Dibuang oleh keluarga sendiri dan bertahan hidup sendirian di kamar kos sempit adalah kenyataan pahit Danu. Fisiknya yang tambun membuatnya menjadi sasaran bullying parah sepanjang SD hingga SMP. Bagi Danu, dia ditakdirkan untuk tidak punya teman dan selalu tak kasatmata.
Namun, hari pertama masuk SMA mendadak jungkir balik.
Satu kelas dibuat geger saat Rio—sosok murid baru yang sangat tampan, karismatik, dan mendadak populer se-sekolah—justru berjalan ke pojokan. Demi menghindari sorotan dan perhatian orang-orang, Rio sengaja memilih untuk duduk di sebelah Danu!
Danu jelas dibuat jantungan dan melongo setengah mati. Kenapa cowok se-populer Rio malah milih duduk bersanding dengan anak yang paling dihindari satu sekolah? Akankah ini jadi awal dari hadirnya "secercah cahaya" di hidup Danu, atau justru membawa masalah baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Masa Lalu kelam
Pagi itu, di ambang pintu sebuah rumah sederhana yang dindingnya mulai memudar, Rio berdiri dengan senyum lebar yang tak bisa disembunyikan.
"Bu... Rio berangkat dulu, ya," pamit Rio riang.
Ibunya yang sedang mengelap tangan dengan ujung daster tersenyum hangat, lalu mengusap puncak kepala anak laki-lakinya itu. "Iya, hati-hati di jalan. Jangan nakal di sana, ya."
"Iya, Bu. Tenang saja, Rio bakal bikin Ibu bangga hari ini!"
Saat Rio memutar tubuh hendak meraih gagang pintu, ibunya mendadak menahannya. "Bentar, Rio!"
"Kenapa, Bu?"
Ibunya merogoh saku dasternya, mengeluarkan beberapa lembar uang kertas yang terlipat rapi, lalu menyodorkannya ke tangan Rio. "Ini... duit lebih buat kamu jajan sama teman kamu nanti."
Mata Rio membulat melihat nominalnya. "Tapi, Bu... ini kan uang buat belanja makan siang kita nanti."
"Nggak apa-apa, ambil saja," ibunya tersenyum menenangkan, menyelipkan uang itu ke telapak tangan Rio. "Ibu masih punya simpanan sedikit. Hari ini hari penting buat kamu, kan? Bersenang-senanglah."
Rio menerima uang itu dengan dada yang menghangat. "Oke... kalau Ibu memaksa, hahaha. Terima kasih ya, Bu!"
Di halaman rumah, bapaknya sudah memanaskan mesin motor Honda Supra tuanya yang mengeluarkan suara khas. Rio segera berlari kecil dan melompat ke jok belakang.
Motor pun melaju, membelah jalanan desa menuju sebuah gedung besar yang baru selesai dibangun beberapa minggu lalu—sebuah pusat kesenian desa bernama Gedung Pencarian Bakat.
"Sepertinya kamu senang sekali hari ini, Yo?" tanya bapaknya, sedikit berteriak mengalahkan suara angin dan mesin motor.
"Iya dong, Pak! Soalnya temanku, Rafa, akhirnya mau ikut tampil duet setelah aku paksa terus-terusan!" jawab Rio penuh semangat.
Bapaknya tertawa pelan mendengarnya. "Hahaha, begitu ya. Ya pokoknya, tampil yang bagus dan jangan nakal di sana."
Rio mengerucutkan bibirnya. "Apa sih, Bapak ini... itu kan pesan Ibu tadi. Jangan diulang-ulang dong."
"Oh, iya juga, ya? Hahaha, Bapak lupa," kekeh bapaknya santai sambil membelokkan motor memasuki area parkir.
Gedung Pencarian Bakat itu tampak megah dan sudah dipenuhi lautan manusia. Begitu turun dari motor dan menyalami bapaknya, Rio langsung berlari masuk. Sayup-sayup terdengar suara pembawa acara menggema dari pengeras suara di dalam.
"Halo, perhatian untuk para peserta. Dimohon segera menuju ke ruang tunggu untuk persiapan giliran tampil. Terima kasih."
