Indonesia
NovelToon NovelToon
Mafia Cacat Untuk Amira

Mafia Cacat Untuk Amira

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Genius / Orang Disabilitas
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Seumur hidupnya, Amira tidak pernah benar-benar dianggap sebagai bagian dari keluarganya. Sebagai anak yang lahir dari hubungan terlarang, ia selalu menjadi sasaran kebencian kakak tirinya. Bahkan lelaki yang dicintainya memilih kakaknya sendiri hanya karena Amira bukan anak sah keluarga itu. Ketika fitnah demi fitnah membuat ayahnya ikut membencinya, Amira akhirnya mendapat "hadiah" dari keluarganya—sebuah perjodohan dengan Kaizar, pewaris keluarga mafia paling ditakuti. Kaizar bukan pria biasa. Ia lumpuh, memiliki luka yang membekas di wajahnya, dingin, kejam, dan tidak mengenal belas kasihan. Bagi keluarga Amira, perjodohan itu adalah cara untuk menyingkirkan putri yang selama ini mereka anggap sebagai aib. Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik kekejaman Kaizar, tersimpan luka yang jauh lebih dalam. Dan ketika semua orang memilih takut kepadanya, Amira justru menjadi satu-satunya perempuan yang berani mendekat, memeluknya, lalu berkata, "Sabar... kamu tidak sendirian."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Pagi datang perlahan di kediaman keluarga Abraham. Cahaya matahari menyusup melalui celah tirai dan jatuh di atas ranjang.

Amira masih tertidur. Tubuhnya berada dalam pelukan Kaizar, kepalanya bersandar nyaman di dada pria itu. Tidak ada lagi kegelisahan seperti malam sebelumnya. Wajahnya terlihat jauh lebih tenang setelah seharian menghadapi berbagai kejadian yang menguras perasaan dan tenaganya.

Kaizar sudah terbangun sejak beberapa saat lalu. Ia tidak langsung bergerak entah kenapa ia membiarkan dirinya menikmati keheningan seperti ini.

Ada sesuatu yang terasa asing. Kehangatan yang nyata. Dulu, ketika bangun pagi, Kaizar hanya akan melihat kamar yang sama, langit-langit yang sama, dan kehidupan yang berjalan tanpa seseorang yang benar-benar menunggunya. Sekarang ada Amira. Perempuan yang bahkan belum lama hadir dalam hidupnya, tetapi entah bagaimana sudah membuat rumah itu terasa berbeda.

Amira bergerak kecil. Kaizar segera mengalihkan pandangan. Perempuan itu membuka mata perlahan. Beberapa detik dia hanya berkedip, seperti berusaha mengingat di mana dirinya berada.

Kemudian ia menyadari kepalanya berada di dada Kaizar. Amira langsung membeku.

Kaizar menatapnya. "Sudah bangun?"

Amira mengangkat wajah. "Kita..."

"Masih di kamar."

"Aku tahu."

"Kalau begitu kenapa wajahmu seperti baru bangun di tempat asing?"

Amira segera menarik tubuhnya sedikit menjauh. "Aku cuma lupa."

"Lupa apa?"

"Lupa kalau semalam..."

Amira berhenti. Kaizar menunggu.

"Kamu memelukku."

"Memangnya tidak boleh?"

"Boleh."

Amira menatapnya sebentar. "Cuma agak kaget."

Kaizar mengangkat alis. "Kau yang minta aku tidak pergi."

Amira langsung menutup wajah dengan kedua tangannya. "Aku ngomong begitu?"

"Iya."

"Serius?"

Kaizar mengangguk, kedua wajah mereka untuk saat ini tengah berdekatan tidak ada obrolan banyak, keduanya hanya saling menatap satu sama lain, dan entah kenapa Amira begitu suka menatap wajah tegas pria dihadapannya itu.

"Aku gak mungkin bohong istriku," ucap Kaizar seketika membuat Amira terkejut.

Amira mengerang kecil. "Aduh, kenapa aku bisa mengatakan hal memalukan seperti itu?"

"Menurutku tidak memalukan."

"Menurutmu."

Kaizar menahan senyum. "Kalau kau malu, jangan mengulanginya."

Amira menurunkan tangan. "Kalau nanti aku bilang lagi?"

"Aku akan tetap di sini."

Amira terdiam. Ada kehangatan kecil yang kembali memenuhi dadanya. Namun sebelum percakapan itu berlanjut, ponsel Kaizar bergetar.

Ia melihat layar. Salah seorang anak buahnya mengirim pesan dari rumah sakit. Kaizar membuka pesan tersebut. Wajahnya berubah sedikit serius. Amira langsung menyadarinya.

"Ada apa?"

"Rumah sakit."

Amira segera duduk lebih tegak. "Papi?"

"Dokter mengatakan ada perkembangan."

"Baik atau buruk?"

"Ganjar mulai menunjukkan respons."

