Rumah sudah kokoh berdiri, kendaraan terparkir rapi, tabungan yang cukup. Setelah kehidupan mereka menjadi mapan, Arya justru meminta izin untuk menikah lagi. Istri mana yang akan terima?
Raya memilih bercerai dan berjuang untuk kehidupan barunya bersama sang putri.
Mampukah, Raya memberikan kehidupan yang lebih baik bagi putrinya? Apalagi, sang mantan suami hadir seperti teror untuknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Egha sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Keputusan Raya
"Kau yakin dengan keputusanmu?" tanya Retno, dengan lirih, "Ra. Bersabarlah. Aku akan membantumu mencari pekerjaan baru. Ingat Lily, Ra. Dia harus punya masa depan yang lebih baik. Setidaknya, berikan dia pendidikan sampai jenjang yang lebih tinggi, tidak perlu hidup mewah. Bisa makan, dan mengontrak rumah serta biaya sekolah, itu sudah cukup."
"Aku tahu," jawab Raya, sembari terisak pedih, "tapi, aku lelah. Aku tertekan. Apa karena aku terlihat hina, mereka bisa seenaknya?"
"Jangan pedulikan itu. Kau tahu, kau menyerah seperti ini adalah keinginan mereka. Jika aku jadi kau, aku akan menerima si dokter itu. Biar tahu rasa ibunya. Bisa apa dia, jika putranya jatuh cinta padaku."
"Aku tidak berniat untuk menikah lagi, Ret. Satu kali, sudah cukup. Aku sudah nyaman dengan mengurus diri dan Lily, tidak mau menambah beban pikiran lagi. Merepotkan jika aku harus mulai dari awal, memasak, mencuci pakaiannya, tidak, aku sudah pernah melalui itu. Hidup sendiri, lebih menyenangkan, karena aku tidak perlu memikirkan menu sarapan setiap malam."
"Hahaha.... tapi, jika kau bersama si dokter, kau tidak perlu memikirkan hal seperti itu. Sudah pasti, akan ada ART, koki dan pengasuh. Kau hanya perlu menikmati hidup."
"Itu jika aku terlahir, setara dengannya. Kita harus realistis, Ret. Tidak ada cinderela, di dunia nyata. Aku tidak mau bermimpi, hal yang terlalu tinggi, bisa-bisa aku kurus kering."
"Kalau begitu, abaikan mereka. Kalian tidak punya hubungan dan kau juga tidak berniat menikah lagi. Kenapa kau harus mundur, saat kau tidak melakukan kesalahan?" Raya terdiam. "Ra, ingat tujuanmu, setelah bercerai."
"Aku ingat. Tapi, aku tidak bisa mengabaikan semua yang terjadi. Aku lelah."
"Bagaimana kalau kita pindah?" usul Retno.
"Ah, tidak. Jangan melakukan hal itu, hanya karena masalahku. Jika ingin pindah, aku akan mencari kos-kosan sendiri. Kau sudah lama berada disini, pasti melelahkan untuk mencari tempat tinggal baru. Sepertinya, aku menerima usulanmu. Mungkin, aku harus pindah dan mencari pekerjaan baru."
Retno langsung menjatuhkan pelukan. "Aku senang mendengarnya, tapi aku akan kesepian. Apa aku tidak bisa ikut denganmu?"
"Ayolah. Aku terlihat seperti ibumu, jika kau mengatakan itu."
Berkat Retno, Raya akhirnya mengubah keputusan. Pakaian yang sudah dikemas, kembali dimasukkan dalam lemari. Raya harus mencari pekerjaan baru, lalu mencari tempat tinggal di sekitar tempatnya bekerja nanti. Ia tidak memiliki kendaraan, jadi sebisa mungkin mencari tempat yang sangat dekat.
"Aku sudah mencari lowongan, tapi semua hanya untuk yang memiliki pendidikan tinggi."
"Tunggu, aku akan bertanya kepada teman-temanku. Kita butuh informasi lain."
"Baiklah. Aku akan menyiapkan makanan."
Dengan keputusan baru, suasana hati Raya sedikit lebih baik. Ia memasak dengan wajah yang penuh senyuman. Suara talenan beradu dengan pisau, terdengar indah. Ditambah, aroma tumisan bawang yang sudah mengunggah selera.
Tidak butuh waktu lama, untuk menyelesaikannya. Tumis kangkung, tempe, tahu goreng dan sambal terasi tersaji diatas lantai.
"Udah, yah?" tanya Retno, yang sedikit kaget dengan menu yang sudah nada didepan mata.
"Bagaimana?" Raya duduk bersila, sembari memberikan Retno, sepiring nasi yang masih beruap.
"Aku sudah bertanya. Nanti mereka beri kabar. Tidak lama kok. Dulu, aku menemukan pekerjaan untukmu pertama kali, itu dari informasi mereka."
