Indonesia
NovelToon NovelToon
Warisan DENDAM

Warisan DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Iblis
Popularitas:332
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.

Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.

Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.

Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14 : Itu hanya tuduhan

Tubuhnya tergeletak di lantai. Wajahnya penuh lebam; pipinya menggelap, matanya membengkak hingga nyaris tertutup. Darah mengering di sudut bibirnya. Napasnya tersengal, tak beraturan.

Dengan sisa tenaga, Victor menyeret tubuhnya menjauh. Telapak tangannya bergetar saat mencengkeram lantai, kukunya berdecit pelan. Rambutnya basah oleh keringat, menempel di dahi dan lehernya.

Di belakangnya, Blair berdiri tenang.

Ia menatap pemandangan itu dengan kepala sedikit miring, seolah sedang mengamati sesuatu yang menarik. Ujung bibirnya terangkat, tawa kecil lolos dari tenggorokannya dengan pelan, hampir lembut.

“Mau ke mana?” tanyanya ringan.

“sidangmu belum selesai.”

Belum sempat Victor berbalik, kaki Blair menghantam wajahnya.

Tubuh Victor terjerembap. Ia meringkuk sambil memegangi hidungnya, mengerang tertahan. Blair tidak berhenti. Ia melangkah maju, menjambak rambut Victor, memaksa wajah pria itu terangkat.

Mata mereka bertemu. Blair tersenyum.

“Kenapa menangis?” tanyanya, suaranya datar.

“Bukankah ini yang biasa kau lakukan pada Diana?”

Victor terengah, suaranya serak.

“A-aku… aku tidak segila ini…”

Tawa Blair terdengar lagi, lebih jelas kali ini. Ia mencondongkan tubuhnya, berbisik di dekat telinga Victor.

“Ini tidak lebih dari apa yang kau lakukan,” katanya pelan.

“Hanya saja...”

Ia melepaskan jambakannya, mendorong kepala Victor hingga terhantam lantai.

“...aku melakukan semuanya sekarang.”

Blair berdiri tegak di hadapannya, tatapannya merendahkan. Ia mengamati wajah Victor yang hancur, lalu perlahan menggeser pandangannya ke tangan pria itu, tangan yang gemetar, tangan yang dulu mengepal untuk memukul.

“Hampir seluruh tubuh Diana penuh luka,” ucap Blair tenang.

Leher. Lengan. Paha. Punggung.

Ia membungkuk sedikit, menatap Victor dari atas.

“Jadi katakan padaku…”

Senyumnya menipis, matanya dingin.

“Bagian mana yang perlu aku hancurkan lebih dulu?”

Mendengar itu, mata Victor terbelalak.

Ia menggeleng cepat, tubuhnya bergerak mundur dengan panik, telapak tangannya tergelincir di lantai licin. Tangisnya pecah, suaranya bergetar dan tak beraturan.

“Tidak, jangan… jangan lakukan itu,” pintanya putus asa.

“Aku minta maaf. Aku bersumpah tidak akan mengulanginya lagi. Tolong… lepaskan aku.”

Blair tidak langsung menjawab.

Ia hanya berdiri diam, menatap Victor dari atas dengan alis sedikit terangkat, seolah sedang mencerna sesuatu yang lucu.

“Tidak mengulanginya?” ulang Blair pelan.

“Melakukan apa lebih tepatnya?”

Victor terdiam. Napasnya tertahan. Matanya bergerak gelisah sebelum akhirnya menatap Blair.

“Kau… kau melakukan ini karena aku menganiaya Diana, kan?” katanya terbata.

“Aku salah. Ya, aku salah. Aku janji tidak akan menyentuhnya lagi. Aku mohon…”

Kata-kata itu membuat Blair tertawa kecil. Ia berlutut di hadapan Victor, sejajar dengan wajah pria itu. Senyumnya tipis, nyaris ramah namun matanya tetap dingin.

“Menarik,” ucap Blair pelan.

“Karena setahuku, aku memukulmu karena kau menyerangku dari belakang tadi.”

Ia memiringkan kepalanya.

“Kau juga membenturkan kepalaku ke dinding.”

Blair mendekat sedikit, cukup dekat hingga Victor bisa merasakan napasnya.

“Sedangkan soal Diana…” lanjutnya ringan,

“itu hanya tuduhan.”

Ia berhenti sejenak, membiarkan kata itu meresap.

“Lalu kenapa kau langsung mengiyakannya?” tanyanya.

“Atau… jangan-jangan, karena itu semua memang benar?”

Mata Victor membelalak. Mulutnya terbuka, namun tak ada suara yang keluar. Wajahnya pucat, keringat dingin mengalir di pelipisnya.

Blair tersenyum, lebih lebar kali ini. Ia berbisik, suaranya rendah dan tenang.

“Jujurlah padaku, Victor.”

Tangannya terangkat, jari telunjuknya menyentuh dagu Victor, memaksanya mendongak.

“Jika kau jujur,” lanjutnya lembut, “aku bisa melepaskanmu.”

1
Ibu'e Arfan Call
seru deh bacanya,👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!