Rio bergegas menyelinap di antara kerumunan dan masuk ke ruang tunggu peserta yang berisik. Pandangannya menyapu ruangan hingga menemukan sosok anak laki-laki kurus yang duduk menyendiri di sudut. Itu Rafa.
Berbeda dengan anak lainnya, Rafa tidak bisa berbicara. Ia mengandalkan sebuah buku catatan kecil bersampul usang yang selalu dibawanya ke mana-mana untuk berkomunikasi.
Begitu melihat Rio datang, Rafa buru-buru menulis sesuatu di bukunya dengan tangan sedikit gemetar, lalu menunjukkannya.
[Rio... aku gugup.]
Rio tertawa kecil, senyum cerahnya menular. Ia menepuk bahu sahabatnya itu dengan hangat. "Hahaha, nggak usah gugup, Raf. Kan ada aku! Kita lakukan ini sama-sama kayak pas latihan. Pasti beres!"
Mendengar nada optimis Rio, Rafa perlahan mengangguk, meski wajahnya masih sedikit pucat.
Tak lama berselang, suara dari pengeras suara kembali memecah ketegangan mereka.
"Peserta berikutnya, Rio dan Rafa. Silakan menuju panggung."
"Eh, kita dipanggil! Ayo ke panggung!" seru Rio antusias.
Rafa mengangguk. Keduanya berjalan bersisian menembus tirai merah. Begitu melangkah keluar, lampu sorot yang menyilaukan langsung menerpa wajah mereka. Di hadapan mereka, ratusan pasang mata penonton memenuhi kursi gedung.
'Ramai banget... semoga aku bisa ngelakuin ini dengan lancar,' batin Rio, merasakan getaran gugup yang akhirnya ikut menjalar di dadanya. Namun, tekadnya untuk bersinar bersama Rafa mengalahkan rasa takut itu.
Ia melangkah mantap menuju sebuah grand piano hitam yang mengkilap di tengah panggung. Rio menarik kursi kecil berbalut beludru itu dan duduk dengan nyaman. Di sampingnya, Rafa sudah bersiap di posisinya.
Rio menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata sejenak untuk memusatkan konsentrasi, lalu mengangkat tangannya, menempatkan jari-jarinya di atas tuts yang dingin.
Ia bersiap menekan nada pertama.
Namun, pada detik yang penuh antusiasme itu, Rio sama sekali tidak menyadari satu hal.
Ia tidak tahu bahwa senyum yang mengembang di wajahnya hari itu... akan menjadi senyum terakhirnya sebelum sebuah kejadian di luar nalar merenggut segalanya.
Jari telunjuk Rio menekan tuts piano dengan lembut. Namun, alih-alih menghasilkan nada pembuka yang indah, sebuah bunyi ketukan keras terdengar.
Tuk!
Sebuah tali nilon transparan yang diam-diam dikaitkan pada mekanik tuts di dalam piano itu tiba-tiba menegang dan terlepas. Mekanisme jebakan itu memicu sesuatu di atas kerangka piano.
BRAK!
Sebuah benda kotak berwarna hitam legam—yang ternyata adalah sebuah speaker portabel nirkabel—jatuh menghantam lantai kayu panggung dengan suara dentuman yang memekakkan telinga. Suara barang jatuh itu menggema ke seluruh penjuru ruangan melalui mikrofon panggung.
Rio tersentak kaget, napasnya tertahan.
Namun, mimpi buruk yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Tepat saat benda itu menyentuh lantai, dari sudut gelap di balik tirai panggung, sosok Gavin—yang saat itu masih seumuran dengan Rio—berdiri dengan senyum iblis di wajahnya. Jarinya menekan tombol play di layar ponselnya.
Detik itu juga, speaker yang jatuh di dekat kaki Rafa menyala dengan volume maksimal. Bukan alunan musik yang keluar, melainkan sebuah rekaman suara yang sangat kacau dan kejam.
"Huuu! Si Bisu berani naik panggung!"
"Bisu bodoh! Nggak bisa ngomong aja sok-sokan mau main musik!"
"Cacat! Turun sana! Bikin malu aja!"
