kabur justru malah bertemu mantan pacarnya yang 8 tahun lalu mencampakkannya dengan alasan dingin.

Devan, cinta pertama Aira sekaligus mantan Aira yang sangat ia benci ternyata adalah calon suaminya.

Dua orang yang masih sama-sama sayang, tapi sangat gengsi dalam mengakui perasaannya.

Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka kedepannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 : Ciuman Pertama yang Tak Disengaja

Langkah kaki Devan bergerak cepat ke arah Aira. Namun, sebelum Devan sempat melewati jarak terakhir di antara mereka, Rendy sudah bertindak melampaui batas.

Pria itu tertawa pelan atas balasan manis Aira, lalu secara refleks mengulurkan tangan kanannya menyentuh bahu Aira yang terbuka—sebuah gestur sok akrab yang kelewat berani.

Deg!

Kulit bahu Aira yang bersentuhan dengan jemari Rendy meremang risih. Aira tersentak pelan. Rasa tidak nyaman yang sejak tadi ditahannya melonjak naik. Walau niat utamanya adalah membakar cemburu Devan, disentuh secara fisik oleh pria asing tetap membuat naluri Aira menolak.

Dengan gerakan sehalus mungkin namun tegas, Aira menggeser posisinya ke belakang, berpura-pura merapikan posisi tasnya sembari menepis pelan tangan Rendy dari bahunya.

"Aduh, Kak Rendy, maaf... bajuku ini sangat licin," cicit Aira beralasan, mencoba memberi jarak aman.

Devan yang menangkap gerakan risih dan kibasan tangan Aira tidak bisa menahan dirinya lagi. Pria itu menyambar pergelangan tangan Aira dari samping, menarik tubuh istrinya merapat pada tubuhnya.

"Urusan kita udah selesai kan, Ren?" suara Devan meluncur rendah. "Gue sama istri gue harus pulang sekarang. Ada urusan internal yang gak bisa ditunda."

Rendy yang mendadak dipotong jalur geraknya sempat tertegun. Pria itu menaikkan alisnya, mencoba tersenyum santai. "Lho, buru-buru banget, Dev? Acara utamanya kan baru mau mulai. Aira juga kelihatan masih betah ngobrol sama gue, iya kan, Ra?"

Rendy mencoba menatap Aira di balik bahu Devan, berharap cewek itu bakal menahannya.

Namun, Aira yang dari tadi sudah menahan risih gara-gara sentuhan Rendy, langsung membuang kesempatan itu. Niat pembalasan dendamnya sudah lebih dari cukup untuk malam ini.

Aira memegang lengan kemeja Devan, menyembunyikan wajahnya sedikit di belakang bahu suaminya. "Gue... emang udah agak pusing, Kak Rendy. Mau pulang aja bareng Devan."

Mendengar keputusan Aira yang lebih mengikuti Devan, wajah kemenangan melintas tipis di mata Devan. Tanpa memberi ruang bagi Rendy untuk menahan mereka lebih lama, Devan langsung menarik tangan Aira, membalikkan badan, dan menuntun cewek itu meninggalkan area ballroom.

Sepanjang koridor hotel hingga menuju area parkir VIP, Devan tidak melepaskan cengkeraman tangannya di pergelangan Aira. Langkah kakinya begitu cepat dan lebar, memaksa Aira setengah berlari mengikuti ritme suaminya.

"Devan! Pelan-pelan dong jalan lu! Kaki gue sakit tahu gak?!" sembur Aira sengit begitu mereka sampai di sebelah mobil Devan.

Devan membukakan pintu penumpang depan dengan gerakan agak kasar, menatap Aira dengan raut muka tegang. "Masuk, Aira!"

"Gak usah pake bentak-bentak bisa gak sih?!" cetus Aira tak mau kalah, tapi tetap melangkah masuk ke dalam mobil.

Brak!

Devan menutup pintu itu, memutar tubuhnya menuju kursi pengemudi, lalu membanting pintunya sendiri. Pria itu menekan tombol engine start, meraungkan mesin mobil, dan langsung menancap gas membelah kemacetan malam Jakarta dengan kecepatan di atas rata-rata.

Di dalam kabin mobil yang remang-remang, Devan tidak menyia-nyiakan waktu semenit pun. Khotbah panjang lebar langsung meluncur dari bibirnya.

"Lu gila ya, Ra?!" cecar Devan, matanya menatap lurus ke jalanan dengan rahang yang mengeras. "Lu sadar gak sih siapa yang lu ladeni ngobrol dari tadi?! Rendy itu playboy! Dia cuma manfaatin situasi buat nyari celah dekat sama lu!"

Aira memutar matanya malas, menyilangkan tangan di dada. "Ya terus kenapa?! Kak Rendy ramah sama gue! Cuma lu doang yang pikirannya kotor dan kekanak-kanakan!"

