Indonesia
NovelToon NovelToon
Surat Cinta Nyasar

Surat Cinta Nyasar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?

[maklumi kalau ceritanya masih kurang, karena author masih belajar, dan meski udah berpengalaman, tetaplah belajar, karena dengan belajar, kalian tetap bisa rendah hati, dan janganlah sombong meski sudah berpengalaman]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Sisa² Kekaisaran Yang Runtuh

Suasana di lantai eksekutif PT Arunika Jaya pagi itu terasa sangat lengang, namun dipenuhi oleh getaran ketegangan yang pekat. Berita mengenai kebocoran data keuangan dan keterlibatan Baskara Holdings telah meledak ke publik, mengguncang fondasi perusahaan dalam semalam.

Di dekat area kubikel divisi pemasaran, beberapa staf tampak berkerumun di depan layar komputer, saling berbisik dengan wajah pucat.

"Bagaimana bisa dia melakukan itu?" bisik seorang staf admin dengan nada tak percaya, menunjuk ke arah berita investigasi yang terpampang di layar. "Dalam hitungan jam, seluruh jaringan petinggi langsung tumbang gara-gara temuan Fajar."

Seorang anggota sisa manajemen yang berjalan lewat dengan membawa kotak kardus berisi barang-barangnya menghentikan langkah sejenak. Ia melirik sekilas ke arah layar, lalu mengembuskan napas pasrah.

"Aku juga nggak tahu," jawab sisa manajemen itu pelan, suaranya sarat keputusasaan sebelum kembali melangkah pergi meninggalkan kantor yang bukan lagi tempat aman bagi mereka.

Kepergian pria itu menyisakan keheningan singkat di antara para staf. Tak seorang pun berani melanjutkan pembicaraan mereka dengan suara keras. Sebagian mulai menyadari bahwa selama ini mereka terlalu takut mempertanyakan keputusan para petinggi. Sebagian lainnya hanya bisa menyesali sikap diam mereka ketika berbagai kejanggalan masih dianggap sebagai urusan orang-orang di atas.

"Kalau perusahaan ini sampai tutup, bagaimana nasib kita?" tanya seorang pegawai junior.

Tak ada jawaban yang langsung terdengar.

Di tengah ketidakpastian itu, nama Fajar terus menjadi bahan pembicaraan. Ada yang menganggapnya penyelamat, ada pula yang diam-diam takut menjadi sasaran pemeriksaan berikutnya. Namun, satu hal sudah jelas: kekuasaan yang dahulu membuat para petinggi merasa kebal kini tak lagi mampu melindungi mereka.

Di tengah kehebohan bisikan-bisikan itu, Fajar melangkah keluar dari lift. Penampilannya jauh berbeda dari beberapa bulan lalu saat ia pertama kali menginjakkan kaki di gedung ini sebagai staf biasa. Dengan jas navy yang pas di badan, langkah kakinya berderap mantap menembus koridor. Para sisa manajemen dan staf korup yang berpapasan langsung menunduk atau menghindar, tidak ada lagi yang berani melayangkan tatapan meremehkan. Fajar kini memegang kendali penuh.

Ia terus melangkah hingga tiba di depan pintu ruang kerja Direktur Marketing, lalu masuk ke dalam.

Di dalam ruangan yang tenang itu, Kirana duduk menghadap meja kerjanya. Tidak ada isak tangis, tidak ada pula kepanikan yang berlebihan. Namun, sorot mata gadis itu menyiratkan kehampaan yang luar biasa dalam.

"Aku nggak nyangka... ayahku melakukan itu..." lirih Kirana, suaranya bergetar tipis saat ia menatap tumpukan berkas bukti manipulasi dan penggelapan dana yang disodorkan Fajar.

Fajar menarik kursi di hadapannya, lalu duduk tanpa terburu-buru.

"Aku tahu ini berat buat kamu, Kirana. Tapi semua bukti ini harus diperiksa sampai tuntas. Kita nggak bisa membiarkan apa yang terjadi begitu saja."

Kirana menunduk. Jemarinya meremas ujung kertas di hadapannya, seolah berusaha meyakinkan diri bahwa nama yang tertera di sana bukanlah nama ayah yang selama ini dikenalnya.

