Metempsikosis ditolak banyak oleh para petinggi agama besar. Namun, penelitian ahli neurosains out of body experience (OBE) atau pengalaman keluar dari tubuh dinyatakan berhasil. Sungguh pernyataan dan penemuan itu tetap saja tidak mampu kalahkan kuasa dan kehendak Tuhan.
Ruh-Gema bertransmigrasi ke dalam jasad Lastri dan siap untuk tunaikan janji pada Lastri, pemilik jasad yang ditumpanginya. Di bawah alam sadar, Gema lakukan sebuah perjanjian antara dua makhluk Tuhan. Sebuah perjanjian merubah jalan hidup keduanya.
Gema yang berperan sebagai Lastri bersusah payah menjaga dan merawat bayi dari gadis 17 tahun itu. Berbagai macam jenis pekerjaan ia lakukan untuk menghidupi putrinya. Dengan bantuan seorang sarjana filsafat yang juga karyawannya, Gema mengetahui dengan siapa sesungguhnya ia mengikat janji.
Mampukah Gema tunaikan janjinya pada Lastri? Bagaimana akhir perjalanan Ruh Gema sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alitha Fransisca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 ~ Jasa Sawit ~
Rasa dongkol Lastri terhadap mitra kerja utamanya itu semakin menjadi-jadi. Lebih mirip menyesal sebenarnya. Mengapa ia beri izin Armen naik ke atas truk tadi pagi. Membolehkan menemaninya mengantar panen buah sawit ke PKS Mini.
Kini baru Lastri rasakan imbasnya. Lastri tak kuasa menolak todongan Armen yang menurutnya secara tiba-tiba minta diantarkan ke kota kabupaten. Ada urusan maha penting yang wajib diselesaikannya sekarang juga. Begitu Armen mengungkap betapa penting perjalanan mereka hari itu.
Setelah mengantar dan menunggu Armen cukup lama di kantor urusan pencairan pensiun tenaga kerja itu, kini ia diminta mengantar Armen lagi ke sebuah kantor notaris. Sedangkan hari telah makin sore. Pada jam yang sama, biasanya ia telah tiba kembali di rumah. Bersiap menikmati matahari terbenam bersama Gya dan Murni. Meski begitu Lastri punya harapan tersendiri jika pencairan pensiun itu dapat membantu percepatan bisnis pengadaan pupuk yang tengah mereka rintis bersama Mulyanto.
Berbeda dengan saat di kantor layanan pensiun tadi, kali ini Lastri diminta turut masuk temani Armen. Sangat lumrah, karena memang saat itu mereka berdua akan mengurus pendirian akta pendirian perusahaan. Rencana mendirikan usaha yang punya badan hukum memang sudah sejak lama Armen utarakan. Hanya saja jika harus terjadi sekarang, sangat diluar prakiraan Lastri.
Lastri masih merasa waktunya tidaklah tepat. Armen dirasa masih dalam kondisi tidak begitu fit setelah sebelumnya sempat mengalami peristiwa pemukulan pada tiga hari lalu. Namun, Lastri tidak berniat untuk ajukan pertanyaan mengapa harus terburu-buru. Lastri rasa lebih tepat jika Armen dapat berikan penjelasan sesuai dengan kesadaran sendiri.
Setelah berikan bungkusan kertas coklat berisikan berkas-berkas pengurusan CV, Armen kembali duduk di samping Lastri. Tetap dalam diamnya Lastri geser sedikit tubuhnya, memberikan ruang untuk Armen duduk. Armen tahu pasti mengapa Lastri tetap bersikap dingin padanya. Akhirnya ia lebih memilih untuk mengajukan sebuah pertanyaan pada mitra sekaligus orang yang kini ia beri perhatian khusus.
"Kok dari tadi diam aja Las?"
"Emang harusnya ngapain?!"
"Ngobrol kek?"
"Ini kan udah!" jawab Lastri dengan ketus.
Armen tahu pasti akan sebab kegelisahan bos merangkap rekan bisnis utamanya itu. Pastinya tidak akan jauh-jauh dari urusan Gya dan Murni. Wajar, karena tadi pagi Lastri sama sekali tidak punya rencana kemana-mana lagi selain mengantar buah sawit ke PKS Mini. Kini ibu muda itu telah terlambat hampir empat jam lamanya dari waktu normalnya.
"Tenang Las, Saya udah telpon BI Murni kok!?"
"Oh … Yang bener?!"
