Di tengah, Ilyas Renvar, remaja laki-laki cerdas berusia 21 tahun, terlihat dengan ekspresi serius dan misterius, mengenakan pakaian gelap penuh lapisan dan armor ringan, tangannya memancarkan aura energi supranatural.
Di belakangnya, Seraphine Vaelor, wanita cantik dengan rambut pirang panjang, berdiri dengan sikap elegan namun dingin, menunjukkan kekuatan dan dominasi intelektualnya. Di langit kelam, samar-samar muncul wujud Arsitek—entitas tak kasatmata yang mempengaruhi dunia.
Di bagian bawah, seorang pria tua menunduk, seolah menunggu eksekusi, dikelilingi pasukan bersenjata, menegaskan sistem kekuasaan brutal di kota Varethra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar Baru
Tiga bulan berlalu sejak Seraphine Vaelor berdiri di balkon istana untuk pertama kalinya sebagai Kanselir Varethra.
Tiga bulan bukanlah waktu yang lama untuk mengubah sebuah kota yang telah terbiasa dengan kebohongan selama tiga puluh tahun. Tapi cukup untuk memulai. Cukup untuk menunjukkan bahwa perubahan itu mungkin. Cukup untuk membuat orang-orang yang selama ini hanya bertahan mulai bermimpi lagi.
Langit Varethra tidak lagi merah.
Warnanya sekarang biru pucat—biru seperti langit di pagi hari setelah badai, ketika awan-awan mulai tersibak dan matahari berusaha muncul. Masih ada kabut tipis di kejauhan, dan polusi dari pabrik-pabrik tua masih mengotori udara di distrik-distrik padat. Tapi warna merah itu—warna yang selama ini dianggap sebagai ciri khas Varethra, warna yang konon berasal dari debu-debu di fondasi menara—telah memudar. Seolah-olah dengan tidurnya Pengukir, kutukan warna itu juga ikut lenyap.
Ilyas berdiri di atap rumah amannya yang lama—bukan lagi rumah aman, karena tidak ada yang perlu disembunyikan lagi. Kini ia hanya rumah. Rumah bagi Ilyas, bagi Voss dan Mathea yang masih membutuhkan waktu untuk saling mengenal kembali, dan kadang-kadang bagi Mira yang datang dan pergi sesuka hatinya.
Distrik Bawah tidak banyak berubah secara fisik. Jalan-jalan masih sempit, selokan masih bau, dan bangunan-bangunan masih reot. Tapi orang-orangnya berbeda. Ada senyum di wajah mereka yang tidak ada sebelumnya. Ada keyakinan bahwa besok mungkin lebih baik dari hari ini. Dan ada harapan—harapan yang tidak lagi mereka sembunyikan di balik topeng ketakutan.
"Kau berdiri di sana sudah satu jam," kata Mira dari belakang, memanjat naik ke atap dengan gerakan yang lincah. Rambutnya yang pendek gelap kini sedikit lebih panjang, dan di pipinya, ada bekas luka baru—kenangan dari hari-hari terakhir pertempuran melawan pasukan bayangan yang tersisa. "Menunggu seseorang?"
"Menikmati pemandangan," jawab Ilyas. "Ini pertama kalinya aku bisa melihat matahari terbit dari sini tanpa kabut merah menghalanginya."
Mira berdiri di sampingnya, matanya juga menatap timur—ke arah langit biru pucat yang mulai berubah menjadi keemasan. "Cantik. Tapi aneh. Varethra tidak pernah secantik ini."
"Varethra selalu cantik. Kita saja yang tidak pernah bisa melihatnya karena terlalu sibuk bertahan hidup."
Mira tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana, menikmati keheningan yang anehnya damai.
"Apa rencanamu setelah ini?" tanya Ilyas. "Kau tidak akan terus tinggal di sini, kan? Kau bukan tipe orang yang betah diam di satu tempat."
"Aku akan menjadi Kepala Pengawal Pribadi Kanselir." Suara Mira datar, tetapi ada kebanggaan di balik ketenangan itu. "Seraphine menawarinya minggu lalu. Aku pikir-pikir, lalu menerima."