Suara tawa jahat, hinaan, dan cacian bergema keras ke seluruh penjuru gedung. Itu adalah rekaman suara anak-anak dan orang-orang yang selama ini sering merundung Rafa. Gavin telah mengumpulkan rasa sakit terbesar Rafa dan memutarnya tepat di panggung impiannya.
Mendengar suara-suara itu, mata Rafa membelalak ngeri. Buku kecil di tangannya terjatuh. Pemuda malang itu mundur beberapa langkah dengan tubuh gemetar hebat. Pertahanannya hancur lebur. Rafa menutup kedua telinganya dengan tangan, berteriak sejadi-jadinya—sebuah jeritan parau tanpa kata yang menyayat hati, penuh dengan ketakutan dan trauma yang meledak di depan ratusan pasang mata.
"Rafa! Raf, tenang! Itu cuma suara kaset!" Rio panik. Ia langsung melompat dari kursi pianonya dan berusaha memeluk sahabatnya.
Namun, Rafa sudah kehilangan kesadarannya akan sekitar. Dalam serangan panik yang buta, Rafa memberontak hebat. Saat Rio mencoba memegang bahunya, Rafa menepisnya dengan kekuatan penuh.
Bruk!
Tubuh Rio terpelanting ke belakang. Ia jatuh terjerembap dengan keras ke lantai panggung. Rasa sakit menjalar di punggungnya, tapi rasa sakit di dadanya melihat sahabatnya hancur jauh lebih menyiksa.
Dari posisi jatuhnya, pandangan Rio tak sengaja menangkap celah tirai di sudut panggung. Di sana, Gavin menatap kericuhan itu dengan raut puas. Sinar lampu sorot panggung yang bocor menyinari separuh wajahnya, memperlihatkan dengan sangat jelas sebuah bekas luka bakar yang mengerikan di dahinya.
Gavin tersenyum mengejek, lalu berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan di balik panggung.
Sementara itu, di bangku penonton, kekacauan mulai terjadi. Mengira ini adalah lelucon yang sangat buruk atau pertunjukan yang gagal total, para penonton mulai menyoraki mereka. Kekaguman berubah menjadi kekecewaan yang pahit. Satu per satu dari mereka bangkit dari kursi, melangkah keluar meninggalkan gedung, meninggalkan Rio yang terkapar tak berdaya dan Rafa yang masih menjerit di atas panggung yang hancur berantakan.
Hari itu, musik Rio mati. Kepercayaan dirinya hancur, dan ia kehilangan sahabatnya yang perlahan menjauh karena trauma berat.
...
...
Wusss!
Angin sore berembus kencang, menyapu wajah Rio dan menariknya paksa kembali ke masa kini.
Napas Rio terengah-engah. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi wajah dan seragamnya. Dadanya naik-turun dengan cepat.
Ia masih berdiri tegak di depan gerbang rumahnya. Jalanan di hadapannya kosong, Gavin sudah lama menghilang dari pandangannya.
Namun, sekarang semuanya menjadi sangat jelas. Kepingan teka-teki yang selama ini membingungkannya telah tersusun sempurna, membentuk sebuah kenyataan yang mengerikan.
Luka bakar di dahi itu. Senyum mengejek yang merendahkan itu. Tatapan penuh dengki melihat orang lain bahagia.
Rio meremas kerah seragamnya, berusaha menahan tubuhnya yang bergetar. Giginya gemeretak menahan amarah yang kini membakar setiap sel di tubuhnya. Rasa takutnya perlahan menguap, digantikan oleh kobaran dendam dan tekad yang menyala-nyala.
Gavin Mahendra adalah iblis yang sama dari masa lalunya.
Dulu, Gavin telah merenggut impian dan sahabatnya. Ia membuat Rio menderita dalam trauma bertahun-tahun. Dan kini, iblis yang sama mencoba merenggut kebebasan Danu dan menghancurkan teman-temannya yang baru.
Rio mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah jalan kosong itu dengan sorot mata yang tajam bagai pedang yang baru saja diasah.
"Kali ini..." desis Rio pelan, suaranya bergetar karena amarah murni. "...aku nggak akan biarin lu ngelakuin hal yang sama ke teman-teman gue, Gavin."
Konfrontasi sesungguhnya baru saja dimulai.
aku juga penasaran sama karya kamu, Danu...