Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.
Namun, satu hal tak pernah berubah.
Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.
Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.
Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Pagi Yang Manis
Tirai kamar tidak sepenuhnya tertutup, membiarkan sinar pagi menyelinap tipis ke permukaan lantai. Cahaya pucat itu jatuh di antara celah kain, membentuk garis-garis lembut yang perlahan bergeser seiring waktu. Udara masih dingin, sementara sunyi apartemen nyaris utuh kecuali napas dua orang yang kembali menemukan ritmenya.
Nala terbangun lebih dulu. Seperti kebiasaannya, ia membuka mata perlahan, lalu berhenti sejenak, menyesuaikan tubuhnya dengan kesadaran yang datang bersama rasa pegal yang halus, tetapi menyeluruh. Bahu, punggung, bahkan kaki—semuanya mengingatkan pada malam yang tidak singkat.
Ia tersenyum kecil bukan senyum malu, melainkan senyum seseorang yang menerima konsekuensi dengan tenang. Di sampingnya, Junho masih terlelap. Wajahnya tampak lebih rileks dari biasanya; alis yang tidak lagi berkerut, rahang yang tidak tegang. Napasnya teratur, dadanya naik turun dengan tenang di balik selimut. Salah satu lengannya terulur, seolah secara refleks masih mencari kehangatan yang tadi berada di sisinya.
Nala bangkit perlahan, berhati-hati agar tidak membangunkannya. Ia merapikan selimut yang sedikit bergeser, lalu menahan napas ketika punggungnya kembali memberikan protes kecil saat ia berdiri. Tangannya bertumpu sejenak di tepi ranjang membiarkan dirinya diam selama beberapa detik, memberi waktu bagi tubuhnya untuk menyesuaikan diri.
“Selalu seperti ini,” gumamnya hampir tak terdengar, setengah geli, setengah pasrah.
Ia melangkah menuju kamar mandi, lalu membasuh wajah dengan air dingin. Rasa sejuk segera menyentuh kulitnya, mengusir sisa kantuk yang masih menggantung di pelupuk mata. Ketika mengangkat wajah, pantulan dirinya di cermin tampak sedikit berbeda.
Rambutnya diikat seadanya, menyisakan beberapa helai yang jatuh di sekitar wajah. Ia menarik kedua bahunya ke belakang, mencoba melonggarkan otot yang masih terasa kaku tatapannya kemudian kembali bertemu dengan pantulan diri sendiri.
Ada senyum kecil yang kembali muncul di sudut bibirnya meskipun pagi itu terasa sederhana, namun entah mengapa setelah malam yang panjang, kesederhanaan itu terasa begitu manis.
Saat kembali ke kamar, ia mengambil pakaian rumah yang longgar, lalu menyelipkan satu pandang ke arah ranjang. Junho bergerak sedikit dalam tidurnya, menarik selimut lebih dekat, seolah menyadari kepergian itu meski belum sepenuhnya terbangun.
Nala mendekat, membetulkan selimut hingga menutupi seluruh dadanya yang terbuka, lalu mengecup keningnya dengan gerakan ringan; cukup untuk meninggalkan jejak, tetapi tidak cukup untuk membangunkannya.
“Tidur saja,” bisiknya.
Ia keluar dari kamar dengan langkah pelan dan menuju dapur. Pagi masih panjang ada sarapan yang perlu disiapkan, ada hari yang menunggu untuk dijalani. Dapur menyambutnya dengan sunyi yang akrab, ia menyalakan ketel dan menyiapkan air hangat. Tangannya bergerak otomatis, meski tubuhnya jelas meminta beberapa waktu lagi untuk beristirahat.
Ia menyandarkan pinggul ke meja dapur sejenak, membiarkan kedua tangannya bertumpu di permukaan meja matanya terpejam, menikmati hening yang masih tersisa sebelum apartemen benar-benar terbangun.
“Dia manis sekali,” batinnya, kembali mengingat kejadian semalam.
