Indonesia
NovelToon NovelToon
Aetherist: Takdir Para Terpilih

Aetherist: Takdir Para Terpilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:335
Nilai: 5
Nama Author: seravya

Dahulu sekali, saat dunia ini hanya sebuah dataran luas, para makhluk yang menghuninya bertarung demi sebuah kekuasaan. Satu di antaranya adalah manusia—kaum yang paling lemah.

Pernahkah kalian mendengar tentang para manusia pengendali elemen? Aetherist, begitulah mereka dipanggil.

Berabad-abad lalu sejak para Aetherist pertama berhasil menyelamatkan manusia dan membentengi wilayah mereka dengan Aetherwall. Kini, ancaman dari kegelapan mulai menyeruak keluar.

Para Aetherist muda kini dihadapkan pada tantangan dari sang Penguasa Kehampaan. Perang besar pertama dan terbesar yang pernah mereka hadapi.

Petualangan penuh keajaiban, tekad, semangat, luka, air mata, juga cinta menanti mereka. Kehadiran makhluk lain yang entah menjadi sekutu atau musuh—Elf, Mermaid, Vampire, hingga Werewolf.

Akankah para Aetherist muda ini mampu memimpin umat manusia lepas dari kehampaan, atau justru membawa kehancuran bagi peradaban?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seravya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: H-1 Pertandingan

Hampir satu minggu berlalu sejak para Aetherist muda menempuh pendidikan intensif di Akademi Asteria.

Tentu saja ritme hidup di sini tidak mudah, namun perlahan mereka mulai beradaptasi—meski beberapa di antaranya masih saja melontarkan keluhan harian.

Besok adalah hari yang dinantikan, Turnamen Duel Fisik Persahabatan antar-Aetherist. Tiga hari belakangan ini, mereka dibebaskan dari jadwal kelas teori sore. Pihak akademi memberikan kelonggaran agar para penguasa elemen muda ini sanggup memfokuskan energi dan pikiran menghadapi laga besok.

Airyn memanfaatkan waktu senggangnya untuk menggembleng fisik dan teknik bela diri secara mandiri. Berbeda dengannya, Flora justru bersikap sangat santai dan pasrah.

"Stella pasti yang akan keluar sebagai pemenang. Aku tidak mau memusingkannya, lebih baik aku ikut kelas berkebun saja," ujar Flora jujur tanpa beban.

Airyn sejujurnya ingin bersikap santai seperti Flora, namun kenyataan memaksa otaknya berputar. Setidaknya ia wajib membekali diri dengan teknik pertahanan dasar agar tidak langsung tumbang di detik-detik awal atau mengalami cedera parah di atas arena.

Apalagi tempo hari Airyn sempat menyaksikan secara langsung bagaimana Emery mematahkan balok kayu tebal hanya dengan sekali hantaman tangan kosong—fakta yang sukses membuat nyali Airyn makin menciut.

Sore itu, Airyn berlatih sendirian di Ruang Putih. Ia menyesuaikan konfigurasi ruangan sesuka hati menggunakan layar proyeksi pada balok kendali di depan ruangan.

BZZZT!

Sebuah samsak tinju tebal terangkat muncul dari balik platform lantai batu. Airyn mengambil posisi kuda-kuda, lalu melayangkan pukulan beruntun secara bergantian.

BUK!

BUK!

BUK!

Tetesan keringat membasahi dahi dan pelipisnya. Tak berhenti di situ, Airyn melanjutkan dengan set push-up, sit-up, serta latihan angkat beban untuk melatih ketahanan otot lengannya.

"Wah, kau berlatih sangat keras rupanya!"

Sebuah suara tegap menyela. Emery berdiri di ambang pintu dengan balutan pakaian olahraga ketat yang memamerkan otot lengannya yang terbentuk sempurna.

Airyn menghentikan aktivitasnya dan menyunggingkan senyum canggung. Sungguh sebuah kebetulan yang ajaib, dua orang yang akan berduel besok justru dipertemukan di ruang latihan yang sama sore ini.