"Ramah lu bilang?!" Devan terkekeh dingin, menepuk kemudi mobilnya kasar. "Ramah sampai pake nyentuh-nyentuh bahu lu segala?! Sampai ngasi kartu nama dan bilang mau ngajak lu jalan?! Lu pikir gue blind apa gimana, hah?! Kenapa lu pake acara nerima kartu nama dia dan senyum-senyum gak jelas begitu?!"

"Suka-suka gue lah!" sembur Aira balik. "Lagian lu kenapa sih kepanasan banget?! Kemarin pas lu asyik nostalgia sama Nadia di depan mata gue, gue gak ada tuh pamer emosi kayak orang kesurupan gini! Kenapa sekarang pas gue dapet perhatian dari cowok lain, lu yang kepanasan?!"

"GUE BEDA, AIRA!" bentak Devan, matanya berkilat frustrasi. "Gue suami lu! Mau lu akui atau enggak, status lu itu istri gue yang sah! Gue punya hak buat risih dan emosi pas ada cowok lain yang berani godain istri gue di depan muka gue sendiri!"

"Halah! Alasan suami melulu yang dipakai!" balas Aira histeris, mukanya memerah padam. "Lu itu cuma gengsi! Lu cuma gak mau kelihatan 'kalah' di depan temen lu! Gak usah sok manis ngomongin hak suami deh!"

Perdebatan sengit itu terus berkobar tanpa henti. Dari jalan protokol Sudirman, membelah kawasan perumahan elit, hingga mobil berbelok masuk ke pelataran basemen penthouse, tidak ada satu pun dari mereka yang mau mengalah. Kalimat demi kalimat pedas terus saling bersahutan.

Cklek!

Devan menempelkan kartu akses pintu penthouse dengan kasar. Begitu pintu ganda itu terbuka, Aira langsung melesat masuk terlebih dahulu. Cewek itu bermaksud melangkah cepat menuju kamarnya untuk menyudahi perdebatan yang menguras emosi ini.

Namun, Devan yang emosinya belum tuntas ikut melangkah lebar di belakangnya.

"Gue belum selesai ngomong, Aira!" seru Devan, mencoba mengejar langkah Aira dari koridor ruang tengah.

Aira yang merasa kejengkelannya sudah menembus langit-langit menyunggingkan senyuman sinis. Ia membalikkan badannya sebentar sambil terus melangkah mundur secara terburu-buru ke arah lorong kamar.

"Gue gak peduli lu udah selesai ngomong atau belum!" ledek Aira dengan nada mengejek yang sengaja memancing emosi Devan. "Lu mau ngoceh sampai mulut lu berbusa juga gue gak bakal sudi dengerin! Mending lu telepon Nadia sana, suruh dia dengerin curhatan lebay lu itu!"

"Aira, awas kaki lu—" peringat Devan, matanya membelalak kaget saat melihat ujung gaun Aira menyapu lantai.

Namun, peringatan Devan terlambat seribu detik.

Sret!

Tumit Aira tanpa sengaja menginjak lipatan kain gaunnya sendiri yang menjuntai di lantai.

"Kyaaa!" pekik Aira histeris saat keseimbangannya hilang. Tubuhnya terpeleset dan terhuyung jatuh ke belakang.

Melihat Aira yang bakal jatuh melayang. Tanpa berpikir panjang, Devan meloncat maju, mengulurkan kedua tangannya untuk menangkap tubuh Aira.

"Aira!"

Bruk!

Tubuh Devan berhasil meraih pinggang Aira tepat di udara. Namun, gara-gara dorongan gravitasi dan kecepatan langkah Aira yang terburu-buru, berat tubuh mereka tidak terkendali. Devan ikut kehilangan pijakan kakinya.

Mereka berdua jatuh bersamaan. Devan jatuh menelentang, sementara tubuh Aira meluncur pas jatuh tepat di atas Devan.

Dan... di detik yang sangat krusial itu...

Wajah Aira yang menunduk pasrah jatuh tepat melayang di atas wajah Devan.

Mup!

Seketika itu juga, dunia serasa berhenti berputar.

Suara desiran angin, detik jam dinding, dan gaung perdebatan sengit mereka yang beberapa detik lalu membakar ruangan... menghilang.

Bibir Aira... menempel sempurna di atas bibir Devan.

Bukan sekadar tempelan tipis, melainkan sebuah tekanan lembut yang mendarat pas di antara bibir mereka berdua.

Mata Aira membelalak lebar, terpaku menatap mata Devan yang juga ikut membelalak kaget. Hidung mereka saling bersentuhan tipis, dan embusan napas hangat Devan yang tertahan terasa jelas menyapu kulit pipi Aira.

Satu detik...

