Raka nekad syuting di Kampung Pitu meski dilarang Laras dan karena ia merasa ada kekuatan gaib yang memilih tempat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Ketenangan Itu Perlahan Hilang
Sore itu, langit di atas kawasan Nglanggeran berubah warna menjadi jingga keunguan, menyinari bukit-bukit batu yang menjulang megah di kejauhan. Di ruang tengah penginapan yang sederhana itu, Raka, Laras, Dimas, dan seluruh kru berkumpul kembali di sekeliling meja kayu. Cahaya lampu pijar yang temaram jatuh di atas buku harian bersampul cokelat tua itu bukti nyata dari kisah yang mulai terungkap.
Raka membuka halaman berikutnya perlahan. Tangan kanannya sedikit bergetar bukan karena takut, tapi karena setiap kata yang tertulis di sana adalah suara gadis yang terjebak puluhan tahun di tempat yang sama. Suara Ardita, yang kini terdengar begitu nyata, begitu dekat.
"Pak Tua Suryo bilang mereka sempat tenang dulu," bisik Laras pelan, matanya tak lepas dari buku itu. "Beberapa minggu berlalu tanpa hal aneh. Mereka mulai merasa damai... sampai akhirnya semuanya berubah."
Raka mengangguk pelan. "Mari kita baca. Mari kita tahu kapan tepatnya ketenangan itu mulai pudar."
Ia mulai membaca, suaranya rendah namun jelas, mengisi keheningan sore itu.
Halaman 3 — 10 Agustus 1996
Sudah hampir sebulan kami tinggal di sini. Dan harus aku akui rumah ini sungguh indah. Beberapa minggu pertama berlalu begitu tenang, begitu damai. Ayah benar-benar berhasil membangun rumah impian kami. Setiap pagi kami bangun dengan udara yang sejuk dan pemandangan bukit yang hijau. Kami makan bersama, tertawa, bercerita persis seperti yang Ayah janjikan. Kami sempat berpikir... mungkin kekhawatiran warga kampung itu memang hanya takhayul lama. Mungkin kami benar-benar menemukan tempat yang damai.
Namun... sejak beberapa hari terakhir, ada sesuatu yang mulai berubah. Bukan sesuatu yang besar, bukan sesuatu yang langsung membuat kita takut. Tapi hal-hal kecil. Hal-hal yang perlahan-lahan membuat hati ini tidak tenang.
Semalam, aku terbangun karena mendengar suara langkah kaki di lantai atas. Padahal kami semua tidur di lantai bawah — lantai atas belum banyak dihuni, belum ada yang tidur di sana. Aku bangun, menyalakan lampu tidur, dan mendengarkan dengan saksama. Suara itu terdengar jelas — langkah kaki pelan, berat, berjalan bolak-balik di atas kamarku. Seakan ada seseorang yang mondar-mandir di atas sana, di tengah malam buta.
Aku berusaha tidak takut. Mungkin itu hanya suara angin, atau kayu rumah yang berubah karena suhu udara. Tapi suara itu terdengar terlalu nyata, terlalu seperti langkah kaki manusia. Dan itu bukan pertama kalinya. Sudah tiga malam berturut-turut aku mendengarnya.
Pagi harinya aku bertanya pada Ayah. Ayah tertawa dan mengelus kepalaku. "Itu hanya imajinasimu, Dita. Rumah ini baru, belum ada siapa-siapa di atas sana. Jangan terlalu banyak berpikir. Nikmati saja hidup kita di sini."
Tapi Kak Arlan yang duduk di sudut ruangan tiba-tiba berkata pelan, "Aku juga mendengarnya. Tiga malam terakhir."
Ayah terdiam sejenak, lalu menggeleng. "Kalian berdua pasti lelah. Lupakan saja. Rumah ini aman. Tidak ada apa-apa."
Namun sejak hari itu, suara itu semakin sering terdengar. Setiap malam, tepat setelah jam sepuluh, langkah kaki itu muncul. Terkadang di lantai atas, terkadang di lorong belakang, bahkan kadang berhenti tepat di depan pintu kamarku. Dan bukan hanya langkah kaki. Kadang terdengar suara orang berbisik pelan, tidak jelas apa yang diucapkan, tapi terdengar seperti suara seseorang yang sedang berbicara pelan-pelan, seakan takut membangunkan kami.
Ibu juga mulai tampak gelisah. Beliau bilang pintu lemari pakaian sering terbuka sendiri. Padahal beliau yakin sudah menutupnya rapat-rapat. Kadang beliau menaruh benda di satu tempat, lalu menemukannya di tempat lain. "Rumah ini terlalu besar," kata Ibu sambil tersenyum tipis, tapi matanya tidak tenang. "Mungkin aku yang lupa menaruhnya. Atau mungkin... rumah ini belum terbiasa dengan kami."
Tapi aku tahu bukan Ibu yang lupa. Bukan pula imajinasi kami. Sesuatu di rumah ini... sudah mulai memperhatikan kami. Dan itu dimulai secara perlahan, seakan sengaja memberi kami waktu untuk terbiasa sebelum benar-benar menunjukkan kehadirannya.
Ardita
Halaman 5 — 15 Agustus 1996
Semakin lama, semakin sering hal-hal aneh terjadi. Dan rasanya... semakin sengaja.
Kemarin sore, saat kami sedang makan bersama, tiba-tiba semua lampu di rumah padam. Tidak ada suara petir, tidak ada hujan deras. Listrik mati begitu saja. Ayah mengecek kabel, sekring semuanya baik-baik saja. Tapi lampu tetap tidak menyala. Lalu, tepat satu menit kemudian, menyala sendiri. Seakan ada yang mematikannya, lalu menyalakannya lagi hanya untuk memberi tahu bahwa ia bisa melakukannya kapan saja.