"Ah... kau mau latihan juga, Emery?" tanya Airyn seraya menurunkan barbel yang baru saja diangkatnya.

"Oh, aku baru selesai lari sore tadi. Kebetulan ingin sedikit pemanasan angkat beban," jawab Emery ramah.

Gadis berotot itu melangkah mendekat, lalu menyambar beban besi seberat lima kilogram dengan satu tangan. Dengan santainya, Emery mengayunkan beban itu naik-turun tanpa memancarkan guratan lelah sedikit pun.

Airyn membelalak kagum. "Bagaimana bisa kau mengangkatnya seenteng itu? Kelihatan sangat ringan di tanganmu!"

Emery tertawa renyah. "Besi sudah menjadi temanku sejak kecil, Airyn. Kau juga harus belajar menganggap beban ini sebagai temanmu sendiri!"

Airyn hanya sanggup tersenyum kikuk mendengar filosofi polos sang gadis logam.

Ia berbalik kembali melatih pukulannya pada samsak tinju. Emery berdiri di belakangnya, mengamati gerakan Airyn dengan saksama.

"Kokohkan pijakan kakimu, Airyn! Pusatkan seluruh daya dorong di bahu dan lengan, lalu lepaskan dalam satu pukulan!" pangkas Emery memberi arahan perbaikan teknik.

Airyn bergegas membetulkan posisi tubuhnya sesuai instruksi Emery.

BUKKK!

Sebuah hantaman telak mendarat di samsak. Efek pukulannya terasa jauh lebih berat dan bertenaga. Binar gembira terpancar di mata Airyn.

"Wah, menakjubkan Emery! Terimakasih!" puji Airyn tulus.

"Haha! Itu baru teknik dasar. Pastikan besok kau menghadapiku dengan seluruh tenagamu ya!" seru Emery bersemangat. Tentu saja Airyn hanya sanggup membalasnya dengan senyuman canggung yang menahan getir.

Airyn menjadi murid terakhir yang meninggalkan Ruang Putih usai Emery berpamitan lebih dulu. Jam makan malam tiba, dan para murid akademi mulai memadati barisan antrean kantin.

"Hai! Kau pasti Airyn, kan? Flora selalu menceritakan tentangmu di kelas berkebun!"

Seorang gadis bersurai kecoklatan dengan iris mata senada, dengan ramah menyapa saat Airyn menduduki bangku kantin di sebelah Flora, William, Teira, dan Fin.

"Oh, halo! Kau teman kelas berkebun Flora?" tanya Airyn seraya menjabat tangan gadis itu. Flora mengangguk-angguk mengkonfirmasi.

"Flora itu sangat pemalu. Butuh perjuangan ekstra bagiku untuk bisa membuatnya mau terbuka dan mengobrol!" kenang gadis bernama Sina itu terkekeh pelan.

Airyn tersenyum hangat seraya melahap potongan daging panggang lezat buatan Paman Barnaby.

"Ah, besok pertandingan duel sudah digelar, bukan?" pangkas Fin membuka obrolan.

"Benar. Ah... kuharap aku bisa menang saat berhadapan dengan Andrew besok," cetus William seraya mengunyah sayuran brokoli dipotongnya.

"Beruntung duel besok melarang penggunaan Aether. Kalau tidak, kau pasti sudah dipanggang sampai gosong olehnya," potong Teira datar seperti biasanya—ketus dan tak hangat.

TAK!

William menyentil pelan puncak kepala Teira dengan gema kekesalan.

"Sembarangan saja kau kalau bicara! Kau sendiri yang bakal babak belur dihantam Snow besok!" balas William seraya merangkul leher Teira gemas.

"Airyn, bagaimana persiapan latihanmu sore ini?" tanya Flora mengalihkan perhatian.

"Lancar. Aku tidak sengaja bertemu dengan Emery di ruang latihan tadi," sahut Airyn santai.

Seluruh meja seketika membisu. Teman-temannya menatap Airyn dengan raut syok berat.

"Bertemu lawan duel satu hari sebelum pertandingan di ruang latihan?! Wah... luar biasa," puji William seraya bertepuk tangan keheranan.