Senyum kecil tanpa sadar terbit di wajahnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kepalanya tidak dipenuhi daftar hal yang harus dilakukan, hanya dirinya dan secangkir air hangat yang di temani oleh perasaan tenang yang entah sejak kapan terasa begitu dekat.
Tak lama kemudian, langkah kaki yang pelan terdengar dari arah kamar. Nala membuka mata dan menoleh dan tersenyum tipis ketika melihat Junho muncul di ambang pintu. Rambutnya sedikit berantakan, sementara baju tidurnya masih tampak kusut akibat tidur, matanya yang sudah sipit semakin menyipit ketika menyesuaikan diri dengan cahaya pagi yang memenuhi dapur.
“Kamu bangun,” katanya dengan suara serak khas pagi.
Nala menoleh kepadanya.
“Eum,” gumam Nala pelan.
Junho mendekat dan berdiri tepat di belakangnya untuk sesaat ia tidak berkata apa-apa, hanya meletakkan dagunya di bahu Nala, sementara lengannya melingkar ringan di pinggangnya—kali ini lebih hati-hati, seolah menyadari bahwa tubuh istrinya belum sepenuhnya baik-baik saja.
“Kamu pegal?” tanyanya pelan.
Nala menghela napas kecil.
“Sedikit,” jawabnya.
Junho tersenyum tipis di bahunya—senyum bersalah yang tidak perlu dijelaskan. Ia kemudian mengecup pipi Nala dari samping.
“Aku minta maaf... dan terima kasih,” ucapnya.
Nala tidak menjawab tetapi tangannya menyentuh tangan Junho yang melingkar di pinggangnya, kemudian menggenggamnya sebentar. Sentuhan sederhana itu seolah sudah cukup untuk menjawab permintaan maafnya.
“Mau sarapan apa?” tanya Nala pelan.
“Makan apa... eum...” Junho menggumam cukup lama, begitu pula dengan Nala. Keduanya sama-sama memikirkan menu sarapan hingga tanpa sadar, seolah pikiran mereka terhubung, mereka mengucapkan hal yang sama secara bersamaan.
“Kimchi bokkeumbap.”
Ucapan itu membuat keduanya saling pandang. Hening selama beberapa detik sebelum tawa mereka pecah bersamaan, Nala menutup mulutnya, masih terkikik kecil, sementara Junho hanya menggelengkan kepala dengan senyum lebar yang sulit disembunyikan. Mereka benar-benar tidak menyangka akan mengucapkan menu yang sama pada saat yang bersamaan.
“Setuju,” ucap Nala.
“Aku ingin Sundubu Jjigae juga. Rasanya sudah lama tidak makan pedas,” ujar Junho, yang membuat Nala mengangguk.
“Seok... Anak itu mau makan—”
Ucapan Nala terhenti ketika suara teriakan lantang terdengar dari arah tangga. Junho segera melepaskan pelukannya dan membenarkan posisi berdirinya, Nala pun langsung berdiri tegak, seolah keduanya baru saja ketahuan melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilihat orang lain.
“MOOMMYYYY—!!”
Langkah kaki kecil terdengar berlari dari arah tangga; cepat dan tidak beraturan, disertai suara isak yang belum sempat ditahan. Jun-seok muncul dengan rambut acak-acakan, mata sembap, dan napas tersengal
“Aku kesiangan!” serunya panik, suaranya pecah. “Saem-nim pasti marah bagaimana ini Mommy? Aku belum mandi, pakai seragam dan tasnya juga—”
Ia terhenti di tengah kalimat tetapi air mata sudah menggenang di pelupuk matanya, sementara bahunya naik turun menahan tangis. Kepanikan kecil itu membuat Nala refleks berjongkok di hadapannya.
“Seok, sayang—”
Namun, kalimat itu tidak sempat selesai.
“Aku bangun telat! Kenapa Mommy tidak bangunkan aku...? Mommy....” lanjut Jun-seok dengan nada semakin tinggi, nyaris terisak.