Amira terdiam. "Dia sadar?"

"Belum sepenuhnya."

Kaizar meletakkan ponselnya. "Tapi kondisinya membaik."

Amira mengembuskan napas lega. "Alhamdulillah."

Kaizar memperhatikan wajahnya. "Kalau kau ingin ke sana, kita berangkat setelah kau makan."

Amira mengangguk. "Iya."

Ia kemudian teringat sesuatu. "Tapi tubuhku masih agak lemas."

"Kau tidak perlu memaksakan diri."

"Aku ingin melihat Papi."

Kaizar mengangguk. "Kalau begitu, kita pergi."

Di rumah sakit, suasana pagi tidak banyak berubah. Koridor masih dipenuhi keluarga pasien, perawat yang berlalu-lalang, dan suara roda tempat tidur yang sesekali terdengar melewati lorong.

Ambar duduk di kursi dekat ruang perawatan.

Sejak malam tadi, hampir tidak ada waktu baginya untuk benar-benar beristirahat. Alika berada di sebelahnya.

"Mami belum tidur?"

Ambar menggeleng. "Aku tidak bisa."

"Karena Papi?"

Ambar menatap pintu ruang perawatan. "Iya."

Alika menggenggam tangan ibunya. "Dokter bilang Papi sudah lebih baik."

Ambar mengangguk. Seharusnya kabar itu membuatnya lega. Tetapi pikirannya masih tertuju pada kejadian malam sebelumnya.

Amira.

Donor darah.

Pemeriksaan.

Dan kalimat perawat yang mengatakan hasil pemeriksaan perlu dikonfirmasi dokter. Ambar belum mengetahui apa hasil sebenarnya. Itulah yang membuat pikirannya tidak tenang.

"Mi."

Ambar menoleh. "Kenapa?"

Alika menatapnya dengan raut bingung. "Sejak kemarin Mami seperti menyembunyikan sesuatu."

Ambar langsung menegang. "Apa maksudmu?"

"Setiap kali nama Amira disebut, Mami berubah."

Alika tidak menuduh. Nada suaranya justru terdengar penuh kebingungan.

"Mami sebenarnya tidak suka Amira, aku tahu. Tapi kemarin berbeda."

Ambar menarik tangannya. "Kau terlalu banyak berpikir."

"Aku hanya memperhatikan."

"Kalau begitu berhenti."

Alika terdiam. Beberapa detik kemudian, pintu ruang perawatan terbuka dan ternyata seorang dokter keluar.

"Anda keluarga Tuan Ganjar Wijaya?"

Ambar segera berdiri. "Saya istrinya."

"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?"

"Untuk sementara kondisi beliau lebih stabil."

Ambar menghela napas lega. "Apakah beliau sudah sadar?"

"Belum sepenuhnya. Tetapi ada respons terhadap rangsangan dan tekanan darahnya mulai membaik."

Alika tersenyum lega. "Syukurlah."

Dokter mengangguk. "Transfusi yang dilakukan tadi malam cukup membantu."

Ambar langsung teringat Amira. "Donor darah dari putri saya..."

Dokter melihat catatan. "Amira Wijaya?"

"Iya."

"Donornya berjalan baik. Kondisinya juga sudah cukup stabil."

Ambar mengangguk. "Syukurlah."

Namun dokter belum beranjak. Ada sesuatu dalam ekspresinya yang membuat Ambar kembali tegang.

"Dok?"

"Kami juga sudah menerima hasil pemeriksaan darahnya."

Wajah Ambar berubah. Alika menoleh kepada ibunya. "Hasil pemeriksaan apa?"

Dokter melihat lembar yang berada di tangannya. "Kami ingin memastikan satu hal sebelum mengambil kesimpulan."

Ambar menahan napas. "Memastikan apa?"

Dokter tidak langsung menjawab. "Kami menemukan hasil yang sedikit berbeda dari informasi yang tercatat sebelumnya."

Alika mengerutkan kening. "Maksudnya?"

Dokter menggeleng pelan. "Belum bisa saya jelaskan sekarang. Kami masih perlu mencocokkan data dan melakukan pemeriksaan lanjutan."

Ambar merasa kedua kakinya seperti kehilangan tenaga."Apakah ada masalah dengan Amira?"

"Tidak."

Dokter menjawab dengan tenang.

"Secara kondisi, Amira baik. Kami hanya perlu memastikan beberapa data sebelum memberikan penjelasan kepada keluarga."

Alika menatap dokter. "Data apa?"

"Kami akan memberi tahu setelah pemeriksaan selesai."

Dokter kemudian meminta izin untuk kembali ke ruang perawatan. Ambar masih berdiri di tempat.

Alika memandang ibunya. "Mami."

Ambar tidak menjawab.

"Mami dengar, kan?"

"Iya."

"Dokter bilang ada data yang berbeda."

Ambar menelan kegelisahannya. "Jangan dipikirkan dulu."