"Iya tadi pas nunggu antrian ngurus berkas pensiun, Sekalian minta izin kalau Kita pulang malem!"
"Malem Men?" Lastri seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar, "Yang bener aja lah!"
"Iya! Habis dari sini Kita ke rumah Pak Mulyanto!"
"Nggak bisa besok-besok lagi apa?!"
"Tanggung Las, Udah nyampe sini juga!"
Lastri hanya diam dengarkan penjelasan dari Armen. Satu sisi lain ia bersyukur jika Armen telah minta izin pada Murni. Lastri amat yakin jika Murni akan dapat diberi pengertian oleh Armen.
Sepanjang ingatan Lastri, ibu angkatnya itu belum pernah menolak alasan atau keterangan apapun yang keluar dari mulut Armen. Putra tunggal tetangganya itu telah sejak lama dapat menjaga kepercayaan yang diberi kedua orang tua angkatnya. Tak salah jika Murni masih memendam keinginan Armen menjadi menantunya. Dan Lastri sebagai pengganti Raisa, putri yang telah tiada.
Ternyata Armen amat kenal dekat dengan beberapa staf dari Notaris Ramlan. Lastri dapat melihat tidak ada rasa canggung dari Armen dalam berbincang-bincang dan bersenda gurau antara mereka selama ada di ruang tunggu tadi. Tak lupa Armen lakukan sosialisasi program perawatan kebun yang akan ia jalani. Sengaja ia lakukan itu sembari menunggu waktu bisa berhadapan langsung dengan notaris Ramlan.
Lastri tak begitu heran dengan kejadian itu. Pernah satu kesempatan Armen cerita tentang pekerjaan lamanya. Sebagai petugas legal dan investigasi kredit dari bank membuat Armen banyak berinteraksi dengan mereka.
Kesamaan jenis pekerjaan Armen di bank dan kantor notaris biasanya dalam aspek legalitas dan jaminan milik calon nasabah. Lantas Lastri ambil satu kesimpulan jika salah satu pekerjaan lama Armen pastilah amat erat hubungannya dengan apa yang mereka buat saat itu. Berupaya membuat badan hukum bagi perusahaan mereka kelak.
Notaris Ramlan yang jadi pilihan Armen dapat dibilang cukup terkenal di seluruh wilayah kabupaten. Baik di kota maupun di pedesaan. Punya banyak relasi dan amat banyak diminati oleh bank-bank yang ada di daerah komplek perkantoran itu. Selain dipercaya, jasa Notaris Ramlan harganya termasuk realistis dan dapat dinegosiasi.
Tidak heran banyak lembaga keuangan punya hubungan bisnis dengan Notaris Ramlan. Termasuk bank bekas tempat Armen bekerja. Lastri bersyukur sebab hanya dengan berjalan kaki mereka dapat meraih posisi kantor itu. Tak begitu jauh dari lokasi pertama.
Jika saja tahu dari awal harus antarkan Armen ke beberapa lokasi, Lastri tentunya akan menampik keikutsertaan Armen hari itu untuk menemaninya. Armen masih butuh istirahat akan jadi alasan yang tepat untuk Lastri utarakan. Atau bisa saja ia sediakan waktu khusus untuk selesaikan urusan-urusan itu. Namun, pada akhirnya Lastri harus relakan kehilangan waktu dan kesempatan temani Gya mewarnai buku gambar Cinderella edisi terbaru. Seperti janji yang telah ia ucapkan pagi tadi.
Coba kalau tadi lebih ngotot nggak ngijinin dia ikut, batin Lastri dalam hati.
Tugas antarkan Armen bukan kali pertama jadi sebab timbul rasa jengkel di hati Lastri hari itu. Selesai bongkar buah sawit pagi tadi di pabrik PKS mini, mendadak Armen lontarkan pernyataan yang mengejutkan. Armen katakan pada Widi jika mereka siap lakukan kontrak kerja di PKS mini.
Tentu saja perkataan itu sempat mendapat tentangan dari Lastri. Lastri benar-benar merasa kecolongan, atau lebih tepatnya merasa dilangkahi. Beruntung bos PKS Mini itu pada akhirnya melunak. Widi bisa menerima koreksi dari Lastri atas ucapan Armen sebelumnya.
Namun, di akhir percakapan mereka Widi kembali meminta agar ujaran Armen tetap dipertimbangkan Lastri. Bahkan di akhir pembicaraan Widi beri tawaran tenggang waktu enam bulan sebagai masa uji coba bagi mereka. Widi benar-benar tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Punya supplier tetap tentu akan berikan suatu tambahan penilaian pihak manajemen tempat ia bernaung.