"Selama ini aku selalu berpikir kalau dia melakukan semua itu demi keluarga," ucapnya lirih. "Kalau ternyata semuanya cuma kebohongan, lalu apa yang sebenarnya aku tahu tentang keluargaku sendiri?"

Fajar terdiam sejenak. Ia ingin memberikan jawaban, tetapi ia sendiri belum memiliki seluruh kepingan kebenaran yang dibutuhkan Kirana.

"Jangan paksa dirimu menjawab semuanya hari ini," katanya akhirnya. "Kita cari tahu satu per satu."

Kirana mengangkat wajahnya. Tatapannya masih menyimpan luka, tetapi ada sedikit keteguhan yang mulai tumbuh di sana.

"Kalau begitu, aku juga nggak mau lagi menutup mata."

Mendengar pengakuan itu, Fajar hanya bisa terdiam rapat. Lidahnya mendadak kelu. Ia tahu persis beban emosional yang sedang ditanggung oleh gadis di hadapannya saat ini. Fajar memilih untuk mengunci rapat-rapat sisa rahasia kelam tentang pertukaran identitas masa lalu yang ia temukan. Ia tidak mau melukai Kirana lebih dalam dengan membongkar semuanya sekaligus; ia ingin Kirana mencari tahu dan merangkai kebenaran itu dengan kesadaran dan kekuatannya sendiri pada waktu yang tepat.

Sementara itu, di tempat persembunyiannya yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Ardi—atau yang selama ini dikenal sebagai pimpinan tertinggi—tengah mondar-mandir di apartemen mewahnya dengan napas memburu. Ia melempar ponsel mahalnya ke atas sofa hingga terpental.

"Ahh, sialan! Bagaimana bisa gue kehilangan kerajaan yang selama ini gue bangun?!" geram Ardi frustrasi, menjambak rambutnya sendiri. Jerih payah puluhan tahun untuk merebut dan mempertahankan kehidupan itu kini hancur lebur dalam sekejap.

Ia berhenti di depan jendela besar, memandangi gedung-gedung kota yang menjulang di kejauhan. Dahulu, satu panggilan darinya cukup untuk membuat orang-orang bergegas memenuhi perintah. Kini, teleponnya tak lagi dijawab, rekening-rekeningnya terancam dibekukan, dan orang-orang kepercayaannya mulai menghilang satu demi satu.

"Dasar pengecut!" makinya ketika mencoba menghubungi salah seorang bawahannya yang terakhir. Panggilan itu berakhir tanpa jawaban.

Namun, di tengah keputusasaannya, seringai licik seketika terukir di wajahnya yang mulai menua. Matanya berbinar penuh perhitungan gila.

"Huh... aha!" Ardi tertawa kecil, sebuah ide kotor melintas di kepalanya. "Gue ajak anak itu saja... si Kirana. Kamu adalah anak keberuntungan ayah, hahah!"

Ia mengambil jaket dari sandaran kursi, kemudian berjalan menuju meja tempat sebuah ponsel lain disimpan. Kali ini, ia tidak berniat menghubungi siapa pun dari jaringan lamanya. Ia membutuhkan seseorang yang masih memiliki hubungan dengannya, seseorang yang mungkin bisa dimanfaatkan untuk membuka jalan keluar dari kehancuran ini.

Senyumnya melebar saat ia memikirkan kemungkinan tersebut. Bagi Ardi, kehilangan kekuasaan bukan berarti permainan telah berakhir. Selama masih ada celah untuk dimanfaatkan, ia akan terus mencari cara agar dirinya bisa kembali berdiri.

Kembali ke kantor pusat, Fajar masih sibuk memeriksa sisa data digital yang berhasil diselamatkan dari server utama sebelum sistem dimatikan total. Di tengah tumpukan berkas cetak biru yang berserakan di meja kerjanya, pandangan Fajar mendadak terpaku pada sebuah catatan kecil yang terselip di balik sampul dokumen lama.