"Aku kira kau akan menolak. Kau tidak suka politik."
"Aku tidak suka politik. Tapi aku suka Seraphine. Dan aku percaya padanya. Ia membutuhkan seseorang yang tidak akan ragu untuk melindunginya—bahkan dari para sekutunya sendiri, jika perlu."
Ilyas tersenyum. "Kau akan menjadi pengawal yang baik."
"Aku akan menjadi pengawal yang ditakuti." Mira tersenyum kembali—senyum yang jarang ia tunjukkan, yang membuatnya terlihat seusianya. "Itu lebih efektif."
Mereka tertawa bersama—tawa kecil, ringan, tanpa beban. Tawa yang tidak pernah mereka miliki tiga bulan lalu.
—
Voss dan Mathea sedang duduk di ruang utama ketika Ilyas turun dari atap.
Arsitek tua itu tampak lebih muda dari tiga bulan lalu—atau mungkin hanya lebih tenang. Keriput di wajahnya masih ada, tetapi matanya tidak lagi sembab karena kurang tidur atau menangis. Ia duduk di kursi kayu, tangan memegang cetak biru, tetapi pikirannya jelas tidak di cetak biru itu. Matanya tertuju pada Mathea, yang duduk di lantai dekat perapian, kepalanya bersandar di lutut ayahnya.
Mathea masih kurus, dan matanya masih kosong kadang-kadang, ketika ingatan tentang ruang bawah tanah yang gelap datang tanpa diundang. Tapi ia sudah mulai berbicara lebih banyak, sudah mulai tersenyum, sudah mulai hidup. setiap hari adalah proses penyembuhan, dan proses itu tidak akan selesai dalam waktu dekat. Tapi setidaknya, ia tidak sendirian.
"Ayah," kata Mathea, tanpa membuka mata, "kapan kau akan berhenti menatap cetak biru itu? Sudah tiga bulan, dan kau belum memulai proyek apa pun."
"Aku sedang memikirkan proyek terbesarku," jawab Voss, suara nya hangat.
"Apa?"
"Rumah baru. Untuk kita bertiga. Untuk Ilyas juga, jika ia mau. Rumah yang tidak perlu disembunyikan, yang tidak perlu dijaga oleh mantan pasukan bayangan, yang hanya berisi... kebahagiaan."
Mathea membuka matanya, menatap ayahnya. "Kedengarannya mahal."
"Kita punya banyak uang, Mathea. keluarga Vaelor membayar lunas untuk semua menara yang aku bangun. Aku bisa membangun istana kecil jika aku mau." Voss tersenyum. "Tapi aku hanya ingin rumah. Rumah yang terasa seperti rumah."
"Boleh kubantu merancangnya?"
"Kau tidak bisa merancang bangunan, Mathea. Kau tidak pernah belajar."
"Aku bisa belajar. Aku punya waktu."
Voss menatap putrinya untuk waktu yang lama, lalu mengangguk. "Baiklah. Aku akan mengajarimu. Tapi jangan mengeluh kalau materinya sulit."
Mereka berdua tersenyum—senyum yang hangat, yang tulus, yang terasa seperti keluarga.
Ilyas, yang berdiri di ambang pintu, tidak ingin mengganggu. Ia berbalik diam-diam dan pergi ke dapur, tempat secangkir teh hangat menunggunya—teh yang disiapkan oleh Mathea pagi ini, dengan daun-daun yang dibeli dari pasar, bukan hasil curian atau barter.
Teh itu terasa manis. Ilyas tidak tahu apakah Mathea menambahkan gula, atau karena ia meminumnya dengan perasaan yang berbeda.
—
Di istana, Seraphine duduk di ruang kerjanya—ruangan yang sama di mana Kanselir Morvain dulu menandatangani surat-surat kematian. Sekarang, dinding-dindingnya telah dicat ulang dengan warna krem lembut, dan di meja, tidak ada lagi tumpukan dokumen mencurigakan. Hanya beberapa berkas yang perlu ditandatangani—anggaran untuk pembangunan kembali Distrik Pelabuhan, laporan tentang para mantan sandera yang kini mulai berintegrasi kembali ke masyarakat, dan surat-surat dari keluarga Kade yang masih bersikap netral.
