Bagi Bianca, Bintang adalah dunianya, dan siapa sangka ternyata diam-diam Bintang menjadikan Bianca semestanya.
Bintang Milano pemuda yang nyaris sempurna dengan sejuta sinar yang ada pada dirinya. Dia baik hati, populer, dan tampan. Namun, entah apa yang membuatnya tidak berani mendekat ke arah Bianca.
Sedangkan bagi seorang Bianca Gibella mengagumi Bintang dari jauh sudah cukup.
"Bahagia itu sederhana, sesederhana dia yang tersenyum dan aku yang bahagia..."—Bianca Gibella
•
yang rindu masa-masa cinta menggemaskan di jaman sekolah selamat kalian telah menemukan cerita yang tepat. Banyak manisnya, tapi sedikit di beri bumbu misteri.
Tidak ada karya yang sempurna, yang ada hanyalah karya yang telah selesai
Tidak ada karya yang buruk, yang ada hanyalah perbedaan selera, semoga ceritaku bisa menjadi salah satu selera kalian
ig: purplemoccacino
cover: Pinterest
Edited by me
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon purplemocca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir
..."Ketulusan hanya memiliki awal. Untuk itu rasanya sangat mahal."...
...—MY BILO—...
...Rasa sakit mu akan selalu masuk ke dalam daftar yang dipertimbangkan. Jangan takut, selama napas masih terembus, aku akan selalu memprioritaskan lukamu.-Bianca Gibella...
...💫...
Setelah Kejadian Di Rumah Sakit [Setelah Bigi mendengar kabar kematian Bilo] . . .
Kehilangan itu luka dan setiap kehilangan akan selalu menyakitkan. Rasanya pun luar biasa pedih. Tak sedikit yang sulit menerima, kemudian memilih menyerah dengan hidupnya.
Bulu mata lentik gadis itu mulai mengerjap pelan, hingga perlahan-lahan matanya terbuka sempurna.
"Nyenyak tidurnya?" tanya seseorang dengan suara yang cukup asing ditelinga Bianca.
Bianca menatap langit-langit gamang, lalu menengok ke sumber suara, dan alangkah terkejut dirinya saat matanya menangkap sesosok pria yang sangat dikenalinya. Sosok itu tengah duduk di sebuah sofa panjang di samping ranjang dengan jarak yang cukup jauh.
Tidak mungkin. Bianca kontan terduduk, matanya terus memandang lekat sosok itu.
Apa berita kematian Bintang itu nyata, dan karena terlalu syok akhirnya dirinya pun ikut menyusul, dan saat ini mungkin dirinya sedang ditempat bernama surga? Pikirnya mulai ngawur.
Dia ... sosok itu ... sekalipun sudah lama tak jumpa, Bianca tidak akan mungkin salah mengenali.
Pria yang juga tengah memandangnya berkaca-kaca itu adalah Bagas Argantara.
"A-yah?" ucap Bianca tercekat.
Pria itu mengangguk kuat, kaki panjangnya mulai melangkah ke arah sang putri. Seperkian detik, rengkuhannya mulai terasa menghangatkan seluruh tubuh Bianca.
"Bigi-nya Ayah," ujar Ayah Bagas serak.
Bianca membalas pelukan sang ayah begitu erat, berusaha menumpahkan rasa rindunya selama ini.
Tanpa dikomando, ke duanya pun hanyut dalam tangis bahagia.
...💫...
"Ayah, apa sekarang kita lagi di surga?" Bianca tahu, pertanyaan konyol. Tapi, lebih mustahil kalau ayahnya hidup kembali setelah meninggalkan dunia lima tahun lamanya.
Ayah Bagas terkekeh. "Ayah masih manusia, Bigi."
Nyatanya jawaban sang ayah barusan jauh lebih mengejutkan dari apa yang dipikirkannya.
"Maksud Ayah?" beo Bianca.
"Ayah manusia, dan kita masih ada di dunia," terang Ayah Bagas.
"Enggak mungkin!" bantah Bianca.
"Bukanya Ayah..." tanya Bianca menggantung.