Itu adalah sebuah pesan berupa catatan tempel (sticky note) dengan tulisan tangan yang sudah sedikit pudar, berisi rangkaian kode angka dan petunjuk lokasi tersembunyi di ruang arsip lama. Petunjuk itu bukan berasal dari sistem digital Ardi, melainkan sebuah petunjuk manual dari masa lalu yang mengarah langsung pada identitas asli sang pemilik perusahaan yang sebenarnya.

Fajar mengangkat catatan itu mendekati cahaya lampu meja. Beberapa angka tampak nyaris tak terbaca, tetapi susunannya cukup jelas untuk menunjukkan bahwa catatan tersebut bukan sekadar coretan acak.

"Apa maksudnya ini?" gumamnya.

Ia membalik kertas kecil itu, berharap menemukan penjelasan tambahan. Namun, sisi belakangnya kosong. Hanya ada satu goresan tinta di bagian sudut, menyerupai inisial seseorang yang tidak dikenalnya.

Fajar segera membuka kembali berkas lama yang tadi diperiksa. Ia mencocokkan tanggal, nomor dokumen, dan kode yang tertulis di catatan tersebut. Semakin lama ia menelusuri, semakin kuat dugaan bahwa seseorang sengaja meninggalkan petunjuk itu agar kebenaran tidak ikut terkubur bersama dokumen perusahaan.

Ponselnya bergetar di atas meja.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak tersimpan dalam kontaknya.

"Kalau kamu ingin mengetahui siapa pemilik asli PT Arunika Jaya, datanglah ke ruang arsip lama. Jangan percaya pada semua nama yang tercatat dalam dokumen resmi."

Fajar membaca pesan itu dua kali. Ia tidak langsung membalas. Pengirimnya bisa saja seseorang yang ingin membantunya, tetapi bisa juga jebakan dari pihak yang masih berusaha menyelamatkan sisa kekuasaan mereka.

Ia menoleh ke arah pintu ruangan, lalu kembali menatap catatan di tangannya.

Di luar sana, kekaisaran Ardi memang sedang runtuh. Namun, jika petunjuk ini benar, kehancuran tersebut mungkin baru membuka pintu menuju rahasia yang jauh lebih besar.

Fajar memasukkan catatan itu ke dalam saku jasnya.

"Baiklah," bisiknya mantap. "Kita lihat siapa yang sebenarnya bersembunyi di balik semua ini."

Dan tanpa ia sadari, langkah berikutnya bukan sekadar akan mengungkap identitas seorang pemilik perusahaan, melainkan juga membawa Kirana semakin dekat pada kebenaran tentang masa lalunya sendiri.

1
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr /Good/
🍓ADIRA🍓
Ok. semangat Thor 🫰
Hamzah: di bab 32 juga aku ubah lagi, lagi direview 😅
total 2 replies
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr
Purnamanisa
keknya seru... save dulu, baca lagi nanti 😁😁
🍓ADIRA🍓
Tenang Na... selagi ada fajar apapun bisa /Smirk//Smirk//Smirk/
🍓ADIRA🍓
Wah kenapa tidak dapat kontrak Thoorr? Ok ttp semangat Thoorr 💪
🍓ADIRA🍓
suapin donk jar 😂😂
🍓ADIRA🍓
Lihat fajar nanti juga langsung menghangat kok bay 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw semangat jar 💪
🍓ADIRA🍓
Ciyyeeee mas 🤭 akwakakakaww 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Harus cerdas lah Ndrong... kan calsu Bu Direktur ☺️
🍓ADIRA🍓
wkkwkw.😂😂 fajar langsung merona tuh Bu Kir 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Ayang mbeb gtu Jar /Joyful//Joyful//Joyful/
🍓ADIRA🍓
Dirimu yg go publik loh 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk ti ati burungmu terbang jar 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw 🤣🤣🤣 dalam hatinya, Bu Direktur sebenarnya jga seneng tuh dapat pengakuan cinta dari fajar 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
salah mimpi 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Susulin gih Na, sebelum fajar semakin merajalela karena rindu 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr, perkuat lagi konfliknya biar cerita semakin menarik... semangat /Good//Good/
Hamzah: Ya.. kalau gaada kendala ya😇
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw kecewa ya jar 😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!