Kadung merasa tidak enak, akhirnya Lastri dapat menyetujui permintaan Widi sejak lama itu. Itupun setelah Lastri berkali-kali berikan pengertian pada Widi. Dalam obrolan mereka bertiga, berkali-kali Lastri katakan pada Armen dan Widi kondisi bisnis mereka. Alasan Lastri grafik angka pertumbuhan kiriman buah mereka belum bisa dibilang stabil.
Yang buat Lastri tambah kesal, dua orang sohib kentanya itu terkesan anggap remeh pendapat yang ia utarakan. Bukan Lastri tak paham atas hasil prediksi yang Armen lakukan. Tapi Lastri lebih menitikberatkan pada unsur kepastian. Bagaimanapun juga janji bisnis harus dijalankan atas dasar kemampuan yang sesungguhnya. Bukan hanya atas dasar nafsu, dapatkan harga penawaran yang lebih baik.
Bagi pemain baru yang berkecimpung di bisnis sawit Armen dapat dibilang terlihat amat percaya diri. Entah dapat ilham dari mana hingga tiba-tiba yakin punya kemampuan jalankan kontrak kerja itu. Apa karena telah banyak pula menangani kredit usaha sawit. Pola bisnis tanaman penghasil minyak goreng itu terkesan telah diluar kepala putra dokter bantuan negara angkatan pertama untuk daerah mereka.
Sebenarnya dalam memenuhi pasokan kapasitas produksi PKS mini perhitungan Armen masih dapat dibilang realistis. Jika hal itu dibandingkan dengan luasan kebun sawit yang mereka kelola. Sayangnya hal itu baru bisa terwujud jika telah masuk dalam kondisi musim hujan. Tidak seperti sekarang.
Armen telah lakukan kajian berulang kali. Belum bisa dibilang mantan pegawai bank bagian investigasi kredit jika tidak mampu menyusun rencana bisnis dan lengkap beserta analisanya. Jika saja Lastri turut serta mempelajari dan mendalami hasil kalkulasi yang ia buat, tentu perdebatan di depan Widi tak perlu terjadi.
Dalam susunan kelayakan bisnis, Armen telah sertakan pula berbagai alternatif atas solusi. Lengkap dengan beberapa asumsi dan kombinasi strategi dalam hal pelaksanaannya. Faktor resiko juga tak luput dari perhatian Armen. Benar-benar dapat sebuah proposal bisnis yang amat detail dan profesional.
Armen sudah menyatakan siap lakukan kontrak kerja menjadi pemasok tunggal buah sawit untuk PKS mini pada Tiwi. Berarti setiap hari mereka akan siapkan hasil panen minimal 27 ton per hari. Untuk hindari susut dan buah tidak layak sebesar lima persen dari kebutuhan PKS mini yang 25 ton per hari.
Tadinya perjanjian kerja itu akan mulai berjalan di kuartal keempat. Alasan yang sempat Lastri dengar dari Armen, di bulan September atau Oktober curah hujan telah berlangsung normal. Dan akan berlaku terus menerus seperti itu hingga enam bulan ke depan. Kondisi itu akan menjaga kepastian jumlah hasil panen sawit milik para langganan akan dapat mencukupi kebutuhan PKS Mini. Sangat disesalkan, Lastri cenderung tidak berani melanjutkan perjanjian kerja itu.
Namun, Widi yang telah lama bernafsu punya supplier tetap kembali membujuk Lastri agar berikan persetujuan. Tak kenal patah arang ia coba hadirkan sebuah jalan tengah. Sebuah tawaran dan kesempatan yang tak bisa lagi ditolak oleh Lastri.
Perjanjian tetap dijalankan, dengan klausul penerapan denda akan dilakukan setelah masa percobaan berakhir. Selama enam bulan atau satu semester lamanya. Armen sadar tidak ada yang salah dari keberatan Lastri. Ia pun mencoba mendapatkan hal positif dari sikap Lastri. Dengan begitu mereka punya waktu berlatih. Tiga bulan latihan selaku supplier tunggal tandan buah bagi PKS mini.
Hal yang sama juga berlaku dalam sistem penghitungan bonus sebesar tiga persen sebagai angka maksimal. Nilai itu akan mulai pada waktu yang sama ketika masa uji coba usai. Bonus dapat diberikan bila terjadi kelebihan pengiriman sebanyak dua ton keatas. Dengan limit atas tidak lebih dari tiga puluh ton. Angka maksimal dari kapasitas produksi maksimum harian PKS Mini.