Dua detik...

Tiga detik...

Beberapa detik yang terasa bagaikan berabad-abad lamanya itu bergulir dalam keheningan yang amat sangat mencekam.

Deg-deg! Deg-deg! Deg-deg!

Sensasi kehangatan lembut dari bibir Devan yang menjalar cepat ke seluruh saraf tubuh Aira membuat kepala cewek itu berputar hebat.

Sentuhan itu... begitu nyata, begitu hangat, dan begitu memabukkan sampai-sampai Aira merasa seluruh tulangnya lemas.

Di sisi lain, Devan merasakan hal yang jauh lebih dahsyat. Kelembutan bibir Aira yang membelai bibirnya membuat seluruh aliran darah di tubuh Devan seperti tersengat listrik bertegangan tinggi.

Kedua tangannya yang masih berada di pinggang Aira meremas gaun cewek itu secara refleks, menahan napasnya, jantungnya serasa mau melompat keluar dari dada.

Itu... adalah ciuman pertama mereka sepanjang hidup.

Aira menjadi pihak pertama yang sadar dari sihir beberapa detik yang memabukkan itu.

Gila! Gila! Gila! batin Aira menjerit histeris dalam kepanikan luar biasa.

Dengan raut wajah merona merah, Aira buru-buru mendorong dada Devan, mendudukkan dirinya.

Devan pun ikut terbangun cepat, terduduk kaku sambil berdehem demi menutupi kepanikan dan rasa salah tingkahnya yang sudah nembus langit-langit.

"E-ekhem!" Devan mengusap leher belakangnya dengan canggung luar biasa, membuang pandangannya ke sembarang arah, tak berani menatap mata Aira. "Lu... lu gak apa-apa kan? Makanya kalau jalan tuh lihat-lihat..."

Aira yang tingkat salah tingkahnya sudah mencapai fase kritis tidak mampu membalas omongan Devan.

Dengan jemari tangan yang gemetaran, Aira menutupi bibirnya sendiri menggunakan telapak tangan. Rasa hangat dan bekas tekanan bibir Devan seolah masih tertinggal jelas dan membakar bibirnya.

"G-gue... gue mau ke kamar!" cicit Aira panik.

Aira beringsut berdiri secara terburu-buru, menyambar sepatunya, lalu setengah berlari menyusuri koridor.

Brak! Klek!

Pintu kamar Aira tertutup terkunci dari dalam.

Sementara itu, Devan masih terduduk di ruang tengah.

Pria itu perlahan menyentuhkan telunjuk dan jari tengah tangan kanannya ke atas bibirnya sendiri. Pendar mata Devan menyiratkan kebingungan, kaget, dan kebahagiaan tak rasional yang membuncah hebat di balik dadanya. Jantung Devan masih berdegup begitu kencang.

"Gila..." gumam Devan pelan sekali, menyapu wajahnya dengan kedua telapak tangan lalu terkekeh pendek seperti orang linglung.

Di dalam kamar yang gelap, Aira menyandarkan punggungnya di balik pintu yang terkunci.

Cewek itu merosot pelan sampai terduduk di atas lantai kamar mandi. Kedua tangannya menutupi seluruh wajahnya yang terasa sangat panas.

Deg-deg! Deg-deg!

"Apa-apaan sih tadi... Ya Tuhan..." bisik Aira tersengal-sengal, memegangi bibirnya yang masih terasa kebas dan hangat.

Ciuman pertamanya... yang selama ini ia bayangkan bakal terjadi dalam suasana romantis... justru terenggut secara tak sengaja dalam sebuah insiden konyol gara-gara gaun sialannya sendiri.

Dan yang paling parah... ciuman itu terjadi dengan Devan—pria yang belakangan ini sukses mengacak-acak seluruh emosi dan perasaannya.

1
Fazira
lucu mereka 🤭
Fazira
🤣🤣
Fazira
semangat upnya kak😍😍
Fazira
😍
Fazira
Nadia istrinya marah loo
Skyline Scribe
cemburu niee🤭
Fazira
sepertinya love language nya mereka ini bertengkar yaa
karena 8 tahun itu bukan waktu yang sebentar untuk bisa membenci orang
gak sabar liat Devan bucin😍
Reni Anjarwani
kapan damainya bertengkar terus
Ael
semangat kak👍👍
Fazira
Devan yang jujur kamu
Skyline Scribe: cowok gengsi tinggi dia kak😄
total 1 replies
Fazira
jangan tengkar/Sob//Sob/
Fazira
lanjut 💪
Fazira
🤣
Ael
seru👍
Reni Anjarwani
lanjut thor
Fazira
lanjut 💪
Ael
/Heart//Heart//Heart/
Reni Anjarwani
lanjut thor
Fazira
😍😍😍
Fazira
lanjut 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!