Junho yang berdiri di belakang Nala saling pandang sejenak dengannya. Ada senyum yang nyaris lolos dari sudut bibirnya, meski ia berusaha keras menahannya karena melihat wajah panik putranya bukanlah waktu yang tepat untuk tertawa.
“Seok,” panggil Junho, mencoba menyela. “Hari ini—”
Namun, ucapannya kembali terhenti.
“Aku tahu!” potong Jun-seok cepat. Kepanikan sudah lebih dahulu menguasai pikirannya. “Hari ini ada pelajaran seni dan aku belum bawa—”
Suaranya perlahan melemah, bibirnya bergetar sebelum akhirnya ia mulai terisak sungguhan. Nala segera menarik tubuh kecil itu ke dalam pelukannya, satu tangannya mengusap punggung Jun-seok perlahan dan ritmis, berusaha menenangkan napas kecil yang bergerak terlalu cepat.
“Tenang dulu... Tarik napas,” katanya lembut.
Jun-seok menarik napas patah-patah, tetapi tetap memeluk Nala erat. Wajahnya menekan ke dada sang ibu, seolah-olah dunia akan benar-benar runtuh jika ia melepaskan pelukan itu.
Junho mendekat satu langkah, lalu berlutut di hadapan mereka agar sejajar dengan putranya.
“Adeul... dengar Daddy dulu, ya,” katanya pelan, suaranya rendah dan stabil. Jun-seok tidak langsung menjawab cepat, ia masih terisak kecil dalam pelukan Nala.
“Ini hari libur,” lanjut Junho hati-hati. “Tidak ada sekolah hari ini.”
Kalimat itu jatuh begitu saja di antara mereka dan untuk sesaat tidak ada reaksi sedikitpun. Jun-seok hanya diam dalam pelukan Nala, seolah otaknya membutuhkan waktu untuk memahami kalimat yang baru saja didengarnya. Perlahan, ia mengangkat wajah. Matanya merah, bulu matanya basah oleh sisa air mata.
“Libur...?” tanyanya ragu.
“Iya... ini tanggal merah,” jawab Nala sambil tersenyum kecil.
Anak itu berkedip beberapa kali, otaknya jelas sedang memproses informasi yang baru saja diterimanya. Perlahan, alisnya mengerut, seolah masih mencari-cari alasan untuk membenarkan kepanikannya beberapa saat lalu.
“…Tapi aku mimpi pakai seragam,” katanya pelan.
Junho akhirnya tidak sanggup menahan diri. Ia segera memalingkan wajah, sementara bahunya bergerak kecil menahan tawa. Nala menepuk bahu suaminya pelan, memberi peringatan tanpa kata. Jun-seok memandang mereka berdua bergantian tatapannya menyipit, menyadari ada sesuatu yang... janggal.
“Daddy ketawa?” tanyanya. Suaranya masih terdengar sengau.
Junho kembali menatapnya, berusaha memasang wajah serius.
“Tidak. Daddy lega,” ucapnya dengan bibir terkatup rapat.
Nala hanya menundukkan wajah, menahan tawa melihat ekspresi Junho yang berusaha sekuat tenaga agar tidak kembali tertawa. Jun-seok terdiam selama beberapa detik lalu dengan sangat tiba-tiba, air matanya berhenti.
“Oh.” Wajahnya perlahan mengendur. Tubuh kecilnya bahkan tampak melemas di dalam pelukan Nala, seolah seluruh ketegangan yang sejak tadi memenuhi tubuhnya luruh begitu saja. “…Berarti aku boleh main sepuasnya dengan Mommy dan Daddy?” tanyanya polos.
Nala mengelus rambutnya dengan lembut.
“Boleh,” jawabnya sembari tersenyum.
“Yeay!”
Anak itu langsung berjingkrak senang, lalu mencium pipi Nala sebelum berlari kecil ke arah meja makan. Junho hanya menggeleng kecil melihat perubahan suasana hati putranya yang begitu cepat, tanpa menunggu ia kemudian berdiri dan berjalan menuju ruang keluarga untuk menyalakan televisi.