"Nanti. Nanti Ayah akan jelaskan semuanya. Sekarang yang terpenting kamu harus sembuh."
"Aku gak sakit!" bantah Bianca masih setengah linglung.
Seketika dirinya jadi ingat penyebab dirinya tak sadarkan diri.
"Bilo?" cicit Bianca.
"Bilo-mu masih hidup dan sehat walafiat. Jadi ... tenangkan diri kamu," pungkas Ayah Bagas.
"Jadi ..."
"Iya, semua hanya strategi," balas Ayah Bagas lugas.
Bianca merengut. Walaupun terasa ada bongkahan besar yang seketika terangkat dari dadanya, tetap saja ada rasa tak terima karena telah dipermainkan seperti ini.
"Jahat! Strategi kalian gak lucu. Aku ... aku hampir-"
"Stt... maafkan kami Bigi, maafkan Ayah. Ayah tau ini terlalu berisiko, bahkan Bilo-mu sampai mengamuk karena kamu yang udah 7 jam gak sadarkan diri, jadi sebagai calon mertua yang baik Ayah harus kasih tau kondisi kamu ke pacarmu itu dulu," sanggah Ayah Bagas tak ayal ikut merasa bersalah.
"Jadi sekarang Bilo di mana?" tanya Bianca dengan rasa yang lega luar biasa.
"Dia dan sahabatnya sedang menjalankan strategi buat menjebak manusia berengsek itu."
"Aku pengin ke sana," desak Bianca.
Ayah Bagas ingin menolak, tapi melihat sorot permohonan putrinya, beliau pun hanya bisa mengiyakan.
"Baik, tapi kamu gak sendiri. Kamu bakal ditemani Lolita Kinar, dan Gitta yang akan mengawal kalian."
Bianca mengernyit. "Gitta?"
Ayah Bagas mengangguk.
"Gitta tolong ke ruangan kami sekarang," ucap Ayah Bagas lewat telepon.
Tak lama ketukan pintu terdengar, dan terlihat Gitta berdiri di sana dengan setelan serba hitam. Bianca sempat mengerjap tak percaya.
Argitta yang dirinya kenal adalah gadis lugu yang suka malu-malu kucing, bukan gadis dewasa berperawakan mungil dengan aura intimidasi yang kuat.
Tak lama Lolita dan Kinar ikut menyusul.
"Mingkem Bi!" ledek Lolita.
"Gue tau lo juga syok. Gue pun sama. Ternyata selama ini Gitta ditugasi Om Bagas buat mengawal lo," papar Lolita.
"Ah dan satu lagi, dia lebih tua dari pada kita. Umurnya 20 tahun, kita banyak ditipu emang sama dia," sambung Lolita dengan raut wajah kesal. Masih tak terima dengan wajah yang suka sok polos itu ternyata jauh lebih tua darinya.
...💫...
Tragedi. [Masa sekarang] . . .
Wajah Bintang langsung pucat saat tangannya terasa basah, belum lagi kesadaran Bianca yang mulai melemah.
"Bajingan!" maki Bintang saat melihat darah segar mengotori tangannya.
Orlando sudah tak sadarkan diri akibat lima peluru yang bersarang ditubuhnya. Sedangkan Gitta yang sudah memberikan pertolongan pertama pada Arlanzio langsung berlari ke arah Bianca.
"Siapkan mobil!" perintah Gitta menyadarkan rasa syok yang menderai semua orang.
Brian dan Adnan sigap berlari ke luar, disusul dengan Lolita dan Kinar yang berusaha tetap tenang.
Tim Bintang dengan sigap membopong Arlanzio membawanya ke mobil, sedangkan Bianca masih diberikan pertolongan pertama oleh Gitta.
...💫...
Semua telah usai. Titik yang menjadi awal permasalahan sudah musnah. Kini yang tersisa hanya luka. Luka itu mungkin akan terus membekas, tapi bukan berarti tidak bisa disembuhkan.
Karena memang setiap luka pada dasarnya ada obatnya.
Bianca dan Arlanzio sudah melewati saat-saat menegangkan. Mereka kini tengah tertidur nyenyak berusaha melupakan tragedi berdarah-darah itu sejenak.
