Perselingkuhan adalah sebuah dosa terbesar di dalam pernikahan. Namun, apakah semua perselingkuhan selalu dilandasi nafsu belaka? Atau, adakah drama perselingkuhan yang didasari oleh rasa cinta yang tulus? Bila ada, apakah perselingkuhan kemudian dapat diterima dan diwajarkan?
Sang Rakyan, memiliki sebuah keluarga sempurna. Istri yang cantik dan setia; tiga orang anak yang manis-manis, cerdas dan sehat; serta pekerjaan mapan yang membuat taraf hidupnya semakin membaik, tidak pernah menyangka bahwa ia akan kembali jatuh cinta pada seorang gadis. Awalnya ia berpikir bahwa ini semua hanyalah nafsu belaka serta puber kedua. Mana tahu ia ternyata bahwa perasaannya semakin dalam, tidak peduli sudah bertahun-tahun ia melawannya dengan gigih. Seberapa jauh Sang Rakyan harus bergulat dalam rasa ini yang perlahan-lahan mengikatnya erat dan tak mampu ia lepaskan lagi.
Kisah ini akan memeras emosi secara berlebihan, memberikan pandangan yang berbeda tentang cinta dan kehidupan pernikahan. Cerita p
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nikodemus Yudho Sulistyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Juang dan Kondisi Florencia
Juang muncul di depan pintu rumah Florencia. Sang ibu, sudah begitu akrab dengan kehadiran sahabat karib yang tepat seperti ucapan Florencia tempo hari, telah dianggal seperti keluarga saja.
Tidak ada masalah antara hubungan Juang dan Florencia di dalam keluarga tersebut. Alasannya jelas, Juang adalah seorang perempuan, dan tidak ada pertentangan budaya maupun agama dalam hubungan semacam ini. keakraban keduanya pun menjadi tulus. Walau, mungkin dari sisi sang ibu, keberadaan Juang menjadi semacam ‘penjaga’, yang dapat membantu melindungi Florencia dari kerasnya dunia kerja.
Ini dapat dilihat dari kondisi seorang Florencia.
“Udah minum obat belum, Flo?” tanya Juang tepat ketika kakinya menginjak lantai rumah Florencia.
“Udah, Kak. Ih, bawel, deh,” protes Florencia.
“Ah, kamu, kayak sehat aja jadi orang. Udah bagus diingetin. Ingat kan waktu kamu lupa minum obat gerd waktu itu?” ujar Juang.
Ucapan Juang ini merujuk pada kejadian tahun lalu, dimana Juang disadarkan dengan kondisi fisik dan mental Florencia yang kompleks.
Saat itu ruang Produksi dan Multimedia, dengan penerangan dari beragam laptop serta suara klik tetikus bersahutan dari para pekerja, Florencia duduk di mejanya. Juang sengaja mampir hanya untuk menyapa sahabatnya itu untuk mengingatkan janji mereka makan malam di luar.
Juang melihat wajah Florencia pucat. Botol air putih ada di samping laptopnya.
“Hei, Flo. Kamu kenapa? Pucat amat? Sakit?” tanya Juang dengan penuh perhatian.
“Astaga. Kayaknya aku kambuh lagi,” ujar Florencia sembari memegang perutnya.
Cepat-cepat ia membuka tasnya, mengambil dua tablet kecil berwarna putih dan menelannya dengan bantuan air di botol.
“Aku nggak apa-apa, Kak. Kembung sedikit. Ini sedikit lagi harus aku selesaikan menggambar mockup untuk proyek kampanye digital,” ujarnya. Entah kepada Juang atau dirinya sendiri.
“Lah, kamu belum istirahat dari siang tadi?” ujar Juang setengah berseru.
Florencia meringis.
Saat itulah kemudian Juang tahu bahwa kesehatan Florencia yang rentan itu tidak bisa dianggap sepele.
Florencia harus izin selama dua hari karena masuk rumah sakit karena ini.
Florencia memiliki GERD kromis dan maag fungsional yang membuatnya kerap merasa ngilu di ulu hati, terutama ketika stres dengan pekerjaan yang menumpuk dan harus segera diselesaikan. Ia harus minum obat omeprazole atau ranitidine secara rutin.
Florencia juga sering merasa migrain dan pusing saat terlalu lama menatap layar atau kurang tidur. Tambahan dengan anemia ringan, atau masalah pencernaan karena stres. Obat herbal, vitamin, dan minyak angin tidak lupa selalu ia bawa.
Si penjaga, Juang, tahu tugasnya.
Maka, hubungan kakak-adik ini semakin terasa nyata berkat dukungan dari kedua orang tua Florencia. Florencia pun merasa bahwa hidupnya menjadi lebih bermakna, meski dalam hal pasangan, laki-laki berlatar belakang agama, budaya, apalagi status yang berbeda tidak akan mendapatkan tempat di keluarga mereka.
“Makanya aku nggak pengin kawin, Pak,” curhat Florencia kepada Sang suatu masa, sewaktu rasa cinta diantara keduanya baru diam-diam dan pelan-pelan merangkak untuk berkembang.
Sang tertawa, sedikit getir, dan Florencia sempat menangkap atmosfir itu.
“Saya mau bilang apa, ya. Teman ngggak banyak, jodoh juga makin susah, ya?”