Sementara itu, Jun-seok memilih duduk di meja makan bersama Nala. Keduanya mulai memesan makanan yang akan mereka santap untuk sarapan pagi itu.
Tak lama setelahnya, bel berbunyi. Junho menoleh ke arah pintu, begitu pula Jun-seok. Keduanya berjalan bersamaan menuju pintu, sementara Nala tetap fokus menata piring di atas meja makan.
“Terima kasih.”
Junho menutup pintu, kemudian berjalan kembali menuju meja makan bersama Jun-seok yang berada di sampingnya sambil membawa satu kotak makanan lainnya.
“Mommy... Seok mau bungeoppang-nya tiga, ya,” ucapnya sembari duduk di kursinya. Ia segera membuka kotak berisi kue manis berbentuk ikan dengan isian kacang merah itu.
“Iya... Sisanya untuk Mommy. Daddy tidak usah,” jawab Nala jahil. Ia tahu betul bahwa bungeoppang merupakan salah satu kue kesukaan Junho dan Jun-seok.
“Yah... Padahal Daddy sudah membayangkan makan itu sejak minggu lalu,” ucap Junho pura-pura sedih.
Jun-seok menatap kue berbentuk ikan itu cukup lama. Kemudian, pandangannya beralih kepada Junho, lalu kembali kepada kue di hadapannya sebelum akhirnya menghela napas pelan, seolah tengah menghadapi keputusan paling berat pagi itu.
“Untuk Daddy satu, Seok dua, dan Mommy dua,” ucapnya.
Nala dan Junho saling pandang, lalu tersenyum kecil melihat keputusan yang menurut Jun-seok mungkin sudah paling adil itu.
“Baiklah... Itu pilihan bagus. Ayo makan. Siang ini kita akan ke rumah Halmeoni. Di sana akan ada Ji-ah juga,” ujar Nala.
“Sungguh? Dengan Keun-eomeoni juga?” tanyanya, matanya langsung berbinar.
Nala mengangguk.
“Yeay... Aku tidak sabar bertemu Keun-eomeoni...” lanjutnya dengan wajah penuh antusias.
“Kenapa?” tanya Nala sembari menyodorkan sepiring gimbap ke hadapannya. Di sampingnya, Nala meletakkan miyeok-guk, sup rumput laut hangat, lengkap dengan gyeran-mari di atas piring kecil.
“Waktu itu Keun-eomeoni janji akan membawakan Seok cokelat Cadbury dan permen fudge saat pulang dari London,” jawabnya.
Nala terkekeh mendengarnya.
“Bukannya tiga hari lalu baru makan cokelat Cadbury itu? Daddy yang beli?” tanya Junho sembari menyuapkan sarapannya.
“Iya... Tapi rasanya tidak seenak yang Keun-eomeoni bawa. Rasanya berbeda,” jawab Jun-seok polos.
Nala menggeleng pelan, sementara senyum tipis masih tersisa di wajahnya.
“Jangan lupa bilang terima kasih kepada Keun-eomeoni,” ucap Nala.
Anak itu langsung mengangguk mantap.
“Iya!” jawabnya, lalu kembali sibuk menikmati sarapannya.
Sarapan pun berjalan lancar sesekali Jun-seok berbicara tentang berbagai hal, sementara Nala dan Junho hanya menanggapi seadanya. Anak itu memang tidak pernah kehabisan bahan untuk diceritakan, terkadang mereka hanya bisa menahan tawa setiap kali melihat wajah putranya yang begitu serius ketika berbicara, seolah apa yang sedang ia ceritakan merupakan perkara paling penting di dunia. Bagi Nala dan Junho, ekspresi itu justru terasa sangat menggemaskan.
Pagi itu berlalu dengan ritme yang lebih ringan dari biasanya. Selama itu, Jun-seok menghabiskan waktunya bersama Nala dan Junho; sebuah momen yang sangat jarang ia dapatkan, bahkan ketika hari libur tiba. Biasanya, selalu ada kesibukan yang membuat waktu mereka bersama terasa singkat. Namun, hari ini berbeda.