Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Ketua OSIS

Menikah Dengan Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Ketos
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: DM🌚

Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.

Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.

Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.

Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 34

Pukul 10.00 WIB di hari Kamis, suasana laboratorium optimasi sistem ITB Ganesha tampak tenang. Sinar matahari pagi menembus kaca jendela besar, menyinari deretan meja komputer tempat Kenan sedang fokus merampungkan draf validasi data logistik tahap kedua.

Sebagai koordinator mahasiswa, Kenan memegang kendali penuh atas jalannya proyek riset gabungan antara ITB dan Fikom Unpad tersebut.

Di sela-sela kesibukannya, ponsel di atas meja bergetar pelan menampilkan pesan singkat dari sang istrinya.

Kirana: "Sayang, jadwal kelas Teori Komunikasi Massaku baru selesai jam 12 siang nanti. Nanti kalau kamu sudah senggang di lab, jangan lupa istirahat makan siang ya. Aku bawain bekal kesukaanmu."

Melihat pesan tersebut, sudut bibir Kenan terangkat membentuk senyuman hangat. Rasa penat yang sempat terasa dipikirannya seketika lenyap. Kenan lantas membalas pesan itu dengan cepat.

Kenan: "Iya, Sayang. Selesaikan kuliahmu dulu dengan tenang. Nanti jam 12 aku jemput di gerbang depan, kita makan siang bersama di ruangan kerjaku."

Baru saja Kenan meletakkan kembali ponselnya, suara ketukan sepatu hak tinggi terdengar mendekat. Hanni muncul mengenakan blazer elegan berwarna putih gading, membawa sebuah map transparan berisi dokumen evaluasi hibah Maheswari Group.

Hanni berhenti di samping meja Kenan, menatap pria itu dengan senyuman tipis yang menyembunyikan sejuta rencana.

"Selamat pagi, Koordinator Kenan," sapa Hanni dengan suara renyahnya. Ia sengaja menarik kursi kosong di sebelah meja Kenan dan langsung duduk tanpa menunggu aba-aba. "Lagi memeriksa draf validasi data lagi. Kinerja lo selalu konsisten ya."

Kenan mendongak perlahan, menatap Hanni dengan tatapan datar dan formal. "Pagi, Kak Hanni. Ada evaluasi hibah yang perlu ditinjau ulang dari pihak Maheswari Group?"

Hanni meletakkan map transparan itu di atas meja, lalu membuka lembarnya. Namun, alih-alih membahas angka atau anggaran, jari lentik Hanni justru menunjuk pada satu paragraf pengantar di halaman pertama.

"Bukan soal angka, Kenan," ucap Hanni lembut, sengaja mendekatkan sedikit posisi duduknya. "Gue cuma membaca ulang profil latar belakang tim riset inti dari Unpad. Termasuk... Istri lo, Kirana."

Mendengar nama Kirana disebut dalam konteks investigasi profesional, otot di rahang Kenan langsung mengeras. Manik mata hitam Kenan berubah sedingin es. "Ada yang salah dengan profil istri saya?"

Hanni tersenyum tipis, memainkan ujung bolpoinnya. "Gak ada yang salah secara akademis. Tapi sebagai pengawas hibah, gue cuma ingin bersikap realistis, Kenan. Kita semua tahu keluarga Kirana sempat mengalami kebangkrutan parah beberapa tahun lalu, sebelum akhirnya ayahnya, Pak Irfan, bertahan hidup sebagai dosen senior biasa."

Hanni menatap lurus ke dalam mata Kenan, mencoba melancarkan tekanan psikologis halusnya. "Di dunia industri manufaktur kelas atas, tekanan dan standar operasional itu sangat kejam. Kirana mungkin pintar di teori komunikasi Fikom. Tapi apakah mentalnya benar-benar siap menghadapi kerasnya dunia korporasi globa. Kalau Lo memilih jalan sama gue, jaringan Maheswari Group bisa mengangkat derajat keluarga kalian dalam sekejap, tanpa perlu beban finansial masa lalu."

Kata-kata Hanni sangat jelas sekali penghinaan kelas sosial dalam kata lain sebagai "kepedulian karir". Bagi gadis ambisius seperti Hanni, masa lalu keluarga Kirana yang sempat bangkrut adalah celah kelemahan yang paling empuk untuk diserang.

