Tiga bulan berlalu setelah pembebasan militer di Aceh karna marak-nya GAM.
Beberapa jam lagi Zahara sampai dikampung halaman suami yang sudah dia rindukan selama ini. Zahara bergantian memandangi kedua anaknya dengan senyum mengembang. Mereka terpaksa berpisah karna pengusiran Suku selain Aceh kala itu.
Bermodalkan alamat di secarik kertas, Zahara mengetuk pintu-kepintu bertanya tentang alamat ditangannya.
"Zein Hasibuan nak? " Ujar seorang wanita paruh baya itu memastikan, Saat mendengar cerita Zahara.
"Disini ada satu orang yang bernama Zein... Tapi, dia akan menikah sebentar lagi, dia belum pernah menikah" Tuturnya lembut.
Dengan perasaan terguncang Zahara berusaha agar tetap tenang meminta diantarkan ketempat yang dimaksud. Seraya berharap dia salah orang.
Zahara berusaha berpikir positif. Tapi, semakin dia berpikir positif semakin berdegup kencang jantung-nya.
Bagai disambar petir, Zahara langsung terduduk lemas seketika melihat seseorang yang berada dibalik pintu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahrian Ar-tago, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Juragan Sawit
Setibanya di depan gudang Zein dan Lukman ikut mengantri dibelakang para pekerja lain yang sudah sejak tadi berdiri menunggu giliran pembagian gaji.
Satu persatu para pekerja pergi dan meninggalkan area perkebunan sawit. Tidak seperti biasanya, jadwal kepulangan hari ini dipercepat oleh juragan sawit dua jam lebih awal. Entah apa gerangan atau mungkin saja kebiasaan saat pembagian gaji di tempat ini Zein dan Lukman hanya diam dan mengikuti segala aturan yang ditetapkan.
"Ini untuk mu" Beri juragan pada Zein yang kini sudah berdiri didepan meja juragan sawit.
"Terima kasih banyak pak" Ujarnya dengan senyum mengambang menerima bungkusan kuning yang diberikan padanya
Seperti biasanya juragan sawit akan terus berwajah masam tak akan bersikap ramah pada para pekerja dan menyuruh Zein menyingkir dari barisan dengan isyarat tangannya. Wajah sangar dan tubuh kekar dengan kulit yang gelap milik-nya seakan menambah kesan bengis dan sangar di wajahnya
Dengan perasaan bahagia meski senyuman-nya tidak dibalas oleh juragan tadi. Kini, Zein berdiri tak jauh dari gudang menunggu Lukman menghampiri-nya.
"Ayo" Ujar Lukman kala sudah mendapatkan upah kerjanya dan segera menghampiri Zein.
"Ayo" Jawab Zein kembali sembari berjalan berdampingan dengan tangan yang tak lupa memegang rantang di tangan-nya
"Kau dapat berapa?" Tanya Lukman sembari membuka bungkusan uang ditangannya tak sabar melihat berapa yang didapat-nya.
"Bentar, aku liat dulu" Ujar Zein bergegas membuka bungkusan di tangan-nya
"Alhamdulillah aku dapat 400 Lukman" Ujarnya dengan mata berbinar menatap Lukman disamping-nya tak percaya upah yang diberikan ditempat ini begitu besar
"600?" Tanya Lukman sedikit mengerutkan dahi-nya
"Iya 600 kau dapat berapa? " Tanya Zein
"Ini Zein" Lukman menyuguhkan uang di tangan-nya memperlihatkan pada Zein.
"500 ?" Tampak dari dalam bungkusan itu ada 5 lembar uang merah
"Kenapa beda? " Zein kembali mengernyitkan dahi-nya bingung.
"Entahlah... Mungkin itu rezeki mu Zein" Ujar Lukman berpikir sekilas
"Benarkah? " Zein bertanya kembali dengan mulai melangkah-kan kakinya dibarengi Lukman disamping-nya.
"Iya mungkin saja itu bonus karna kerja mu bagus" Tambah Lukman kembali
Zein menunduk-nunduk tanda mengerti. Lama mereka sunyi dalam diam menyusuri jalanan yang dipenuhi sawit seketika Zein menghentikan langkah kaki-nya dan menatap Lukman disamping-nya.
"Lukman" Ujarnya menghentikan langkah Lukman.
"Iya?! " Tanya-nya dengan wajah yang sedikit bingung
"Aku rasa... Aku harus pastikan saja dahulu masalah gaji ini pada juragan" Zein akhirnya mengeluarkan isi pikiran dari kepala-nya pada Lukman.
"Aku akan kembali ke gudang... kau kembali saja kerumah dahulu tak usah menunggu -ku" Tambah Zein kembali melangkah pergi meninggalkan Lukman tanpa menunggu jawaban dari Lukman sama sekali.
"T-tunggu Zein, biar ku temani" Ujar Lukman melangkahkan kakinya hendak menyusul Zein.
"Tak usah Lukman, Kau kembali saja dahulu aku akan menyusul" Ujar Zein kembali dengan nada sedikit teriak dan melangkah kembali meninggal-kan Lukman menuju gudang tempat juragan berada.