Setelah sekian lama, akhirnya saat yang ditunggu pun tiba. Oleh seorang petugas mereka kini telah diminta masuk ke dalam sebuah ruangan yang biasa dipakai rapat. Atau untuk menerima tamu yang lebih dari dua orang. Namun, keberadaan Notaris Ramlan belum tampak di sana.
"Semua udah siap?!" Lastri setengah berbisik pada Armen.
"Udah!"
"Payah! Nggak cerita-cerita lagi!"
"Yang penting selesai kan Las!" Armen melirik ke arah Lastri yang kedapatan tengah menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jadi apa namanya Men?" Lastri bersuara normal kembali setelah sadar bahwa tidak ada gunanya ia berbisik karena di ruangan itu hanya terdapat mereka berdua saja.
"Jasa sawit grup!"
"Wuih … Keren?!"
"Harus!" Armen timpali pujian Lastri penuh rasa bangga.
Nama hasil pilihan Armen, membuat Lastri dan salah seorang pegawai notaris yang sempat interaksi dengan mereka secara spontan sepakat akan nama itu. Mereka punya persamaan persepsi atas sebutan bagi perusahaan mereka. Nama itu terasa begitu luas dan kuat.
Tak terkecuali Notaris Ramlan sendiri. Ia berpendapat nama “Jasa Sawit Grup” telah layak sebagai badan usaha besar dan telah lama eksis di bidang perdagangan sawit. Cocok bagi perusahaan penyediaan jasa pendukung lainnya. Punya kesan kuat yang berkaitan dengan tumbuhan rakus air itu. Sungguh nama perusahaan dengan makna yang cukup membumi.
Seorang wanita masuk ke dalam ruangan. Lantas ambil posisi duduk menghadap tepat didepan mereka. Lantas ia letakkan beberapa akta yang telah disiapkan. Dengan mudah Lastri menduga jika wanita cantik itu merupakan sekretaris Notaris Ramlan.
Acara dimulai dengan pembacaan kartu identitas mereka oleh Notaris Ramlan. Bagi Lastri hal itu sama persis pada saat ia mengalami pemeriksaan majelis hakim di depan sidang beberapa bulan lalu. Saat ia hadir sebagai saksi meringankan PKS Mini pada kasus kematian Tosi. Bedanya Notaris Ramlan sedikit kernyitkan dahinya pada alinea pendidikan Lastri. Ya, ia seperti tidak percaya dengan tingkat pendidikan Lastri.
Di tengah melakukan proses tanda tangan berkas-berkas yang disodorkan sekretaris notaris, Lastri sempat berkali-kali melihat ke arah orang yang sejak awal ditunjuknya sebagai kepala urusan administrasi dan keuangan. Lastri bangga pada buah karya hasil pemikiran, berikut capaian yang telah mereka raih bersama. Dan semakin yakin bila pria yang kini duduk di sebelahnya itu, merupakan orang yang paling layak untuk dijadikan pembimbing putrinya kelak.
"Bapak, Mas dan Mbak kirim aja lokasi dan datanya kalau ada kebun yang ingin diurus oleh Kami! Pasti Kami upayakan setransparan mungkin!" Berkali-kali Armen katakan kalimat itu pada setiap pertanyaan yang diajukan notaris dan para karyawan yang bertanya-tanya tentang besaran biaya perawatan kebun, "
"Kartu namanya Mas!?" pinta seorang karyawan pria yang sedari tadi terlihat antusias dengarkan penjelasan Armen.
"Maaf mas Kas, Belum punya!" Armen pasang wajah menyesal, "Tapi nomer hape saya masih yang lama kok, tenang aja!"
Kegeraman Lastri atas berlarutnya tanya jawab itu mendadak hilang. Berganti rasa ingin tahu tentang bagaimana cara Armen berikan penjelasan mekanisme kerja dari perusahaan mereka. Lastri tertarik, serta ingin mencontoh cara penjelasan Armen yang begitu runut dan penuh kejujuran di dalamnya. Khususnya bidang perawatan kebun.
Program kerja yang disampaikan terasa mudah dicerna oleh Notaris Ramlan beserta kru-nya. Sungguh pintar Armen melakukan peran layaknya marketing handal. Hari pun makin bertambah sore.
...☘️☘️☘️ ~~ Bersambung ~~ ☘️☘️☘️...