Namun, Hanni salah besar dalam menilai prinsip seorang Kenan Alister.

Kenan menutup laptopnya perlahan dengan suara yang cukup tegas. Pria itu bersandar di kursinya, melipat kedua tangan di dada dengan postur tubuh yang memancarkan dominasi mutlak.

"Kak Hanni," panggil Kenan dengan intonasi bariton rendah yang sangat mengintimidasi. "Anda menghabiskan waktu membaca profil istri saya, tapi sepertinya anda lupa membaca arti dari integritas sejati."

Hanni sedikit tertegun melihat reaksi Kenan yang sama sekali tidak goyah.

"Keluarga Kirana memang pernah melewati masa-masa sulit akibat kebangkrutan," lanjut Kenan tajam tanpa keraguan sedikit pun. "Tapi di saat seluruh dunia materi meninggalkan mereka, ayah Kirana Pak Irfan tetap berdiri tegak memegang kehormatan, kejujuran, dan mendidik putrinya menjadi wanita yang paling bermartabat di kota ini. Bagi saya, ketulusan dan harga diri itu tidak bisa dibeli dengan saham korporasi mana pun, termasuk Maheswari Group."

Hanni terdiam kaku. Napasnya terasa tertahan di tenggorokan. Ia tidak menyangka Kenan justru membalikkan argumen tersebut menjadi bentuk pujian tertinggi bagi martabat keluarga Kirana.

Kenan berdiri dari kursinya, merapikan kemejanya, lalu menatap Hanni dari atas dengan pandangan yang benar-benar mematikan. "Satu hal lagi," sambung Kenan dingin. "Jangan pernah sekalipun mencoba merendahkan istri saya di belakang maupun di hadapan saya. Batasan profesionalitas kita di riset ini sudah di ujung tandas jika kamu melangkah melewati batas pribadi lagi. Permisi."

Tanpa menunggu jawaban dari Hanni, Kenan menyambar jas labnya, mengambil tas, dan melangkah pergi meninggalkan meja kerjanya menuju gerbang depan ITB untuk menjemput Kirana.

Hanni mengepalkan jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih. Di dalam dadanya, rasa penasaran, rasa tertohok, dan rasa ingin memiliki Kenan justru semakin bergemuruh hebat. 

Pukul 12.00 WIB, di gerbang utama Kampus ITB Ganesha.

Kirana berdiri mengenakan kemeja krem rajut tipis dan rok midi cokelat hangat. Begitu melihat sedan hitam Kenan berhenti di tepi jalan, senyuman manis langsung merekah di bibirnya. Ia melangkah mendekati mobil, membuka pintu depan, dan masuk ke dalam kabin yang sejuk.

"Hai, Suamiku..." sapa Kirana lembut, langsung mencium punggung tangan Kenan begitu duduk.

Kenan menoleh, menyambut uluran tangan istrinya lalu mengecup lembut kening Kirana cukup lama. Aroma vanila yang menenangkan seketika melunturkan sisa-sisa ketegangan emosinya setelah berdebat dengan Hanni tadi pagi.

Kenan membalas dengan senyuman hangatnya."Capek kuliah pagi ini?"

"Sedikit, karena ada kuis mendadak tadi," jawab Kirana tersenyum manis, lalu mengangkat tas kain kecil di pangkuannya. "Tapi aku langsung semangat karena bawa bekal kesukaan kamu. Kita makan di ruang kerja lab kamu ya?"

Kenan mengangguk lembut, melajukan mobilnya memasuki area parkir khusus laboratorium.

Di dalam ruangan kerja privat koordinator riset yang tenang, Kirana menata kotak bekal berisi nasi hangat, ayam teriyaki rumahan, dan sup sayur segar di atas meja kerja. Kenan duduk di kursi di hadapannya, memperhatikan setiap gerak-gerik istrinya dengan binar mata yang penuh cinta dan rasa perlindungan yang begitu besar.

"Kenapa dari tadi ngeliatin aku begitu banget?" tanya Kirana malu-malu sambil menyendokkan makanan ke piring kecil suaminya.

Kenan tersenyum tipis, meraih tangan kiri Kirana dan mengusap lembut jari manis yang dilingkari cincin pernikahan perak mereka.