"Tapi kenapa Mami kelihatan takut?"

Ambar akhirnya menatap putrinya. Karena ia menyadari bahwa keadaan mulai bergerak di luar kendalinya. Selama bertahun-tahun, ia berhasil menjaga semuanya tetap terkunci.

Tidak ada yang bertanya terlalu jauh apalagi memeriksa. Tidak ada yang memiliki alasan untuk membuka kembali masa lalu. Tetapi sekarang Amira telah masuk ke rumah sakit.

Amira telah mendonorkan darah. Dan pemeriksaan sederhana yang seharusnya hanya bertujuan menyelamatkan nyawa Ganjar justru mulai membuka celah pada sesuatu yang telah Ambar sembunyikan selama bertahun-tahun.

Tidak lama kemudian, langkah kaki terdengar dari ujung koridor. Ambar menoleh. Amira datang bersama Kaizar. Wajah Amira masih sedikit pucat, tetapi langkahnya sudah lebih baik daripada malam sebelumnya.

Begitu melihat ibunya, ia mendekat. "Bu."

Ambar memaksakan senyum. "Kau sudah datang."

"Iya."

Amira kemudian menatap pintu ruang perawatan. "Bagaimana keadaan Papi?"

"Lebih baik."

Amira mengembuskan napas lega. "Alhamdulillah."

Kaizar berhenti beberapa langkah di belakang Amira. Tatapannya beralih kepada Ambar. Ia masih mengingat wajah wanita itu semalam.

Dan pagi ini, wajah yang sama kembali menunjukkan kegelisahan yang tidak biasa.

Amira tidak menyadarinya. Tetapi Kaizar memperhatikan.

"Dokter baru saja keluar," kata Alika.

Amira menoleh. "Dokter?"

"Iya."

Alika hendak melanjutkan, tetapi Ambar cepat menyela. "Dokter hanya menjelaskan kondisi Papi."

Amira mengangguk. "Oh."

Kaizar tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya memandang Ambar beberapa detik. Kemudian dokter kembali keluar dari ruang pemeriksaan.

Kali ini ia membawa sebuah berkas.

"Amira."

Amira segera menoleh. "Iya, Dok?"

"Kami perlu melakukan satu pemeriksaan tambahan."

Amira mengerutkan kening. "Pemeriksaan apa?"

Dokter memandang berkas di tangannya. "Ini berkaitan dengan hasil darah yang kami peroleh tadi malam."

Amira mengangguk. "Kalau memang perlu, saya siap."

Dokter tersenyum tipis. "Baik. Kami akan segera melakukannya."

Ambar berdiri tanpa suara. Wajahnya semakin pucat. Karena ia tahu satu hal yang tidak diketahui Amira. Pemeriksaan itu mungkin bukan sekadar pemeriksaan biasa. Dan jika dugaan yang selama ini ia takutkan benar... maka bukan hanya kehidupan Amira yang akan berubah. Seluruh keluarga Wijaya akan menghadapi kebenaran yang selama ini sengaja dikubur.

Bersambung...

1
Reni Anjarwani
lanjuttt 💪💪
Oma Gavin
semakin ricki penasaran dgn alika jgn kamu anggap kebohongan mu bisa tertutup rapat lagi bau bangkai nya sudah tercium
Yasinta Niken
lanjut ya tambah seru
ros
ceritanya menarik 👍
kaylla salsabella
makin penasaran
Oma Gavin
penasaran banget siapa ayah kandungnya alika
kaylla salsabella
la berarti yang anak kandung si amira
Yasinta Niken
lanjut tambah seru jangan putus lagi 💪💪💪
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Yasinta Niken
yang selalu mendapat yang terbaik untuk Ambar Alika anak siapa 🤭🤭🤭
Oma Gavin
akhirnya terbongkar alika anak selingkuhan ambar guma alika masih mau songong merasa kamu yg terbaik dan berhak hidup mewah ternyata kamu bukan anak ganjar
Oma Gavin
siapakah amira
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up💪
Yasinta Niken
kenapa kok putus2 saya senang ceritanya bagus 👍👍👍
kaylla salsabella
mungkin alika bukan anak kandung ganjar
Reni Anjarwani
semoga cpt terbuka rahasia yg disembunyikan ambar 🙏
Oma Gavin
fix alika anak ambar dgn dgn selingkuhan nya dan hanya amira yg sebenarnya anak kandung ganjar
Oma Gavin
kok aku curiga perusahaan ganjar milik mantan istrinya ibu amira
Oma Gavin
disaat Ganjar kritis antara hidup dan mati hanya darah amira yg bisa menyelamatkan nyawa ganjar, gimana alika kamu anak kesayangan tapi ternyata darah mu pun ngga sanggup menyelematkan ternyata kamu ngga guna jadi anak kesayangan
Yasinta Niken
saya bangga dengan kaisar Amira libas orang2 julid itu 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!