Florencia melambai-lambaikan tangannya di udara. “No, big deal, lah, Pak. Udah aku bilang, aku nggak pengin kawin.”
Keberadaan Juang, Sang dan Adijaya, seakan sudah sempat memenuhi keperluan jiwa dan perasaan Florencia. Sebagai sahabat akrab, Juang memberikan banyak hal bagi Florencia. Persahabatan mereka membantu Florencia memaknai hidup dengan lebih baik. Ia mendapatkan kebahagiaan di sela-sela permasalahan diri sendiri, maupun kekangan keluarga yang tak kasat mata. Kebebasan mungkin bukan hal yang ia sungguh inginkan. Bagaimana ia bisa hidup di luar sana dengan keadaan semacam ini? Yang lemah fisik maupun mental?
Ia sungguh berterima kasih dengan Juang, tulus. Hampir seluruhnya ia jujur kepada wanita itu. Mengenai perasaan, masalah yang ia hadapi dengan orang-orang di tempat kerja maupun di rumah, termasuk penyakit fisiknya, atau hal-hal remeh-temeh lainnya.
Namun, ada satu hal yang sungguh tak bisa ia katakan dan ia sekap dalam-dalam, ia ikat erat-erat, yaitu, semua hal yang berhubungan dengan perasaannya terhadap Sang, sampai saat ini.
“Ada masalah, Flo? Ya, selain urusan kantor dan kerjaan. Soalnya, biar aku juga paham kondisi kejiwaan kamu, agak nggak adil kalau bilang masalah itu nggak membuat semua orang di kantor stres.”
Tentu, Florencia tak bisa mengatakannya. Ia tak bisa menjelaskan kepada Juang bahwa ia dan Sang telah sama-sama mengakui perasaan cinta dan sayang keduanya dengan gamblang. Bahwa hubungan mereka kini disapih menjadi persahabatan platonis, yang menurutnya cukup konyol. Ia tak yakin bisa perlahan tak mencintai laki-laki beristri itu. Meninggalkannya ia tak mampu, maka, satu-satunya cara adalah tetap dekat, meski memiliki hubungan yang tidak biasa.
Toh, memang tak ada hubungan normal yang lahir dari situasi semacam ini.
Coba kamu bayangkan, Kak. Laki-laki Cina, beragama Buddha pun belum tentu mendapatkan restu dari orang tuaku. Mungkin ia harus kaya, mungkin dari latar belakang keluarga yang baik, dan sebagainya. Mana aku juga belum tentu suka dan nyambung dengan laki-laki itu. Terus, apa dia bisa menerima kegilaanku?
Laki-laki beda agama? Kalau Protestan atau Katolik, mungkin bisa, tapi bukan Cina? Jangan harap. Kalau pun Cina, ya kembali lagi ke syarat-syarat lain yang pertama tadi.
Nah, apalagi laki-laki bukan Buddha, bukan Cina, beristri pula. Bisa-bisa bom atom dijatuhkan tepat di atas kepalaku.
Sialnya, laki-laki itu yang membuatku jatuh cinta, yang juga mencintaiku, yang juga memahamiku, mengerti, nyambung, paham. Aku juga suka dengan setiap sisi dari dirinya. Caranya berbicara, berjalan, berpikir, memperhatikanku, bahkan caranya menenggak segelas kopi pun membuatku tak bisa tidur semalaman.
Kalau cinta ini salah, cinta ini berdosa, aku adalah produk kesalahan cinta itu sendiri.
Tentu saja hal inilah yang dipendamnya dalam-dalam dan tidak dimengerti oleh Juang barang sedikit pun.
“Biasalah, Kak. Otakku suka overthinking.”
“Ya, bahkan overthingking pun pasti ada alasan khusus, kan, Flo? Mau cerita?”
Mau cerita? Pemikiran ini menggodaku terus-menerus, Kak. Tapi, bukan aku tak percaya dengan kamu. Masalahnya, ah, semua akan kacau. Aku nggak berhak egois, tepat seperti apa yang Pak Sang bilang. Aku harus paham bahwa ini bukan sekadar masalahku, tapi Pak Sang juga. Membongkar ini sedikit saja akan membuat Pak Sang mendapatkan kesulitan. Laki-laki itu sudah mendapatkan kerumitannya sendiri. Memiliki rasa pada seorang gadis tingting yang usianya lebih muda, sedangkan ia sendiri sudah memiliki sebuah keluarga sempurna, sudah merupakan masalah sendiri baginya.
Begitu batin Florencia.
“Nggak ada, Kak. Jadi mau keluar? Ayuk.”
Juang mengernyitkan keningnya, menyipitkan matanya, tetapi kemudian mengangguk. Ia sama sekali tak curiga. Florencia sering seperti ini. Bukan berarti menyepelekan cara kerja, sistematika, dan mekanisme pikirannya, tetapi memang harus diakui, acapkali apa yang menjadi masalah bagi Florencia belum tentu masalah yang besar bagi rata-rata orang. Florencia sadar itu, dan kerap mencoba memahami dan menyelesaikan sendiri.
Malam itu, keduanya pergi keluar rumah.
bahkan mungkin Bang Niko juga ikut berandai-andai begitu😂