"Gue gak nyangka bakal melewatkan fase ini," ungkap Lolita masih tidak percaya dengan jalan cerita kehidupannya.
"Gue gak nyangka, kalau jalan cerita kehidupan gue bakal ada unsur misteri dan laga-nya," lanjutnya sukses membuat Kinar memandangnya sekilas.
Lolita, Kinar dan Gitta enggan pulang, untuk itu mereka memilih ikut menunggu di kursi tunggu.
Lolita beralih menatap Gitta yang duduk di samping kanannya.
"Git, kenapa lo gak bilang?" tuntut Lolita.
"Aku harus bilang apa?" Gitta bertanya menggunakan bahasa lugunya.
Lolita memutar bola mata jengah. "Udah, deh, gak usah sok lugu. Gue udah lihat keahlian elo tadi."
"Aku? Keahlian apa?" Gitta masih pura-pura polos.
Lolita berdecak. "Itu tembak-tembakan!"
Gitta terkekeh, tangannya terulur ke pucuk kepala Lolita, lalu menepuknya perlahan.
Lolita mendelik. Matanya sudah seperti ingin keluar, mulutnya juga ikut terbuka berniat melayangkan protes.
"Ingat, tuaan gue," seloroh Gitta yang berhasil membuat Lolita bungkam.
"Iyaaa orang tua," decih Lolita.
...💫...
Bintang hanya bisa terdiam dengan tangan yang terus menggenggam tangan Bianca. Ayah Bagas sudah memintanya untuk menjaga Bianca secara bergantian, tapi pemuda itu menolak.
Bintang menerawang ke kejadian di mana Bianca yang diberikan informasi palsu tentang kepergiannya. Kini, Bintang sangat memaklumi kenapa reaksi Bianca bisa se terguncang itu, karena ternyata rasanya memang sangat-sangat menyakitkan.
Bahkan Bintang bersumpah tak akan pernah bermain-main lagi dengan kata mengerikan itu.
Ditinggalkan oleh orang yang berharga dalam hidup itu laksana jantung yang tengah terpompa secara teratur lalu tiba-tiba dicabut paksa.
Seperti ingin mati, lalu akan mati secara perlahan.
Dering ponsel berhasil mengalihkan lamunannya. Bintang bisa melihat nama Brian yang tertera di sana.
"Halo, Yan."
"Arlan udah sadar, Bianca gimana?"
"Cewek gue masih betah tidur. Yaudah, lo jagain dia. Dia masih kenal dirinya sendiri, 'kan?" tutur Bintang yang dihadiahi kekehan Brian.
"Tenang aja, dia masih tau kalau lo sepupunya."
"Syukur lah, dia masih banyak utang penjelasan sama gue."
Sambungan pun terputus. Dan tiba-tiba ...
"Bilo."
Suara yang dirindukan pemuda itu baru saja menyapa telinganya halus.
"Bigi Sayang," sahut Bintang takjub saat melihat mata Bianca yang benar-benar sudah terbuka.
"Apa yang sakit, Sayang? Mau apa, hm?" tanya Bintang dengan suara seraknya. Dirinya tak mampu membendung buncahan bahagia karena bisa melihat Bianca yang sadarkan diri.
Bianca menggeleng lemah. "Aku sayang kamu."
Air mata Bintang lolos. Bintang pun mengangguk, lalu merunduk untuk memberi kecupan panjang di dahi Bianca.
"Selamat datang kembali, Bigi. Aku sayang kamu juga."
Mata Bianca terpejam seolah tengah meresapi aliran energi cinta dari Bintang.
...💫...
Entah sudah berapa puluh kali Bintang berhasil mengucapkan rasa syukur dari beberapa detik yang lalu, tapi intinya ucapan syukur itu sudah tercetus dalam hatinya sesaat mata Bianca bertatapan langsung dengan netra miliknya.
Ini lah akhir dari luka ke duanya, tapi ini juga merupakan awal dari perjalanan cinta mereka yang baru.
Kisah antara langit malam dan bintangnya masih berlanjut...
Semoga bahagia selalu menantikan keduanya.
...💫...