Terjebak dalam novel yang pernah dibacanya, Lina terbangun sebagai pelayan istana di Kerajaan Valdoria sebuah dunia modern yang dipenuhi teknologi canggih namun tetap dikuasai oleh sistem monarki absolut. Sebagai wanita yang sangat mata duitan, tujuan Lina sederhana: kumpulkan uang sebanyak mungkin lalu kabur untuk hidup bebas. Sayangnya, rencana kabur itu terhambat ketika ia terus terseret intrik istana dan berhadapan langsung dengan Putra Mahkota Lucien. Pangeran dingin dan disegani itu secara misterius hanya bisa mendengar isi hati Lina sebuah keanehan khusus yang tidak berlaku pada orang lain. Di saat Lina berakting sopan dan penurut di luar, batinnya terus menggerutu, sibuk menghitung uang, dan merencanakan kabur. Lucien yang lelah dengan kebohongan orang-orang di sekitarnya justru merasa terhibur dengan suara hati Lina yang jujur dan serakah, membuat sang pangeran sengaja mengikat Lina di sisinya agar tak bisa pergi ke mana-mana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Selesai mengunyah suapan terakhirnya, Eliana meletakkan sendoknya di atas piring. Ia menopang dagu dengan kedua tangan, menatap Lucien yang masih menikmati sup hangatnya dengan tenang.
"Pangeran," panggil Eliana melunakkan nada suaranya sedemikian rupa agar terdengar logis dan tidak mencurigakan. "Gimana kalau kita selidiki dulu kekasih Anda? Maksud saya Lady Rosalie..."
Lucien menghentikan pergerakan sendoknya di udara. Manik mata birunya bergulir perlahan, menatap Eliana tanpa ekspresi.
"Maksud saya gini..." Eliana berdehem pelan, mencari kalimat yang pas demi menyusun alibi. "Kita kan nggak ada yang tahu apa yang bakal terjadi nanti. Daripada ada celah yang terlewat, ya... mending selidiki semuanya tanpa terkecuali. Waspada aja, kan nggak ada rugi—"
"Kau tidak mempercayai kekasihku?" potong Lucien datar, memutar pertanyaan itu tepat ke hadapan Eliana dengan tatapan menelisik.
Eliana seketika menghela napas panjang, memutar bola matanya ke atas dengan rasa frustrasi yang tak tertahankan.
"Anjirr lah... Ya iyalah gue nggak percaya! Orang cewek lo itu ular berkepala dua!" jerit batin Eliana meluap-luap, bergema amat jernih di dalam kepala Lucien. "Diberitahu secara halus malah sok setia begitu! Yaudah lah kalau nggak mau, terserah lo! Biar aja lo dikerjain sampai habis sama dia! Dasar bucin tolol!"
Lucien menahan kedutan di sudut bibirnya saat mendengarkan bentakan batin gadis di hadapannya. Kata 'bucin tolol' yang terngiang begitu nyaring rasanya ingin membuat Pangeran Mahkota itu tertawa sekaligus melempar sendoknya.
Lucien meletakkan sendoknya dengan denting halus di atas porselen, lalu bersandar santai di kursi makan marmernya.
"Tapi baiklah," panggil Lucien tenang, memecah kekesalan Eliana. "Kita selidiki semuanya."
Eliana yang tadinya sudah memiringkan wajah dengan raut bersiap pasrah, seketika menoleh kaget. "Eh? Beneran?"
"Iya," lanjut Lucien datar. "Kenneth akan mengumpulkan dan memberikan informasi satu per satu mengenai seluruh anggota dan pejabat penting di istana. Tanpa terkecuali... termasuk Rosalie."
Eliana menghembuskan napas lega yang amat berat. "Nah gitu dong! Punya otak dipakai, jangan cuma bucin doang!" sorak batin Eliana riang, membuat Lucien lagi-lagi harus berdehem keras demi menyembunyikan senyum tipisnya.
Siang itu, matahari terik menyinari ruang tengah penthouse yang bernuansa modern. Di atas karpet bulu yang tebal di depan meja kaca raksasa, tumpukan berkas dokumen, catatan riwayat hidup, serta salinan log komunikasi milik para pejabat istana berserakan rapi.
Lucien dan Kenneth duduk di atas sofa empuk sambil mencermati lembar demi lembar laporan rahasia. Sementara itu, Eliana memilih duduk lesehan di atas karpet, menopang dadanya pada pinggiran meja kaca sembari membolak-balik dokumen latar belakang bangsawan dengan serius.
Pekerjaan itu berlangsung marathon tanpa henti. Dari siang yang terik, merambat perlahan menuju sore hari dengan langit yang mulai memerah. Ketika perut mereka mulai berbunyi, Eliana berinisiatif meracik tiga mangkuk mi instan hangat dari dapur. Mereka bertiga akhirnya bekerja sama sambil menyantap mi di meja yang sama sebuah pemandangan luar biasa santai yang tak pernah terbayangkan akan dialami oleh seorang Pangeran Mahkota dan Komandan Pasukan.
Saat hari mulai gelap, jemari Lucien terhenti pada lembaran salinan log panggilan telepon rahasia milik Perdana Menteri Oberon. Manik mata birunya menyipit tajam, menangkap sebuah pola yang sangat aneh.
"Kenneth, Eliana... lihat ini," ujar Lucien dengan suara berat yang memecah keheningan. "Oberon menghubungi nomor rahasia ini hampir setiap hari di jam yang persis sama, yaitu pukul sepuluh malam. Ini bukan jalur komunikasi resmi pemerintahan."
Lucien mengetukkan jarinya di atas kertas. "Kenneth, cari tahu pemilik nomor ini sekarang juga."