Renaux masuk dengan langkah mantap, membawa secangkir kopi hitam—minuman kesukaan Seraphine akhir-akhir ini, karena ia butuh kafein untuk tetap terjaga di tengah jadwal yang padat.
"Kau belum tidur semalaman lagi," kata Renaux, meletakkan cangkir di meja.
"Aku akan tidur ketika semuanya selesai."
"Semuanya tidak akan pernah selesai, Seraphine. Itu yang namanya memimpin."
Seraphine menghela napas, mengusap matanya yang lelah. "Aku tahu. Tapi setidaknya, aku bisa menyelesaikan beberapa hal penting sebelum aku pingsan."
Renaux duduk di kursi di seberang meja—suatu keakraban yang tidak pernah ia lakukan di depan pegawai lain, tetapi lakukan ketika mereka sendirian. "Apa kabar Ilyas?"
Seraphine menatap Renaux dengan mata tajam. "Kenapa kau bertanya?"
"Karena kau belum mengunjunginya sejak tiga minggu lalu. Dan karena setiap kali namanya disebut, matamu berubah."
"Mataku tidak berubah."
"Matamu berubah, Seraphine. Aku mengenalmu sejak kau masih kecil. Aku tahu kapan kau berbohong."
Seraphine terdiam. Ia meraih cangkir kopi, menyesapnya perlahan—pahit, hangat, persis seperti yang ia butuhkan.
"Aku sibuk," katanya akhirnya. "Ada banyak hal yang harus dilakukan. Varethra tidak akan memperbaiki dirinya sendiri."
"Kau sibuk, ya. Tapi kau punya waktu untuk bertemu dengan Lord Draven untuk makan siang minggu lalu. Kau punya waktu untuk menghadiri resepsi keluarga Ashford. Kau punya waktu untuk berbicara dengan perwakilan guild pedagang selama tiga jam. Tapi kau tidak punya waktu untuk mengunjungi Ilyas, yang rumahnya hanya tiga puluh menit dari istana?"
"Aku tidak suka perjalanan."
"Kau tidak suka Jujur, Seraphine. Kenapa?"
Seraphine meletakkan cangkirnya, berdiri, dan berjalan ke jendela. Dari sini, ia bisa melihat sebagian kecil Distrik Bawah—atap-atap rumah yang reot, cerobong asap yang mengepul tipis, dan di kejauhan, mungkin—mungkin—atap rumah tempat Ilyas tinggal.
"Aku takut," bisiknya, akhirnya mengakui. "Aku takut bahwa jika aku melihatnya, aku tidak akan bisa kembali ke sini. Aku takut bahwa aku akan memilih untuk tinggal di sana, di rumah kecil yang reot itu, dan melupakan semua tanggung jawabku sebagai Kanselir. Aku takut bahwa aku akan menjadi lemah."
"Mencintai seseorang tidak membuatmu lemah, Seraphine. Itu membuatmu manusia."
"Aku tidak bisa menjadi manusia, Renaux. Aku harus menjadi pemimpin. Ada perbedaan."
Renaux berdiri, berjalan ke samping Seraphine, dan menatap pemandangan yang sama. "Ayahmu juga berpikir seperti itu. Ia berpikir bahwa menjadi pemimpin berarti mengorbankan kebahagiaannya sendiri. Ia mati dengan penyesalan, Seraphine. Jangan ulangi kesalahan yang sama."
Seraphine tidak menjawab.
Ia hanya berdiri di sana, menatap Distrik Bawah di kejauhan, dan bertanya-tanya apakah Ilyas sedang melakukan hal yang sama—berdiri di atap rumahnya, menatap ke arah istana, merindukannya.
—
Matahari terbenam ketika Ilyas memutuskan untuk berjalan ke istana.