"Karena aku bersyukur banget punya kamu, Kirana," aku Kenan jujur. "Apapun yang terjadi di luar sana, segelap apa pun masa lalu atau sekeras apa pun tekanan orang lain... selama aku punya kamu di sisi aku, semuanya terasa sempurna."

Kirana tertegun sejenak. Ia melihat ada sedikit kilatan emosi pelindung yang dalam di mata suaminya, menyadari bahwa Kenan pasti baru saja menghadapi tekanan baru di lab hari ini. Kirana meletakkan sendoknya, lalu merengkuh tangan Kenan dengan kedua tangannya yang lembut.

"Ada apa, Sayang?" tanya Kirana penuh perhatian. 

"Hanni datang lagi ke lab dan bikin ulah?"

Kenan menggeleng pelan, lalu menarik Kirana agar berpindah duduk di pangkuannya. Kirana tidak menolak; ia melingkarkan kedua tangannya di leher tegap Kenan, membiarkan suaminya mendekap erat pinggang rampingnya.

"Dia cuma mencoba membandingkan latar belakang keluarga kita, Sayang," bisik Kenan jujur di ceruk leher Kirana. "Dia menyinggung soal masa lalu keluarga kamu yang sempat bangkrut... seolah hal itu jadi kelemahan buat kamu."

Mendengar hal itu, Kirana justru tersenyum tenang. Tidak ada secercah pun rasa minder atau sakit hati di wajah cantiknya. Kirana mengusup rahang tegas Kenan dengan ujung jarinya.

"Sayang..." bisik Kirana lembut. 

"Masa lalu keluargaku yang sempat jatuh bukan aib yang harus ditutupi. Itu adalah bagian dari perjalanan hidup yang mengajarkan aku arti ketulusan, kesederhanaan, dan kerja keras. Kalau Hanni berpikir hal itu bisa meruntuhkan aku, berarti dia sama sekali gak kenal siapa suami aku dan siapa ayah aku."

Mendengar kedewasaan dan keteguhan mental istrinya yang luar biasa, rasa cinta di dada Kenan membuncah hingga ke ubun-ubun. Pria itu menundukkan wajahnya, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang sangat dalam, hangat, dan penuh rasa kagum.

Ciuman itu berlangsung mesra di tengah keheningan ruang kerja lab, menghapus seluruh bayang-bayang gangguan luar dan mengukuhkan ikatan jiwa raga mereka berdua.

…..

Pukul 19.30 WIB, di kediaman Dago Atas.

Malam itu, hujan gerimis kembali membasahi Kota Bandung, menciptakan suasana dingin yang sangat romantis di dalam rumah dua lantai tersebut.

Setelah selesai makan malam dan merampungkan laporan riset masing-masing di ruang tengah, Kenan dan Kirana bersantai di sofa panjang berbulu tebal di depan jendela besar yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip lampu kota Bandung di kejauhan.

Kirana menyandarkan kepalanya di dada bidang Kenan, menikmati kehangatan dekapan suaminya. Kenan memeluk erat tubuh istrinya sambil mengusap-usap bahu Kirana dengan lembut.

"Sayang," bisik Kirana memecah keheningan malam, menatap kelap-kelip lampu kota di luar. "Minggu depan, Ayah bilang mau berkunjung ke rumah kita di Dago. Katanya mau lihat langsung rumah baru kita dan masakin makanan kesukaan aku."

Mendengar kabar kedatangan mertuanya, raut wajah Kenan langsung berbinar senang. Hubungan Kenan dan Pak Irfan (ayah Kirana) memang sangat dekat dan penuh rasa hormat.

"Wah, serius, Sayang?" ujar Kenan antusias. "Bagus dong. Nanti aku bantu kamu belanja bahan makanannya. Aku juga kangen ngobrol banyak soal filosofi industri sama Ayah."

Kirana tersenyum manis, memutar tubuhnya menghadap Kenan dan mengecup singkat pipi suaminya. "Makasih ya, Kenan... Kamu selalu bikin aku merasa jadi wanita paling beruntung di dunia.

Kenan menatap manik mata indah istrinya di bawah pendar lampu ruangan yang temaram. Pria itu tersenyum tampan, menangkup wajah Kirana lalu mendaratkan ciuman yang lembut, penuh gairah, dan mengikat seluruh janji suci mereka di malam yang dingin itu.

Bersambung…

1
Reni Anjarwani
lanjut thor
Reni Anjarwani
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!