"Apakah dia memprovokasimu atau mengatakan sesuatu?" desak Teira kali ini.

Airyn menggelengkan kepala. "Tidak kok. Dia malah membetulkan posisi kuda-kuda dan mengajariku cara memukul yang benar."

Reaksi jujur Airyn makin membuat kawan-kawannya menganga tak percaya.

"Semoga kau beruntung besok dan tidak pulang dengan tubuh memar-memar," ujar Teira datar, yang seketika dibalas sikut tajam dari William.

"Hadapi saja Emery sebisamu besok, Airyn. Jangan dijadikan beban," bujuk William menenangkan.

"Benar, Airyn. Menang atau kalah dalam duel persahabatan itu hal yang biasa," timpal Flora tulus.

Airyn tertawa kecil melihat kepanikan sahabat-sahabatnya.

"Kalian ini panik sekali! Tenang saja, aku akan berjuang sekuat tenaga besok!" pangkas Airyn penuh rasa percaya diri.

Malam makin merambat pekat, namun Airyn tak kunjung bisa memejamkan mata. Ia akhirnya memutuskan keluar dari asrama dan menelusuri lorong menuju area air mancur di taman belakang akademi.

Airyn menduduki pinggiran batu pelindung, memperhatikan irama pancuran air yang membumbung naik dan jatuh kembali secara berulang—sebuah pemandangan yang selalu berhasil menenangkan pikirannya.

"Airyn?"

Sebuah suara menyapa dari kegelapan. Airyn menoleh dan mendapati sebingkai payung tebal yang terkembang menutup tubuh sang pemanggil.

"Ya?" sahut Airyn ragu.

Cklek.

Payung itu ditutup dan diapit kembali ke lengan. Ternyata Profesor Alistair yang berdiri di sana. Airyn memiringkan kepalanya bingung—mengapa sang rektor bersusah payah membawa payung? Padahal tak hujan, dan ini adalah area bawah tanah yang tak pernah diguyur hujan.

"Tidak bisa tidur, Airyn?" Alistair melangkah mendekat dan berdiri di samping kolam.

"Belum, Profesor. Makanya saya memutuskan untuk mencari udara segar di sini," terang Airyn.

Alistair mengambil posisi duduk persis pada batu di sebelah Airyn. "Kau sedang mencemaskan pertandingan duel besok?"

Airyn mengangguk jujur.

"Aku memahaminya. Sebagai seorang Aetherist air, garis keturunanmu memang tidak dirancang melakukan pertarungan adu fisik jarak dekat apalagi adu kekuatan otot," tutur Alistair lembut—sebuah tuturan yang selaras dengan petuah Kaelen.

"Saya hanya gugup harus berhadapan dengan Emery, Profesor. Kapasitas fisiknya sangat unggul di atas rata-rata," bisik Airyn meluapkan kegelisahannya.

Alistair mengangguk-angguk bijaksana. "Tak perlu kau jadikan beban pikiran, Airyn. Turnamen ini murni duel persahabatan untuk menguji ketahanan dan adaptasi fisik kalian, tidak lebih dari itu."

Airyn menyunggingkan senyum tulus. "Saya akan berusaha semaksimal mungkin, Profesor. Saya yakin saya bisa melaluinya."

Alistair tersenyum bangga. "Bagus! Berjuanglah besok, Airyn. Sekarang segeralah kembali ke kamar dan beristirahat."

"Baik, Profesor. Terima kasih atas obrolannya," pamit Airyn seraya membungkuk hormat, lalu melangkah kembali menyusuri koridor asrama.

Alistair menatap pendar air mancur sejenak sebelum berbalik pergi. Malam makin larut, angin sejuk terus berhembus. Besok adalah hari besar, panggung pertarungan fisik antar-Aetherist muda akan resmi bergulir!

1
Sheila
omo
Sheila
mampus
Sheila
Gedek banget
Sheila
Oh, my...
Sheila
lucu banget lagii
Nizam Rayna
pada suatu hari ada hidup binatang rusa dia sedang berjalan di
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!