Alhasil Lukman mengurungkan niat-nya mengejar Zein lalu melangkah pergi meninggalkan Zein.
"Pak tunggu sebentar" Ujar Zein kala mendapati Juragan hendak mengunci pintu gudang dengan gembok besar di tangan-nya.
"Ada apa? " Tanya juragan mendapati Zein kembali kegudang.
Dengan suara terengah-engah Zein melangkah pelan mendekati juragan dan menunjukkan amplop yang berisi uang di dalam-nya.
"Maaf Pak... Seperti-nya bapak khilaf dan salah menaruh jumlah uang tadi" Ujar Zein sembari memberikan amplop di tangan-nya
"Khilaf ?! " Tanya-nya kembali dengan wajah datar menatap Zein.
"Iya Pak ini, dilihat dulu" Zein kembali menyuguhkan amplop di tangan-nya yang tak kunjung diambil alih oleh juragan bertubuh kekar didepan-nya
"Ikut saya dulu kedalam" Ujar juragan malah mengajak Zein pergi dan tak membalas segala penuturan Zein.
Zein yang merasa bingung langsung berdiri tegak dari posisi menunduk-nya dan mulai mengikuti langkah kaki sang juragan bertubuh kekar itu kembali masuk kedalam gudang.
Juragan itu kini duduk dikursi kebanggaan-nya dengan mata yang memperhatikan Zein yang begitu patuh dengan pandangan hormat pada dirinya.
"Sini aku lihat dulu" Ujarnya dengan tangan meminta amplop ditangan Zein.
"Ohh ini pak" Ujar Zein menyuguhkan amplop di tangan-nya pada juragan di depan-nya.
Tampak dari mata Zein, sesosok pria bertubuh kekar dengan tangan yang besar itu mulai menghitung ulang uang yang ada didalam amplop. Tangan besar dan berurat itu kini, menyerogoh kantong celana-nya mengambil dompet tebal dari sana. Tampak jelas dimata Zein dompet itu seakan akan hendak meledak karna banyak-nya lembaran uang dipaksa masuk ke dalam-nya.
"Ini memang sengaja untuk-mu" Ujar juragan kembali memberikan uang itu pada Zein setelah memasukkan dua lembar uang kembali kedalam amplop tersebut.
Seketika saja mata Zein membulat sempurna terkejut bukan main mendengar penuturan dari juragan.
"T-tapi pak"
"Bapak tidak menyangka... Bahwa Allah bisa memberikan hidayah yang begitu besar kepada-mu nak. Mengingat dirimu yang dahulu telah berubah jauh seperti ini... Membuat diri bapak ingin ikut serta dalam membantu perjuangan-mu. Bahkan, uang sepeser ini kau malah kembali ingin memberikan-nya pada bapak. Sungguh, engkau pasti memang layak mendapatkan kebahagiaan " Ujar sang juragan menatap Zein yang masih menunduk hormat padanya.
Zein yang merasa bingung atas penuturan tersebut langsung menatap sang juragan. Melihat wajah Zein menatapnya dengan tatapan yang penuh dengan tanda tanya seketika sang juragan angkat suara.
"Dua hari yang lalu bapak tak sengaja melihatmu sedang sholat dari balik batang pohon sawit" Ujarnya mencoba menjelaskan
Seketika saja mata Zein membulat sempurna dengan tubuh yang bergetar dan seketika terdiam takut.
"Awalnya bapak sangat terkejut... Karna seperti yang ku tahu bahwa kau bukan seorang muslim. Tapi, begitu bapak mendengarkan do'a yang kau panjatkan aku rasa kini kau memang muslim sejati" Juragan mengambil nafas berat sebelum menyambung kalimatnya
"Aku tak tau ternyata hidupmu begitu berat... Mulai sekarang sholat lah di ruangan belakang gudang, tak ada siapapun yang akan melihatmu sedang sholat disana" Tutur sang juragan bangkit dari duduk-nya.
"Pak... " Ujar Zein lembut dengan suara pelan haru atas apa yang terjadi hari ini.
"Allah Maha melihat dan akan terus membantu kita nak... Segera kirim uang ini dan selamat-kan anak istrimu" Ujarnya kembali sembari menepuk pelan bahu Zein.
"Pak... Terima kasih banyak pak" Zein berucap dengan mata menahan tangis kala mendapati perlakuan baik dari sang juragan bertubuh kekar di hadapan-nya. Pria yang berwajah sangar ini, pria yang tak pernah menampakkan sisi keramahan dan kelembutan-nya pada para pekerja. Kini, tampak bagaikan manusia yang paling baik dimuka bumi ini dimata Zein.
"Berterima kasihlah pada Allah yang maha kuasa Zein. Sementara, aku hanyalah perantara dan manusia biasa disisi Allah" Tambah sang juragan dengan wajah tersenyum manis melihat Zein yang kini tampak menahan tangis dengan air mata yang tergenang di dalam pelupuk mata-nya bagaikan kolam ikan.
iya ga sih?
lagi kangen-kangennya kayaknya orang tua si Zein gak bakal marah deh