Tepat saat Kenneth hendak meraih ponselnya, kepala Eliana mendadak seperti dihantam petir kilat. Memori alur novel yang sempat terkubur mendadak mencuat terang benderang di pikirannya.
"ASTAGA! ASTAGA! BISA-BISANYA GUE LUPA?!" jerit batin Eliana histeris, membuat Lucien yang sedang memegang kertas seketika membeku. Suara batin gadis itu meluncur amat kencang dan panik di kepala sang Pangeran.
"Nomor telepon itu... itu kan nomor rahasia milik anak kandung Oberon!" jerit batin Eliana berlanjut heboh. "Anak itu adalah hasil hubungan gelap antara Oberon dan Ibu Tiri Lucien! Benar! Kenapa gue bisa lupa sih?! Rencana besar Oberon itu bukan cuma mau menguasai takhta, tapi dia sengaja mau menghilangkan Lucien dari muka bumi biar anak kandungnya sendiri yang naik takhta menggantikan Lucien!"
Eliana menyandarkan tangannya ke meja, napasnya tertahan saat ingatan kelam babak akhir novel itu berputar di kepalanya.
"Dan yang paling jahat... Oberon bakal memfitnah Pangeran sampai mati! Dia bakal merekayasa bukti seolah-olah Lucien adalah pengkhianat kerajaan, sampai Lucien mati mengenaskan di tangan rakyatnya sendiri tanpa ada satu orang pun yang tahu kebenarannya—"
Suara batin Eliana mendadak terhenti total.
Eliana secara refleks mendongakkan kepalanya dari atas meja. Di saat yang bersamaan, Lucien juga sedang menatap lurus ke arahnya dengan tatapan mata biru yang amat pekat, tajam, dan sarat akan emosi dingin yang membakar.
Di antara tumpukan berkas dan aroma mi yang tersisa di ruangan itu, mata mereka saling mengunci dalam keheningan yang amat membekukan.
Keheningan di ruang tengah penthouse terasa makin mecekik. Suara batin Eliana yang mendadak terputus menyisakan gemuruh dahsyat di dalam dada Lucien. Kenyataan bahwa dirinya tidak hanya ditargetkan untuk dibunuh, tetapi juga dirancang untuk mati sebagai pengkhianat yang dibenci rakyatnya sendiri, membuat aura membunuh di sekeliling sang Pangeran Mahkota memuncak.
Lucien perlahan mengalihkan tatapannya dari Eliana. Manik mata birunya berkilat begitu dingin dan tajam, bagaikan bilah pedang es yang siap mengoyak siapa pun di hadapannya.
"Kenneth," panggil Lucien.
Suara Pangeran Mahkota itu terdengar begitu mendalam, berat, dan sarat akan intonasi berbahaya yang membuat bulu kuduk berdiri.
Kenneth seketika menegakkan tubuhnya, merasakan tekanan luar biasa dari atasan tertingginya. "Siap, Yang Mulia."
"Cari tahu siapa pemilik nomor telepon rahasia itu secepatnya," perintah Lucien, setiap patah katanya ditekankan dengan presisi dingin. "Bukan sekadar nama samaran atau lokasinya—aku ingin identitas aslinya, garis keturunannya, hingga seluruh hubungan tersembunyinya dengan Oberon dan Ibu Suri. Jangan lewatkan sekecil apa pun detailnya."
Lucien menyandarkan punggungnya ke sofa, mengepalkan jemarinya hingga buku-buku tangannya memutih.
"Waktu kita tidak banyak," lanjut Lucien, menatap lurus ke arah kalender dinding. "Acara Pesta Dansa Musim Panas tinggal tiga minggu lagi. Di sanalah panggung utama tempat mereka berencana menghabiskan sisa hidupku."
Kenneth menunduk dalam-dalam, memahami betapa krusialnya tenggat waktu tersebut. "Akan saya laksanakan malam ini juga, Yang Mulia."
"Satu hal lagi, Kenneth," potong Lucien sebelum komandannya bergerak pergi. Matanya mengunci iris mata Kenneth dengan ketegasan mutlak. "Mulai detik ini, pastikan seluruh pasukan pengawal kerajaan, prajurit elit, dan garda rahasia yang setia kepadaku telah berada di bawah kendali penuh kita secara terselubung. Singkirkan atau batasi ruang gerak penyusup yang ditanam oleh Perdana Menteri. Saat hari H tiba... seluruh kendali senjatanya harus berada di genggaman kita, bukan mereka."
"Baik, Yang Mulia! Pasukan elit siap bergerak di balik bayangan sesuai perintah Anda," jawab Kenneth mantap, lalu membungkuk hormat secepat kilat dan melangkah keluar dari penthouse untuk mengeksekusi perintah.
Di atas karpet bulu, Eliana mematung menatap Lucien. Dadanya naik turun dengan napas yang bergetar pelan.
"Gila..." bisik Eliana di dalam hatinya, menatap Pangeran Mahkota yang kini tampak begitu intimidatif. "Aura Pangeran Mahkota pas lagi mode perang beneran beda banget... Mencekam parah! Tapi setidaknya... langkah kita makin dekat buat membalikkan takdir tragis itu!"
Lucien, yang mendengarkan luapan batin Eliana, perlahan menoleh kembali ke arah gadis di dekat mejanya. Tatapan dinginnya melunak amat tipis, menyadarkan Pangeran bahwa perjuangan mati-matian ini kini bukan lagi hanya tentang menyelamatkan takhtanya sendiri melainkan juga melindungi satu-satunya orang yang mengetahui dan menjaga takdir hidupnya.