Hari ini, saat aku sedang menulis di meja belajarku di sudut ruang tengah, aku melihat bayangan bergerak di dinding. Bukan bayanganku, bukan bayangan Ayah atau Ibu atau Kak Arlan. Bayangan itu tinggi, tegak, dan berdiri diam di sudut ruangan seakan sedang memperhatikanku. Saat aku menoleh... tidak ada siapa-siapa. Tapi bayangan itu tetap ada sebentar, lalu perlahan menghilang, seakan tersenyum sebelum pergi.
Aku tidak berani memberi tahu Ayah. Beliau sudah cukup banyak bicara dengan warga kampung. Beliau bilang mereka orang tua yang berpikiran sempit, yang takut pada hal-hal yang tidak mereka pahami. Aku takut kalau aku bilang, Ayah akan marah padaku. Atau... lebih buruk beliau mulai menyadari bahwa warga itu benar. Dan aku takut melihat beliau kalah.
Kak Arlan bercerita padaku tadi. Dia bilang saat beliau sedang berjalan di halaman belakang, dia mendengar seseorang memanggil namanya. Suaranya pelan, tapi jelas "Arlan..." Dia berbalik dengan cepat, tidak ada siapa-siapa. Hanya pohon-pohon yang berhembus ditiup angin. Tapi suaranya... dekat. Sangat dekat. Seakan orang itu berdiri tepat di belakangnya.
"Kita tidak boleh memberi tahu Ayah dulu," kata Kak Arlan padaku dengan suara berbisik, matanya menatap pintu tertutup. "Beliau sedang bangga dengan rumah ini. Kalau kita bilang sekarang... mungkin beliau akan merasa gagal. Dan aku takut... kalau beliau merasa gagal, tempat ini akan semakin kuat terhadap kita."
Aku tidak mengerti maksud Kak Arlan sepenuhnya. Tapi ada ketakutan di matanya yang belum pernah kulihat sebelumnya. Seakan dia tahu semakin lama kami bertahan di sini, semakin sulit untuk pergi.
Ardita
Halaman 7 — 21 Agustus 1996
Hari ini aku melihatnya dengan mata kepala sendiri. Dan aku tahu kami tidak lagi sendirian di rumah ini.
Sore itu, aku berdiri di jendela lantai atas, melihat ke luar. Tujuh rumah warga terlihat tersebar di lereng bukit. Semuanya tampak tenang, damai. Lalu... aku melihat seseorang berdiri di halaman depan rumah kami.
Sosok itu berdiri diam, menatap lurus ke arah jendelaku. Tinggi, berpakaian seperti orang zaman dulu, rambutnya panjang menjuntai ke bahu. Dia tidak bergerak, tidak berkedip, tidak melambai. Hanya berdiri di sana, menatapku tepat ke mataku. Seakan dia sudah menungguku menoleh.
Aku terkejut sampai mundur selangkah. Aku berbalik untuk memanggil Ayah. Tapi saat aku menoleh kembali... sosok itu hilang. Tidak ada jejak, tidak ada suara langkah kaki. Seakan dia tidak pernah ada di sana. Rumput di tempat ia berdiri tetap tegak, tidak terinjak.
Saat makan malam, aku menceritakannya pada Ayah. Wajah Ayah berubah pucat. "Itu hanya bayangan pohon, Dita. Kau terlalu banyak berimajinasi. Jangan pernah bilang hal seperti itu pada warga kampung. Nanti mereka menganggap kita tidak sopan, tidak menghormati tempat ini."
Tapi Ayah tidak menatap mataku saat berkata begitu. Dia menunduk, memainkan sendoknya perlahan. Seakan beliau tahu... itu bukan bayangan pohon. Dan sejak malam itu, pintu dan jendela rumah kami dikunci rapat setiap sore, sebelum matahari terbenam. Ayah yang memeriksanya sendiri, satu per satu. Beliau tidak lagi membiarkan kami keluar rumah saat senja.
Rumah ini... rumah yang kami impikan. Tapi mengapa rasanya seperti kami bukan pemiliknya? Seakan kami... yang diundang ke rumah orang lain. Dan tuan rumahnya... tidak senang kami ada di sini. Dan dia mulai menunjukkan kehadirannya perlahan, satu per satu, sampai kami menyadari bahwa kami tidak bisa pergi sesuka hati kami.
Ardita
Raka menutup buku itu perlahan. Ruangan itu sunyi senyap. Tidak ada yang berani berbicara dulu. Mereka sempat tenang. Mereka sempat bahagia. Beberapa minggu pertama damai dan justru itulah yang membuat semuanya terasa lebih menyedihkan. Karena mereka mulai percaya bahwa mereka benar-benar menemukan rumah baru, sebelum tempat itu perlahan-lahan mengambilnya kembali.
"Mereka diberi waktu," bisik Laras pelan, matanya berkaca-kaca. "Tempat itu membiarkan mereka merasa damai dulu... baru kemudian mulai memberi tahu. Seakan memberi kesempatan untuk pergi sebelum terlambat."
"Tapi mereka tidak pergi," kata Dimas pelan, suaranya berat. "Pak Candra tidak mau mendengar peringatan. Dan semakin lama mereka tinggal... semakin dalam mereka terjebak."
"Dan semakin lama," tambah Raka pelan, matanya menatap sampul buku itu, "semakin hal-hal itu menjadi bagian dari keseharian mereka. Sampai akhirnya... mereka tidak tahu lagi mana yang nyata dan mana yang bukan."
"Masih banyak halaman lagi?" tanya salah satu kru pelan.
"Masih banyak," jawab Raka. "Dan sepertinya... hal-hal itu baru saja mulai menjadi nyata."