Ia tidak memberi tahu siapa pun—Mira sedang berpatroli di suatu tempat, Voss dan Mathea sedang asyik menggambar cetak biru rumah baru mereka. Ia hanya berjalan, sendirian, melewati jalan-jalan yang mulai ramai dengan aktivitas malam.
Pasar-pasar kecil bermunculan di sudut-sudut jalan, menjual makanan dan pakaian dan barang-barang lainnya. Anak-anak berlarian di antara kaki orang dewasa, tertawa—tertawa, suara yang tiga bulan lalu hampir tidak pernah terdengar di Distrik Bawah. Ilyas tersenyum melihat mereka. Mungkin inilah yang diperjuangkan oleh Seraphine. Bukan kekuasaan, bukan ketenaran. Tapi tawa anak-anak di senja hari.
Ia tiba di istana ketika langit mulai gelap.
Penjaga di pintu utama mengenalinya—wajahnya sudah cukup dikenal sebagai "teman Kanselir"—dan membiarkannya masuk tanpa bertanya. Ilyas berjalan menyusuri koridor marmer, menaiki tangga, melewati ruang-ruang pertemuan yang kosong, sampai ia sampai di depan pintu ruang kerja Seraphine.
Ia mengetuk.
"Masuk," kata suara dari dalam.
Ilyas membuka pintu.
Seraphine duduk di balik mejanya, rambutnya yang pirang diikat ke belakang dengan tali sederhana, wajahnya pucat karena kelelahan. Di depannya, tumpukan dokumen masih menjulang, meskipun ia sudah bekerja seharian. Tapi ketika ia melihat Ilyas, matanya—mata biru yang kini bercampur emas (walaupun semakin pudar seiring waktu, karena cahaya itu berasal dari Pengukir yang mulai tidur lebih dalam)—berbinar.
"Ilyas."
"Seraphine."
Ia berjalan mendekat, duduk di kursi di seberang meja—kursi yang sama yang diduduki Renaux beberapa jam lalu.
"Kau kurus," kata Ilyas.
"Kau juga."
"Aku makan teratur. Kau yang lupa makan karena terlalu sibuk."
Seraphine tersenyum—senyum yang lelah, tetapi tulus. "Aku tidak punya waktu untuk makan. Ada terlalu banyak yang harus dilakukan."
"Kau punya waktu untukku?"
Seraphine terdiam. Matanya menatap Ilyas, mencari tahu apakah ini pertanyaan biasa atau pertanyaan yang lebih dalam.
"Aku selalu punya waktu untukmu," katanya akhirnya, suarara nya pelan. "Aku hanya... tidak tahu bagaimana cara mengatakannya."
"Katakan saja apa adanya."
"Aku merindukanmu." Kata-kata itu keluar sebelum ia bisa menahannya. "Aku merindukanmu setiap hari, setiap jam, setiap detik. Tapi aku terlalu takut untuk mengakuinya. Aku takut bahwa jika aku datang kepadamu, aku tidak akan bisa pergi."
Mata Ilyas—abu-abu kehijauan, yang kini lebih cerah dari dulu—menatap Seraphine dengan kelembutan yang tidak pernah ia tunjukkan kepada siapa pun.
"Kau tidak perlu pergi," katanya. "Kau bisa tinggal. Atau aku bisa tinggal. Atau kita bisa saling mengunjungi. Tidak harus semuanya atau tidak sama sekali, Seraphine. Tidak harus hitam dan putih."
Dunia Ilyas selama ini adalah hitam dan putih—melawan atau mati, bertahan atau hancur. Tapi sekarang, setelah perang usai, ia belajar bahwa ada abu-abu. Ada kompromi. Ada bersama.
"Kau benar," bisik Seraphine. "Aku terlalu terbiasa dengan perang. Aku lupa bahwa perdamaian itu... berbeda."
Ilyas mengulurkan tangannya—tangan kirinya, yang biasa, tanpa cahaya, tanpa kekuatan—melintasi meja.
Seraphine meraihnya.
Hangat.