"Mudah-mudahan, ada kabar bagus."
"Kita harus berdoa."
Keduanya menikmati menu sederhana, dengan harapan akan ada deringan HP pembawa kabar baik. Satu dua jam, mereka masih tampak optimis. Namun, jam-jam berikutnya, keduanya mulai pesimis. Apalagi, diluar sana mulai tampak gelap.
"Kau mau keluar sebentar?" tanya Retno, mencoba memperbaiki suasana.
"Ke mana? Ini sudah malam," ujar Raya dengan malas. Memilih rebahan diatas kasur.
"Yah, cari udara segar, Ra. Sumpek di kamar terus."
"Aku mengantuk, mau tidur saja." Raya memejamkan mata, saat Retno masih mengobrol.
Disaat itu, notifikasi ponsel Retno terus berbunyi. Pesan beruntun, terus saja masuk. Raya yang ingin tidur, langsung bangkit dengan punggung lurus.
"Bagaimana? Ada kabar?"
"Ini kebanyakan." Retno memberikan ponselnya, mungkin lebih baik Raya melihatnya sendiri, sembari memilih.
"Aku bingung,* ujar Raya, dengan pandangan fokus pada layar ponsel.
"Pilih yang gajinya banyak, Ra."
Retno mendekat, ikut memperhatikan pesan dari teman-temannya. Satu persatu, tertulis dengan rinci, jenis pekerjaan dan besaran gaji, setiap bulan. Ditambah, kelebihan dan kekurangan, mulai dari lingkungan, suasana, rekan kerja dan atasan.
"Ra. Lihat, bukankah gajinya lumayan, untuk seorang cleaning servis. Tapi, .... " Retno membaca kembali detail pekerjaan tersebut, yang nyatanya memiliki banyak beban mental. "Ah, tidak. Pilih yang lain."
"Aku ingin mencoba di tempat ini. Bukankah ini perusahaan besar? Gajinya lebih dari cukup dan aku bisa menabung, tanpa harus bekerja di dua tempat sekaligus."
"Ra, bukannya ini perusahaan tempat si brengsek itu bekerja?"
Raya membaca dengan cermat nama perusahaan tersebut. Berikutnya, ia menarik napas panjang. "Dia hanya karyawan disana, bukan pemilik atau direktur. Aku tidak peduli, aku akan mencoba melamar disana. Jika ditolak, aku akan melamar ditempat yang lain."
"Baiklah. Aku akan mendukung keputusanmu. Sekarang, siapkan berkasmu."
Raya terpaksa memulai dari awal, untuk menyiapkan berkas lamaran. Meski, ditempat yang baru ini, teman Retno banyak menulis keluhan, yang tentu saja dari pengalaman orang-orang yang bekerja disana. Raya tidak peduli. Ia butuh uang untuk hidup. Masalah beratnya pekerjaan ditempat itu, ia akan berusaha sebaik mungkin.
Dan masalah lainnya, tentu saja, si mantan suami. Mungkin, Raya akan tidak nyaman, apalagi akhir-akhir ini, Arya mulai mengganggu hidupnya kembali. Tapi tenang, bukankah Tari juga bekerja ditempat yang sama?
"Kenapa?" tanya Retno, melihat Raya tersenyum.
"Aku belum menceritakanmu, tentang Arya yang ingin rujuk."
"Apa?" pekik Retno, "kau gila dan menerimanya, makanya kau tersenyum?"
"Hei, kau pikir otakku habis dimakan rayap. Dia sudah dua kali menemuiku di restoran, beruntung ada dokter Adrian. Mungkin, karena ia terus menolongku, makanya ibunya datang."
"Si brengsek itu mau rujuk? Memangnya, istri barunya bermasalah atau dia yang tidak tahu malu?"
"Entah. Makanya, aku tersenyum tadi. Jika dia melihatku di perusahaan, entah bagaimana perasaannya. Tari juga bekerja disana, aku berpikir untuk mengganggu mereka sebentar."
"Dia bisa besar kepala. Sebaiknya, kau fokus saja dengan tujuanmu kesana. Jika dia mendekatimu, kau bisa mengadu pada istri barunya. Hahaha.... lucu sekali. Selain brengsek, dia juga tidak punya malu. Aku heran kenapa pria seperti itu berumur panjang?" Retno merapatkan tubuhnya. "Ra, sebaiknya kau menjauhinya. Dia bisa menjadi masalah ditempat barumu. Apalagi, posisinya seorang manajer umum. Kau tidak lupakan, jabatan si bajingan itu."
Ah, benar! Raya melupakan hal itu. Bisa saja, Arya menggunakan jabatannya, untuk mengganggu pekerjaannya. Tapi, ....
🍁🍁🍁
km lbh cocok sama dia
biarkan Adrian sama mantan tunangannya